Your browser does not support JavaScript!
 04 Oct 2019    11:00 WIB
Apakah Orang Dewasa Perlu Imunisasi ?
Vaksinasi atau imunisasi merupakan hal yang umum diberikan pada masa kanak-kanak dan jarang pada orang dewasa. Akan tetapi, vaksin juga penting bagi orang dewasa, terutama bagi anda yang suka berpergian. Keuntungan utama dari vaksinasi adalah untuk melindungi anda dari berbagai infeksi kuman. Di bawah ini terdapat beberapa alasan mengapa anda tetap memerlukan vaksinasi.   Tetap Terlindung Vaksinasi memiliki jangka waktu perlindungan tertentu. Jadi bila anda telah mendapat suntikan vaksin tertentu saat anak-anak, bukan berarti anda selamanya terlindungi dari penyakit tersebut. Beberapa vaksin harus kembali diberikan setelah sejangka waktu bila anda ingin terus terlindungi dari penyakit tersebut.   Melindungi Anak Anda Saat anak anda baru lahir, anak anda memperoleh semua pertahanan tubuhnya dari ibu. Karena tidak semua vaksin dapat diberikan pada bayi baru lahir, maka kekebalan tubuh yang berasal dari ibu  sangatlah penting.   Hanya Pada Orang Dewasa Beberapa vaksin hanya dapat diberikan pada orang dewasa, salah satunya adalah vaksin herpes zoster yang disebabkan oleh reaktivasi virus herpes zoster penyebab cacar air pada anak-anak. Reaktivasi virus ini dapat menimbulkan rasa nyeri hebat pada area kulit yang terkena. Resiko herpes zoster semakin meningkat seiring dengan semakin bertambahnya usia anda. Pemberian vaksin sebaiknya dilakukan pada orang berusia 60 tahun atau lebih.   Suka Berpergian Jika anda memiliki hobi "travelling" atau berpergian ke berbagai negara, sangat dianjurkan agar anda mendapatkan suntikan vaksin yang diperlukan, seperti vaksin hepatitis A, hepatitis B, dan meningitis.   Belum Mendapat Vaksinasi Lengkap Jika anda belum mendapatkan imunisasi atau vaksinasi secara lengkap saat anak-anak, maka anda perlu melakukannya sekarang.   Adanya Vaksin Baru Kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran telah menuntun pada berbagai penemuan terbaru, termasuk vaksin. Salah satu contohnya adalah vaksin HPV yang sekarang ini banyak digunakan untuk mencegah kanker leher rahim (serviks) pada wanita dan kanker anus atau penis pada pria.   Tenaga Kesehatan Bila anda bekerja sebagai tenaga kesehatan atau di tempat pelayanan kesehatan, maka anda memerlukan perlindungan ekstra. Vaksin MMR (measles, mums, dan rubella), flu, dan hepatitis B merupakan beberapa vaksin yang sebaiknya anda dapatkan.   sumber : webmd
 19 Jun 2019    11:00 WIB
Vaksin Bagi Penderita HIV/AIDS
Jika anda terinfeksi oleh HIV atau menderita AIDS, maka anda membutuhkan pertahanan lebih terhadap berbagai infeksi seperti flu akibat penurunan sistem kekebalan tubuh anda yang membuat anda sulit melawan berbagai infeksi. Vaksin atau imunisasi dapat membantu tubuh anda mempertahan dirinya dari berbagai infeksi. Akan tetapi, bila anda menderita HIV/AIDS, maka efek imunisasi yang anda alami dapat berbeda dengan efek imunisasi pada orang lain yang tidak menderita HIV/AIDS.Tidak semua vaksin aman diberikan pada penderita HIV/AIDS. Vaksin yang dibuat dari virus hidup yang dilemahkan dapat menyebabkan penderita HIV/AIDS mengalami infeksi ringan. Penderita HIV/AIDS hanya dapat menerima vaksin tertentu yang tidak lagi mengandung virus atau bakteri hidup di