Your browser does not support JavaScript!
 14 Feb 2015    14:00 WIB
Merayakan Valentine Tanpa Kekasih
Bagi Anda yang masih single tentu menjelang datangnya hari valentine akan menjadi tantangan tersendiri bagi Anda. Mengapa demikian? Hari valentine atau yang biasa disebut hari kasih sayang tentu identik dengan pasangan yang saling berbagi kado sebagai ungkapan kasih sayang satu sama lain. Dan bagi Anda yang masih jomblo, tentu kondisi ini akan cukup menyiksa jika terlalu dipikirkan, dan ujungnya bisa mengganggu kesehatan Anda. Nah, daripada perayaan valentine menjadi hari paling menyedihkan bagi Anda, sebaiknya lakukan  hal – hal berikut agar valentine Anda tak lagi sengsara. Jangan bersedih Jangan merasa orang yang paling sengsara didunia jika Anda single saat valentine. Menurut sensus, ada jutaan orang lain di dunia ini yang menghabiskan hari valentine tanpa kekasih. Manjakan Diri Hari valentine juga menjadi momen yang tepat untuk memanjakan diri setelah sekian lama Anda bergelut dengan kesibukan. Datang ke salon, spa, atau sekedar menikmati fasilitas massage, tentu akan membuat tubuh kembali bugar dan mood Anda kembali membaik. Manjakanlah diri Anda seolah Anda memanjakan pasangan Anda. Beli Kado buat Diri Sendiri Jangan membatasi diri Anda dengan manganggap valentine adalah hubungan kasih sayang antara dua orang. Konsep kasih sayang secara luas tak hanya untuk orang lain, namun juga diri Anda pribadi. Tidak ada salahnya membeli kado buat diri sendiri sebagai bentuk kasih sayang kepada diri Anda. Single Party Jangan berkecil hati karena status single Anda, karena tidak hanya Anda yang menyandangnya. Ajak teman-teman Anda, yang sama-sama jomblo, untuk berkumpul dan mengadakan pesta bersama. Jangan memandang gender. Ajak semua teman Anda baik pria atau wanita untuk berkumpul bersama. Selain meningkatkan keakraban, Anda juga berpeluang menjalin hubungan. Travelling Bagi Anda yang suka bepergian sendiri tentu hari valentine tidak akan memberi pengaruh yang besar. Menghabiskan sehari penuh dengan travelling ke luar kota untuk sekedar menikmati kesendirian dan mengunjungi tempat-tempat favorit bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan di hari valentine. Anda pun bebas melakukan apa saja tanpa ada pasangan yang cemburu ketika Anda bertemu dengan seseorang yang menarik di tengah perjalanan. Berolahraga Olahraga akan menjadi kegiatan yang membuat Anda sibuk dan sehat pada haru valentine. Dengan berolahraga anda akan menjaga hormon endophine berproduksi. Hormon endorphine akan membuat tubuh Anda lebih relaks dan tidur lebih nyenyak. Berkumpul bersama Keluarga Jangan lupa jika Anda masih punya keluarga yang selalu siap mendukung apapun kondisi Anda. Ambillah cuti sehari dan temuilah ayah, ibu, dan saudara-saudara Anda di hari valentine. Ingatlah bahwa kasih sayang dan kehangatan sejati ada di dalam keluarga Anda. Ingat pula bahwa keluarga adalah sebaik-baik tempat untuk merayakan valentine. Berbagi Gunakanlah hari valentine sebagai momen Anda untuk berbagi dengan orang lain. Dengan melakukakan sesuatu yang berguna dengan orang lain akan membuat Anda merasakan kebahagiaan tersendiri. Lakukan Aktivitas Biasa Dari sekian banyak cara yang bisa dilakukan para jomblo menghadapi hari valentine, cara inilah yang paling simple dilakukan. Anggap saja tidak ada hari valentine dan beraktivitaslah seperti biasa! mudah bukan?
 12 Jan 2015    09:00 WIB
Benarkah Olahraga Justru Dapat Menyebabkan Peningkatan Berat Badan?
