Your browser does not support JavaScript!
 17 Jul 2019    08:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin Cacar Air?
Vaksin cacar air biasanya diberikan pada anak-anak saat berusia 1-1.5 tahun (dosis pertama) dan biasanya diulang setelah anak berusia 4-6 tahun (dosis kedua). Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin pun memiliki beberapa efek samping, mulai dari efek samping ringan yaitu reaksi alergi ringan hingga efek samping berat yaitu reaksi alergi berat yang dapat membahayakan jiwa penerimanya. Akan tetapi, reaksi alergi berat setelah pemberian vaksin ini sangat jarang terjadi. Manfaat vaksin cacar air lebih besar daripada terkena penyakit cacar air. Selain itu, sebagian besar orang yang menerima vaksin cacar air tidak mengalami efek samping apapun. Berbagai efek samping ini lebih sering terjadi setelah pemberian dosis pertama vaksin dibandingkan dengan dosis kedua vaksin. Efek Samping Ringan Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin cacar air adalah: • Nyeri atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam • Kulit kemerahan, hingga sebulan setelah menerima vaksinasi Walaupun sangat jarang, orang yang mengalami gangguan kulit ringan setelah menerima vaksin cacar air, dapat menularkan virus ini pada anggota keluarga lainnya. Efek Samping Sedang Efek samping sedang yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin cacar air adalah kejang yang disebabkan oleh demam, akan tetapi efek samping ini sangat jarang terjadi. Efek Samping Berat Walaupun amat sangat jarang, menerima vaksin cacar juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia (radang paru-paru). Beberapa gangguan berat lainnya yang dapat terjadi setelah menerima vaksin cacar air adalah gangguan otak berat dan rendahnya jumlah sel-sel darah. Akan tetapi, karena kejadian ini sangat jarang terjadi, maka para ahli tidak dapat memastikan apakah hal ini memang terjadi akibat pemberian vaksin cacar air atau disebabkan oleh gangguan lainnya. Sumber: cdc
 12 Feb 2019    08:00 WIB
Pelihara Kucing Tapi Takut Kena Toksoplasma ? Cegah Dengan Cara Ini
Apakah Anda suka memelihara kucing? Bila iya mungkin Anda merasa takut akan terinfeksi toksoplasma.  Toksoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Toxoplasma gondii (T.gondii). Apa akibat toksoplasma pada manusia? WanitaInfeksi toksoplasma dapat menginfeksi saluran telur wanita dan menyebabkan saluran ini menyempit atau tertutup. Sehingga sel telur yang telah dihasilkan oleh indung telur (ovarium) tidak dapat sampai ke rahim untuk dibuahi oleh sperma. Janin Kista toksoplasma bisa berada di otak janin menyebabkan cacat dan berbagai macam gangguan saraf seperti terjadi gangguan saraf mata yang berakibat kebutaan. Akibat lainnya adalah janin dengan ukuran kepala yang besar dan berisi cairan atau hidrosefalus PriaToksoplasma juga dapat menginfeksi pria. Infeksi akut toksoplasma dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening dan dapat menyebabkan kemandulan. Toksoplasma dapat menginfeksi dan menyebabkan peradangan pada saluran sperma. Radang yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya penyempitan bahkan tertutupnya saluran sperma. Akibatnya pria tersebut menjadi mandul, karena sperma yang diproduksi tidak dapat dialirkan untuk membuahi sel telur. Ada beberapa cara mengapa seseorang dapat terinfeksi parasit toksoplasma : - Menyentuh atau kontak dengan kotoran binatang misalnya kucing atau anjing yang terinfeksi. Kucing biasanya mendapatkan infeksi ini jika makan tikus, burung atau binatang lain yang mengonsumsi daging mentah.- Mengonsumsi daging mentah yang terkontaminasi atau dimasak kurang matang.- Mencuci buah atau sayuran kurang bersih, yang telah terkontaminasi oleh pupuk kandang.