Your browser does not support JavaScript!
 13 Jan 2021    15:00 WIB
Flirting Sama Dengan Selingkuh?
Berikut ini ada beberapa pendapat dari para wanita tentang apakah flirting itu termasuk kategori selingkuh seperti dikutip dari Herworld. Simak yuk! "Flirting itu versi lebih keren dari mild cheating. Saya menarik batas pada '1-second checking out', di mana pasangan boleh melirik perempuan lain dalam waktu 1 detik saja. Karena sebenarnya, kita biasanya tidak pernah menyadari bahwa kita sedang mengamati seseorang lebih lama dari seharusnya. Maksudnya, jika melakukan lebih dari itu, perasaan tertarik itu akan lebih mudah berubah jadi perasaan suka dan ingin mengenal orang tersebut lebih dalam. Nah, apalagi laki-laki, yang pada dasarnya gemar 'berburu'!" - Gemala Komara, 30, PR & Marketing Manager.  "Bagi saya batasnya ada pada kontak mata yang intens, saling menyentuh atau memuji tanpa alasan yang jelas. Bahkan, saya akan merasa lebih tersinggung kalau sampai orang sekitar turut menyadari ada sesuatu di antara mereka berdua dan menyuruh saya untuk melakukan sesuatu. Tapi sebenarnya kembali lagi ke pasangan saya: kalau ia bisa dipercaya, maka saya bisa sangat cuek. Kalau tidak, ya sudah, biar ia sama perempuan itu saja." - Vira, 31, Finance & Operation. "Kebetulan kita bekerja di industri yang sama, di mana kita berhubungan dengan klien berbeda setiap harinya dan sedikit flirting justru malah dibutuhkan agar transaksinya sukses (tertawa)! Tanpa bermaksud mengecilkan hubungan ataupun pekerjaan kita berdua, pada akhirnya kita saling percaya - bukan hanya pada hubungan kita, tapi juga diri masing-masing. We won't look the other way but at each other." - Elisabeth Nugroho, 27, IT Auditor.  "Flirting is a double standard! Intinya, tak apa bila saya yang sedikit lebih ramah kepada lawan jenis, tapi lain lagi ceritanya kalau tunangan saya yang begitu. Ini alasannya: saya tahu di mana batasan saya. Saya yang tahu apakah saya ingin bertindak lebih jauh atau tidak. Tapi lain lagi dengan pasangan, di mana saya hanya bisa berasumsi. Seringkali kenyataan lebih buruk dari asumsi tersebut, meskipun pasangan juga flirting tanpa ada maksud apa-apa di baliknya. Bagi perempuan, rasanya itu selalu 'kelewatan' meski ia hanya sedikit genit." - Adinda Viraya, 28, Flight Attendant. "Selama tidak dilakukan di depan saya, tak apa-apa. Kalau hanya 'gombal-gombalan' semata untuk bercanda sih, menurut saya biasa saja. Bersikap ramah kepada lawan jenis juga tak masalah, tapi kalau sudah mulai ada sentuhan secara fisik... no way! Semua kegiatan 'lanjutan' dari pembicaraan seperti mengirim SMS atau menelepon, it's not OK. Karena dari situ akan tercipta koneksi lebih intim antara mereka berdua sehingga menjadi 'celah' tumbuhnya perasaan yang lebih dalam." - Sitaresti Astarini, 23, Regional Executive Marcom. "Kalau ia harus 'menahan diri' untuk tidak mengobrol dengan seseorang yang menurutnya cantik hanya karena saya takut ia akan selingkuh, rasanya percuma saja pacaran. Ia memang orang yang ramah, dan tak pernah melakukan lebih dari sekadar bercana dengan teman-teman perempuannya. Saya malah jadi semakin menghargainya. Tapi