Your browser does not support JavaScript!
 26 Oct 2019    18:00 WIB
Mengenal Gangguan Jiwa Eksebisionisme
Pernahkan Anda melihat orang yang memamerkan alat kelaminnya didepan umum? Jika Anda pernah melihatnya mungkin orang tersebut mengalami gangguan jiwa eksebisionisme. Pada gangguan jiwa eksibisionisme, seseorang, biasanya laki-laki suka dan sering memamerkan alat kelaminnya kepada orang lain yang sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi. Pada saat melakukan hal tersebut, penderita akan terangsang secara seksual bahkan bisa memicu masturbasi setelah penderita melakukan hal tersebut. Hubungan seksual yang lebih jauh hampir tidak pernah terjadi, sehingga penderita jarang melakukan pemerkosaan. Sebagian penderita yang tertangkap berusia dibawah 40 tahun. Seorang wanita bisa memamerkan tubuhnya dengan cara-cara yang mengganggu, tetapi pada wanita, eksibisionisme jarang dihubungkan dengan kelainan psikoseksual. Apa yang menyebabkan gangguan jiwa eksebisionisme? Sejauh ini belum bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab pasti munculnya gangguan jiwa eksebisionisme, tetapi para peneliti mempunyai teori bahwa penyebab orang bisa mengidap eksebisionisme ini adalah ia pernah mengalami kekerasan seksual yang traumatis pada saat masih kecil. Bagaimana mendiagnosa gangguan jiwa eksebisionisme? Diagnosa didasarkan dari gejala-gejala gangguan yang ada. Pengobatan yang tersedia untuk gangguan jiwa eksebisionisme Sebagian besar kasus parafilia ditangani dengan konseling dan terapi perilaku. Obat-obat bisa membantu mengurangi tindakan kompulsif yang berhubungan dengan eksebisionisme dan mengurangi terjadinya perilaku dan fantasi seksual yang menyimpang. Pada beberapa kasus, terapi hormon diberikan pada penderita yang sering mengalami kekambuhan perilaku seksual yang berbahaya. Obat-obat ini bekerja dengan mengurangi gairah seksual penderita.   Sumber: merckmanual
 27 Nov 2014    11:00 WIB
Efek Samping Terapi Hormon Untuk Kanker Payudara
Beberapa kanker payudara terbentuk karena adanya peningkatan kadar estrogen dalam tubuh kita, sehingga diberikan terapi hormon sebagai pengobatan. Hormon-hormon ini bekerja melawan estrogen untuk menghentikan pertumbuhan tumor. Hal ini dilakukan dengan menghalangi kerja hormon estrogen ataupun memperlambat produksi hormon estrogen. Sering kali para ahli bedah akan merekomendasikan terapi hormon untuk mengurangi ukuran tumor sebelum dilakukan operasi sehingga dapat mengurangi kerusakan pada jaringan sekitarnya. Apabila kanker sudah menyebar maka seseorang yang dilakukan tindakan operasi akan tetap menjalani terapi hormon yang biasanya dilakukan selama 5 tahun paska operasi. Manfaat dilakukannya terapi hormon: Mencegah pembentukan kembali kanker Mengurangi risiko terjadinya kanker dengan jenis yang sama dibagian tubuh lainnya dari payudara. Memperlambat atau dalam beberapa kasus menghentikan penyebaran kanker Mengurangi ukuran tumor yang ada sebelum tindakan operasi Beberapa efek samping yang terjadi pada terapi hormon meliputi: Impotensi pada pria dengan kanker payudara Sakit kepala Keputihan, kekeringan atau iritasi Mual Ruam kulit Kelelahan Nyeri pada sendi dan otot Ketidakteraturan menstruasi Risiko yang lebih serius tapi kurang umum terjadi Katarak Stroke Osteoporosis Mudah mengalami patah tulang karena kehilangan massa tulang Penyakit jantung Pembekuan darah di pembuluh darah Endometrium atau kanker vagina Sumber: newhealthguide