Logikanya adalah untuk menurunkan berat badan maka seseorang perlu membakar lebih banyak kalori daripada yang dikonsumsinya setiap hari dengan cara makan lebih sedikit, meningkatkan aktivitas fisik secara keseluruhan, dan atau berolahraga. Akan tetapi, sebuah penelitian baru membuat banyak orang bertanya-tanya benarkah membakar kalori dengan berolahraga dapat membantu menurunkan berat badan atau justru malah menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 81 orang wanita yang berusia antara 23-37 tahun yang tidak aktif secara fisik dan tidak sedang berusaha untuk menurunkan berat badan. Para peneliti kemudian meminta para wanita ini untuk mengikuti suatu program olahraga selama 12 minggu. Selama 3 kali dalam seminggu, para wanita ini diminta untuk berjalan kaki di atas treadmill selama 30 menit dengan kecepatan sedang hingga denyut jantung mereka pun meningkat hingga suatu batas tertentu (70% dari batas VO2 maksimal). Akan tetapi, para peneliti juga meminta mereka untuk tidak mengubah pola makan dan makanan yang biasa mereka konsumsi selama penelitian berlangsung. Para peneliti kemudian mengukur berat badan semua peserta penelitian pada minggu ke 4, ke 8, dank e 12. Pada akhir penelitian para peneliti menemukan bahwa tidak ada peserta penelitian yang mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan, akan tetapi sekitar 68% peserta penelitian justru mengalami peningkatan berat badan. Pada sekitar 75 buah penelitain lainnya yang menganalisa ada tidaknya hubungan antara olahraga dan penurunan berat badan, para peneliti menemukan bahwa efek olahraga pada lemak dan berat badan seseorang dapat berbeda-beda. Banyak di antara para peserta penelitian yang mengalami penurunan berat badan yang lebih sedikit daripada yang diperkirakan oleh para peneliti berdasarkan pada berapa banyak kalori yang telah terbakar selama mereka berolahraga. Contohnya adalah pada salah satu penelitian, para peserta penelitian hanya mengalami penurunan berat badan sebanyak 30% dari jumlah yang diperkirakan oleh para peneliti. Para peneliti menduga baik penurunan atau peningkatan berat badan yang dialami oleh para peserta penelitian ini mungkin disebabkan oleh mekanisme kompensasi, yaitu karena mereka telah membakar lebih banyak kalori saat berolahraga, maka mereka pun makan lebih banyak atau menjadi kurang aktif dibandingkan dengan saat mereka tidak berolahraga. Walaupun demikian, para peneliti mengatakan bahwa selain baik bagi kesehatan seseorang secara keseluruhan, olahraga juga memiliki manfaat positif bagi orang yang sedang berusaha untuk menurunkan berat badan bila orang tersebut juga memperhatikan makanan apa yang dimakannya dan berapa banyak. Baik penelitian ini maupun berbagai penelitian lainnya mengenai apa dampak olahraga pada berat tidak dapat membuktikan bahwa olahraga memang benar dapat menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan. Para peneliti menemukan bahwa peningkatan berat badan terjadi karena para peserta makan lebih banyak daripada biasanya untuk mengkompensasi pengeluaran kalori saat berolahraga.     Sumber: womenshealthmag
 07 Jan 2015    10:00 WIB
Berapa Banyak Olahraga yang Harus Anda Lakukan Untuk Menurunkan Berat Badan?
Tahukah Anda sebenarnya berapa banyak olahraga yang harus Anda lakukan untuk menurunkan berat badan? Berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk berolahraga setiap minggunya sangatlah penting untuk membantu proses penurunan berat badan Anda. Seorang pelatih mengatakan bahwa untuk menurunkan berat badan berolahraga selama 6 hari setiap minggu selama 50-60 menit setiap kalinya adalah caranya. Selain dapat membantu menurunkan berat badan, melakukan olahraga secara rutin juga dapat membuat olahraga menjadi bagian dari rutinitas harian Anda dan membuat Anda menjadi rajin berolahraga. Apabila Anda merasa dan membayangkan bahwa melakukan olahraga di hampir setiap hari sangatlah melelahkan, maka Anda mungkin harus mencobanya terlebih dahulu. Berolahraga tidak akan membuat Anda merasa sangat lelah seperti yang Anda bayangkan. Untuk mencegah Anda merasa sangat kelelahan karena berolahraga sepanjang hari, maka aturlah waktu olahraga Anda. Lakukanlah olahraga berat dan olahraga ringan secara selang-seling, seperti berolahraga berat hari ini dan lakukanlah olahraga sedang di keesokkan harinya. Anda juga dapat melakukan olahraga ringan di hari sabtu. Anda tidak perlu melakukan olahraga berat di setiap harinya seperti halnya seorang atlit. Bila Anda melakukan olahraga secara teratur di hampir setiap harinya, maka lama-kelamaan Anda pun akan terbiasa untuk berolahraga setiap hari dan tentu saja penurunan berat badan pun akan terjadi dengan sendirinya karena peningkatan aktivitas fisik.     Sumber: womenshealthmag