dalamnya.Efek Samping VaksinSiapapun dapat mengalami beberapa efek samping vaksin di bawah ini, baik anda menderita HIV/AIDS ataupun tidak. Beberapa efek samping tersebut adalah: •    Nyeri, kemerahan, atau pembengkakan pada bekas tempat suntikan vaksin•    Badan terasa lemah•    Merasa lelah•    Mual Bila anda menderita HIV/AIDS, maka terdapat beberapa efek samping tambahan saat anda menerima vaksin, yaitu: •    Vaksin dapat meningkatkan jumlah HIV di dalam tubuh anda•    Vaksin mungkin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya bila kadar CD4 (salah satu jenis sel darah putih) anda terlalu rendah. Mengkonsumsi obat antiretrovirus kuat sebelum pemberian vaksin mungkin dapat membantu bila kadar CD4 anda rendah•    Vaksin yang berisi virus hidup yang telah dilemahkan dapat membuat anda mengalami infeksi yang seharusnya dicegah melalui pemberian vaksin tersebut. Oleh karena itu, anda sebaiknya menghindari menerima vaksin berisi virus hidup seperti cacar air atau flu. Selain itu, hindarilah kontak dekat dengan seseorang yang baru saja menerima vaksin berisi virus hidup tersebut selama 2-3 minggu. Vaksin MMR (measles, mumps, dan rubella) merupakan satu-satunya vaksin berisi virus hidup yang kadangkala masih boleh diberikan pada penderita HIV/AIDS. Akan tetapi, hindari vaksin MMR bila kadar CD4 anda kurang dari 200, mengalami gejala HIV, mengalami gejala AIDSVaksin yang Diperlukan Oleh Penderita HIV Bagi Seluruh Orang Dewasa Dengan HIV Positif Hepatitis B (HBV)Vaksin hepatitis B diberikan dalam 3 kali suntikan dalam waktu 6 bulan. Vaksin tidak diberikan bila anda sedang menderita hepatitis atau bila anda masih memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis B. Lakukanlah pemeriksaan darah untuk memeriksa kekebalan setelah anda menerima 3 kali suntikan vaksin hepatitis B. Jika kadar kekebalan anda terlalu rendah, maka anda mungkin membutuhkan pemeriksaan lainnya. Vaksin ini efektif selama sekitar 10 tahun. InfluenzaVaksin influenza hanya diberikan satu kali melalui suntikan. Ulangilah pemberian vaksin setiap tahunnya untuk memperoleh perlindungan terbaik. MMR (Measles, Mumps, Rubella)Vaksin MMR diberikan melalui 1 atau 2 kali suntikan. Anda tidak perlu menerima vaksin ini bila anda lahir sebelum tahun 1957. Vaksin MMR merupakan satu-satunya vaksin yang mengandung virus hidup yang boleh diberikan pada penderita HIV positif, akan tetapi hanya bila jumlah CD4 anda lebih dari 200. PneumoniaVaksin pneumonia ini dapat diberikan melalui 1 atau 2 kali suntikan. Lakukanlah vaksinasi ini segera setelah anda terdiagnosa HIV, kecuali bila anda telah menerima vaksin ini dalam waktu 5 tahun terakhir. Vaksin ini akan efektif dalam waktu 2-3 minggu setelah pemberian. Bila anda menerima vaksin saat jumlah CD4 anda kurang dari 200, maka ulangi pemberiannya setelah jumlah CD4 anda mencapai 200. Ulangi pemberian vaksin setiap 5 tahun. DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus) atau DT (Difteria dan Tetanus)Vaksin DT atau DPT diberikan melalui satu suntikan dan diulang setiap 10 tahun. Pemberian vaksin dilakukan segera setelah anda mengalami luka seperti luka terbuka yang lebar yang harus dijahit. Hanya Bagi Beberapa Orang Dewasa Dengan HIV PositifHepatitis A (HAV)Vaksin hepatitis A diberikan dalam 2 suntikan dalam