Your browser does not support JavaScript!
 29 Nov 2016    18:00 WIB
6 Hal yang Membuat Anda Dijauhi Oleh Anak
  Saat orang tua ditanya mengenai hal apa yang paling dikhawatirkan mereka mengenai hubungannya dengan anak-anak mereka, maka sebagian besar dari para orang tua tersebut pasti akan menjawab kurangnya waktu bersama, komunikasi kurang, tidak merasa dibutuhkan atau diinginkan kecuali saat anaknya memerlukan sesuatu, dan tidak mengerti mengapa anak-anaknya tidak bisa dekat dengannya. Adanya jarak di antara orang tua dengan anak-anaknya sebenarnya dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti pola asuh orang tua dan perceraian. Perceraian yang terjadi pada saat anak masih kecil atau setelah anak cukup besar akan berdampak sangat besar pada hubungan antara anak dengan orang tua, apalagi bila salah satu orang tua membuat anaknya membenci pihak lain. Selain keadaan lingkungan, berbagai hal yang Anda lakukan sebagai orang tua juga dapat membuat anak-anak Anda menjauh dari Anda. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa "gejala" yang menunjukkan bahwa hubungan di antara Anda dan anak Anda tidak dekat: Anak Anda jarang sekali menelepon Anda terlebih dahulu dan bila Anda menelepon mereka, mereka mungkin akan lama membalas telepon Anda Anda sulit membuat janji temu dengan anak Anda, tetapi tidak demikian halnya dengan teman-temannya Anak Anda tidak banyak bercerita mengenai kehidupannya Anak Anda tidak mendengarkan tanggapan Anda mengenai kehidupannya Mereka tidak selalu ada untuk Anda dan bahkan merasa malu atau terganggu dengan berbagai permasalahan yang Anda hadapi dan justru menjauhi Anda Anak Anda memberikan julukan pada Anda yang sebenarnya merupakan suatu sindiran dan bukan pujian Jika Anda mengalami salah satu keadaan di atas, maka segeralah bertindak. Perbaiki hubungan Anda dengan anak Anda dengan mencari tahu apakah Anda melakukan kesalahan yang membuat mereka menjauhi Anda. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa hal yang Anda lakukan yang dapat membuat anak-anak Anda menjauhi Anda.   Terlalu Sering Menelepon Apakah Anda sering menelepon atau mengirimkan pesan singkat pada anak Anda hingga Anda dapat dikategorikan sebagai seorang penguntit? Jika Anda ingin berkomunikasi dengan lebih efektif dengan anak Anda, ada baiknya bila Anda bertanya pada anak Anda kapan waktu yang paling tepat bagi mereka untuk menerima telepon atau pesan singkat Anda, kemudian hargailah permintaan mereka.   Terlalu Perhitungan Soal Waktu Apakah Anda selalu mencatat seberapa sering anak Anda berpergian bersama Anda dibandingkan dengan orang lain? Bila ya, segera hentikan kebiasaan buruk tersebut! Beberapa orang anak memang lebih suka berpergian dengan teman atau pasangan atau istri/suami serta anaknya dibandingkan dengan Anda. Dan hal ini bukan berarti anak Anda tidak menyukai Anda. Jadi, bila Anda ingin menghabiskan waktu bersama anak Anda, rencanakanlah suatu reuni kecil sehingga mereka pun termotivasi untuk datang.   Baca juga: Tips Agar Anak  Mau Makanan Sehat   Terlalu Ikut Campur Apakah Anda terlalu ingin tahu mengenai urusan atau kehidupan anak-anak Anda? Anak-anak Anda mungkin enggan memberitahu Anda karena Anda terlalu banyak bertanya atau memberikan nasehat yang tidak diminta. Jadi, bila anak Anda memberitahu Anda bahwa ia baru saja mencoba melamar ke suatu perusahaan baru, jangan langsung menginterogasinya mengenai apa kelebihannya, berapa jam kerjanya, dan tanggung jawab apa saja yang harus ia jalankan. Anggaplah anak Anda akan memberitahu Anda bila ia diterima dan bila ia tidak memberikan kabar lain setelah sejangka waktu, bertanyalah secara singkat padanya mengenai bagaimana kabar lamarannya tersebut.   Sering Mengkritik, Bukannya Mendukung Apakah nasehat Anda benar-benar bertujuan untuk mendukung anak Anda dan bukannya mengkritiknya secara tersembunyi? Semua anak membutuhkan dukungan orang tuanya, tidak peduli berapa usia mereka. Jadi, bila Anda ingin memuji anak Anda, pujilah dan hargai usaha anak Anda dengan tulus. Tunjukkan dan katakana betapa Anda bangga terhadap pencapaian mereka dalam kehidupan, baik dalam mengurus anak atau bekerja. Simpan komentar negatif Anda.   Terlalu Bergantung Pada Anak Banyak orang tua berharap agar anaknya membalas mereka dengan cara yang sama, misalkan karena Anda telah mencurahkan seluruh waktu dan perhatian Anda pada anak Anda, maka Anda pun mengharapkan hal yang sama dari anak Anda. Akan tetapi, perlu Anda ingat bahwa mereka adalah anak Anda bukan pasangan Anda. Jadi, "sembuhkanlah" diri Anda dari obsesi Anda sebagai orang tua dan mulailah mencari kesibukan lainnya selain menjadi orang tua.   