- Anak yang lahir dari ibu yang terkontaminasi, hal ini karena parasit bisa melewati aliran darah dan menginfeksi janin.- Umumnya toksoplasma dikeluarkan dari tubuh kucing melalui kotorannya dan bukan dari bulunya. Selain itu kasus toksoplasma umumnya paling banyak terjadi akibat kucing atau anjing mengonsumsi daging mentah atau kurang matang yang sudah terinfeksi. Berikut cara yang dapat Anda ikuti dalam merawat kucing Anda agar terhindar dari toksoplasma yaitu : 1.      Hindari kontak langsung dengan kotoranApabila ingin membersihkan kotak kotorannya sebaiknya menggunakan sarung tangan dan cuci tangan setelahnya. Rajin membersihkan tempat kotorannya 1-2 kali dalam sehari dan gunakan pasir khusus untuk kotoran kucing 2.      Makanan khusus Beri makanan kering atau basah yang memang khusus untuk kucing dan hindari memberikan makanan mentah seperti ikan atau daging mentah. 3.      Pelihara kucing dalam rumahDengan memelihara kucing di dalam rumah akan membantu mencegah kucing mengonsumsi tikus atau binatang lain yang mungkin terkontaminasi toksoplasma. 4.      Jaga kebersihan kucingMandikan kucing setidaknya 3 kali dalam sebulan atau seminggu sekali dengan menggunakan sampo kucing, dan mengeringkan bulunya hingga kering. 5.      Berikan vaksinBerilah vaksin untuk kucing sesuai dengan usianya, untuk mencegah toksoplasma berikan vaksin tokso dan juga kucing bisa diberi vaksin rabies. 6.      Konsultasi dokter hewanJika kucing menunjukkan tanda-tanda sakit seperti tidak nafsu makan, lebih banyak diam atau kurang lincah, pilek atau diare, maka segera konsultasikan dengan dokter hewan. 7.      Cuci tanganSelain itu jangan lupa untuk selalu mencuci tangan setiap kali bermain atau kontak dengan kucing.Jadi rawat terus kucing Anda atau binatang peliharaan Anda agar Anda dan binatang peliharaan kesayangan Anda selalu sehat Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: KF
 18 Oct 2018    16:00 WIB
Apakah Vaksin Hepatitis Boleh Diberikan Pada Wanita Hamil?
Secara umum, belum ada bukti pasti bahwa pemberian vaksinasi pada ibu hamil dapat membahayakan janin di dalam kandungan. Akan tetapi, secara teoritis, pemberian vaksin berisi bakteri atau virus hidup yang dilemahkan mungkin dapat membahayakan janin di dalam kandungan. Oleh karena itu, pemberian vaksin berisi bakteri atau virus hidup ini tidak dianjurkan (kontraindikasi) pada ibu hamil. Pemberian vaksin pada ibu hamil seringkali dipertimbangkan berdasarkan apakah manfaat pemberian vaksin lebih besar daripada resikonya. Bila manfaat pemberian vaksin lebih besar daripada resikonya, maka pemberian vaksin pun dapat dipertimbangkan. Vaksin hepatitis A merupakan vaksin inaktif seperti halnya vaksin hepatitis B. Pemberian vaksin hepatitis A biasanya dianjurkan bila terdapat resiko lainnya yang lebih tinggi daripada resiko pemberian vaksin. Seperti halnya vaksin hepatitis A, vaksin hepatitis B pun dapat diberikan pada ibu hamil. Berdasarkan beberapa data penelitian, vaksin hepatitis B tidak menimbulkan efek samping apapun pada janin di dalam kandungan dan tidak akan menyebabkan terjadinya infeksi hepatitis B pada janin. Wanita hamil yang diduga beresiko tinggi terkena infeksi hepatitis B selama kehamilan sebaiknya memperoleh vaksinasi hepatitis B. Beberapa hal yang menyebabkan peningkatan resiko terjadinya infeksi hepatitis B pada wanita hamil adalah: Memiliki lebih dari 1 pasangan seksual dalam waktu 6 bulan terakhir Pernah atau sedang menjalani pengobatan untuk mengatasi penyakit  menular seksual Pernah atau sedang menggunakan obat-obatan yang disuntikkan Memiliki pasangan seksual yang menderita HBsAg positif (menderita infeksi hepatitis B)   Sumber: cdc
 08 Feb 2018    11:00 WIB
Vaksin Untuk Anak Yang Perlu Anda Ketahui