waktu 6 bulan. Pemberian vaksin ini dianjurkan pada:•    Pekerja di bidang kesehatan•    Pria yang berhubungan seksual dengan pria•    Pengguna obat yang diberikan melalui suntikan •    Penderita penyakit hati kronik•    Penderita hemophilia•    Orang yang berpergian ke negara tertentuVaksin ini efektif selama setidaknya 20 tahun. Kombinasi Hepatiti A dan BDiberikan melalui 3 suntikan dalam waktu 1 tahun. Vaksin ini diberikan pada orang yang memerlukan vaksin hepatitis A dan B. Meningitis Bakterial (Haemophilus influenza tipe B)Vaksin ini diberikan melalui 1 suntikan. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum menerima vaksin ini. Meningitis Bakterial (Meningococcal)Vaksin ini diberikan melalui 1 suntikan. Direkomendasikan bagi mahasiswa, pelajar, anggota militer, dan orang yang berpergian ke negara tertentu. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.Sumber: webmd
 22 Dec 2018    08:00 WIB
Pentingnya Vaksinasi Untuk Kekebalan Tubuh
Guys! Kita semua tahu apa itu vaksinasi, tapi apa kita tahu bahwa sebenarnya setiap orang perlu vaksinasi, baik Pria maupun wanita, baik tua maupun muda, seperti kalangan anak-anak (batita atau balita), anak remaja, pemuda ataupun yang sudah menikah dan bahkan orang tua pun perlu vaksinasi. Fungsi dari Vaksin adalah memperkuat sistem imun tubuh kita dan membantu kita, mengurangi/ menghindari risiko penyakit tertentu yang disebabkan oleh bakteri, kuman/ virus yang merusak, melemahkan dan mematikan sel-sel tubuh kita. Vaksin melindungi orang yang rentan di komunitas kita - seperti anak-anak yang sangat muda, orang tua, atau mereka yang terlalu sakit untuk diimunisasi. Ada juga beberapa jenis vaksin yang memberikan kekebalan seumur hidup. Imunisasi / Vaksinasi juga sangat mengurangi risiko penularan penyakit, dan mengurangi risiko komplikasi. Lalu kapan vaksinasi dikembangkan? Vaksin bukan hal yang baru. Tehnik imunisasi ini dipelopori lebih dari 200 tahun yang lalu, ketika cacar adalah penyakit yang ditakuti dan mematikan pada jaman itu. Namun ada seorang dokter abad kedelapan belas bernama Edward Jenner (17 Mei 1749 - 26 Januari 1823), dia adalah seorang dokter dan ilmuwan Inggris yang merupakan pelopor vaksin cacar, yaitu vaksin pertama di dunia. Ia mencatat bahwa para pekerja di peternakan yang terkena penyakit cacar sapi ringan, kebal terhadap cacar. Melalui vaksinasi yang dia berikan. Istilah "vaksin" dan "vaksinasi" berasal dari Variolae vaccinae (cacar sapi), istilah yang dirancang oleh Jenner sendiri untuk menamakan cacar sapi. Bagaimana cara kerja vaksin? Sistem kekebalan tubuh kita terdiri dari sel-sel khusus dan bahan kimia (disebut antibodi) yang melawan infeksi. Kita mendapatkan kekebalan terhadap penyakit baik secara alami (dengan menangkap penyakit), atau melalui imunisasi. Vaksin terdiri dari versi modifikasi dari kuman penyebab penyakit atau toksin (dikenal sebagai 'antigen'). Sistem kekebalan tubuh merespon kuman yang melemah, atau yang sudah mati atau toksin yang sudah tidak aktif (antigen), seolah-olah itu adalah kuman yang lengkap, dan membuat antibodi untuk menghancurkannya. Antibodi ini dibuat tanpa kita tertular penyakitnya. Apa yang terdapat dalam vaksin? Tergantung pada infeksi, bahan-bahan dalam vaksin dapat bervariasi, juga dapat berubah dari tahun ke