Your browser does not support JavaScript!
 16 Sep 2017    18:00 WIB
Mood dan Hubungannya Dengan Proses Peradangan di Dalam Tubuh
Sebuah penelitian besar yang dilakukan di Denmark menemukan bahwa gangguan mood seperti depresi ternyata memiliki hubungan langsung dengan proses peradangan di dalam tubuh seseorang. Berdasarkan penelitian ini, depresi dan gangguan mood lainnya dapat merupakan suatu respon otak terhadap proses peradangan di dalam tubuh. Para peneliti menemukan bahwa para penderita penyakit autoimun cenderung lebih sering mengalami gangguan mood, yaitu hingga 45% nya. Sementara itu, adanya infeksi atau riwayat infeksi juga dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan mood hingga 62%. Para peneliti menemukan bahwa sekitar sepertiga orang yang telah didiagnosa menderita gangguan mood pernah dirawat di rumah sakit karena suatu infeksi berat. Proses peradangan atau inflamasi sebenarnya merupakan suatu respon tubuh untuk melindungi diri terhadap suatu infeksi. Penyakit autoimun sebenarnya merupakan suatu keadaan di mana terjadi peradangan di seluruh tubuh karena tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap sesuatu komponen atau jaringan tubuh. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti menduga bahwa penyakit autoimun dan infeksi merupakan faktor penting dalam perkembangan atau terjadinya gangguan mood pada seseorang karena efek inflamasi di dalam tubuh. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisa data dari sekitar 3.56 juta orang yang lahir antara tahun 1945-1996. Di antara para peserta penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa sekitar 3% yaitu 91.367 orang di antaranya pernah dirawat di  rumah sakit karena menderita gangguan mood. Para peneliti kemudian membandingkan kejadian gangguan mood seperti gangguan bipolar, gangguan depresi, gangguan depresi psikotik, dan berbagai gangguan mood lainnya dengan berbagai infeksi seperti sepsis, hepatitis, infeksi saluran kemih dan dengan berbagai penyakit autoimun seperti lupus, anemia, penyakit seliak, penyakit Crohn. Para peneliti pun berhasil menemukan suatu hubungan yang kuat antara infeksi, penyakit autoimun, dan gangguan mood. Hasil penelitian ini pun menguatkan hipotesa yang menyatakan bahwa depresi memiliki hubungan langsung dengan proses peradangan di dalam tubuh. Pada sebuah penelitian lainnya yang juga dilakukan di Denmark, para peneliti menemukan bahwa meningkatnya kadar C reaktif protein (protein yang dihasilkan tubuh sebagai respon terhadap proses inflamasi) di dalam darah seseorang berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan psikologis dan depresi pada orang tersebut. Sebuah penelitian lainnya di tahun 2011 juga menemukan bahwa tingginya kadar asam kuinolat, salah satu hasil sampingan dari proses inflamasi, ternyata berhubungan dengan terjadinya depresi kronik dan kecenderungan untuk bunuh diri. Selain mengkonsumsi obat-obat anti inflamasi, terdapat beberapa hal lain yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan proses inflamasi di dalam tubuh seperti berolahraga secara teratur, mengkonsumsi cukup air putih, dan mengatasi stress. Mengkonsumsi makanan tinggi asam lemak omega 3 seperti minyak zaitun, salmon, sayuran berdaun hijau, jahe, bawang putih, dan teh hijau juga telah terbukti dapat membantu menurunkan proses inflamasi di dalam tubuh dan memperbaiki keadaan kesehatan Anda secara keseluruhan.   Sumber: healthline