Your browser does not support JavaScript!
 19 Jul 2019    11:00 WIB
Kenali Perkembangan Penglihatan Pada Anak
Kemampuan penglihatan normal pada anak mulai dari bayi tidak sama dengan kemampuan penglihatan normal pada orang dewasa. Untuk mencapai penglihatan normal perlu adanya perkembangan penglihatan. Berikut ini adalah perkembangan penglihatan pada anak: Pada saat dilahirkan Bayi sudah dapat melihat walaupun belum dapat melihat secara jelas seperti layaknya orang dewasa. Bayi yang baru saja lahir dapat melihat benda-benda yang besar dan wajah tetapi belum dapat melihat secara rinci. Karena wajah mempunyai daya tarik visual yang kuat. Bayi belum dapat membedakan warna-warna pastel maupun variasi-variasi lainnya yang halus dikarenakan sistem penglihatan yang belum sempurna.  Bayi sudah dapat melihat warna-warna yang terang dan kuat dalam pola kontras antara terang dan gelap.   Penglihatan bayi usia 3-4 bulan Perkembangan penglihatan pada bayi sangatlah pesat pada tahun pertama. Penglihatan biasanya berkembang secara cepat sehingga pada usia 3 hingga 4 bulan Kebanyakan bayi dapat melihat benda-benda kecil Beberapa bayi dapat membedakan berbagai macam warna (terutama warna merah dan hijau) pada usia ini Bayi sudah dapat memfokuskan penglihatan mereka pada benda-benda yang dekat maupun jauh dan dapat membedakan antara wajah manusia asli dan gambar.    Penglihatan bayi usia 4 bulan Kedua mata pada bayi sudah dapat bekerja sama secara baik sehingga dapat memberikan persepsi kedalaman atau penglihatan binokular   Penglihatan bayi usia 12 bulan Penglihatan anak sudah mencapai tingkat penglihatan pada orang dewasa normal.    Perkembangan penglihatan pada bayi tidak selalu mengikuti tahap yang persis sama pada setiap bayi, tapi paling tidak mengikuti pola perkembangan yang sama secara keseluruhan. Dikarenakan perkembangan yang pesat pada tahun pertama, deteksi dini pada masalah penglihatan sangatlah penting adanya sehingga kerusakan permanen pada mata dapat dihindari.
 31 Jul 2017    08:00 WIB
“Wabah” Rabuh Jauh, Apa Penyebabnya???
Apakah Anda merasa semakin sering melihat orang berkacamata akhir-akhir ini??? Anda bukanlah orang pertama yang merasa demikian. Bahkan sebuah rumah sakit mata di wilayah selatan Guangzhou, Cina harus memperbesar fasilitasnya karena semakin banyak pasien yang berdatangan. Enam puluh tahun lalu, hanya sekitar 10-20% penduduk Cina yang mengalami rabun jauh. Akan tetapi, sekarang ini sekitar 90% remaja dan orang dewasa muda di Cina menderita rabun jauh.  Selain di Cina, hal yang sama juga terjadi di Negara-negara Asia lainnya, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa. Rabun jauh atau miopia sendiri sebenarnya terjadi karena bola mata penderita sedikit memanjang sehingga bayangan benda yang berada jauh jatuh di depan retina dan bukannya tepat di retina. Pada kasus berat, kelainan ini dapat membuat merusak struktur dalam mata dan meningkatkan resiko terjadinya robekan atau lepasnya retina, katarak, glaukoma, dan bahkan kebutaan. Karena mata masih berkembang di sepanjang masa kanak-kanak, maka miopia biasanya baru mulai terjadi saat anak memasuki usia sekolah dan remaja. Peningkatan kasus miopia ini telah mendorong para ahli untuk melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya miopia. Salah satu hal yang ditemukan peneliti adalah bahwa terjadinya miopia mungkin berhubungan dengan faktor genetika. Hal ini dikarenakan kasus miopia lebih sering ditemukan pada anak kembar identik dibandingkan dengan anak kembar non identik. Akan tetapi, karena pesatnya peningkatan kasus miopia di dunia, maka hal ini menunjukkan bahwa genetika bukanlah satu-satunya penyebab (karena dibutuhkan waktu lama bila penyebabnya adalah perubahan genetika). Para ahli pun menduga bahwa faktor lingkungan juga turut berperan dalam terjadinya miopia. Salah satu penyebab yang jelas adalah membaca dalam jarak dekat. Pada zaman modern seperti sekarang ini, semakin banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku, belajar, dan bermain komputer atau telepon genggamnya. Dari sisi biologis sendiri, membaca dalam jarak dekat dalam waktu yang lama dapat mempengaruhi perkembangan bola mata karena mata harus bekerja ekstra untuk memfokuskan cahaya agar jatuh tepat di retina. Hal menarik lainnya yang ditemukan para peneliti pada tahun 2007 adalah bahwa seberapa lama seorang anak menghabiskan waktunya di luar ruangan ternyata juga mempengaruhi seberapa besar resiko miopia yang ia miliki. Para peneliti menemukan bahwa semakin sedikit seorang anak menghabiskan waktunya di luar ruangan, maka semakin besar resikonya untuk menderita miopia. Akan tetapi, hasil ini tampaknya tidak berhubungan dengan banyak olahraga atau aktivitas yang anak lakukan atau tidak dan tidak berhubungan dengan sering tidaknya anak tersebut membaca buku. Oleh karena itu, para peneliti menduga hal ini berhubungan dengan seberapa banyak mata anak terpapar oleh cahaya terang. Hingga saat ini, para ahli masih belum dapat memastikan mekanisme apa yang membuat paparan cahaya terang dapat mencegah terjadinya miopia. Para ahli menduga bahwa paparan cahaya terang ini dapat menstimulasi pelepasan dopamin di dalam retina, yang akan mencegah pemanjangan bola mata selama proses perkembangannya. Berdasarkan analisa dari berbagai penelitian sebelumnya, seorang peneliti miopia di Australia menganjurkan agar seorang anak menghabiskan setidaknya 3 jam di luar ruangan (dengan kekuatan cahaya setidaknya 10.000 lux) setiap harinya untuk mencegah terjadinya miopia.   Baca juga: 7 Penyebab Mengapa Anda Tidak Dapat Melihat Dengan Jelas   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: nature