Your browser does not support JavaScript!
 22 Sep 2017    12:00 WIB
Stroke apa dan bagaimana?
Stroke yang sudah tidak asing lagi bagi kita, merupakan penyakit pembuluh darah otak yang dapat terjadi pada semua kelompok usia. Stroke terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah otak yang dapat berupa perdarahan maupun penyumbatan. Perdarahan terjadi karena pecahnya pembuluh darah otak yang dapat pecah spontan atau merupakan akibat dari penyakit pembuluh darah otak (seperti aneurisma, AVM) hipertensi, atau penyakit kelainan darah seperti leukemia dan hemofilia. Penyumbatan pembuluh darah otak terdiri dari dua mekanisme, yaitu aterosklerosis / trombosis (penyumbatan yang disebabkan karena penimbunan plak dalam pembuluh darah itu sendiri sehingga menyumbat aliran darahnya) dan emboli (penyumbatan yang terjadi karena adanya gumpalan komponen darah yang terbawa dari tempat lain/ sebagai akibat dari penyakit lain). Beberapa penyakit dapat mempermudah tersumbatnya pembuluh darah otak, yaitu kencing manis, penyakit jantung, penyakit kolesterol, penyakit darah, infeksi / radang pembuluh darah, dan lain-lain. Semua gangguan itu, baik perdarahan maupun penyumbatan, sangat mempengaruhi fungsi otak, karena aliran darah yang menuju ke bagian otak tertentu akan berkurang, dan bahkan dapat terhenti. Sel-sel otak yang mengalami gangguan aliran darah itu akan rusak dan mati sehingga kehilangan fungsinya untuk mengatur kerja bagian tubuh yang dikendalikannya. gangguan fungsi otak tersebut diantaranya dapat berupa kelumpuhan separuh sisi tubuh, kesulitan bicara (bicara pelo, sulit berkata-kata), gangguan menelan, gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan, gangguan kesadaran, mual-muntah, nyeri kepala, perasaan nyeri / baal separuh sisi tubuh, bahkan kejang dan penurunan kesadaran sampai koma Sampai saat ini pengobatan stroke belum dapat memulihkan kembali fungsi sel-sel otak yang sudah mati. Pengobatan stroke masih terbatas pada usaha penyelamatan daerah otak yang rusak agar tidak menjadi lebih parah lagi kerusakannya. Pada stroke perdarahan, disamping pemberian obat-obatan yang membantu melancarkan sirkulasi pembuluh darah otak, apabila jumlah perdarahannya banyak seringkali diperlukan tindakan operasi untuk mengangkat gumpalan darah. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi desakan dan kerusakan otak akibat adanya gumpalan darah tersebut. Pada kasus kelainan pembuluh darah seperti aneurisma dan AVM, tindakan operasi selain mengangkat gumpalan darahnya, juga mengangkat pembuluh darah yang mengalami kelainan tersebut Pada stroke penyumbatan, apabila pengobatan dilakukan selama golden time (6 jam pertama setelah serangan stroke) diharapkan dapat membuka kembali sirkulasi yang tersumbat, sehingga diharapkan sel-sel otak yang fungsinya mulai lemah akibat kekurangan aliran darah dapat kembali pulih. Selain pemberian obat-obatan, tindakan operasi juga dapat dilakukan pada beberapa kasus stroke penyumbatan, seperti pemasangan stent (cincin), bypass pembuluh darah otak, atau memberikan obat penghancur bekuan darah (trombolisis) secara langsung ke dalam pembuluh darah. Semua tindakan pengobatan ini bertujuan untuk mencegah bertambahnya kerusakan otak akibat penyumbatan yang terus berlangsung Tidak kalah penting  bagi para penderita stroke, usaha pengendalian terhadap faktor risiko (misalnya kencing manis, penyakit jantung, darah tunggi, kolesterol) dan usaha rehabilitasi bagi mereka yang mengalami gangguan fungsi tubuh akibat stroke juga perlu diperhatikan.
