Your browser does not support JavaScript!
 08 Sep 2020    13:00 WIB
Mengenal Kanker Paru dan Pencegahannya
Apa Itu Kanker Paru ? Kanker paru biasanya terjadi setelah paparan jangka panjang pada berbagai zat kimia yang dapat menyebabkan kanker. Merokok atau paparan asbes dapat merusak sel-sel paru dan menyebabkan mutasi genetik. Kerusakan pada sel selama bertahun-tahun dapat menyebabkan sel kehilangan kendali dan kemudian bertumbuh, bertambah banyak, dan terdapat di berbagai organ lainnya. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh.   Faktor Resiko Kanker Paru Jika anda tidak pernah merokok, maka anda memiliki resiko yang lebih rendah untuk menderita kanker paru. Jika anda merupakan perokok, terutama pada perokok berat, maka anda memiliki resiko menderita kanker paru 30 kali lebih tinggi daripada orang yang tidak merokok. Sekitar 90% penderita kanker paru memiliki riwayat merokok. Selain itu, berapa lama dan seberapa banyak rokok yang telah anda konsumsi juga mempengaruhi resiko terjadinya kanker paru. Berbagai faktor resiko kanker paru lainnya adalah: Paparan terhadap gas radon yang merupakan suatu gas radioaktif yang tidak berwarna dan tidak berbau, yang ditransmisikan oleh tanah dan batu Paparan terhadap asbes, terutama pada buruh yang bekerja pada pabrik asbes Memiliki anggota keluarga dekat yang menderita kanker paru Perokok pasif   Kelompok Resiko Tinggi Anda dianggap beresiko tinggi menderita kanker paru bila: Berusia 55-74 tahun dengan riwayat merokok sebanyak 30 bungkus atau lebih setiap tahunnya atau telah berhenti merokok selama 15 tahun Berusia 50 tahun atau lebih dengan riwayat merokok sebanyak 20 bungkus atau lebih setiap tahunnya dan memiliki satu faktor resiko lainnya seperti radiasi dada   Pengobatan Kanker Paru Bila kanker ditemukan pada stadium dini, maka dapat dilakukan tindakan pembedahan untuk mengangkat bagian paru yang terkena. Selain tindakan pembedahan ini, kanker paru dapat ditangani dengan kemoterapi dan radiasi. Hanya sekitar 15% dari penderita kanker paru yang dapat bertahan hidup, oleh karena itu deteksi dini dan menghindari berbagai faktor resiko merupakan langkah pencegahan kanker paru yang terbaik.   Pencegahan Kanker Paru Berhenti Merokok Jika anda merupakan perokok, segeralah berhenti merokok. Berdasarkan penelitian, setiap orang yang berhenti merokok sebelum berusia 50 tahun dapat menurunkan resiko kematian sampai selama 15 tahun daripada orang terus merokok. Bila anda merupakan perokok, hindari mengkonsumsi suplemen yang mengandung beta karoten karena hal ini dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker paru pada perokok. Jika anda tidak merokok, maka hindarilah asap rokok. Hindari Paparan Radon Baik perokok atau bukan, hindarilah paparan terhadap radon. Radon dapat terbentuk pada rumah-rumah, terutama pada rumah yang sering terpapar oleh cuaca dingin. Olahraga dan Diet Sehat Berolahraga dan diet kaya sayur serta buah-buahan merupakan salah satu perubahan gaya hidup sehat yang dapat membantu menjaga kesehatan anda, bahkan juga dapat membuat anda terhindar dari berbagai jenis kanker, diabetes, dan penyakit jantung.   Sumber: webmd  
 05 Aug 2020    11:00 WIB
Mengapa Berat Badan Meningkat Saat Berhenti Merokok?