tentunya, ia harus ingat batasannya: kalau sudah mulai menunjukkan perhatian berlebihan, it's time to put my foot down." - Anatasia Reigita, 26, Digital & Social Media Officer. FAKTA 33% laki-laki tak keberatan kalau pasangan mereka melakukan casual flirting dengan orang lain, meski di depan mereka sekalipun. Tapi, sebanyak 96% erempuan merasa lebih nyaman bila pasangan mereka tidak memberi ruang sedikit pun untuk casual flirting. Baca juga: Mengembalikan Rasa Percaya Setelah Diselingkuhi
 12 Jan 2021    13:00 WIB
Tips Bagi Pasangan LDR
Jarak yang jauh dapat membunuh sebuah hubungan. Anda dan pasangan harus mencari berbagai cara untuk tetap menyalakan api asmara Anda dan pasangan dapat menggunakan kecanggihan teknologi  Berikut adalah tips bagaimana Anda dapat menggunakan teknologi untuk membantu hubungan LDR Anda: Seks melalui telepon Untuk melakukan hal yang satu ini. Pertama cari tempat yang nyaman untuk Anda agar Anda mudah mendengarkan suara pasangan Anda. Kemudian Anda bisa memulai pembicaraan seks Anda mulai dari pembicaraan ringan diselingi kalimat yang memancing. Dan Anda dapat menvisualisasikan pembicaraan tersebut. Dengan  cara yang satu ini Anda dapat mendengarkan reaksinya, nada bicaranya dan erangannya. Seks melalui skype Cara yang satu ini cocok untuk Anda yang rindu akan wajah dan tubuh pasangan. Sehingga Anda lebih mudah melihat pasangan Anda lebih jelas Seks melalui SMS Untuk cara yang satu ini Anda mulai dari pembicaraan yang natural sampai ke pembicaraan yang Anda inginkan. Namun hati-hati saat Anda menulis pesan untuk pasangan Anda, jangan sampai ada seseorang dibelakang Anda ikut membaca tulisan Anda. Seks melalui email Anda juga bisa menggunakan cara yang satu ini. Kelebihannya mungkin kata-kata Anda tidak terbatas seperti saat menggunakan SMS Kirimkan foto seksi Anda Anda bisa mengambil foto terbaik Anda dan kirimkan kepada pasangan Anda. Pilih foto Anda yang terbaik. Anda mungkin bisa mencoba foto dikamar mandi atau didepan kaca Baca juga: Tetap Langgeng dan Bahagia Meski LDR Sumber: mensfitness
 11 Jan 2021    17:00 WIB
Hubungan Seks, Idealnya Berapa Kali dalam Seminggu?
Banyak orang bertanya-tanya, apakah frekuensi hubungan seksual mereka menjadi indikator dalam mencapai hubungan yang normal dan sehat? Apakah seks yang terlalu "banyak" atau "sedikit" bisa memicu masalah dengan pasangan? Penelitian yang dilakukan oleh verywellmind dengan melibatkan lebih dari 4.200 pasangan menunjukkan bahwa, mereka lebih bahagia ketika hubungan seks terjadi satu kali dalam seminggu. Beberapa faktor seperti pekerjaan, anak-anak, fisik, dan masalah relasional lainnya menjadi alasan bahwa frekuensi hubungan seks bukanlah segalanya. Ibaratnya, hal ini seperti Anda menambahkan lebih banyak karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan, ada peningkatan produktivitas, tetapi hanya sampai titik tertentu. Setelah mencapai titik itu, efisiensi turun. Begitu pula hubungan seks. Sekali atau dua kali dalam sebulan mungkin tidak cukup, tapi lebih dari sekali seminggu tidak meningkatkan kebahagiaan lebih jauh. Dalam penelitian terbarunya, verywellmind menginstruksikan beberapa