 26 Aug 2017    15:00 WIB
Penyebab Epilepsi dan Pemicu Kejang
Epilepsi adalah suatu kondisi di mana terjadi serangan kejang berulang. Diagnosa epilepsi dipertimbangkan bila seseorang mengalami serangan kejang lebih dari satu kali. Epilepsi dapat disebabkan oleh adanya cedera pada jaringan otak atau seringkali penyebabnya tidak diketahui. Proses Terjadinya KejangKejang terjadi bila terdapat suatu hantaran impuls listrik melebihi batas normalnya. Hal ini kemudian menyebar ke area otak yang berdekatan dengannya dan menyebabkan suatu aktivitas impuls listrik yang abnormal. Impuls listrik ini kemudian dihantarkan ke otot-otot yang kemudian menyebabkan kedutan atau kejang. Penyebab EpilepsiEpilepsi lebih sering mengenai anak-anak dan dewasa muda. Sekitar 30% penderita epilepsi adalah anak-anak. Hanya sedikit sekali epilepsi yang diketahui penyebabnya dan biasanya diakibatkan oleh cedera pada otak. Di bawah ini terdapat beberapa penyebab epilepsi, yaitu:• Kekurangan oksigen saat lahir• Cedera kepala saat lahir atau kecelakaan saat anak-anak atau dewasa• Tumor otak• Penyakit genetik yang menyebabkan cedera otak, seperti sklerosis tuberosa• Infeksi seperti meningitis atau ensefalitis• Stroke atau kerusakan otak lainnya• Kadar gula darah atau natrium yang tidak normalHanya sekitar 30% kasus epilepsi yang diketahui penyebabnya, sedangkan sisanya tidak dapat ditemukan penyebabnya. Pemicu KejangWalaupun penyebab epilepsi sulit diketahui, namun terdapat beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kejang pada penderita epilepsi. Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kejang adalah:• Tidak patuh minum obat• Konsumsi alkohol berlebihan• Penggunaan obat-obatan terlarang, misalnya ekstasi• Kurang tidur• Obat-obatan lain yang dapat menyebabkan terjadinya kejang• Menstruasi. Pada sebagian wanita penderita epilepsi, kejang seringkali terjadi saat menstruasi. Penambahan dosis obat atau penggantian obat dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kejang saat menstruasi. Sumber: webmd
 25 May 2017    08:00 WIB
Berjalan Kaki Dapat Menurunkan Resiko Terjadinya Stroke
Beberapa peneliti di Inggris mengatakan bahwa pria lanjut usia mungkin dapat menurunkan resiko terjadinya stroke dengan berjalan kaki setiap harinya. Anda tidak perlu berjalan cepat untuk mengurangi resiko stroke. Sebuah penelitian baru ini menunjukkan bahwa berjalan kaki selama 1 atau 2 jam mungkin dapat menurunkan resiko terjadinya stroke hingga sepertiga dan berjalan kaki selama 3 jam atau lebih setiap harinya juga dapat menurunkan resiko terjadinya stroke hingga dua pertiga kalinya. Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama sehingga perlu dilakukan berbagai hal untuk mencegah stroke, terutama pada orang lanjut usia yang memiliki resiko lebih tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan memiliki gaya hidup yang aktif, terutama sering berjalan kaki, dapat mencegah terjadinya stroke pada orang lanjut usia. Yang lebih menarik adalah anda tidak perlu berjalan cepat untuk menurunkan resiko stroke. Berjalan kaki saja, baik berjalan santai maupun cepat dapat membantu menurunkan resiko stroke anda. Sebenarnya, berbagai aktivitas fisik selain berjalan kaki juga merupakan hal penting untuk menurunkan resiko terjadinya stroke, baik pada pria maupun wanita. Berbagai aktivitas fisik ini juga dapat meningkatkan kesehatan jantung anda dan bahkan dapat memperbaiki mood anda. Berjalan cepat atau berkebun atau berbagai aktivitas fisik sedang lainnya selama sekitar 150 menit setiap minggunya atau melakukan aktivitas berat seperti jogging atau bermain tenis selama 75 menit setiap minggunya dapat membantu melindungi jantung terhadap berbagai penyakit jantung, mencegah diabetes, dan mencegah stroke. Walaupun penelitian ini menemukan adanya hubungan antara waktu berjalan kaki setiap minggunya dengan menurunnya resiko stroke, tidak ditemukan adanya hubungan sebab akibat. Pada penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan pada sekitar 3.500 pria sehat yang berusia antara 60-80 tahun. Para peneliti