Berhenti merokok merupakan tindakan yang dapat menyelamatkan nyawa Anda, tetapi beberapa orang tampak enggan untuk berhenti merokok karena kemungkinan akan mengalami peningkatan berat badan. Hal ini merupakan hasil penelitian terbaru yang diterbitkan di International Journal of Clinical Practice. Peneliti dari  the Penn State College of Medicine menganalisa 186 perokok yang tengah menjalani terapi untuk berhenti merokok (yang diindikasikan dengan partisipasinya didalam sesi terapi studi) dan 102 perokok yang tidak menjalani terapi (diindikasikan dari ketidaktertarikan mereka untuk menghadiri terapi). Semua perokok yang terlibat dalam penelitian ini merokok minimal lima batang rokok setiap harinya. Para peneliti kemudian menanyakan para peserta tentang masalah yang mungkin mereka miliki saat akan berhenti merokok dan peningkatan berat badan yang mereka alami saat menjalani proses berhenti merokok. Para peneliti juga menanyakan apakah para peserta merasa takut akan peningkatan berat badan di kemudian hari saat mereka sudah berhenti merokok. Para peneliti mengungkapkan sekitar separuh dari peserta mengalami rasa takut akan peningkatan berat badan yang diperoleh akibat berhenti merokok. Dan diantara mereka yang memiliki kepeduan akan berat abdan akan menghindari terapi untuk berhenti merokok. Peningkatan berat badan sudah lama dihubungkan dengan berhenti merokok. Pada penelitian yang diadakan oleh the British Medical Journal pada tahun 2012 menunjukkan bahwa mantan perokok bisa mengalami peningkatan berat badan sampai 5 Kg setelah mereka berhenti merokok. Para peneliti menyimpulkan penyebab dari peningkatan berat badan tersebut mungkin karena kemampuan dari nikotin untuk memberi tahu sel otak untuk berhenti makan karena sudah merasa kenyang. Walaupun proses berhenti merokok itu akan diikuti peningkatan berat badan, tetap saja tindakan tersebut dapat menurunkan resiko serangan jantung dan stroke dibandingkan mereka yang tetap merokok.Sumber: huffingtonpost
 15 Jul 2020    16:00 WIB
Kenali Gejala dan Pemicu Terjadinya Psoriasis
Psoriasis merupakan penyakit kulit kronik yang disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh, yang juga dapat mengenai sendi. Penyebab pasti psoriasis tidak diketahui. Terdapat beberapa jenis psoriasis, yaitu pustular, plak, gutata, inverse, dan eritroderma. Gejala psoriasis tergantung pada jenis psoriasis yang terjadi. Jenis psoriasis yang paling sering terjadi adalah psoriasis plak. Di bawah ini terdapat beberapa gejala yang sering ditemukan pada psoriasis plak.   Bercak Kemerahan dan Inflamasi Pada Kulit Bercak pada kulit ini biasanya ditutupi oleh suatu lapisan bersisik berwarna perak. Bercak ini dapat terasa gatal dan nyeri, serta dapat pecah dan berdarah. Pada keadaan berat, bercak-bercak ini dapat menyatu dan membuat suatu area inflamasi yang luas pada kulit.   Gangguan Pada Kuku Tangan dan Kaki Kuku dapat mengalami perubahan warna atau membentuk suatu lekukan pada permukaannya. Selain itu, kuku juga menjadi rapuh, hancur, dan akhirnya terlepas dari dasar kuku.   Gangguan Pada Kulit Kepala Penderita psoriasis seringkali mengeluh mengenai adanya ketombe pada kulit kepalanya.   Gangguan Pada Sendi Psoriasis juga dapat menyebabkan psoriasis artritis. Keadaan ini menyebabkan timbulnya rasa nyeri, pembengkakan, kekakuan, dan kerusakan pada sendi. Sekitar 30% penderita psoriasis menderita psoriasis artritis pada usia 30-50 tahun.   