Your browser does not support JavaScript!
 05 Dec 2014    13:00 WIB
Kapan Seorang Pria Juga Mengalami Depresi Paska Melahirkan?
Sebuah penelitian di tahun 2010 menemukan bahwa tidak hanya wanita yang dapat mengalami depresi paska melahirkan, tetapi pria pun juga dapat mengalaminya. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa 1 di antara 10 orang pria juga mengalami depresi paska melahirkan tidak lama sebelum atau setelah bayinya lahir. Persentase ini hanya sedikit lebih rendah dibandingkan pada wanita. Penelitian ini juga menemukan bahwa pria muda memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami depresi pada tahun pertamanya menjadi seorang ayah. Walaupun telah terdapat beberapa bukti bahwa pria juga mengalami depresi paska melahirkan, akan tetapi para ahli hanya memiliki sedikit informasi mengenai hal ini karena gejala depresi paska melahirkan pada pria ini baru diketahui pada beberapa tahun belakangan. Para peneliti masih tidak mengetahui apakah benar terdapat hubungan antara kelahiran seorang anak dengan terjadinya depresi pada sang ayah. Akan tetapi, kurangnya waktu tidur, perubahan dinamikan keluarga, dan tanggung jawab yang lebih besar memang dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkan pada seorang pria. Di bawah ini terdapat beberapa gejala depresi paska melahirkan pada seorang pria yang patut diwaspadai untuk menjaga kesehatan sang ayah dan bayinya (seseorang yang mengalami depresi tidak terlalu memperhatikan keselamatan bayinya), yaitu: Kurang tidur dan nafsu makan berkurang Merasa tidak terlalu bertenaga Tidak lagi terlalu menikmati berbagai kegiatan sehari-hari yang biasanya Anda sukai Perubahan mood Untuk mencegah terjadinya depresi paska melahirkan, mengatur jadwal tidur misalnya dengan tidur siang atau tidur bergantian dengan pasangan Anda dapat membantu. Selain itu, membicarakan apa yang Anda rasakan dan harapkan dengan pasangan Anda juga dapat membantu.     Sumber: webmd
 26 May 2014    10:30 WIB
Benarkah Kemandulan Dapat Menyebabkan Kematian Dini Pada Pria?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa pria yang mengalami kemandulan akibat adanya kelainan pada air mani dan spermanya lebih sering mengalami kematian dini daripada pria yang memiliki air mani normal. Penelitian ini menemukan bahwa dalam waktu sekitar 8 tahun, pria yang memiliki 2 atau lebih kelainan pada air maninya memiliki resiko kematian yang lebih tinggi (lebih dari 2 kali lipat) daripada pria yang memiliki air mani yang sehat.  Pada penelitian ini, para peneliti memeriksa rekam medis sekitar 12.000 pria yang berusia di antara 20-50 tahun yang melakukan pemeriksaan kesuburan di the Stanford University School of Medicine atau the Baylor College of Medicine di Houston, Amerika. Pada kedua tempat tersebut, para dokter telah mencatat berbagai informasi, mulai dari kualitas air mani pasien, yang mencakup volume air mani, jumlah sperma, serta pergerakan dan bentuk sperma.  Para peneliti kemudian membandingkan data ini dengan data kematian para peserta, sambil tetap mempertimbangkan berbagai gangguan kesehatan yang dapat mempengaruhi kualitas air mani. Para peneliti menemukan bahwa seorang pria yang hanya memiliki 1 kelainan pada air maninya tidak mengalami peningkatan resiko kematian dini, akan tetapi terjadi peningkatan resiko kematian dini sebanyak 2.3 kali lipat pada pria yang memiliki 2 atau lebih kelainan pada air maninya dibandingkan dengan pria yang tidak memiliki kelainan apa pun pada air maninya. Semakin banyak kelainan pada air mani, maka semakin tinggi resiko kematian dini yang mungkin dialami. Beberapa hal yang berhubungan dengan peningkatan resiko kematian dini adalah: Jumlah air mani  Konsentrasi sperma atau jumlah sperma  Aktivitas sperma Jumlah total sperma Jumlah total sperma yang aktif Bentuk sperma yang abnormal tampaknya tidak memiliki hubungan dengan peningkatan resiko kematian selama waktu pengamatan. Satu hal yang perlu diingat bahwa penelitian ini tidak membuktikan bahwa kelainan air mani dapat menyebabkan peningkatan resiko kematian, tetapi hanya menunjukkan bahwa adanya suatu hubungan antara kelainan air mani dengan kematian dini. Para peneliti menduga bahwa terdapat beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab mengapa buruknya kualitas air mani memiliki hubungan dengan kematian dini, seperti: Jika tubuh Anda tidak dapat menghasilkan air mani yang normal, maka mungkin tubuh Anda juga tidak dapat menjalankan fungsi lainnya dengan normal Kelainan sperma juga dapat disebabkan oleh rendahnya kadar testosteron di dalam tubuh. Berbagai penelitian telah menemukan adanya hubungan antara testosteron dengan panjang umur Berdasarkan berbagai penelitian, pria yang memiliki anak biasanya memiliki umur yang lebih panjang dan angka kematian yang lebih rendah Walaupun penelitian ini hanya menyelidiki hubungan antara kemandulan pada pria dengan kematian dini, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa wanita pun memiliki resiko yang sama.   Sumber: newsmaxhealth