kemudian menanyakan berapa banyak waktu yang mereka habiskan setiap minggunya untuk berjalan kaki. Para peneliti kemudian membagi pria-pria ini menjadi 5 kelompok, yaitu:•  Pria yang berjalan 0-3 jam setiap minggunya•  Pria yang berjalan 4-7 jam setiap minggunya•  Pria yang berjalan 8-14 jam setiap minggunya•  Pria yang berjalan 15-21 jam setiap minggunya•  Pria yang berjalan lebih dari 22 jam setiap minggunya Peneliti kemudian menemukan bahwa dalam waktu 10 tahun, pria yang berjalan kaki selama 8-14 jam setiap minggunya mengalami penurunan resiko terjadinya stroke hingga sepertiga kali dibandingkan dengan pria yang berjalan kaki selama 0-3 jam setiap minggunya. Sementara itu, bagi pria yang berjalan kaki lebih dari 22 jam setiap minggunya, para peneliti menemukan bahwa resiko terjadinya stroke pada mereka turun hingga dua pertiga kali. Penelitian ini menemukan bahwa sekitar 80 dari 1.000 pria yang berjalan kaki 0-3 jam setiap minggunya mengalami stroke dalam waktu 10 tahun. Sementara itu, sekitar 55 dari 1.000 pria yang berjalan kaki selama 8-14 jam setiap minggunya mengalami stroke dalam waktu 10 tahun kemudian. Penurunan resiko stroke ini tidak berhubungan dengan seberapa cepat anda berjalan kaki, hanya berhubungan dengan seberapa lama anda berjalan kaki.Sumber: webmd
 17 Dec 2016    15:00 WIB
Diet Kaya Protein Dapat Membantu Mencegah Stroke
Diet kaya protein ternyata mampu menurunkan resiko terjadinya stroke, terutama daging tanpa lemak dan ikan. Menurut para peneliti orang yang banyak mengkonsumsi protein hewani sebagai menu dietnya ternyata mampu menurunkan resiko terkena stroke sebanyak 20% dibandingkan mereka yang hanya mengkonsumsi sedikit protein dalam menu dietnya. Setiap tambahan konsumsi 20 gram protein perhari mampu menurunkan resiko stroke sebanyak 26%. Menurut the American Academy of Neurology jika setiap orang mengkonsumsi protein pada tingkatan ini, maka diperkirakan akan menurunkan angka kematian dari stroke sebanyak 1,4 juta di seluruh dunia, sekaligus menurunkan resiko terjadinya kecacatan karena stroke. Para peneliti menyimpulkan bahwa protein hewani mampu mencegah timbulnya stroke dua kali lebih efektif dibandingkan protein nabati. Tetapi para ahli stroke mengingatkan untuk tidak menelan bulat-bulat hasil penelitian tersebut karena banyak sumber protein hewani mengandung lemak jenuh yang justru dapat meningkatkan resiko stroke. Tujuan dari studi ini bukanlah untuk mendorong orang-orang untuk mengkonsumsi burger dan daging merah. Tetapi diharapkan dengan penelitian ini orang-orang dapat memfokuskan diri untuk mengkonsumsi protein dari daging tanpa lemak dan juga protein dari sayur-sayuran. Dari tujuh penelitian yang diadakan di Jepang dan tiga penelitian yang diadakan di Swedia, dimana kebanyakan penduduknya cenderung lebih banyak makan ikan dibandingkan daging merah. Ikan, pada penelitian sebelumnya telah membuktikan dapat menurunkan resiko stroke, sementara konsumsi daging merah dapat meningkatkan resiko stroke. Dokter memang belum pasti mengetahui bagaimana cara protein hewani menurunkan resiko stroke. Nutrisi yang ada didalam protein hewani dapat mencegah terjadinya proses pengerasan dari dinding pembuluh darah arteri, tekanan darah tinggi dan diabetes, yang menjadi faktor resiko dari stroke. Pada penelitian ini para peneliti menemukan bahwa protein hewani dapet menurunkan resiko stroke sampai 29%, sementara protein nabati mampu menurunkan resiko sebanyak 12%. Tetapi para peneliti hanya menemukan hubungan antara konsumsi protein dengan resiko stroke karena tidak didesain untuk membuktikan hubungan sebab akibat. Protein ini diperkirakan lebih lengkap karena kandungan asam amino yang sangat dibutuhkan oleh manusia, sementara sumber protein nabati memerlukan jumlah yang lebih banyak untuk mampu mencukupi kebutuhan asam amino yang diperlukan oleh manusia. Dan secara umum, protein hewani mempunyai kualitas asam amino yang lebih baik dibandingkan protein nabati.   Sumber: medicinenet
 01 Sep 2016    12:00 WIB
Mengapa Tekanan Darah Perlu Diukur Pada Kedua Tangan?
Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang memiliki tekanan darah yang berbeda pada kedua tangannya (tangan kanan dan kiri) memiliki resiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis tekanan darah dari sekitar 3.300 orang, yang berusia 40 tahun atau lebih di Amerika. Penelitian ini hanya memfokuskan pada tekanan darah sistolik, yaitu angka pertama pada hasil pengukuran tekanan darah. Orang yang memiliki tekanan darah sistolik yang berbeda sekitar 10 mmHg atau lebih di antara kedua tangannya memiliki resiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang lebih tinggi (sekitar 38%). Mereka dapat mengalami serangan jantung atau stroke dalam kurun waktu 13 tahun dibandingkan dengan orang yang memiliki perbedaan tekanan darah yang lebih sedikit di antara kedua tangannya. Hasil penelitian ini bahkan tetap berlaku setelah para peneliti memperhitungkan juga berbagai faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan jantung seseorang, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol darah yang tinggi, dan diabetes. Hasil penelitian ini membuat para dokter harus mulai mempertimbangkan untuk mengukur tekanan darah seseorang pada kedua tangannya. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan pada tahun 2012 menemukan adanya suatu hubungan antara perbedaan tekanan darah sistolik pada kedua tangan dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan pembuluh darah perifer (tepi) atau peripheral artery disease (PAD), yaitu suatu keadaan di mana terjadi penyempitan pembuluh darah pada anggota gerak (tangan dan kaki). Baca juga: Turunkan Tekanan Darah Anda Dengan Mengkonsumsi Makanan Ini… Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: foxnews
 22 Aug 2016    18:00 WIB
Migrain dan Stroke
Stroke dan migrain mempunyai gejala-gejala yang mirip dan terkadang tertukar satu dengan yang lain. Tetapi apakah migrain dapat menyebabkan stroke dan sebaliknya? Para peneliti belum bisa mengungkapkannya. Penelitian menunjukkan jika Anda sering mengalami migrain, Anda mungkin akan mengalami peningkatan resiko terkena stroke di kemudian hari. Hubungan antara stroke dengan migrainJika Anda tiba-tiba mengalami sakit kepala yang berat, penurunan penglihatan di salah satu mata dan kelemahan otot di satu sisi tubuh, segeralah pergi ke unit gawat darurat terdekat. Hal tersebut bisa saja tanda dari migrain, tetapi mungkin juga tanda stroke. Anda harus menemui dokter untuk memastikannya.Orang dengan migrain akan mengalami peningkatan resiko terkena stroke karena terbentuknya endapan darah. Wanita lebih sering menderita migrain dibanding pria karena faktor hormon.Beberapa orang dengan migrain biasanya akan mengetahui ia akan mengalami episode migrain berikutkan karena biasanya akan didahului peringatan seperti aura, seperti kilatan lampu. Mereka yang mengalami aura saat migrain akan mengalami peningkatan resiko stroke lebih besar dibandingkan mereka yang tidak mengalami aura. Kemungkinan akan semakin meningkat jika disertai faktor berikut:•  Merokok•  Mengkonsumsi pil kb•  Berusia dibawah 45 tahun Jika Anda mengalami migrain lebih sering, segera temui ahli syaraf. Dokter ahli syaraf akan dapat mengetahui dan mengatasi masalah di otak. Beberapa obat-obatan dapat membantu mencegah migrain dan membuat migrain tidak terlalu menyakitkan dan lebih jarang terjadi. Turunkan resiko strokePola hidup dapat membuat Anda menurunkan resiko mengalami kanker:•  Jika Anda mengkonsumsi pil kb, sebaiknya Anda mengkonsultasikan dengan dokter apakah metode kontrasepsi terbaik untuk Anda•  Jika Anda berhenti merokok•  Jika Anda mengontrol tekanan darah. Tekanan darah tinggi merupakan penyebab utama terjadinya stroke•  Menjaga kadar kolesterol•  Menjaga kadar gula darah•  Menjaga tubuh tetap sehat. Baca juga: Tes Resiko Stroke Anda Dengan Melakukan Hal Ini! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd  
 30 Apr 2016    15:00 WIB
Kehidupan Wanita Paska Stroke Lebih Buruk Daripada Pria
