Your browser does not support JavaScript!
 04 Jul 2020    16:00 WIB
Mengapa Vaksinasi Pada Anak Itu Penting?
Mungkin Anda sering mendengar pentingnya melakukan vaksinasi pada anak, vaksin tidak hanya diberikan pada anak namun juga pada orang dewasa. Mengapa anak perlu divaksin? Bagaimana cara vaksin bekerja? Imunisasi atau vaksinasi bekerja dengan cara "menipu" tubuh Anda, dimana Anda vaksinasi membuat tubuh Anda percaya bahwa saat itu tubuh Anda sedang diserbu mikroorganisme yang menular, sehingga tubuh Anda akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk memperkuat pertahanan tubuhnya. Vaksinasi dilakukan dengan menyuntikkan suatu bentuk kuman berbahaya yang telah dilemahkan. Kemudian tubuh akan mengingat "invasi’ yang dilakukan kuman tersebut sehingga tubuh dengan mudah mengenali serangan dan mentralisir penyebab penyakit saat penyakit yang sesungguhnya menyerang.   Mengapa vaksinasi pada anak penting untuk dilakukan? Kekebalan dari ibu diberikan kepada bayi yang baru lahir, namun kekebalan ini menghilang dalam tahun pertama kehidupan mereka. Sehingga bayi tidak memiliki lagi kekebalan alami. Saat seorang anak tidak dilakukan vaksinasi dan terkena kuman yang menular, kemungkinan tubuhnya belum dapat melawan penyakit tersebut. Banyak anak yang meninggal akibat beberapa penyakit seperti campak, batuk rejan, dan polio. Mengimunisasi anak juga membantu melindungi orang lain termasuk bayi yang sangat kecil yang mungkin tidak dapat divaksinasi (seperti anak-anak yang mengidap leukemia) dan mereka yang tidak dapat merespon vaksinasi.   Sumber: newhealthguide
 18 Apr 2020    08:00 WIB
Vaksin Jerawat Lebih Efektif dan Ampuh Dari Yang Lainnya
Jerawat adalah hal yang mungkin banyak orang telah alami. Setidaknya ketika seorang menginjak masa remaja atau mengalami pubertas. Jerawat tidak hanya membuat seorang tidak nyaman namun juga bisa berdapka pada kondisi psikologis seorang. Merasa tidak percaya diri karena adanya jerawat yang menggangu penampilan. Lebih-lebih lagi jerawat kadangkala meninggalkan bekas pada wajah yang bisa bertahan untuk waktu yang lama. Beberapa perawatan yang paling umum untuk jerawat antara lain di dalmnya adalah antibiotik dan retinoid, yang merupakan jenis senyawa kimia yang membantu menjaga kesehatan dan penampilan kulit. Namun perawatan ini tidak selalu efektif dan terkadang bisa menyebabkan efek samping lainnya seperti kulit kering dan iritasi. Menurut Chun-Ming Huang, salah seorang peneliti dari Universitas California di San Diego, pengobatan saat ini tidak efektif bagi 85 persen remaja dan 40 juta orang dewasa di Amerika. Karena kebutuhan ini maka Huang dan timnya sedang mengembangkan vaksin yang efektif dan aman untuk jerawat seperti yang ditampilkan dalam  the Journal of Investigative Dermatology. Untuk pertama kalinya para peneliti berhasil melawan racun yang disekresikan oleh bakteri. Bakteri yang disebut Propionibacterium acnes (biasa disebut sebagai Cutibacterium acnes) menghasilkan racun yang disebut faktor Christie-Atkins-Munch-Peterson (CAMP). Peradangan luka jerawat sebagian besar disebabkan oleh faktor CAMP ini. Dan kabar baiknya sobat sekalian, sejauh ini usaha para peneliti ini menunjukan hasil yang menjanjikan  dan antibodi terbukti efektif melawan sifat-sifat peradangan yang memicu toksin. Emannuel Contassot dari Universitas Zürich di Swiss menjelaskan bagaimana vaksin untuk jerawat bisa lebih aman dan lebih efektif daripada perawatan yang ada dalam sebuah editorial makalah. Namun di sana dia juga mengingatkan vaksin harus memastikan bahwa keseimbangan bakteri pada kulit tidak terpengaruh. Ini dikarenakan ada beberapa bakteri yang juga membantu melindungi kesehatan kulit. Jadi sobat semoga vaksin ini benar-benar terealisasi. Sehingga permasalahan jerawat yang mengganggu kita baik wanita, pria, remaja dan dewasa bisa teratasi. Sobat juga bisa tampil lebih percaya diri. Jika saat ini sobat mengalami peradangan yang disebabkan oleh jerawat dan sangat mengganggu, lebih baik sejak dini segera dikonsultasikan dengan dokter. Tetaplah sehat, tetap semangat.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.  Sumber : www.medicalnewstoday.com