Pemicu Psoriasis Gangguan sistem imun merupakan salah satu penyebab terjadinya psoriasis. Selain itu, terdapat beberapa hal yang dapat memperburuk atau bahkan memicu terjadinya gejala. Beberapa hal tersebut adalah: Cuaca dingin dan kering. Keadaan ini dapat membuat kulit anda kering, yang dapat meningkatkan resiko kambuhnya gejala psoriasis atau memperburuk gejala yang ada Stress dapat memperburuk gejala psoriasis atau malah membuat psoriasis kambuh Obat-obatan. Terdapat beberapa obat-obatan yang dapat memicu kambuhnya gejala psoriasis, seperti lithium, obat anti malaria, dan obat golongan beta blocker Infeksi atau penyakit tertentu. Beberapa infeksi seperti radang tenggorokan (faringitis) atau radang amandel (tonsillitis) dapat menyebabkan timbulnya psoriasis gutatae atau berbagai jenis psoriasis lainnya. psoriasis gutatae biasanya mulai timbul saat usia anak-anak atau dewasa muda. Selain itu, HIV juga dapat memperburuk gejala psoriasis Cedera atau luka pada kulit. Luka gores, memar, luka bakar, benjolan, tato, bekas suntikan vaksinasi, dan berbagai gangguan kulit lainnya dapat memicu terjadinya psoriasis (fenomena Koebner) Alkohol dapat memicu kambuhnya psoriasis, terutama pada pria Merokok dapat memperburuk gejala psoriasis   Sumber: webmd
 26 Jun 2020    16:00 WIB
Pengaruh Rokok Pada Kesehatan Tulang
Berapa pun usia anda, rokok tetaplah memiliki pengaruh buruk terhadap kesehatan tulang anda. Pembentukan massa tulang telah dimulai sejak masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya hingga usia 30 tahun. Seorang perokok tidak akan memperoleh pertumbuhan tulang yang maksimal. Perokok biasanya akan memiliki tulang yang lebih kecil dan lebih tipis daripada orang yang tidak merokok. Wanita yang telah memasuki masa menopause akan mengalami penurunan hormon estrogen yang penting bagi tulang. Penurunan kadar estrogen disertai kebiasaan merokok dapat membuat penipisan tulang berlangsung semakin cepat.   Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan Tulang Nikotin dan berbagai racun lainnya yang terdapat di dalam rokok dapat mempengaruhi kesehatan tulang anda dari berbagai aspek. Merokok dapat meningkatkan radikal bebas (suatu molekul yang menyerang dan membunuh sel-sel pertahanan tubuh anda. Hal ini dapat menyebabkan suatu reaksi kerusakan beruntun di dalam tubuh anda, termasuk berbagai sel, organ, dan hormon yang berpengaruh dalam menjaga kesehatan tulang anda. Racun yang terdapat di dalam rokok dapat mempengaruhi keseimbangan hormon (estrogen) yang diperlukan oleh tulang agar tetap kuat. Merokok membuat hati anda menghasilkan lebih banyak enzim penghancur hormon, yang pada akhirnya juga dapat menyebabkan penipisan tulang, terutama saat anda memasuki masa menopause. Selain itu, merokok juga dapat memicu berbagai perubahan yang juga dapat merusak kesehatan tulang anda, yaitu meningkatkan kadar hormon kortisol yang menyebabkan penghancuran tulang. Merokok juga mengganggu kerja hormon kalsitonin (membantu pembentukan tulang). Nikotin dan radikal bebas juga membunuh sel osteoblast, yaitu suatu sel yang berfungsi untuk membuat sel tulang baru. Merokok juga dapat merusak pembuluh darah anda sehingga aliran darah yang menyuplai oksigen ke berbagai organ juga terganggu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa apabila seorang perokok mengalami patah tulang, maka proses penyembuhannya pun biasanya berlangsung lebih lambat karena gangguan aliran darah. Selain kerusakan pada pembuluh darah, merokok juga dapat merusak saraf pada kaki dan ibu jari kaki anda, yang membuat anda lebih mudah jatuh dan mengalami patah tulang. Perokok memiliki resiko patah tulang 2 kali lebih tinggi daripada bukan perokok. Perokok berat memiliki resiko patah tulang yang lebih tinggi lagi.   Dapatkah Berhenti Merokok Memperbaiki Kesehatan Tulang Anda? Pertumbuhan tulang merupakan suatu proses yang berlangsung lambat, oleh karena itu diperlukan waktu yang cukup lama untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, beberapa bahkan tidak dapat diperbaiki kembali. Semakin banyak konsumsi rokok anda, maka akan dibutuhkan waktu semakin lama untuk memperbaiki kesehatan tulang anda tersebut. Sebuah penelitian menemukan bahwa setelah setahun berhenti merokok, sekelempok wanita yang telah memasuki masa menopause dapat mengalami perbaikan kepadatan tulang daripada wanita yang terus merokok.   