Your browser does not support JavaScript!
 18 Nov 2015    20:00 WIB
Ini Dia Tanda Berakhirnya Pernikahan Anda!
Pada sebagian besar kasus perceraian, salah satu pihak merasa terkejut saat mereka menerima surat panggilan pengadilan karena pasangannya telah menggugat cerai mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk memperhatikan apa saja tanda-tanda bahaya yang menunjukkan bahwa pernikahan Anda dan pasangan mungkin sedang berada di ujung jurang.Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa tanda peringatan yang menunjukkan bahwa pernikahan Anda sedang berada di ambang pintu perceraian.  1.      Anda dan Si Dia Tidak Lagi Memiliki KesamaanApakah Anda dan pasangan masih tinggal serumah, pergi ke berbagai acara bersama, dan masih melakukan berbagai kegiatan rutin; tetapi hampir tidak pernah mengobrol? Bila ya, maka hal ini merupakan tanda utama bahwa Anda dan pasangan memiliki suatu masalah dalam pernikahan yang telah Anda bina selama ini.Komunikasi dan menceritakan berbagai hal yang Anda alami di sepanjang hari serta memberitahu si dia apa yang Anda pikirkan dan rasakan adalah hal yang sangat penting yang dapat membentuk ikatan dalam hubungan Anda dan pasangan. Oleh karena itu, bila Anda merasa semakin jarang mengobrol dengan pasangan Anda, mulailah dengan membuka percakapan terlebih dahulu dan berbicaralah. 2.      Apapun yang Anda Lakukan Selalu SalahApakah Anda merasa apapun yang Anda lakukan selalu dianggap salah oleh pasangan Anda? Atau apakah si dia terus mengkritik segala sesuatu yang Anda lakukan? Kritik dan kata-kata pedas yang terus-menerus keluar dari mulut pasangan Anda dapat merupakan pertanda adanya masalah besar dalam kehidupan pernikahan Anda.Ajaklah pasangan Anda untuk duduk dan berdiskusi bersama mengenai apa sebenarnya yang membuat ia merasa kesal pada Anda. Mencari tahu masalah yang ada dan apa jalan keluar terbaik untuk menyelesaikannya dapat membantu memperbaiki hubungan Anda dan pasangan. Baca juga: Perceraian dan Akibatnya Pada Anak 3.      Selalu Menjadi Orang Terakhir yang TahuApakah si dia mulai jarang memberitahu Anda apapun mengenai pekerjaannya, masalahnya, atau bahkan kesuksesannya? Apakah Anda baru mengetahui berbagai hal tersebut dari orang lain atau secara tidak sengaja mendengarnya sedang bercerita dengan temannya? Bila ya, maka Anda dan pasangan berarti sedang memiliki masalah besar dalam hal komunikasi! Bila si dia enggan memulai percakapan, Anda pun dapat memulainya. Jangan merasa gengsi! Karena harga diri Anda tidak dapat menyelamatkan pernikahan Anda. 4.      Perubahan Penampilan Pada PasanganSeiring dengan berlalunya waktu, rasa nyaman yang ada di antara Anda dan pasangan memang akan membuat Anda dan pasangan mulai enggan terlihat sempurna di hadapan masing-masing. Akan tetapi, perubahan drastis dalam hal penampilan dan kebersihan diri (menjadi lebih buruk) yang dialami oleh pasangan Anda dapat merupakan pertanda bahwa si dia tidak lagi perduli atau karena ia tidak menghargai Anda dan pernikahannya.Jika pasangan Anda mulai tidak memperhatikan penampilan fisiknya, ajaklah si dia berdiskusi secara baik-baik dan beritahu si dia bahwa Anda akan lebih menghargai dan menghormatinya bila ia memperbaiki penampilannya. 5.      Tidak Saling BerbicaraApakah Anda dan pasangan selalu terlihat sibuk dengan urusan masing-masing saat berada di rumah? Bila ya, maka hal ini dapat merupakan petunjuk adanya masalah di dalam pernikahan Anda dan si dia.Merupakan hal yang umum bagi seseorang untuk mencari pengalih perhatian untuk menghindari berbagai masalah yang ada di dalam kehidupan pernikahannya. Oleh karena itu, segera ajak si dia berdiskusi untuk mencari tahu apa sebenarnya masalah yang ada di dalam pernikahan Anda dan cari jalan keluarnya. Bila tidak, Anda mungkin akan bertemu dengan pasangan di hadapan hakim nantinya! 6.      Selalu Bertengkar Mengenai Hal yang SamaJika Anda dan pasangan selalu bertengkar mengenai hal yang sama dan tetap tidak menemukan jalan keluar bagi permasalahan tersebut, maka ada 2 kemungkinan yang akan terjadi, yaitu pernikahan Anda akan tetap bertahan atau justru cepat berakhir. Anda mungkin membutuhkan bantuan seorang terapis professional untuk mencari tahu apa sebenarnya masalah yang ada di antara Anda dan pasangan. 7.      Kemesraan Sudah Tidak Ada LagiSalah satu tanda bahaya yang paling mudah dikenali adalah jarangnya kontak fisik di antara Anda dan pasangan. Keintiman adalah suatu hal yang penting untuk menjaga hubungan asmara di antara Anda dan pasangan. Jika pasangan Anda tidak atau jarang sekali menunjukkan ketertarikan fisik terhadap Anda, maka hal ini berarti mereka tidak terlalu memperdulikan hubungan emosional di antara Anda dengannya. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang  Sumber: divorcesupport
 09 Sep 2015    12:00 WIB
OMG! Patah Hati Benar-Benar Dapat Menyebabkan Hati Patah?!