 02 Mar 2020    17:00 WIB
Fakta Tentang Virus MERS yang Mematikan
Virus mematikan pada saluran pernafasan yang dikenal dengan nama MERS ternyata sudah menyebar ke seluruh dunia. Virus ini pertama kali ditemukan di Saudi Arabia pada tahun 2012, dan banyak berkembang di timur tengah. MERS merupakan virus yang sangat berhubungan dengan virus mematikan lainnya yaitu SARS (severe acute respiratory syndrome) yaitu virus yang menginfeksi 8.000 orang diseluruh dunia pada tahun 2003, dan 774 diantaranya meninggal dunia. Apakah MERS itu?MERS atau Middle East Respiratoru Syndrome adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut coronavirus. Terkadang MERS dikenal sebagai MERS-CoV untuk Middle East respiratory syndrome coronavirus. MERS masih satu keluarga dengan SARS. Coronavirus sudah menyebar ke seluruh dunia, dan CDC mengatakan ada lima tipe coronavirus yang menyebabkan orang sakit. Coronavirus juga dapat menyerang hewan. Gejala MERSGeraja yang timbul dari infeksi MERS adalah batuk, demam dan nafas pendek-pendek. Berapa banyak penderita MERS?Sampai saat ini telah ditemukan 401 kasus MERS di 12 negara. Sebanyak 93 diantaranya telah meninggal dunia. Bagaimana mengobati MERS?Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk MERS, tetapi dokter dapat mengobati gejala-gejala yang dialami oleh pasien. Bagaimana MERS menyebar?Secara umum MERS menyebar diantara mereka yang melakukan kontak langsung. Sebagai contoh pada pasien yang sudah terinfeksi dapat menyebarkan virus kepada para tenaga medis yang sedang menanganinya. Tetapi virus tidak dapat dengan mudah menyebar begitu saja, misalnya saat berbelanja di mall. Dimana saja virus MERS ditemukan?Selain Saudi Arabia, ada lima negara lain yang tercatat sudah melaporkan kasus MERS, yaitu:•  Uni Emirat Arab•  Qatar•  Oman•  Yordania•  Kuwait Ditambah, enam negara lain yang dilaporkan mendapat kasus MERS berhubungan dengan orang yang sedang dalam perjalanan, yaitu:•  Amerika Serikat•  Perancis•  Tunisia•  Italia•  Malaysia•  Inggris Darimanakah asal virus MERS?Petugas kesehatan publik mengatakan bahwa virus berasal dari hewan, tetapi hal ini masih harus diteliti lebih lanjut. Virus ini telah ditemukan pada unta di Qatar, Mesir dan Saudi Arabia. MERS juga ditemukan pada kelelawar di Saudi Arabia. Tetapi para petugas belum bisa memastikan apakah unta memang sumber dari virus. Sejauh ini para petugas mengatakan unta, kelelawar dan binatang lain mungkin memiliki peranan penting dalam persebaran virus Apakah ada vaksin?Sampai saat ini tidak ada vaksin yang tersedia untuk virus MERS.Sumber: webmd
 05 Feb 2020    08:00 WIB
Penggunaan Ketam Ladam untuk Kepentingan Medis
Ketam Ladam atau Horseshoe Crab merupakan salah satu jenis hewan primitif yang hidup di laut. Disebut ketam ladam karena tubuhnya berbentuk ikan pari dengan kulit yang kaku dan keras dan  menyerupai tapal kuda. Ketam ladam ternyata mempunyai peranan sangat penting, yang jarang diketahui oleh orang banyak berkaitan dengan dunia medis. Ekstrak dari darah ketam ladam ini banyak digunakan oleh industri farmasi dan industri medis secara umum untuk memproduksi obat-obatan intravena, vaksin dan peralatan medis yang bebas dari kontaminasi bakteri.  