pasangan untuk melipatgandakan frekuensi hubungan seks mereka. Hasilnya, mereka tidak lebih bahagia dari yang sebelumnya, dari tingkat frekuensi hubungan seks mereka biasanya. Lebih lanjut, mereka melaporkan kenikmatan seks yang berkurang. "Kepuasan dalam hubungan seksual bukan sekadar dari frekuensinya, melainkan kualitas saat berhubungan ," Selain menjaga keintiman fisik, Anda dan pasangan juga perlu meningkatkan keintiman emosional seperti waktu berduaan, hadiah, kata-kata romantis, pelukan sayang dan sebagainya. Anda dan pasangan harus secara terbuka dan jujur membicarakan tentang kehidupan seks. Jadikan itu sebuah diskusi sehingga Anda dan pasangan bisa mengetahui keinginan satu sama lain. Baca juga: Waktu yang Tepat untuk Berhubungan Intim
 07 Jan 2021    19:00 WIB
Cara Lain Memuaskan Pasangan Anda Selain Seks
Bila anda bertanya pada seorang pria, apa yang dapat membuat ia merasa intim atau dekat dengan pasangannya, maka sebagian besar pria akan menjawab seks. Akan tetapi, ternyata seks bukanlah jawaban dari semua pria. Terdapat beberapa hal lain yang dapat membuatnya merasa lebih dekat dengan anda, merasa lebih bahagia, dan puas selain seks. Kebebasan dan Ruang Untuk Diri Sendiri Pria kadangkala bersikap seperti karet gelang, mereka mungkin menjauh tanpa terduga, terutama justru saat anda mulai merasa dekat dengannya. Banyak pria memiliki keinginan yang kuat untuk merasa berkuasa dan mandiri. Kadangkala hal ini dapat membuat anda merasa sedih. Bila pasangan anda tampak sedikit menjauh, berikanlah kebebasan dan ruang yang ia dambakan, maka hal ini mungkin justru dapat membuatnya kembali dekat dengan anda. Hormati Dia Salah satu kebutuhan utama sebagian besar pria dalam suatu hubungan adalah keinginan untuk merasa dihormati, dihargai, dan dikagumi oleh pasangannya. Anda dapat menunjukkan ketiga hal ini melalui kata-kata maupun sikap anda. Cinta dan Memaafkan Jika anda memiliki daftar panjang mengenai berbagai kesalahan yang telah dilakukan pasangan anda, maka buang jauh-jauh daftar tersebut. Terus-menerus menyalahkan pasangan anda atas berbagai hal yang telah dilakukannya tidak akan membuatnya semakin dekat dengan anda. Memaafkan pasangan anda justru dapat membuatnya lebih dekat dengan anda. Katakan Apa yang Anda Inginkan Sebagian besar pria tidak menyukai saat anda menyuruh mereka menebak apa yang anda pikirkan karena sebagian besar pria merupakan seorang pembaca pikiran yang buruk. Oleh karena itu, akan lebih baik bila anda mengatakan secara langsung pada pasangan anda, apa yang anda inginkan daripada mengharapkan ia mengetahuinya tanpa perlu anda beritahu. Cari Tahu Apa yang Ia Sukai Sediakanlah waktu bagi anda untuk mencari tahu berbagai hal yang penting dalam kehidupan pasangan anda, apa yang ingin dicapainya, apa yang penting baginya, dan berbagai hal lainnya. Kadangkala, perhatian dan kasih sayang anda pada pasangan anda sudah dapat membuatnya berbahagia. Seks bukanlah jawaban atas segala sesuatu yang dapat membuat pasangan anda berbahagia dan puas. Baca juga: Tips Agar Tidak Mudah Cemburu Sumber: livestrong
 05 Jan 2021    17:00 WIB
Perselingkuhan, Mungkinkah Dimaafkan?