Anda mungkin sudah sering melihat gambaran hati terbelah pada berbagai film kartun saat seseorang patah hati, akan tetapi tahukah Anda bahwa patah hati ternyata memang benar-benar mempengaruhi kesehatan jantung Anda?   Sindrom patah hati (broken heart syndrome) atau kardiomiopati takotsubo atau stress kardiomiopati merupakan suatu gangguan jantung sementara yang terjadi akibat adanya peristiwa yang membuat seseorang merasa sangat tertekan, misalnya kematian pasangan hidup.   Sindrom patah hati lebih sering terjadi pada wanita, terutama mereka yang telah berusia 50 tahun atau lebih. Penderita sindrom patah hati ini biasanya mengalami gangguan fungsi pompa jantung sementara, sementara fungsi jantung lainnya tetap normal. Gejala sindrom patah hati dapat menyerupai gejala serangan jantung seperti nyeri dada dan sesak napas. Gejala ini biasanya membaik atau menghilang dengan sendirinya dalam waktu 1 minggu.   Kabar baiknya adalah sindrom patah hati biasanya dapat diobati. Sebagian besar penderita biasanya akan mengalami perbaikan gejala atau sembuh dalam waktu beberapa minggu. Kabar buruknya adalah sindrom patah hati ini dapat menyebabkan kegagalan otot jantung berat, yang tentu saja akan mengancam jiwa penderitanya.   Baca juga: Obati Patah Hati Dengan Mengkonsumsi Empat Makanan Ini   Apa Penyebabnya? Penyebab pasti dari sindrom patah hati hingga saat ini belum diketahui. Para ahli menduga gangguan ini terjadi akibat peningkatan mendadak dari berbagai hormon stress, termasuk adrenalin, yang menyebabkan gangguan sementara pada jantung seseorang.   Beberapa kejadian atau peristiwa yang dapat memicu terjadinya sindrom patah hati adalah: Meninggalnya orang tercinta Saat menerima diagnosis suatu penyakit mematikan Mengalami kekerasan rumah tangga Kehilangan uang dalam jumlah besar Menjadi korban bencana alam Saat diberikan pesta kejutan Saat merasa gugup untuk tampil di depan umum Kehilangan pekerjaan Perceraian Gangguan fisik misalnya saat seseorang mengalami serangan asma, kecelakaan lalu lintas, atau baru saja menjalani prosedur pembedahan besar Konsumsi obat-obatan tertentu seperti epinefrin, obat anti depresi, dan obat tiroid   Apa Saja Gejalanya? Gejala yang paling sering ditemukan pada sindrom patah hati adalah nyeri dada dan sesak napas. Gejala ini dapat terjadi pada orang yang tidak pernah memiliki riwayat gangguan jantung sebelumnya.   Beberapa gejala lainnya yang dapat ditemukan adalah denyut jantung tidak teratur dan syok kardiogenik. Syok kardiogenik merupakan suatu keadaan di mana jantung tiba-tiba melemah dan tidak dapat memompa cukup banyak darah ke seluruh tubuh. Keadaan ini membutuhkan penanganan segera karena dapat menyebabkan terjadinya kematian.   Apa Perbedaan Sindrom Patah Hati Dengan Serangan Jantung? Serangan jantung biasanya terjadi akibat adanya penyempitan pembuluh darah jantung, baik sebagian atau seluruhnya. Penyempitan ini biasanya terjadi akibat adanya bekuan darah yang terbentuk di daerah dinding pembuluh darah yang memang telah dipenuhi oleh tumpukkan lemak.   Sementara itu, pada sindrom patah hati, biasanya tidak ditemukan penyempitan atau sumbatan apapun pada pembuluh darah jantung, tetapi aliran darah di dalam pembuluh darah jantung berkurang. Perbedaan lainnya yang dapat Anda temukan adalah: Perbedaan hasil rekaman irama jantung (EKG)Pada pemeriksaan darah, tidak ditemukan adanya kerusakan pada jantung Tidak ditemukan adanya sumbatan pada pembuluh darah jantung Ditemukan pembesaran bilik jantung kiri sehingga jantung tidak dapat memompa darah dengan baik Masa penyembuhan lebih cepat, biasanya hanya dalam beberapa hari hingga beberapa minggu Untuk memonitor kesehatan jantung penderita, dokter biasanya akan menganjurkan penderita untuk melakukan pemeriksaan EKG dan ECG (echocardiogram) 1 bulan setelah penderita didiagnosa menderita sindrom patah hati.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang .   Sumber: heart, mayoclinic