Mengapa kita harus peduli mengenai kontaminasi bakteri di produk farmasi? Bakteri bisa hidup dimana saja, di saluran cerna kita, di tanah, sungai dan lain sebagainya. Ada sebagian bakteri yang cukup bermanfaat untuk kehidupan, misalnya untuk menghancurkan sampah organik dan mengembalikan nutrisi kembali ke rantai makanan. Tetapi ada juga bakteri yang dapat merugikan manusia karena dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti keracunan makanan, kolera dan tetanus. Bagaimana jika bakteri merugikan ini hidup di obat-obatan yang kita gunakan untuk mengobati penyakit yang kita derita? Tentu obat ini justru malah merugikan kita. Terlebih untuk obat yang dimasukkan langsung ke pembuluh darah, tentu memerlukan persyaran bebas dari bakteri atau steril supaya ketika dimasukkan ke dalam tubuh tidak menimbulkan reaksi merugikan yang mungkin dapat berakibat fatal. Bagaimana ketam ladam melindungi kita dari penyakit? Darah biru dari ketam ladam mempunyai kekuatan super yang bisa digunakan untuk melawan bakteri dan para ilmuwan memanfaatkannya secara langsung untuk mencegah munculnya kontaminasi pada obat suntik dan peralatan medis lainnya. ketika ketam ladam ini dipotong, sel-sel darah yang keluar dari ketam ladam tersebut membawa senyawa yang menyebabkan pembekuan darah yang berguna untuk mencegah bakteri masuk. Dengan cara demikian ketam ladam membantu mencegah terjadinya infeksi yang berpotensi mematikan. Komponen didalam sel darah ketam ladam ini mampu mengikat tidak hanya bakteri, tetapi juga jamur dan virus. Selain itu ketam ladam dapat membentuk bekuan sebagai hasil reaksi adanya endotoksin yang menyebabkan pencegahan terjadinya perdarah pada luka dan juga melindungi luka dari masuknya bakteri. Bagaimana ketam ladam dikumpulkan dan apakah ketam ladam berbahaya? Ketam ladam hidup di perairan yang dangkal dan dapat dikumpulkan dengan menggunakan tangan atau menggunakan kapal dan ketam ladam bukanlah jenis hewan yang berbahaya. Begitu ketam ladam dikumpulkan, mereka langsung dibawa ke laboratorium, biasanya enggunakan truk pendingin untuk menjaganya tetap dingin dan segar selama proses transportasi. Para proses perlukaan ketam ladam, biasanya darah yang dikeluarkan dari ketam ladam sebayak 30% dari total cairan pada tubuhnya dan para peneliti membuktikan saat ketam ladam ini dikembalikan ke perairan maka cairan tubuhnya akan kembali ke jumlah normal dalam waktu satu minggu setelahnya. Dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk ketam ladam mengembalikan hitung jenis darahnya kembali normal seperti semula. Seekor ketam ladam biasanya mengalami proses perlukaan beberapa kali dalam setahun didalam laboratorium.   Sumber: horseshoecrab, deepseanews
 04 Dec 2019    08:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin Rotavirus?
Rotavirus merupakan virus yang paling sering menyebabkan terjadinya diare, terutama pada bayi dan anak-anak. Vaksin rotavirus bukan merupakan imunisasi wajib di Indonesia. Pemberian vaksin rotavirus dapat membantu mencegah terjadinya diare atau infeksi lainnya yang disebabkan oleh rotavirus. Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin juga memiliki efek samping. Efek samping akibat pemberian vaksin ini biasanya hanya merupakan efek samping ringan seperti reaksi alergi ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya. Pada beberapa kasus walaupun sangat jarang, dapat terjadi reaksi alergi berat yang membahayakan jiwa. Sebagian besar bayi yang menerima vaksin rotavirus tidak mengalami efek samping apapun. Akan tetapi, beberapa orang bayi mungkin mengalami beberapa efek samping, mulai dari efek samping ringan hingga berat. Efek Samping Ringan Setelah pemberian vaksin rotavirus, bayi mungkin akan menjadi rewel atau mengalami diare ringan sementara atau muntah. Efek Samping Berat Setelah pemberian vaksin rotavirus, seorang bayi memiliki resiko untuk mengalami intususepsi (sangat jarang). Intususepsi merupakan suatu keadaan di mana terjadi penyumbatan saluran cerna yang membuat bayi memerlukan perawatan inap di rumah sakit dan mungkin juga memerlukan tindakan pembedahan untuk mengatasinya. Intususepsi merupakan suatu keadaan yang dapat terjadi secara alami pada bayi dan penyebabnya biasanya tidak diketahui. Intususepsi yang terjadi akibat pemberian vaksin rotavirus biasanya terjadi dalam waktu 1minggu setelah pemberian dosis pertama atau kedua vaksin. Sumber: cdc
 29 Sep 2019    16:00 WIB
Apa Efek Samping dari Vaksin Influenza?
