Your browser does not support JavaScript!
 28 Jan 2018    16:00 WIB
Mencari Kontak Lensa yang Tepat Untuk Anda
Memakai kontak lensa bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan saat ini. Anda bisa memakai kontak lensa berwarna biru muda untuk hari ini dan esok menggunakan kontak lensa berwarna keemasan yang sangat menarik. Bahkan Anda bisa memilih menggunakan lensa sekali pakai. Untuk mereka yang mengalami masalah penglihatan, kontak lensa merupakan alat yang sangat membantu dan menolong. Kontak lensa berbentuk lapisan plastik tipis yang sesuai dengan kornea Anda, yang dapat membantu masalah penglihatan seperti rabun jauh, rabuh dekat atau astigmatisma. Saat ini bahkan tersedia lensa kontak untuk mereka yang mengalami masalah presbiopia dan memerlukan lensa bifokal. Coba bicarakan dengan dokter Anda mengenai tipe kontak lensa yang paling baik untuk Anda dan tetap lakukan pemeriksaan mata secara teratur dengan begitu Anda tidak hanya akan menjaga kesehatan mata Anda saja tetapi juga akan memperbaharui ukuran mata Anda.   Kontak lensa lunak Kontak lensa lunak merupakan kombinasi dari plastik dan air. Air akan membuat oksigen dapat masuk ke kornea melalui kontak lensa sehingga meningkatkan kenyamanan, mengurangi kemungkinan terjadinya mata kering dan menjaga kesehatan kornea Anda. Jika kornea mata Anda tidak mendapat oksigen cukup maka kornea tersebut bisa membengkak, berkabut, dan menyebabkan pandangan kabur dan masalah lain yang serius. Keuntungannya: Banyak kontak lensa yang lunak berjenis sekali pakai, jadi Anda bisa membuangnya setelah Anda menggunakannya. Dengan selalu menggunakan kontak lensa yang baru akan mengurangi kemungkinan terjadi infeksi, lebih bersih dan lebih nyaman. Bila Anda menggunakan jenis lensa yang tidak sekali buang, maka Anda harus membersihkannya setiap kali Anda melepas atau ingin memakainya kembali. Lensa Rigid Gas-Permeable  Sesuai namanya, lensa ini lebih kaku dibandingkan kontak lensa yang lunak. Biasanya lensa ini terbuat dari silikon sehingga lensa ini masih memungkinkan oksigen masuk ke dalam kornea Keuntungan: Anda mungkin akan mendapatkan pandangan yang lebih jernih dengan menggunakan lensa ini. Biasanya lensa ini digunakan untuk mengatasi masalah mata astigmatisma. Lensa ini sangat mudah untuk dirawat dan waktu pakainya sangat panjang.   Kontak lensa bifokal Untuk menggunakan lensa jenis ini Anda memerlukan bantuan ahli lensa untuk mengevaluasi lensa bifokal mana yang paling cocok untuk kebutuhan Anda. Seiring pertambahan usia, lensa mata akan kehilangan kemampuannya untuk fokus dari penglihatan jauh ke dekat. Lensa bifokal akan membantu Anda baik untuk penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat. Lensa bifokal ini tersedia dalam bentuk lensa lunak maupun lensa kaku.   Sumber: webmd
 31 Jul 2017    08:00 WIB
“Wabah” Rabuh Jauh, Apa Penyebabnya???
Apakah Anda merasa semakin sering melihat orang berkacamata akhir-akhir ini??? Anda bukanlah orang pertama yang merasa demikian. Bahkan sebuah rumah sakit mata di wilayah selatan Guangzhou, Cina harus memperbesar fasilitasnya karena semakin banyak pasien yang berdatangan. Enam puluh tahun lalu, hanya sekitar 10-20% penduduk Cina yang mengalami rabun jauh. Akan tetapi, sekarang ini sekitar 90% remaja dan orang dewasa muda di Cina menderita rabun jauh.  Selain di Cina, hal yang sama juga terjadi di Negara-negara Asia lainnya, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa. Rabun jauh atau miopia sendiri sebenarnya terjadi karena bola mata penderita sedikit memanjang sehingga bayangan benda yang berada jauh jatuh di depan retina dan bukannya tepat di retina. Pada kasus berat, kelainan ini dapat membuat merusak struktur dalam mata dan meningkatkan resiko terjadinya robekan atau lepasnya retina, katarak, glaukoma, dan bahkan kebutaan. Karena mata masih berkembang di sepanjang masa kanak-kanak, maka miopia biasanya baru mulai terjadi saat anak memasuki usia sekolah dan remaja. Peningkatan kasus miopia ini telah mendorong para ahli untuk melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya miopia. Salah satu hal yang ditemukan peneliti adalah bahwa terjadinya miopia mungkin berhubungan dengan faktor genetika. Hal ini dikarenakan kasus miopia lebih sering ditemukan pada anak kembar identik dibandingkan dengan anak kembar non identik. Akan tetapi, karena pesatnya peningkatan kasus miopia di dunia, maka hal ini menunjukkan bahwa genetika bukanlah satu-satunya penyebab (karena dibutuhkan waktu lama bila penyebabnya adalah perubahan genetika). Para ahli pun menduga bahwa faktor lingkungan juga turut berperan dalam terjadinya miopia. Salah satu penyebab yang jelas adalah membaca dalam jarak dekat. Pada zaman modern seperti sekarang ini, semakin banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku, belajar, dan bermain komputer atau telepon genggamnya. Dari sisi biologis sendiri, membaca dalam jarak dekat dalam waktu yang lama dapat mempengaruhi perkembangan bola mata karena mata harus bekerja ekstra untuk memfokuskan cahaya agar jatuh tepat di retina. Hal menarik lainnya yang ditemukan para peneliti pada tahun 2007 adalah bahwa seberapa lama seorang anak menghabiskan waktunya di luar ruangan ternyata juga mempengaruhi seberapa besar resiko miopia yang ia miliki. Para peneliti menemukan bahwa semakin sedikit seorang anak menghabiskan waktunya di luar ruangan, maka semakin besar resikonya untuk menderita miopia. Akan tetapi, hasil ini tampaknya tidak berhubungan dengan banyak olahraga atau aktivitas yang anak lakukan atau tidak dan tidak berhubungan dengan sering tidaknya anak tersebut membaca buku. Oleh karena itu, para peneliti menduga hal ini berhubungan dengan seberapa banyak mata anak terpapar oleh cahaya terang. Hingga saat ini, para ahli masih belum dapat memastikan mekanisme apa yang membuat paparan cahaya terang dapat mencegah terjadinya miopia. Para ahli menduga bahwa paparan cahaya terang ini dapat menstimulasi pelepasan dopamin di dalam retina, yang akan mencegah pemanjangan bola mata selama proses perkembangannya. Berdasarkan analisa dari berbagai penelitian sebelumnya, seorang peneliti miopia di Australia menganjurkan agar seorang anak menghabiskan setidaknya 3 jam di luar ruangan (dengan kekuatan cahaya setidaknya 10.000 lux) setiap harinya untuk mencegah terjadinya miopia.   Baca juga: 7 Penyebab Mengapa Anda Tidak Dapat Melihat Dengan Jelas   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: nature