tahun karena serangan virus baru muncul. Beberapa vaksin mungkin mengandung dosis kecil: Kuman hidup (tetapi lemah). Kuman mati. Bagian kecil kuman (misalnya, molekul dari permukaan kuman). Toksin yang diinaktivasi yang diproduksi oleh bakteri. Antibiotik atau pengawet untuk menghentikan vaksin agar tidak terkontaminasi atau mati. Pengencer (seperti air steril atau garam). Apakah vaksin aman? Jutaan orang - terutama bayi dan anak kecil - diimunisasi setiap tahun, dan tanpa efek samping. Vaksin jauh lebih aman daripada sakit karena penyakit. Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dapat menyebabkan komplikasi seumur hidup atau kematian - bahkan pada orang yang sehat secara normal. Dari waktu ke waktu, keamanan vaksin telah dipertanyakan. Sebagian besar reaksi ringan dan biasanya berlangsung satu hingga dua hari. Seperti obat lain, vaksin membawa risiko kecil, tetapi efek samping yang serius sangat jarang terjadi. Risiko efek samping yang serius harus ditimbang terhadap risiko penyakit. Sebagai contoh, meskipun ada risiko kecil mengembangkan kondisi langka yang dikenal sebagai idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), setelah vaksin campak, gondong, rubella dan varicella (MMRV) dan MMR. Namun, risiko pengembangan ITP dengan campak itu sendiri, lebih dari 10 kali lebih besar, daripada risiko yang terkait dengan vaksin. Berapa lama waktu yang diperlukan agar vaksin berfungsi? Ketika kita menerima vaksin, sistem kekebalan tubuh kita segera bekerja untuk membuat antibodi dan sel memori untuk melawan infeksi. Rata-rata, ‘respons imun’ akan memakan waktu sekitar 7-21 hari. Namun, durasi kekebalan dapat bergantung pada sejumlah faktor, seperti sifat vaksin, waktu dosis, usia kita, dan apakah kita telah mengalami infeksi secara alami. Jadi sahabat, agar terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin, pastikan untuk tetap mengikuti jadwal yang disarankan dokter dan upayakan kehidupan imunisasi kita up to date dan rutin.   Sumber : www.medbroadcast.com, www.vaccines.gov, 
 06 Oct 2018    11:00 WIB
Mengenal Vaksin Tetanus dan Kegunaannya
Tetanus merupakan suatu infeksi bakteri yang menyebabkan spasme (kontraksi otot tanpa disadari) otot yang disertai nyeri dan dapat menyebabkan kematian. Vaksin tetanus merupakan salah satu langkah pencegahan terhadap tetanus. Tetanus tidak dapat menular melalui manusia, infeksi biasanya terjadi melalui luka gores atau luka tusuk lainnya. Bakteri tetanus biasanya terdapat di dalam tanah, debu, air, dan pupuk. Bakteri tetanus dapat masuk ke dalam tubuh anda dari luka sekecil apapun. Akan tetapi, infeksi tetanus umumnya terjadi melalui luka tusuk yang cukup dalam akibat paku atau pisau. Bakteri masuk ke dalam darah atau saraf menuju sistem saraf pusat.   Apa Gejala Tetanus ? Berbagai gejala tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri tetanus. Gejala dapat timbul 3 hari sampai 3 minggu setelah terinfeksi bakteri tetanus. Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan pada rahang, yang menyebabkan penderitanya sulit membuka mulut. Gejala lainnya yang juga dapat ditemukan pada tetanus adalah: Nyeri kepala Kekakuan otot, yang biasanya dimulai dari rahang, lalu menjalar ke leher, kaki, tangan, atau perut Kesulitan menelan Gelisah Mudah marah Nyeri tenggorokan Demam dan berkeringat Rasa berdebar-debar Tekanan darah dapat tinggi maupun rendah Spasme otot wajah, yang menyebabkan wajah penderita seperti tersenyum atau menyeringai Jika tidak segera ditangani, tetanus dapat menyebabkan kematian akibat kesulitan bernapas.   