 18 Jul 2015    12:00 WIB
7 Peristiwa Dalam Hidup yang Dapat Berujung Pada Perceraian
 1.      SakitBila salah satu pasangan menderita suatu penyakit yang serius atau kronik, maka hal ini dapat mengubah hubungan mereka secara keseluruhan. Penyakit menciptakan timbulnya rasa hutang budi, sakit, dan bahkan jati dirinya. Hal ini berarti bahwa salah satu pihak tidak dapat menjalankan perannya sebagaimana mestinya, yang membuat pasangannya harus melakukan kedua peran tersebut. Beberapa pasangan dapat menangani hal ini dengan lebih baik dibandingkan dengan pasangan lainnya.Sebuah penelitian dari Iowa State University menemukan bahwa angka perceraian akan meningkat sekitar 6% bila sang istri menderita suatu penyakit seperti kanker, gangguan jantung, atau gangguan paru. Akan tetapi, angka perceraian tidak mengalami peningkatan bila sang suami yang menderita sakit.Hal ini berarti bahwa seorang pria mungkin lebih sulit mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan oleh sang istri, akan tetapi hal ini sebenarnya tergantung pada bagaimana pembagian kerja pada tiap rumah tangga. 2.      Perubahan PekerjaanSebuah penelitian yang dilakukan di Ohio State University pada tahun 2011 menemukan bahwa pria yang tidak memiliki pekerjaan cenderung lebih sering meninggalkan istrinya dan juga lebih sering ditinggalkan oleh istrinya. Kehilangan pekerjaan tentu saja akan membuat kedua belah pihak mengalami stress mengenai masalah keuangan, keamanan, dan tanggung jawab yang dapat berakhir pada perceraian akibat ketidakpuasan kedua belah pihak.Sebenarnya, tidak hanya kehilangan pekerjaan yang dapat membuat sepasang suami istri tidak bahagia. Berbagai hal yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam status keuangan, jadwal kegiatan harian, atau pembagian waktu dapat menyebabkan timbulnya masalah pada kehidupan pernikahan seseorang, termasuk saat salah satu atau kedua belah pihak menerima pekerjaan baru yang membutuhkan tanggung jawab lebih (lebih sibuk).Oleh karena itu, pastikan Anda tidak menjadikan pernikahan dan hubungan dengan pasangan Anda sebagai hal kedua setelah pekerjaan karena pasangan Anda mungkin akan merasa marah, tidak dihargai, dan kesepian. 3.      Memiliki AnakAnda tentunya pernah mendengar mengenai kisah perceraian sepasang suami istri karena salah satu pihak menginginkan kehadiran seorang anak, sedangkan yang lainnya tidak. Akan tetapi, bukan berarti memiliki pandangan yang sama mengenai anak akan mempermudah kehidupan pernikahan Anda saat seorang anak benar-benar telah hadir di tengah-tengah Anda dan pasangan.Membesarkan dan merawat seorang anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Pada sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa sekitar 67% pasangan yang telah menikah mengalami penurunan rasa puas dan bahagia dalam kehidupan pernikahannya dalam waktu 3 tahun pertama setelah memiliki anak.Memiliki anak dapat menimbulkan rasa stress dan menciptakan berbagai permasalahan dalam kehidupan pernikahan. Kemauan kedua belah pihak untuk saling berkompromi, berkomunikasi secara terbuka, dan kepribadian setiap pasangan turut menentukan bagaimana mereka mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi.Seseorang yang memang telah menderita gangguan cemas atau depresi mungkin akan merasa lebih sulit untuk menyesuaikan diri pada lingkungan baru (telah memiliki anak), karena berbagai gangguan ini akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk menjadi orang tua