 31 Dec 2014    13:00 WIB
Olahraga yang Harus Dihindari Oleh Wanita Berusia 50 Tahun
Seiring dengan semakin bertambahnya usia seorang wanita, sangatlah penting untuk tetap aktif secara fisik. Berbagai aktivitas fisik tersebut dapat mencegah terjadinya osteoporosis, diabetes, penyakit Alzheimer, penyakit jantung, stroke, dan beberapa jenis kanker. Selain itu, aktivitas fisik juga dapat membantu memperbaiki kualitas tidur, keseimbangan tubuh, kadar gula darah, dan kesehatan Anda secara keseluruhan. Walaupun sebagian besar olahraga aman dan dapat dilakukan oleh wanita berusia 50 tahun atau lebih, akan tetapi beberapa jenis olahraga harus dihindari untuk mencegah terjadinya cedera. Bila Anda telah memasuki usia 50 tahun, maka fokuskanlah pilihan olahraga Anda pada gerakan fungsional yang dapat Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti berjalan, melangkah, dan mengangkat barang. Olahraga pilihan Anda harus berfokus pada berbagai gerakan alami yang berfungsi untuk mengembangkan otot yang digunakan untuk menjalani aktivitas harian Anda. Hindarilah berbagai jenis olahraga yang tidak melatih otot fungsional Anda, misalnya berbaring tengkurap dan meletakkan tumit Anda pada bokong untuk melatih otot paha. Anda dapat mengganti gerakan ini dengan melakukan squats, yang melatih otot yang sama tetapi memiliki gerakan yang menyerupai gerakan yang akan Anda lakukan setiap harinya. Selain itu, Anda juga harus menghindari olahraga yang membatasi pergerakan Anda, karena hal ini juga berarti Anda akan membatasi pergerakan otot Anda. Karena banyak mesin olahraga membatasi pergerakkan Anda, misalnya hanya melatih tangan atau kaki Anda, maka jangan terlalu banyak menggunakan mesin. Seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, Anda harus menjaga dan menguatkan persendian Anda. Oleh karena itu, Anda harus menghindari berbagai jenis olahraga yang dapat menyebabkan sendi Anda tertarik. Saat akan mulai berolahraga, Anda juga harus mempertimbangkan berbagai cedera yang baru saja Anda alami atau pernah Anda alami dulu. Olahraga yang tampaknya dapat dilakukan dengan mudah oleh orang lain belum tentu aman bagi Anda, terutama bila Anda pernah mengalami cedera pada bagian otot yang dilatih. Jika Anda memiliki lutut yang lemah, maka pilihlah sepeda stationer dan jangan memilih treadmill. Jika Anda pernah mengalami suatu cedera otot, maka pilihlah jenis olahraga yang menguatkan otot di sekitar daerah otot yang cedera sehingga Anda dapat menguatkan otot yang mengalami cedera tersebut. Berhentilah berolahraga saat Anda mengalami nyeri, pusing, atau merasa ingin pingsan. Berkonsultasilah dengan dokter Anda untuk mengetahui jenis olahraga apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan.     Sumber: ehow
 24 Dec 2014    12:00 WIB
Berpikir Sebelum Makan Dapat Membantu Menurunkan Nafsu Makan, Benarkah?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa berpikir sebelum Anda makan (mindfull eating) dapat membuat Anda makan lebih sedikit secara keseluruhan. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 110 orang mahasiswa dan membaginya menjadi 2 kelompok. Para peneliti melakukan intervensi pada kelompok pertama, di mana mereka diminta untuk berpikir sebelum makan (mindfull eating), sedangkan pada kelompok kedua, para peneliti tidak melakukan intervensi apapun. Kemudian, para peneliti pun memberikan sedikit biskuit pada salah satu kelompok dan memberikan banyak biskuit pada kelompok yang lainnya dan meminta para peserta penelitian untuk mengukur seberapa laparkah mereka. Para peneliti pun menemukan 2 hal menarik melalui penelitian ini. Yang pertama adalah kelompok yang diminta berpikir sebelum makan rata-rata mengkonsumsi lebih sedikit kalori (66 kalori lebih sedikit) saat lapar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Para peneliti menduga hal ini dikarenakan proses yang harus mereka lalui (mindfull eating) membantu mereka menjadi lebih mampu mengendalikan rasa lapar dan rasa kenyang. Temuan kedua adalah para peserta penelitian mengkonsumsi 83 kalori lebih banyak saat mereka diberikan porsi yang lebih besar, baik para peserta pada kelompok pertama maupun kelompok kedua. Hal ini berarti bahwa porsi makan juga turut berpengaruh pada berapa banyak kalori yang dikonsumsi seseorang.     Sumber: womenshealthmag