Melindungi anak sudah menjadi tanggung jawab orang tua, sehingga orang tua akan memberikan yang terbaik demi melindungi mereka. Semua hal baik dilakukan mulai dari memberikan makanan yang tepat agar mereka tumbuh dengan sehat hingga menjaga kesehatan mereka. Salah satu cara orang tua dalam melindungi anak dengan melakukan vaksinasi. Vaksin dapat menjadi salah satu tindakan pencegahan terbaik yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak yang Anda sayangi. Vaksin membantu anak menghindari dari masalah kesehatan yang serius bahkan kematian. Penting agar setiap anak mendapat vaksinasi sesuai anjuran dokter, karena tidak hanya penting untuk kesehatan anak namun juga melindungi orang lain dengan tidak menularkan kepada mereka.   Berikut Vaksin Yang Perlu Anda Ketahui: Vaksin DTaP melindungi terhadap difteri, tetanus, dan pertusis. Diphteria menutupi tenggorokan dengan lapisan abu-abu tebal, sehingga membuat orang lebih sulit bernafas. Tetanus dapat menyebabkan kekakuan otot yang serius dan juga disebut "lockjaw." Pertusis adalah batuk rejan. Vaksin Hib melindungi terhadap Haemophilus influenzae tipe b, yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, dan epiglotitis (radang epiglotis). PCV13 melindungi terhadap penyakit pneumokokus. Pada anak kecil, penyakit pneumokokus dapat menyebabkan meningitis pneumokokus. Vaksin poliovirus yang tidak aktif melindungi terhadap poliomielitis, yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Vaksin rotavirus melindungi terhadap rotavirus, penyebab paling umum diare di masa kanak-kanak. Vaksin MMR melindungi terhadap campak, gondok, dan rubela. Campak dan gondok bisa menyebabkan kerusakan otak. Rubela dapat menyebabkan cacat lahir yang parah. Vaksin varicella melindungi terhadap cacar air, yang meski jinak pada kebanyakan orang, bisa mengakibatkan sampai rawat inap terutama di kalangan anak kecil. Vaksin Hepatitis A melindungi terhadap penyakit hati akut (yaitu, jangka pendek). Hepatitis A menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan cenderung menyebabkan epidemi, yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar. Vaksin Hepatitis B melindungi terhadap penyakit hati yang ditransfer melalui darah. Vaksin influenza melindungi terhadap flu musiman. Vaksin meningokokus/ Vaksin MCV4 disarankan diberikan untuk anak usia 11 – 12 tahun, melindungi terhadap penyakit meningokokus, yang menyebabkan meningitis dan infeksi darah. Vaksin Human Papillomavirus (HPV) melindungi terhadap kanker yang disebabkan oleh human papillomavirus. Dari catatan, human papillomavirus juga menyebabkan kutil kelamin. Vaksin ini direkomendasikan untuk anak laki-laki dan perempuan.   Baca juga: 7 Jenis Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: verywell
 12 Dec 2017    18:00 WIB
Vaksin Tetanus Dapat Membantu Mengobati Tumor Otak, Benarkah?
Sebuah penelitian kecil menemukan petunjuk bahwa vaksin tetanus ternyata memiliki manfaat lain selain dari mencegah terjadinya tetanus. Satu dosis vaksin tetanus dapat membuat seorang penderita tumor otak yang mematikan untuk hidup lebih lama saat diberikan bersamaan dengan pengobatan tumor tersebut. Hal ini dikarenakan pemberian vaksin membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih "waspada", yang membuat pengobatan pun menjadi lebih efektif.   Baca juga: Apa Efek Samping Vaksin DPT?   Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 12 orang penderita tumor otak. Beberapa orang di antaranya yang telah menerima vaksin tetanus dapat hidup beberapa tahun lebih lama dibandingkan dengan penderita lainnya yang tidak pernah diberikan vaksin tetanus. Walaupun hasil penelitian ini tampak menjanjikan, akan tetapi karena penelitian ini hanya merupakan sebuah penelitian kecil, maka perlu dilakukan penelitian yang lebih besar untuk memastikan hasil penelitian ini. Penelitian ini berfokus pada pengobatan glioblastoma, sejenis tumor otak yang sering ditemukan dan cukup ganas. Tumor otak ini dapat kembali tumbuh dan membunuh penderitanya, bahkan setelah penderita melakukan tindakan pembedahan untuk mengangkat tumor. Berbagai pengobatan yang digunakan untuk mengobati tumor ini pun hanya memiliki sedikit efek. Sekitar setengah dari penderita glioblastoma meninggal dalam waktu 15 bulan setelah diagnosa. Pada penelitian ini, para peneliti menggunakan imunoterapi sebagai dasar penelitiannya. Imunoterapi merupakan suatu terapi yang menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker. Pada penelitian ini, para peneliti menggunakan sebuah strategi spesifik yaitu vaksin sel dendritik. Pada keadaan ini, para peneliti mengangkat sel darah tertentu dari seorang penderita dan melengkapi mereka dengan sebuah zat kimia tertentu yang dapat ditemukan di dalam tumor. para peneliti kemudian mengembalikan sel ini ke dalam tubuh penderita, di mana mereka akan "melatih" sistem kekebalan tubuh untuk membunuh sel kanker. Para peserta penelitian di dalam penelitian ini telah melalui berbagai pengobatan seperti tindakan pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Kemudian para peserta penelitian menerima satu dosis vaksin DPT dan 3 kali suntikan yang terdiri dari sel tubuh mereka sendiri yang telah dimodifikasi seperti di atas, yang masing-masing berjarak 2 minggu. Para peneliti kemudian membagi para peserta penelitian menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok pertama mendapat dosis kedua vaksin DPT (dosis sangat kecil) pada tempat di mana sel-sel tubuhnya akan disuntikkan kembali keesokkan harinya. Sedangkan kelompok ke 2 hanya menerima plasebo. Para peneliti menduga bahwa suntikan vaksin tetanus mini ini akan membuat sistem kekebalan tubuh terstimulasi pada daerah kulit tersebut sehingga tubuh pun menjadi lebih siap menghadapi apa yang akan datang berikutnya. Penyuntikan sel dilanjutkan setiap bulannya hingga hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan bahwa tumor terus berkembang. Di antara para peserta penelitian pada kelompok ke 2, hanya 1 orang yang dapat bertahan hidup selama 2 tahun setelah diagnosa ditegakkan. Ia berhasil bertahan hidup selama sekitar 3.5 tahun. Hasil ini lebih baik pada para peserta penelitian yang menerima vaksin tetanus mini. 4 orang di antara para peserta di kelompok pertama dapat hidup selama lebih dari 2 tahun, sementara itu 1 orang di antaranya dapat bertahan hidup selama hampir 5 tahun, dan 1 orang lainnya dapat bertahan hidup selama hampir 6 tahun. Salah seorang di antara peserta penelitian berhasil bertahan hidup hingga sekarang, dialah Sandy Hillburn, 68 tahun dari Fort Lee, New Jersey. Saat pertama kali didiagnosa menderita glioblastoma, dokternya memberitahunya bahwa ia hanya akan hidup selama 2-3 bulan lagi. Akan tetapi, keluarganya pun kemudian membawanya ke Duke University Medical Center di Carolina Utara karena mereka memiliki reputasi yang sangat baik mengenai glioblastoma. Ia pun ditawari kesempatan untuk ikut serta dalam sebuah penelitian. Ia pun segera menerima tawaran tersebut dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan. Beberapa tahun sejak itu, ia pun masih dapat menghadiri acara pernikahan putranya dan melihat kelahiran 5 orang cucunya. Hingga saat ini pun ia masih sering bermain sepak bola bersama 6 orang cucu laki-lakinya di Ohio dan Boston. Hillburn tetap datang ke Duke sebulan sekali untuk menerima suntikan sel. Para peneliti pun masih tidak mengetahui mengapa ia dapat bertahan hidup hingga sekarang ini.   Sumber: huffingtonpost
 13 Mar 2016    12:00 WIB
Apa Efek Samping dari Vaksin Meningitis?
