Your browser does not support JavaScript!
 06 Aug 2019    18:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin DPT?
Vaksin DPT merupakan suatu vaksin gabungan untuk mencegah difteria, pertusis, dan tetanus. Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin pun memiliki beberapa efek samping. Efek samping ini biasanya merupakan efek samping ringan yang dapat hilang dengan sendirinya. Dianjurkan untuk duduk atau berbaring selama sekitar 15 menit setelah menerima vaksin karena ada kemungkinan Anda merasa pusing atau pingsan, untuk mencegah terjadinya cedera akibat terjatuh.   Efek Samping Ringan Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT tetapi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam ringan (38 derajat Celcius) • Nyeri kepala • Merasa lelah • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Menggigil • Nyeri otot • Nyeri sendi • Timbul bercak kemerahan pada kulit • Pembesaran kelenjar getah bening   Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi tidak membutuhkan perawatan medis adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam lebih dari 39 derajat Celcius • Nyeri kepala • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Pembengkakan pada seluruh lengan tempat suntikan dilakukan   Efek Samping Berat Beberapa efek samping berat yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT dan membuat penerimanya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan membutuhkan perawatan medis adalah pembengkakan, nyeri hebat, perdarahan, dan kulit kemerahan pada daerah bekas suntikan. Reaksi alergi berat yang membahayakan jiwa setelah menerima vaksin dapat terjadi walaupun sangat jarang (kurang dari 1 dari 1.000.000 dosis).   Sumber: cdc
 28 Mar 2019    16:00 WIB
Apa Itu Pertusis (Batuk Rejan)?
Pertusis (Batuk Rejan, Whooping Cough) adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang sangat menular dan menyebabkan batuk yang biasanya diakhiri dengan suara pernafasan dalam bernada tinggi (melengking). Penyebabnya adalah bakteri Bordetella pertussis. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah penderita.Apakah gejala dari pertusis? Gejala timbul dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi.  Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran nafas lainnya sehingga terbentuk lendir yang semakin banyak. Pada awalnya lendir yang terbentuk encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket. Infeksi berlangsung sekitar 6-10 minggu dan berkembang melalui 3 tahapan:Tahap kataral (mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi). Gejalanya menyerupai flu ringan:1.  Bersin-bersin, mata berair, nafsu makan berkurang. Lesu, batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang hari)2.  Tahap paroksismal (terjadi dalam waktu 10-14 hari setelah gejala awal). Gejala-gejala yang muncul berupa: Batuk-batuk hebat yang tiba-tiba akibat kesulitan mengeluarkan lendir yang tebal dari saluran nafas Batuk-batuk hebat diikuti dengan usaha menghirup nafas dalam dengan nada tinggi (whoop) Batuk seringkali mengeluarkan banyak lendir yang kental (biasanya tertelan oleh bayi dan anak) atau terlihat sebagai gelembung-gelembung udara besar dari hidung. Anak seringkali menjadi sianosis (kebiruan) akibat tersedak atau mengalami henti nafas (apnea) Muntah dan kelelahan Serangan batuk sering terjadi saat malam hari Serangan batuk bisa diakhiri oleh penurunan kesadaran yang bersifat sementara. Tahap konvalesen (mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal) Batuk semakin berkurang, muntah juga berkurang, anak tampak lebih baik. Kadang batuk masih terjadi selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan. Apa pengobatan yang diperlukan untuk menyembuhkan pertusis?Penderita yang sakit berat biasanya dirawat di rumah sakit karena bisa mengalami kesulitan bernafas yang hebat sehingga membutuhkan alat bantu nafas. Mereka ditempatkan di ruang isolasi untuk mencegah penularan ke orang lain, hingga antibiotik telah diberikan selama 5 hari. Anak-anak yang lebih tua dengan penyakit yang ringan bisa dirawat di rumah dan diberikan antibiotika. Antibiotik yang biasanya digunakan untuk menghilangkan bakteri penyebab pertusis antara lain erythromycin, clarithromycin, atau azithromycin. Antibiotik juga digunakan untuk mengobati infeksi lain yang menyertai pertusis, misalnya pneumonia dan infeksi telinga. Untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah dan karena bayi biasanya tidak dapat makan akibat batuk, maka perlu diberikan cairan melalui infus. Makanan sebaiknya diberikan dalam porsi kecil tetapi sering. Adakah tindakan pencegahan untuk pertusis?Vaksin pertusis merupakan bagian dari imunisasi pada masa kanak-kanak (biasanya dalam bentuk vaksin DPT). Anak-anak yang terpapar pertusi perlu diberikan antibiotik sebagai tindakan pencegahan (misalnya clarithromycin atau azithromycin). Ingin mengetahui lebih dalam tentang pertusis? Silahkan baca di siniSumber: cek gejala penyakit