dan beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi di dalam hubungan asmara mereka.Pada sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa pasangan yang memiliki anak perempuan sebagai anak pertamanya lebih sering bercerai dibandingkan dengan pasangan yang memiliki anak laki-laki sebagai anak pertamanya.Akan tetapi, sebuah penelitian lainnya yang dilakukan di Duke University pada tahun 2014 menemukan bahwa bukan jenis kelamin anak yang memicu terjadinya perceraian, tetapi karena anak perempuan lebih dapat menghadapi berbagai stress yang terjadi pada sebuah pernikahan yang bermasalah dibandingkan dengan anak laki-laki (lebih tidak mudah mengalami keguguran). 4.      Tinggal TerpisahSebuah penelitian di tahun 2013 yang mempelajari keluarga militer menemukan bahwa resiko perceraian di antara para tentara memiliki hubungan langsung dengan berapa lama waktu yang mereka habiskan saat bertugas di lapangan.Para veteran perang tidak hanya harus menghadapi perpisahan yang lama dengan pasangannya saat sedang bertugas tetapi juga harus beradaptasi dengan kehidupannya sebagai warga negara dan mungkin mengalami gangguan stress paska trauma saat mereka kembali dari tugas mereka di medan perang.Selain itu, pasangan suami istri yang memutuskan untuk tinggal terpisah untuk sementara waktu karena berbagai alasan lain seperti pekerjaan atau urusan keluarga, mungkin tidak mengalami masalah yang sama dengan di atas, tetapi perpisahan ini tetap akan mengganggu kehidupan pernikahan mereka.Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda untuk beradaptasi dengan hubungan jarak jauh. Jika kedua belah pihak merasa nyaman hidup terpisah, maka hal ini mungkin tidak akan menimbulkan masalah apapun dalam kehidupan pernikahan mereka.Akan tetapi, bila salah satu atau kedua belah pihak tidak sependapat karena merasa takut akan ditinggalkan atau karena tidak dapat mempercayai pasangannya atau takut pasangannya berselingkuh; maka tinggal terpisah atau berjauhan dapat mengganggu kehidupan pernikahan mereka. 5.      TraumaPasangan yang mengalami suatu peristiwa traumatis bersama dapat memiliki hubungan yang lebih kuat atau justru saling menjauhi satu sama lain. Kadangkala, seseorang harus melupakan berbagai pengalaman menyakitkan tersebut dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya untuk sembuh. 6.      Telah Lama MenikahSekarang ini, Anda mungkin telah banyak mendengar banyak pasangan yang telah lama menikah justru tiba-tiba ingin bercerai. Pada kenyataannya, pada tahun 2013 banyak orang dewasa yang telah berusia 50 tahun atau lebih memilih untuk bercerai dari pasangannya. Hal ini mungkin dikarenakan mereka tidak lagi merasakan adanya rasa cinta atau ketertarikkan terhadap pasangannya. 7.      PerselingkuhanPerselingkuhan memang merupakan salah satu alasan yang paling sering menjadi penyebab terjadinya suatu perceraian. Akan tetapi, kadangkala perselingkuhan justru dapat “menemukan” apa sebenarnya masalah yang ada di dalam suatu pernikahan, jika kedua belah pihak mau berusaha untuk memperbaiki dan mempertahankan pernikahan merkea.Hal ini dikarenakan perselingkuhan seringkali merupakan alasan mengapa sepasang suami istri mencari bantuan dari seorang tenaga ahli dan justru menemukan bagaimana caranya kembali berkomunikasi dengan pasangannya.Akan tetapi, perselingkuhan juga dapat menjadi penyebab dari berakhirnya pernikahan sepasang suami istri. Hal ini dapat terjadi bila perselingkuhan yang terjadi telah berlangsung terlalu lama atau telah melibatkan perasaan yang cukup dalam yang membuat salah satu pihak kesulitan menerima kenyataan ini.  Baca juga: Tahukah Anda Bahwa Wanita Ternyata Lebih Sulit Menerima Perceraian? Sumber: foxnews