Vaksin influenza merupakan vaksin yang marak diberikan akhir-akhir ini. Terdapat 2 jenis vaksin influenza yaitu vaksin flu inaktif dan vaksin flu aktif. Baik vaksin influenza inaktif maupun aktif tidak dapat menyebabkan terjadinya infeksi influenza. Walaupun bukan termasuk obat-obatan, vaksin ini pun memiliki efek samping seperti obat. Akan tetapi, efek samping ini biasanya hanya berupa efek samping ringan yang akan menghilang dengan sendirinya. Efek samping berat sebenarnya mungkin saja terjadi walaupun sangat jarang. Vaksin Influenza InaktifBeberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin influenza inaktif adalah:•  Nyeri, pembengkakan, atau kemerahan pada daerah bekas suntikan•  Nyeri mata atau mata merah atau mata terasa gatal•  Batuk•  Demam•  Nyeri otot•  Nyeri kepala•  Badan terasa gatal•  Merasa sangat lelah Berbagai gejala ringan ini biasanya timbul segera setelah vaksin diberikan dan dapat berlangsung selama 1-2 hari. Anak-anak kecil yang menerima vaksin influenza inaktif bersamaan dengan vaksin pneumococcal dapat meningkatkan resiko terjadinya kejang demam. Beberapa efek samping berat yang dapat timbul setelah menerima vaksin influenza inaktif adalah:•  Reaksi alergi berat, yang dapat terjadi segera setelah pemberian vaksin•  Beresiko menyebabkan terjadinya sindrom Guillain-Barre Resiko terjadinya efek samping berat ini lebih kecil daripada resiko terjadinya komplikasi akibat infeksi influenza. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anak Anda sebelum anak Anda menerima vaksinasi apapun.Vaksin Influenza AktifVaksin influenza aktif berisi virus influenza yang telah dilemahkan sehingga tidak dapat menyebabkan terjadinya infeksi.Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi pada anak berusia 2-17 tahun setelah menerima vaksin influenza aktif adalah:•  Hidung meler, hidung tersumbat, atau batuk•  Demam•  Nyeri kepala•  Nyeri otot•  Suara napas berbunyi "ngik-ngik" (mengi)•  Nyeri perut atau kadang mual atau muntah Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi pada orang berusia 18-49 tahun setelah menerima vaksin influenza aktif adalah:•  Hidung meler atau hidung tersumbat•  Nyeri tenggorokan•  Batuk•  Menggigil•  Merasa lelah atau lemah•  Nyeri kepalaReaksi alergi berat dapat terjadi setelah menerima vaksin influenza aktif, walaupun sangat jarang. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.Sumber: cdc
 23 Aug 2019    16:00 WIB
Pentingnya Vaksin DPT Untuk Mencegah Difteri, Tetanus dan Pertusis
Saat anak Anda lahir, maka saat itu adalah saat terbaik dalam hidup Anda. Anda sudah membayangkan bahwa bayi Anda akan tumbuh sehat dan menjadi kebanggaan untuk diri Anda dan keluarga besar. Untuk menjaga kesehatan bayi  yang baru lahir selain memberikan ASI dan susu formula bila ternyata ASI ibu tidak keluar, Anda juga harus melakukan vaksinasi. Dengan vaksinasi maka Anda akan menjaga anak agar tidak mudah terjangkit penyakit yang berbahaya. Ada beberapa macam vaksin wajib untuk bayi. Salah satunya adalah vaksin DPT. Agar Anda para orang tua menjadi lebih tahu, ini manafaat dari vaksin DPT. Vaksin DPT diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah infeksi bakteri pada selaput lendir hidung dan tenggorokan yang memiliki efek yang serius. Bakteri menyebabkan penyakit ini dapat menghasilkan racun yang merusak jaringan, terutama pada hidung dan tenggorokan. Difteri akan membentuk lapisan tebal di tenggorakan, menyebabkan gangguan pernapasan, gangguan pada jantung dan kerusakan saraf. Tetanus menyebabkan pengetatan otot, terutama kepala dan leher, itulah sebabnya disebut "lockjaw" atau rahang terkunci. Pengencangan otot ini membuat sulit untuk membuka mulut, menelan, dan bernafas. Bahkan di zaman kesehatan yang lebih modern, satu dari 10 orang yang terinfeksi tetanus meninggal, namun risikonya sangat berkurang jika anak Anda mendapatkan vaksinasi sesuai anjuran. Rekomendasi booster direkomendasikan mulai usia 11 dan setiap 10 tahun setelahnya Pertusis lebih dikenal sebagai "batuk rejan." Penyakit ini sangat menular yang menyebabkan penyakit batuk yang berlangsung dua minggu atau lebih dan bisa disertai dengan muntah. Pertusis paling berbahaya di kalangan bayi dan bisa menyebabkan pneumonia, kerusakan otak, kejang, dan kematian. Pertusis adalah penyakit yang paling tidak terkontrol yang dapat dicegah dengan menggunakan vaksin. Vaksinasi DPT memiliki keefektifan antara 80-89 %. Dengan kata lain, bahkan jika anak divaksinasi, mungkin masih terjangkit pertusi, namun efeknya tentu tidak akan seberat bila dilakukan vaksin.   Vaksin DPT diberikan pada usia 2,4,6 bulan kemudian dilakukan booster kembali pada usia 15-18 bulan, usia 4-6 tahun. Diberikan melalui suntikan.   Baca juga: 7 Jenis Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: verywell