Perselingkuhan bukan akhir dari pernikahan. Lantas, adakah batas toleransi perselingkuhan bisa dimaafkan? Berikut ini ada empat alasan perselingkuhan layak untuk dimaafkan. Pelaku mengakui kesalahan Jika pasangan mengakui dan sadar akan kesalahannya, tentu kita bisa mempertimbangkan langkah apa yang sebaiknya kita lakukan. Apabila pasanganmu ingin bertanggung jawab memperbaiki keadaan, tentu ia sudah mengetahui langkah apa saja yang perlu dilakukan. Lain hal kalau pasanganmu sudah ketahuan selingkuh tapi ia hanya mencari pembenaran apa yang telah ia lakukan. Bahkan justru menyalahkan kita atas perbuatannya. Kalau sikapnya begini sih mending piker-pikir ulang untuk memaafkannya. Niat berubah lebih baik Setelah ia mengaku kesalahannya, maka selanjutnya adalah pembuktian. Pasangan perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi. Misalnya, sudah tidak lagi berhubungan dengan selingkuhannya. Memprioritaskan kejujuran Ini bagian terpenting! Memprioritaskan kejujuran dalam rumah tangga. Baik dalam ucapan ataupun perbuatan. Tidak akan mengulangi perbuatan lagi, sehingga kepercayaan kita terhadapnya bisa kembali tumbuh. Ingin mempertahankan keluarga Ia berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki kesalahan dan paham kalau keluarga adalah prioritas dalam hidupnya. Hal ini tentu bisa menjadi alasan yang kuat untuk mempertahankan pernikahannya. Pasangan tentu akan berusaha mempertahankan keluarganya tetap utuh. Baca juga: Mengembalikan Rasa Percaya Setelah Diselingkuhi Sumber: Okezone
 04 Jan 2021    11:16 WIB
Keuntungan Sahabat Jadi Pacar
Saat Anda mulai memacari sahabat sendiri, banyak hal yang Anda dapatkan: seorang pelindung, rasa percaya diri, juga niat kuat untuk memastikan agar hubungan baru ini berhasil. Berikut beberapa keuntungan dari pacaran dengan sahabat yang akan membuat Anda menyadari bahwa it is absolutely worth it: Anda tahu persis apa yang dipikirkannya Oke, mungkin tidak 100% tahu persis apa yang ada dalam pikirannya, tapi paling tidak, very close to 100%. Anda sudah bersahabat sejak lama, sehingga sudah hafal hal-hal yang membuatnya senang ataupun mengganggunya, bahkan bisa jadi Anda sudah hafal tabiatnya saat berhadapan dengan situasi tertentu. Jika biasanya hubungan baru seringkali dipenuhi keraguan di antara kedua belah pihak, kali ini rasanya Anda tak perlu melalui tahap itu. Anda tak akan berhenti saling meledek satu sama lain Dengan berubahnya status Anda berdua, bukan berarti Anda akan kesulitan untuk saling bercanda atau make fun of each other. Sebaliknya, ada suatu kenyamanan tersendiri yang didapatkan saat Anda pacaran dengan sahabat sendiri. Tak ada lagi fase "jaga image", Anda sudah merasa begitu nyaman dengan kehadiran masing-masing, sehingga keintiman pun lebih mudah didapatkan. Paling tidak, jika biasanya bercandaan kalian berakhir dengan pukulan ringan dan playful di lengan, kini bisa diakhiri dengan kecupan manis di dahi atau pipi. Fun, right? Pertengkaran pertama Anda akan terjadi lebih cepat dari perkiraan - but it's OK Sahabat Anda sudah tahu betul apa yang membuat Anda kesal, begitu pun sebaliknya. Lebih baiknya lagi, baik Anda maupun sahabat tak pernah menahan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya meskipun ada risiko perkataan tersebut akan menyakiti perasaan pasangan. Tapi, kedua belah pihak pun sudah tahu cara terbaik untuk berbaikan. Baca juga: Pacaran Sama Brondong? Siapa Takut
 01 Jan 2021    19:00 WIB
Kunci Hidup Bahagia Setelah Menikah
