Your browser does not support JavaScript!
 28 Aug 2015    20:00 WIB
Keram Vagina, Ganggu Kehidupan Seks Anda!
Apakah Anda atau pasangan Anda (wanita) merasakan nyeri saat berhubungan seksual? Bila iya, mungkin Anda mengalami vaginismus (keram pada vagina) Vaginismus adalah suatu kontraksi yang tidak disadari dari otot vagina. Hal ini menyebabkan lubang vagina menjepit dengan kuat dan sulit untuk dilakukannya penetrasi. Kondisi ini bisa terjadi pada wanita yang secara fisik dan psikis menolak untuk melakukan hubungan seksual. Apabila hal ini terjadi bisa menjadi penghambat rutinitas dalam bercinta. Apa sih penyebab Vaginismus? Vaginismus adalah keinginan bawah sadar seorang wanita untuk mencegah masuknya penis ke dalam vagina. Penyebab vaginismus: Fisik: Adanya infeksi yang menimbulkan luka disekitar bibir vagina bagian dalam dan lubang vagina. Gangguan selaput dara, termasuk apabila adanya tarikan saat penetrasi berlangsung. Adanya bekas robekan pada saat melahirkan yang tidak sembuh secara sempurna Psikis: Pernah mengalami traumatik secara seksual, seperti pemerkosaan, dimana jika trauma itu masih dirasakan hingga masa menikah, maka hal itu merupakan vaginismus sekunder. Momen bercinta yang kerap menimbulkan rasa nyeri bisa jadi menyebabkan trauma psikis, sehingga rasa trauma itu bisa menyebabkan vaginismus. Perasaan takut yang berlebihan apabila bercinta bisa membuat hamil Serta perasaan takut tertular penyakit kelamin dari pasangannya Cara mengatasi vaginismus: Bicarakan dengan pasangan Salah satu hal terbaik untuk menangani vaginismus adalah berkomunikasi dengan suami dan beritahukan kondisi yang dialami. Jangan biarkan suami bertanya-tanya mengapa Anda selalu menolak untuk melakukan hubungan seksual. Hal ini dapat memperburuk hubungan Anda dengan pasangan. Konsultasi dengan dokter Terapi ini bertujuan untuk mengatasi permasalah psikologi yang dialami, mengatasi apabila ada infeksi atau masalah lain divagina. Selain itu dokter akan mengajarkan terapi latihan untuk membuat vagina menjadi lebih rileks. Dilator Dilator adalah suatu alat yang terbuat dari bahan semacam plastik yang berbentuk silinder, yang fungsinya untuk merelaksasi otot vagina yang mengalami kekejangan tidak normal. Sebelum menggunakan dilator, biasanya terlebih dahulu pihak wanita akan diminta untuk melakukan latihan kontraksi dan relaksasi otot panggulnya. Apabila sudah mampu melakukan relaksasi otot, barulah dilator bisa digunakan. Dimulai dari ukuran terkecil (nomor 1). Dilator akan dibiarkan didalam vagina sekitar 10-15 menit, dan dapat diulang 3-4 kali di siang hari dan sekali lagi menjelang malam. Pada umumnya, wanita dengan vaginismus bisa menggunakan dilator nomor 3 dan 4 dalam kurun waktu satu minggu. Apabila dengan penggunaan dilator nomor 3 atau 4, pihak wanita sudah merasakan kenyamanan, maka cobalah untuk bercinta dengan posisi wanita di atas. Latihan kegel Latihan untuk memperkuat otot panggul (latihan Kegel) bisa dilakukan pada saat alat pelebar berada di dalam vagina. Otot di sekitar vagina dikerutkan kuat-kuat dan kemudian dikendorkan, sehingga memungkinkan terbentuknya suatu perasaan bahwa penderita bisa mengendalikan otot-otot tersebut. Relaksasi dengan pasangan Untuk membuat Anda menjadi lebih santai dalam melakukan hubungan seksual. Anda dapat melakukan hal-hal yang merelaksasi tubuh dan eksplorasi tubuh seperti mandi bersama pasangan, pijatan sensual, menggunakan musik, teknik pernapasan, latihan yoga untuk merelaksasi seluruh tubuh termasuk bagian intim Anda. Hubungan seksual adalah bentuk cinta kasih antar pasangan. Jangan sampai rasa sakit mengganggu kualitas dalam berhubungan. Apabila Anda atau pasangan mengalami vaginismus maka segera atasi dan mendapatkan kembali hubungan intim yang berkualitas. Baca juga: Benarkah Kegel Dapat Meningkatkan Kualitas Orgasme? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: recipe
 18 Aug 2015    12:00 WIB
Miss V Anda Sehat?