Selalu Berkata "Ya" Jangan selalu menuruti apa yang anak Anda inginkan atau minta. Anda boleh-boleh saja menolak permintaan yang Anda tidak ingin lakukan atau tidak bisa Anda lakukan tanpa perlu merasa bersalah. Akan tetapi, Anda harus dapat membedakan kapan anak Anda menelepon karena mereka memang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan Anda atau karena mereka hanya menginginkan sesuatu dari Anda. Jika anak Anda hanya menghubungi Anda saat ia membutuhkan bantuan, maka gunakan permintaannya tersebut sebagai ajang "pertukaran", dengan mengatakan "Aku senang melakukannya (atau maaf Aku tidak bisa melakukannya sekarang). Tetapi, Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu dan keluargamu karena kadangkala Aku merasa bahwa Aku hanya bertemu denganmu saat Kamu membutuhkan bantuanku." Selain itu, lebih baik berkata tidak daripada berkata ya tetapi merasa sebal setelahnya.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: nextavenue
 10 Nov 2016    18:00 WIB
Ini Dia Cara Bertengkar yang ADIL Setelah Menikah
Semua pasangan yang sudah menikah pasti pernah bertengkar. Hal ini merupakan hal yang normal. Akan tetapi, bagaimana cara Anda dan pasangan bertengkarlah yang sangat menentukan bisa tidaknya kehidupan rumah tangga Anda bertahan hingga maut memisahkan. Bertengkar dengan adil sambil masih saling menghormati satu sama lain merupakan kemampuan penting yang harus dipelajari oleh setiap pasangan yang telah menikah. Jika dilakukan dengan cara yang benar, pertengkaran yang sehat dan adil justru dapat membuat ikatan pernikahan Anda dan pasangan menjadi lebih kuat.   Baca juga: Tips Mengatasi Pertengkaran Dalam Pernikahan   Cara bertengkar yang adil setelah Anda dan pasangan menikah adalah: Jangan terus menahan rasa kesal Anda hingga Anda "meledak" dan bertengkar hebat dengan pasangan. Hal ini bukanlah pertengkaran yang adil dalam pernikahan Jika Anda sedang marah pada pasangan Anda karena sesuatu hal dan tidak pernah memberitahu atau membahasnya dengan pasangan Anda dalam waktu 48 jam, maka lupakanlah. Jika tidak, pertengkaran yang terjadi bukanlah pertengkaran yang adil Jika pasangan Anda tidak ingin langsung membahas permasalahan yang timbul, buatlah perjanjian dengannya dalam waktu 24 jam berikutnya untuk bertengkar dengan adil. Masih merasa kesal saat tidur boleh-boleh saja karena Anda tetap butuh tidur. Pastikan saja masalah yang ada diselesaikan besok Tidur dalam keadaan marah dapat memberikan kedua belah pihak cukup waktu untuk berpikir jernih, tidur, dan melanjutkan pertengkaran di keesokan hari. Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu Anda dan pasangan ketahui mengenai cara bertengkar yang adil seperti: Bertengkar dengan adil berarti Anda dan pasangan tahu apa permasalahannya dan kedua belah pihak hanya membahas masalah tersebut (tidak melebar ke hal lain) Jadikan pertengkaran Anda hanya di antara Anda dan pasangan. Jangan bawa pihak ketiga ikut masuk, baik itu ibu Anda, ibu mertua Anda, teman baik Anda, atau pun anak Anda Bertengkar dengan adil berarti kedua belah pihak tidak membahas masa lalu Bertengkar dengan adil berarti kedua belah pihak tidak saling menggunakan kata-kata kasar dan mengatai Benar-benar saling mendengarkan satu sama lain selama Anda bertengkar, termasuk memperhatikan bahasa tubuh dan jangan alihkan pandangan mata Anda dari pasangan saat berbicara Jangan menginterupsi pasangan Anda saat ia sedang berbicara Jangan saling menuduh dan saling menyalahkan Cobalah menggunakan kata "Aku" daripada kata "Kamu" Jika Anda dan pasangan sama-sama tidak marah besar, cobalah untuk berpegangan tangan sambil berbicara Jangan malu untuk meminta maaf dan jangan ragu untuk memaafkan Walaupun mungkin terasa sulit dan berat bagi Anda untuk memaafkan pasangan Anda, akan tetapi tidak memaafkan akan berpengaruh lebih buruk pada kesehatan emosional dan fisik Anda dan pernikahan Anda. Selain itu, ingatlah pertengkaran yang terjadi bukan bertujuan untuk menjadikan Anda sebagai pemenang tetapi untuk mempertahankan pernikahan Anda. Jadi, jangan keraskan hati Anda dan belajarlah untuk berkompromi. Saat bertengkar dengan pasangan, jangan pernah gunakan kata "tidak pernah" dan "selalu" saat mengungkapkan suatu pernyataan. Jangan berteriak, membentak, atau mengancam pasangan Anda. Hal penting lainnya yang Anda dan pasangan butuhkan untuk dapat bertengkar dengan adil adalah keinginan untuk menempatkan kelanggengan kehidupan pernikahan di urutan pertama, keinginan untuk memaafkan, kemampuan untuk mendengar, sikap saling menghormati satu sama lain, dan mengetahui kapan harus meminta maaf.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: about