Apakah Anda sudah menikah? Bila belum maka Anda mungkin sudah sering mendengar berbagai mitos mengenai apa itu sebenarnya pernikahan yang bahagia dan apa jadinya hubungan sepasang kekasih setelah mereka menikah dan menjadi suami istri. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa mitos yang salah mengenai pernikahan dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan pernikahan. 50% Pernikahan Berakhir Dengan Perceraian Anggapan salah ini dimulai pada tahun 1970an saat pengadilan memutuskan perceraian diperbolehkan dan banyak orang mulai melakukannya. Pada pertengahan tahun 80an, angka perceraian bahkan mencapai puncaknya hingga 66%. Akan tetapi, angka ini telah menurun sekarang. Menurut sebuah data dari lembaga sensus di Amerika pada tahun 2009, hanya sekitar 30.8% pernikahan berakhir dengan perceraian. Dan pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, hanya sekitar 3.6 orang yang bercerai di antara 1.000 orang yang telah menikah. Pasangan yang Bahagia Tidak Pernah Bertengkar Tahukah Anda bahwa jarang bertengkar justru merupakan pertanda bahwa Anda dan pasangan tidak pernah menyelesaikan permasalahan yang ada di antara kalian? Menurut seorang ahli yang telah meneliti sekitar 350 orang pasangan selama 28 tahun, kebahagiaan selalu diiringi dengan pertengkaran. Menurutnya, apa yang membedakan pernikahan yang bahagia dan tidak adalah kemampuan kedua belah pihak untuk belajar menghadapi konflik dan perbedaan pendapat dengan cara yang sehat dan produktif. Selain itu, sebuah penelitian dari the University of Tennessee menunjukkan bahwa pasangan yang mengakui bahwa mereka pun pernah bertengkar justru merasa lebih bahagia mengenai hubungan mereka dalam jangka panjang. Baca juga: Jatuh Cinta Kembali Pada Suami Pasangan yang Memiliki Anak Lebih Bahagia Daripada yang Tidak Memiliki Anak Sebuah penelitian dari United Kingdom’s Open University menemukan bahwa pasangan suami istri yang tidak memiliki anak, rata-rata, justru merasa lebih bahagia dalam kehidupan asmara mereka dibandingkan dengan pasangan yang telah memiliki anak. Penurunan rasa bahagia ini bukan berarti bahwa rasa sayang yang dirasakan oleh pasangan suami istri yang telah memiliki anak tersebut juga berkurang. Akan tetapi, hal ini hanya menunjukkan bahwa semakin banyak tanggung jawab dan peran yang harus mereka jalani (misalnya menjadi pasangan, orang tua, karyawan, pelajar, dan lain sebagainya) membuat mereka memiliki waktu dan energi yang lebih sedikit untuk pasangannya. Kehidupan Seks Orang yang Telah Menikah Buruk Sebuah penelitian yang dilakukan oleh the Center for Sexual Health Promotion di Indiana University menunjukkan bahwa seorang wanita yang telah menikah justru melakukan hubungan seks lebih sering dibandingkan dengan wanita yang telah memiliki pasangan tetapi belum menikah. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan oleh Penn State juga menunjukkan bahwa rasa cinta dan komitmen yang ada di dalam kehidupan pernikahan cenderung membuat hubungan seks terasa lebih memuaskan bagi seorang wanita. Jika Telah Tinggal Bersama Sebelum Menikah, Maka Resiko Perceraian Pun Lebih Tinggi Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, para peneliti menemukan bahwa status pernikahan (sudah menikah atau belum) sepasang kekasih saat mereka memutuskan untuk tinggal bersama tidak terlalu mempengaruhi kebahagiaan mereka dalam kehidupan pernikahan.Pada penelitian yang dilakukan pada lebih dari 7.000 orang pasangan, para peneliti dari the University of North Carolina di Greensboro justru menemukan bahwa berapa usia pasangan tersebut saat mulai tinggal bersamalah yang lebih menentukan. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa bila pasangan baru berusia 18 tahun saat memutuskan untuk tinggal bersama atau menikah, maka resiko perceraian mereka pun mencapai angka 60%. Sementara itu, bila sepasang kekasih telah berusia 23 tahun saat mereka memutuskan untuk tinggal bersama atau menikah, maka resiko perceraian mereka pun hanya sekitar 30%. Jika Anda Sungguh-sungguh Mencintai Pasangan Anda, Maka Gairah Tidak Akan Pernah Pudar Gairah sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya hal baru dan misteri. Hal inilah yang seringkali membuat gairah di antara sepasang suami istri mulai memudar saat pernikahan telah berusia 12-16 bulan. Walaupun gairah memang akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu, akan tetapi gairah ini biasanya akan digantikan oleh jenis rasa cinta lainnya yang membuat kehidupan pernikahan sepasang suami istri menjadi langgeng dan penuh kebahagiaan. Baca juga: Ini Cara Pasangan Bahagia Mengatasi Pertengkaran Sumber: womenshealthmag
 01 Jan 2021    10:00 WIB
Dilarang Baper! Ini Tata Tertib Friends With Benefits
Friends With Benefits (FWB) mungkin terkesan sederhana karena hanya melibatkan hal-hal yang bersifat praktis, bukan perasaan. Namun kenyataannya, banyak orang yang menghindari hubungan jenis ini karena alih-alih menyenangkan, FWB malah membuat orang terjebak dalam perasaan yang menyakitkan. Nah, untuk meminimalisasi hal-hal tersebut, ada beberapa 'tata tertib' yang perlu dipatuhi supaya kamu tidak makan hati. Simak yuk! Sepakati Apa yang Kalian Cari Kamu harus terbuka dengan pasangan FWB-mu mengenai apa yang kamu cari. Apabila sepakat, maka hubungan akan dilanjutkan, dan sebaliknya. Keduanya juga harus terbuka dalam hal kompromi satu sama lain. Biarkan Mengalir Apa Adanya Jangan berusaha mengontrol apa pun dalam hubungan kamu, dan jadilah lebih waspada jika ia yang berusaha mengontrolnya. Jika ia berusaha menerapkan aturan seberapa sering kalian bisa bertemu atau hal apa saja yang bisa kamu lakukan bersama, mungkin barulah kamu bisa membicarakan mengenai status hubungan kalian. Jangan Berharap Lebih! FWB bukanlah batu loncatan untuk menjalin relasi yang lebih. Jadi, jangan berharap untuk mendapatkan relasi pacaran meski sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk menjalin hubungan lebih. Kuncinya, ketika kamu mulai jatuh cinta dengan pasangan FWB-mu, bicarakan baik-baik. Di situ kamu akan tahu apakah hubungan tersebut akan berpindah ke relasi yang lebih serius, atau malah diakhiri. Gak Boleh Posesif! Pastikan informasi yang terbuka. Beri tahu dia jika kamu sedang dekat dengan pria lain. Ingat, dia bukan kekasihmu! Jadi dia tak berhak untuk cemburu. Hal yang sama berlaku juga untuk kamu. "Teman" spesial ini bebas untuk pergi dan mendekati siapapun yang ia sukai. Bagaimana Mengakhiri Hubungan Mungkin sulit untuk membayangkan akhir dari suatu hubungan, tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa hubungan ini hanya berlangsung sementara, tidak berlangsung selamanya. Sepakati akhir dari hubungan tersebut, apakah ketika salah satu mendapatkan tambatan hati, dalam waktu tertentu, atau apa pun itu. Secara garis besar, memiliki FWBbisa jadi hal yang sangat menguntungkan, kalau kamu sudah tahu persis apa yang kamu cari dari hubungan ini. Jika ternyata kalian menemukan kecocokan dan merasa nyaman dengan satu sama lain, then it's great - kalian bisa "mengubah" statusnya menjadi pasangan. Tapi jika kalian hanya mencari "kesenangan" dan hubungan yang ringan tanpa ikatan apa pun dikarenakan satu dan lain hal, maka ini juga bisa jadi semacam "terapi" yang baik. HAVE FUN! Baca juga: Tips Agar Tidak Mudah Cemburu Sumber: Kumparan