Miss V atau daerah vagina adalah bagian tubuh yang sering tidak diperhatikan, padahal kesehatan vagina tentu sangat penting untuk wanita. Untuk tahu vagina Anda sehat atau tidak, ayo simak ulasan berikut ini. Dr. Deyo Famuboni mengatakan bahwa bagaimana penampilan, bau dan keadaan saat berhubungan seksual bisa menunjukkan vagina Anda sehat atau tidak.  Berikut adalah ciri-ciri vagina yang sehat: Penampilan Bentuk vagina setiap wanita berbeda. Labia mayora (bibir atas vagina) bisa besar ataupun kecil, halus atau sedikit kasar. Bagian ini merupakan kantung yang berisi lemak dengan rambut kemaluan yang dirancang untuk menjaga dari bakteri serta membuat hubungan seksual lebih nyaman. Sama seperti kulit kita, pertambahan usia akan membuatnya menjadi kendur. Bagian yang melindungi vagina dan uretra (tempat di mana urin keluar) adalah labia minora (bibir dalam vagina), yang terletak di dalam labia mayora, lebih kecil dan lebih sensitif. Bagian ini juga membutuhkan nutrisi yang cukup, khususnya protein untuk menjaga kolagen di dalamnya. Bentuk klitoris setiap wanita juga berbeda-beda. Organ yang penting saat berhubungan seksual ini meluas kebelakang dan bisa mengeras dan membesar saat terangsang. Rambut kemaluan juga memiliki berbagai bentuk. Di antara labia, Anda mungkin melihat jerawat kecil seperti lesi. Ini merupakan kelenjar keringat dan kelenjar minyak yang menghasilkan cairan untuk menjaga vagina dan mencegah gesekan. Cairan vagina Dari pubertas sampai menopause, adanya cairan yang keluar dari vagina adalah normal. Jumlah dari tiap orang biasanya bervariasi. Beberapa hari sebelum menstruasi, mungkin akan keluar cairan yang berwarna putih, krem atau kuning, kental dan lengket. Saat masa ovulasi biasanya cairan akan berubah menjadi lcin, elastis dan basah. Apabila Anda tidak hamil, maka cairan dari vagina ini akan berubah menjadi lebih tebal dan lengket. Sama seperti ketiak, kulit di sekitar labia memiliki banyak kelenjar keringat. Vagina juga memproduksi cairan untuk menjaga keseimbangan pH agar vagina tetap sehat. Saat berolahraga biasanya daerah vagina Anda akan mudah berkeringat. Cairan vagina yang tidak normal apabila mulai timbul gejala seperti adanya perubahan warna dan jumlah, misalnya menjadi berwarna putih kapur hal ini disebabkan oleh infeksi candida atau infeksi trichomoniasis, infeksi menular seksual yang membuat cairan vagina menjadi berbusa kuning atau hijau. Apabila Anda menggunakan kontrasepsi hormonal dan memiliki kondisi dimana lapisan dalam serviks (leher rahim) menonjol ke luar (ektropion) juga dapat mengubah cairan vagina menjadi berlebihan. Penyebab lain yang dapat meningkatkan jumlah cairan vagina adalah polip serviks, penggunaan tampon yang terlalu lama, pencucian vagina terlalu sering dengan menggunakan bahan kimia dapat menimbulkan reaksi alergi. Sebuah kondisi yang harus dikhawatirkan adalah kanker dan jika mempengaruhi vagina, serviks atau lapisan rahim, juga dapat menyebabkan peningkatan dan perubahan jenis cairan vagina sedemikian rupa sehingga menjadi lebih tipis dan bercampur dengan  darah. Apabila hal ini terjadi, segera lakukan pemeriksaan kondisi Anda kepada dokter untuk memastikan kondisi vagina sehat dan bila memang perlu pengobatan maka akan mendapatkan terapi yang tepat. Hubungan seks yang menyakitkan Bila mengalami nyeri saat berhubungan seksual hal ini dikenal sebagai dispareunia dan biasanya terjadi ketika vagina terlalu kering atau meradang karena infeksi. Untuk membantu mengatasi adanya nyeri saat berhubungan seksual bisa dilakukan foreplay untuk memberikan pelumasan yang cukup. Dispareunia yang dirasakan lebih, dirasakan rasa sakit di perut bagian bawah atau panggul saat berhubungan seks. Hal ini bisa terjadi karena beberapa kondisi seperti  endometriosis . Hubungan seks yang menyakitkan juga bisa disebabkan yang disebut vaginismus. Hal ini disebabkan otot-otot sekitar vagina akan menjadi kejang pada percobaan penetrasi. Bila hal ini terjadi Anda bisa  membicarakannya dengan dokter Anda sehingga penyebab ini dapat dieksplorasi dan diberikan terapi yang tepat, biasanya dilakukan terapi desensitise vagina secara bertahap. Yang dapat membantu meningkatkan kontrol refleks dasar panggul dan otot pengetatan agar tidak mudah terjadi vaginismus. Gatal Penggunaan pewangi dan pencuci vagina yang