Stroke merupakan salah satu keadaan yang dapat membuat anda harus bergantung hidup pada orang lain. Terdapat dua macam stroke yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pada stroke iskemik, serangan stroke terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah yang menyebabkan kematian sel-sel otak. Sementara itu, stroke hemoragik merupakan serangan stroke yang terjadi akibat adanya perdarahan di dalam otak yang juda dapat menyebabkan kematian sel-sel otak. Stroke dapat mengenai siapa saja, baik pria maupun wanita, dan dapat mengenai usia berapa pun, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan orang lanjut usia (paling sering). Akan tetapi, beberapa penelitian menemukan bahwa ternyata stroke lebih sering terjadi pada wanita. Wanita muda pun rentan terhadap serangan stroke karena kehamilan dan penggunaan pil KB. Berdasarkan sebuah penelitian, saat wanita mengalami serangan stroke, mereka mengalami gejala sisa yang lebih berat daripada pria, bahkan hingga 1 tahun kemudian. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati para penderita stroke dalam waktu 3 bulan dan 12 bulan setelah serangan stroke terjadi. Para peneliti menanyakan bagaimana kemampuan mobilitas mereka (dapat berjalan kembali atau tidak; bila dapat apakah memerlukan bantuan atau tidak); kemampuan mengurus diri sendiri; dapatkah melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelumnya; apakah mereka mengalami depresi, merasa cemas, atau merasakan nyeri otot. Sebuah penelitian lain di Amerika menemukan bahwa 3 bulan setelah serangan stroke, seorang wanita memiliki kualitas hidup yang lebih rendah daripada pria. Para wanita ini memiliki lebih banyak gangguan dalam kemampuannya berjalan (mobilitas), kemampuannya melakukan aktivitasnya sehari-hari, adanya depresi, rasa cemas, dan nyeri otot. Satu tahun setelah serangan stroke terjadi, para wanita yang mengalami serangan stroke tetap memiliki lebih banyak kesulitan dalam kemampuannya berjalan (mobilitas), adanya depresi, rasa cemas, dan nyeri otot. Kesulitan berjalan pada wanita paska stroke diduga berhubungan dengan terbatasnya kekuatan dan fungsi otot sebelum serangan stroke terjadi. Wanita pun lebih banyak mengalami depresi karena mereka memiliki harapan untuk sembuh yang lebih tinggi daripada pria atau mungkin lebih sulit menerima kenyataan. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: npr
 15 Nov 2015    20:00 WIB
Cuaca dan Peningkatan Resiko Stroke
Walaupun kedengaran aneh, para peneliti telah menemukan adanya kemungkinan hubungan antara cuaca tertentu dengan kejadian stroke. Perubahan suhu yang cukup jauh setiap harinya dan kelembaban yang tinggi diduga dapat meningkatkan resiko stroke. Para peneliti juga menemukan bahwa suhu yang lebih dingin dari biasanya juga berhubungan dengan kejadian stroke dan bahkan kematian. Suhu rata-rata pada musim dingin, yaitu -15°C dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke hingga 6%. Penyebab mengapa hal ini terjadi masih belum jelas. Selain itu, walaupun para peneliti telah berhasil menemukan adanya hubungan antara cuaca dengan resiko stroke, akan tetapi hubungan timbal balik antar keduanya masih belum dapat dibuktikan. Perubahan suhu setiap harinya dan peningkatan kelembaban udara dapat merupakan suatu stressor. Oleh karena itu, orang yang beresiko tinggi menderita stroke disarankan agar menghindari paparan udara dingin dan kelembaban udara yang tinggi ini.   Bagaimana Perubahan Suhu Membuat Tubuh Merasa Stress? Saat suhu dingin, berbagai pembuluh darah di dalam kulit anda akan mengecil sehingga tubuh tidak membuang panas terlalu banyak. Bila udara hangat, maka pembuluh-pembuluh darah ini akan melebar untuk meningkatkan pengeluaran panas melalui kulit. Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi akibat adanya obstruksi atau sumbatan di dalam pembuluh darah yang memperdarahi otak. Apabila lumen pembuluh darah yang telah mengecil akibat penumpukan lemak bertambah kecil akibat suhu dingin, maka hal ini diduga dapat menyebabkan terjadinya serangan stroke.   Faktor Resiko Stroke Lainnya Selain perubahan cuaca, terdapat faktor resiko lain yang berhubungan dengan peningkatan resiko stroke seperti usia, jenis kelamin, ras, berat badan, gaya hidup, kadar kolesterol, dan riwayat kesehatan penderita (apakah penderita juga menderita gangguan kesehatan lain, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi).   Sumber: webmd
 02 Sep 2015    16:00 WIB
Kesepian Versus Obesitas, Hayo Mana Yang Lebih Berbahaya?