Apa Isi Vaksin Tetanus ? Vaksin tetanus biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi bersama dengan difteria dan pertussis (DPT) atau hanya dengan difteria saja (DT). DPT berisi toksin atau racun difteria, pertussis, dan tetanus yang telah melalui detoksifikasi sehingga penerimanya tidak mengalami infeksi, tetapi tetap dapat menstimulasi pembentukan sistem kekebalan tubuh penerimanya. Vaksin ini tidak berisi kuman hidup.   Siapa yang Tidak Boleh Mendapat Vaksin Tetanus ? Vaksin tetanus dapat diberikan pada wanita hamil. Akan tetapi, sebaiknya tidak menggunakan vaksin gabungan, DPT (difteria, pertussis, dan tetanus). Dianjurkan agar anda mendapat vaksin tetanus sebelum hamil. Orang yang mengalami reaksi alergi berat terhadap vaksin tetanus atau memiliki riwayat alergi berat terhadap isi vaksin tetanus tidak boleh menerima vaksin tetanus. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anda mengenai boleh tidaknya anda menerima vaksin tetanus bila anda: Menderita epilepsi Menderita gangguan sistem saraf Memiliki riwayat nyeri hebat atau pembengkakan berat setelah pemberian vaksin tetanus (alergi) Memiliki riwayat menderita sindrom Guillain Barre Bila anda sedang menderita suatu penyakit tertentu, tunggulah setelah keadaan kesehatan anda membaik sebelum menerima vaksin tetanus.   Apa Efek Samping Vaksin Tetanus ? Anda tidak akan menderita tetanus akibat pemberian vaksin tetanus, akan tetapi vaksin tetanus memiliki beberapa efek samping, yaitu: Nyeri, pembengkakan, dan kemerahan pada tempat bekas suntikan vaksin Demam Nyeri kepala Nyeri otot Lelah Reaksi alergi berat (anafilaksis) jarang sekali terjadi, akan tetapi tetap dapat terjadi dalam waktu singkat (beberapa menit) setelah vaksinasi. Gejala yang dapat ditemukan adalah: Kulit kemerahan, gatal, atau bengkak Kesulitan bernapas atau gangguan pernapasan lainnya Mual Muntah Diare Nyeri perut atau kram perut Pusing Tekanan darah rendah Denyut jantung cepat Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami berbagai gejala alergi di atas setelah pemberian vaksin tetanus.   Bagaimana Cara Pemberian Vaksin Tetanus ? Vaksin tetanus biasanya diberikan melalui suntikan pada otot lengan atas (deltoid). Jika anda tidak pernah mendapat vaksin tetanus saat masih anak-anak, maka anda harus mendapatkan vaksin DT sebanyak 3 kali, yang harus diberikan dalam jangka waktu 7-12 bulan. Jika anda berusia di bawah 65 tahun, maka salah satu dari ketiga vaksin di atas harus mengandung toksin pertussis (DPT). Vaksin pertussis terutama diberikan pada orang yang sering berkontak dengan bayi atau pasien. Setelah memperoleh vaksin lengkap sebanyak 3 kali, dapatkan booster atau vaksin ulang setiap 10 tahun.   Kapan Vaksin Tetanus Diberikan ? Pada orang dewasa, vaksin tetanus biasanya diberikan bila: Anda tidak pernah mendapat vaksin tetanus atau vaksin tetanus yang anda peroleh tidak lengkap saat masih anak-anak Tidak mendapatkan vaksin tetanus ulangan selama 10 tahun terakhir Baru saja sembuh dari infeksi tetanus    Sumber: webmd