Vaksin meningococcal merupakan vaksin yang bermanfaat untuk mencegah terjadinya meningitis. Akan tetapi, bukan berarti Anda sepenuhnya terbebas dari meningitis setelah menerima vaksin ini.  Vaksin ini juga bermanfaat untuk mencegah terjadinya komplikasi meningitis atau timbulnya gejala berat dari meningitis bila penerima vaksin mengalami meningitis. Seperti halnya obat, vaksin dapat menyebabkan terjadinya beberapa efek samping, mulai dari yang ringan hingga berat (sangat jarang). Efek samping ini biasanya merupakan suatu reaksi alergi yang bervariasi dari ringan hingga berat. Resiko terjadinya kematian atau reaksi alergi berat yang membahayakan jiwa setelah pemberian vaksin meningococcal sangat jarang terjadi. Pingsan dan kedutan dapat terjadi setelah pemberian vaksin. Kedua efek samping ini paling sering terjadi pada anak remaja.   Efek Samping Ringan Sekitar setengah penerima vaksin meningococcal mengalami efek samping ringan berupa rasa nyeri atau kulit kemerahan pada daerah bekas suntikan. Efek samping ini biasanya akan mereda dalam waktu 1 atau 2 hari. Sebagian kecil orang yang menerima vaksin meningococcal juga dapat mengalami demam.   Efek Samping Berat Efek samping berat yang dapat terjadi setelah menerima vaksin meningococcal adalah suatu reaksi alergi berat yang dapat membahayakan jiwa. Efek samping ini dapat terjadi dalam waktu beberapa menit hingga beberapa jam setelah pemberian vaksin. Reaksi alergi berat ini amat sangat jarang terjadi. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.  Sumber: cdc
 30 Jan 2015    15:00 WIB
Kesalahan yang Membuat Anda Lebih Mudah Tertular Oleh HPV
Berdasarkan sebuah penelitian baru di Amerika, sekitar 10% wanita yang mulai menerima vaksin HPV ternyata tidak pernah menyelesaikan rangkaian vaksinasi tersebut, yang tentu saja akan membuat vaksin menjadi kurang efektif. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisa data dari sebuah survei kesehatan di Amerika, yang terdiri dari 27.000 orang dewasa di Amerika. Para peneliti kemudian menemukan bahwa mulai dari tahun 2010, sekitar 75% wanita yang berusia antara 18-26 tahun tidak melakukan vaksinasi HPV. Selain itu, sekitar 10% wanita yang menerima setidaknya 1 dosis vaksin HPV tidak kembali melanjutkan penyuntikkan vaksin hingga selesai (vaksinasi HPV terdiri dari 3 dosis). Karena para ahli sampai saat ini masih tidak mengetahui seberapa baik perlindungan yang diperoleh para wanita ini dengan hanya menerima 1 atau 2 dosis vaksin, maka para peneliti menganjurkan agar para wanita menerima keseluruhan vaksin HPV untuk memperoleh manfaat yang optimal dari penyuntikan vaksin. Vaksin HPV yang telah diluncurkan sejak 7 tahun lalu diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya infeksi dari 4 jenis HPV yang paling sering menyebabkan terjadinya kanker serviks (kanker leher rahim) dan kutil kemaluan. Vaksin HPV ini juga berfungsi untuk membantu mencegah terjadinya kanker vulva dan vagina serta mencegah terjadinya kanker anus baik pada pria maupun wanita. HPV sebenarnya merupakan penyakit menular seksual yang paling sering ditemukan di Amerika. Menurut CDC, setidaknya setengah dari seluruh pria dan wanita yang aktif berhubungan seksual pernah tertular oleh HPV di sepanjang hidupnya. Akan tetapi, karena pemberian vaksin HPV dibagi menjadi 3 dosis, maka banyak wanita yang tidak berhasil menyelesaikan rangkaian vaksin HPV ini. Dosis vaksin kedua biasanya diberikan 1-2 bulan setelah pemberian dosis pertama. Dosis ketiga biasanya diberikan 6 bulan setelah pemberian dosis pertama. Jika Anda telah melewatkan waktu pemberian dosis kedua dari vaksin HPV, maka bukan berarti Anda tidak lagi dapat menerima dosis kedua dan ketiga. Menurut sebuah penelitian lainnya yang juga dilakukan di Amerika, menunda pemberian dosis lanjutan dari vaksin HPV tidak akan menghilangkan keefektifan pemberian vaksin HPV lengkap. Efektivitas vaksin hanya akan berkurang bila Anda sama sekali tidak menerima dosis kedua dan ketiga dari rangkaian vaksin HPV. Para ahli menganjurkan agar pemberian vaksin HPV kembali dilakukan saat wanita telah berusia 26 tahun, baik bagi para wanita yang belum pernah menerima vaksin sebelumnya atau bagi para wanita yang hanya menerima 1 dosis vaksin saat mereka berusia lebih muda. Saat yang terbaik untuk menerima vaksin HPV adalah saat seorang perempuan masih berusia antara 11-12 tahun, akan tetapi bukan berarti Anda tidak boleh menerima vaksin bila Anda telah melewati usia tersebut.     Sumber: womenshealthmag