Seiring dengan kemajuan teknologi yang terjadi saat ini, maka semakin mudah bagi seseorang untuk mengisolasi dirinya dari lingkungan di sekitarnya. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa hal ini ternyata dapat berdampak buruk pada kesehatan Anda?   Para peneliti dari Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat, menemukan bahwa isolasi diri dan rasa kesepian dapat membuat usia seseorang menjadi lebih pendek karena dapat mengganggu kesehatan orang tersebut, sama seperti gangguan kesehatan yang disebabkan oleh obesitas. Mereka menemukan bahwa rasa kesepian, isolasi diri, dan hidup sendirian dapat meningkatkan resiko terjadinya kematian dini hingga 26%, 29%, dan 32%.   Para peneliti menduga hal ini dikarenakan kurangnya pergaulan sosial, terutama yang bukan dikarenakan pilihan orang tersebut, dapat menyebabkan terjadinya gangguan emosional dan psikologis pada seseorang, terutama bila orang tersebut berusia kurang dari 65 tahun.   Oleh karena itu, para peneliti mengingatkan setiap orang untuk mulai memperhatikan kehidupan dan pergaulan sosialnya, bukan hanya berat badan dan apa makanan yang dikonsumsinya setiap hari.   Selain itu, para ahli lainnya juga menemukan bahwa rasa kesepian ternyata dapat meningkatkan kadar hormon stress, yaitu kortisol, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke dan serangan jantung.   Baca juga: 5 Cara Kembali Ceria Saat Merasa Kesepian   Sumber: huffingtonpost
 11 Mar 2015    16:00 WIB
Terapi Magnet Membantu Mengatasi Bekuan Darah Lebih Cepat, Benarkah?
Sebuah pengobatan stroke baru yang terdiri dari partikel magnet yang berukuran sangat kecil (nano) telah terbukti dapat menghancurkan bekuan darah di dalam otak 100-1.000 kali lebih cepat dibandingkan dengan pengobatan bekuan darah lainnya. Obat ini biasanya dimasukkan ke dalam tubuh penderita stroke melalui pembuluh darah (disuntikkan). Obat baru ini pun menjadi sangat populer karena dapat memberikan kemajuan yang sangat pesat pada pencegahan berbagai penyakit serius seperti stroke, serangan jantung, emboli paru, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya yang disebabkan oleh adanya bekuan darah yang merusak jaringan dengan cukup berat dan menyebabkan terjadinya kematian. Para peneliti yang menemukan obat ini mendesain partikel nano di dalam obat tersebut agar mereka dapat “tersangkut” pada bekuan darah sehingga obat penghancur bekuan darah (tPA atau tissue plasminogen activator) pun dapat bekerja secara maksimal di tempat yang diperlukan. Para peneliti melapisi obat ini dengan albumin, sejenis protein yang memang dapat ditemukan di dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh pun tidak akan menyerang partikel nano (oksida besi) di dalamnya. Para dokter pun menyambut baik obat stroke baru ini karena adanya partikel nano di dalamnya membuat obat tersebut bekerja tepat sasaran sehingga dosis obat yang diperlukan pun menjadi lebih rendah. Sebenarnya, tPA dan obat lain sejenisnya cukup efektif untuk menolong para penderita, akan tetapi karena obat ini dimetabolisme dengan cepat di dalam tubuh, maka dokter pun harus memberikan dosis yang lebih tinggi agar obat dapat bekerja dengan efektif. Pemberian dosis obat-obatan ini pun membutuhkan perhatian lebih karena dapat menyebabkan terjadinya perdarahan, yang juga dapat membahayakan jiwa penderita.   Sumber: newsmaxhealth