 06 Aug 2019    18:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin DPT?
Vaksin DPT merupakan suatu vaksin gabungan untuk mencegah difteria, pertusis, dan tetanus. Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin pun memiliki beberapa efek samping. Efek samping ini biasanya merupakan efek samping ringan yang dapat hilang dengan sendirinya. Dianjurkan untuk duduk atau berbaring selama sekitar 15 menit setelah menerima vaksin karena ada kemungkinan Anda merasa pusing atau pingsan, untuk mencegah terjadinya cedera akibat terjatuh.   Efek Samping Ringan Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT tetapi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam ringan (38 derajat Celcius) • Nyeri kepala • Merasa lelah • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Menggigil • Nyeri otot • Nyeri sendi • Timbul bercak kemerahan pada kulit • Pembesaran kelenjar getah bening   Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi tidak membutuhkan perawatan medis adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam lebih dari 39 derajat Celcius • Nyeri kepala • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Pembengkakan pada seluruh lengan tempat suntikan dilakukan   Efek Samping Berat Beberapa efek samping berat yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT dan membuat penerimanya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan membutuhkan perawatan medis adalah pembengkakan, nyeri hebat, perdarahan, dan kulit kemerahan pada daerah bekas suntikan. Reaksi alergi berat yang membahayakan jiwa setelah menerima vaksin dapat terjadi walaupun sangat jarang (kurang dari 1 dari 1.000.000 dosis).   Sumber: cdc
 17 Jul 2019    08:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin Cacar Air?
Vaksin cacar air biasanya diberikan pada anak-anak saat berusia 1-1.5 tahun (dosis pertama) dan biasanya diulang setelah anak berusia 4-6 tahun (dosis kedua). Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin pun memiliki beberapa efek samping, mulai dari efek samping ringan yaitu reaksi alergi ringan hingga efek samping berat yaitu reaksi alergi berat yang dapat membahayakan jiwa penerimanya. Akan tetapi, reaksi alergi berat setelah pemberian vaksin ini sangat jarang terjadi. Manfaat vaksin cacar air lebih besar daripada terkena penyakit cacar air. Selain itu, sebagian besar orang yang menerima vaksin cacar air tidak mengalami efek samping apapun. Berbagai efek samping ini lebih sering terjadi setelah pemberian dosis pertama vaksin dibandingkan dengan dosis kedua vaksin. Efek Samping Ringan Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin cacar air adalah: • Nyeri atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam • Kulit kemerahan, hingga sebulan setelah menerima vaksinasi Walaupun sangat jarang, orang yang mengalami gangguan kulit ringan setelah menerima vaksin cacar air, dapat menularkan virus ini pada anggota keluarga lainnya. Efek Samping Sedang Efek samping sedang yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin cacar air adalah kejang yang disebabkan oleh demam, akan tetapi efek samping ini sangat jarang terjadi. Efek Samping Berat Walaupun amat sangat jarang, menerima vaksin cacar juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia (radang paru-paru). Beberapa gangguan berat lainnya yang dapat terjadi setelah menerima vaksin cacar air adalah gangguan otak berat dan rendahnya jumlah sel-sel darah. Akan tetapi, karena kejadian ini sangat jarang terjadi, maka para ahli tidak dapat memastikan apakah hal ini memang terjadi akibat pemberian vaksin cacar air atau disebabkan oleh gangguan lainnya. Sumber: cdc