berbahan kimia sering kali mengganggu flora normal vagina dan lapisan pelindung kulit luar sehinggga menyebabkan daerah vagina iritasi dan meradang. Kondisi kulit lainnya juga dapat menimbulkan gatal di sekitar daerah vagina seperti termasuk eksim, lichen planus (garis-garis putih gatal sekitar vulva dan vagina) dan distrofi vulva (gangguan pertumbuhan kulit di sekitar vulva) Untuk menghindari terjadinya infeksi daerah vagina sebaiknya Anda menahan diri mencuci vagina menggunakan sabun berbahan dasar kimia, mengenakan pakaian katun atau tidakselalu membersihkan dari depan ke belakang (dan daerah di antara), menahan diri menggunakan pakaian ketat seperti skinny jeans. Bau Ada begitu banyak alasan mengapa vagina menjadi bau, dari pertumbuhan berlebih dari bakteri normal karena lingkungan vaginanya menjadi kurang asam (ini disebut vaginosis bakteri). Apa bila timbul bau amis karena vaginosis bakteri biasanya disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Pada beberapa wanita hal ini bisa dipacu karena kondisi menstruasi atau pola hubungan seksual yang tidak baik. Dalam situasi ini, biasanya disarankan menggunakan gel asam laktat. Ini untuk memberi vagina nutrisi yang dibutuhkan agar tetap seimbang. Selain itu tubuh kita, vagina juga membutuhkan nutrisi yang tepat. Makanan yang kaya nutrisi membantu  mempertahankan tingkat keasaman daerah vagina yang seimbang dan mencegah pertumbuhan berlebih dari bakteri yang menyebabkan bau amis. Menjaga bakteri baik yang dikenal sebagai lactobacilli dalam vagina juga dapat membantu. Oleh karena itu disarankan untuk konsumsi probiotik yang sering dikaitkan dengan penurunan terjadinya vaginosis bakteri. Baca juga: 11 Tips Untuk Menjaga Kesehatan Vagina Anda Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: yahoohealth
 26 Dec 2014    11:00 WIB
Apa yang Terjadi Pada Vagina Anda Seiring Dengan Semakin Bertambahnya Usia?
Usia 20 Tahun Masa pubertas sudah berlalu dan organ reproduksi Anda telah mencapai masa dewasanya. Selain itu, labia mayor (bagian luar dari vagina yang menutupi area kewanitaan) akan menipis. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya usia Anda, maka lapisan lemak di bawah kulit akan semakin menipis, termasuk pada daerah kewanitaan Anda tersebut.   Usia 30 Tahun Perubahan keseimbangan hormonal yang terjadi saat Anda hamil atau seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda akan menyebabkan labia minor (lapisan dalam dari vagina, yang mengelilingi klitoris dan pintu masuk vagina) menjadi lebih gelap. Saat kehamilan, rahim Anda akan membesar dan kembali mengecil dalam waktu 6 minggu setelah proses persalinan. Hal ini pun akan terjadi pada vagina Anda saat proses persalinan berlangsung di mana pintu masuk vagina akan melebar agar kepala bayi dapat lewat dan kembali mengecil setelah proses persalinan selesai. Proses peregangan ini akan membuat pintu masuk vagina menjadi lebih “kendor”.   Usia 40 Tahun Walaupun jumlah sel telur di dalam tubuh wanita akan menyusut dengan cepat saat para wanita ini mencapai usia awal 40 tahun, akan tetapi para wanita ini masih tetap mengalami ovulasi dan menstruasi. Pada usia ini, para wanita biasanya telah mulai mengalami perubahan siklus menstruasi, di mana lama menstruasi menjadi lebih pendek dan volume darah yang dikeluarkan pun menjadi semakin sedikit saat mencapai usia 50 tahun karena telah memasuki masa menopause. Selain itu, saat berusia 40 tahun, berbagai jaringan pendukung organ reproduksi wanita seperti tendon, jaringan lunak, dan otot telah mengalami perubahan. Peningkatan berat badan, penuaan, atau olahraga berat selama bertahun-tahun dapat membuat otot-otot dasar panggul Anda menjadi kendor yang menyebabkan kandung kemih “bocor” atau daerah kemaluan dan perut bagian bawah terasa berat. Untuk mencegah hal ini, melakukan olahraga Kegel secara teratur dapat membantu. Selain menyebabkan perubahan fisik pada vagina dan siklus menstruasi, rendahnya kadar estrogen juga dapat mengganggu keseimbangan asam-basa di daerah vagina, yang dapat memicu terjadinya proses peradangan, penipisan dinding vagina, dan vagina menjadi kering. Ketiga hal ini dapat menyebabkan vagina terasa gatal, terasa seperti terbakar, dan berwarna kemerahan. Untuk mencegah hal ini, berhubungan seks secara teratur dapat membantu.     Sumber: womenshealthmag