Tips Berhenti Merokok Terdapat berbagai cara untuk berhenti merokok, yaitu: Tentukan tanggal di mana anda akan mulai berhenti merokok dan bulatkan tekad anda untuk melakukannya Bila anda mengalami kesulitan langsung berhenti secara keseluruhan, anda dapat memulainya dengan mengurangi jumlah rokok yang anda hisap setiap harinya, terus lakukan hal ini hingga akhirnya anda dapat berhenti merokok sama sekali Terdapat beberapa obat-obatan yang dapat membantu anda Dukungan dari keluarga atau orang terdekat juga sangat penting Sibukkan diri anda untuk membuat keinginan anda merokok menjadi berkurang, terutama bila anda lebih sering merokok saat tidak ada kegiatan untuk dilakukan Bila anda merasakan desakan untuk merokok, cobalah untuk menunda merokok, katakana pada diri anda bahwa anda akan melakukannya 10 menit lagi, dan terus ulangi hal ini hingga anda akhirnya tidak ingin merokok lagi Bila anda mengalami kesulitan, hubungi dokter anda untuk memperoleh bantuan   Sumber: webmd
 22 Apr 2020    08:00 WIB
Paru-Paru Bengkak Emphysema Karena Asap Rokok
Hai guys! Salam sehat dari Dokter.ID untuk para follower di Indonesia. Hari ini kita akan membahas tentang Emphysema. Bagi para perokok berat, siap-siap mendengarkan yah! Karena ini ada hubungannya dengan kalian. Mari kita pelajari bersama. Apa itu Emphysema? Emphysema (pembengkakan paru-paru) adalah salah satu penyakit yang terdiri dari COPD (penyakit paru obstruktif kronis). Emphysema melibatkan kerusakan bertahap pada jaringan paru-paru, khususnya penipisan dan penghancuran alveoli atau kantung udara. Mengapa Emphysema bisa terjadi? ada banyak penyebab perkembangan Emphysema. Namun, sebagian besar kasus Emphysema (COPD) di Amerika Serikat dan negara-negara lain disebabkan oleh paparan asap rokok. Meskipun genetika mungkin berperan, peradangan yang dimediasi oleh sel-sel tubuh (neutrofil, makrofag, dan limfosit) biasanya dipicu oleh paparan senyawa inflamasi, banyak di antaranya ditemukan dalam asap tembakau. Respon sistem kekebalan tubuh mengarah pada penghancuran elastin dan elemen struktural lainnya di paru-paru, yang pada akhirnya menghasilkan area di paru-paru yang tidak dapat berfungsi secara normal. Orang dengan kekurangan alpha-1 antitrypsin memiliki kondisi autosomal yang diwariskan yang menghasilkan peningkatan kerusakan elastin di paru-paru, yang mengakibatkan COPD (emphysema). Ketika iritasi dan zat asing memasuki alveoli, biasanya melalui inhalasi, proses inflamasi dimulai. Pesan kimia dikirim merekrut sel darah putih untuk menghilangkan bahan asing ini. Sel-sel ini melepaskan enzim yang menghancurkan zat ini. Biasanya, enzim-enzim ini, seringkali trypsins (protein desolving enzymes) bekerja untuk menghilangkan bahan ini. Tubuh memiliki enzim anti-trypsin yang menghancurkan trypsin ketika zat asing tidak ada lagi. Dalam kasus defisiensi alfa satu antitripsin genetik, enzim-enzim ini terus bekerja tanpa henti menghancurkan jaringan paru-paru normal yang berdekatan, menghasilkan Emphysema. Banyak dari mereka yang didiagnosis dengan Emphysema secara bertahap menurunkan berat badan dan kurus. Bagi sebagian orang, Emphysema berkembang lambat, dan bagi yang lain, Emphysema berkembang cepat. Namun, gejala Emphysema serupa dan termasuk: Batuk Tiada Henti - Juga dikenal sebagai batuk perokok, batuk persisten adalah tanda kerusakan dan iritasi pada paru-paru akibat emfisema. Desah - Ketika udara melewati saluran pernapasan bronkiolus yang sempit atau rusak (atau struktur seperti pohon), udara bergerak secara tidak normal dan menyebabkan suara siulan saat bernapas. Dada serasa tertekan - Bagi banyak orang dengan Emphysema, sesak dada atau perasaan tidak mampu bernapas sangat menakutkan dan sering diperburuk oleh kecemasan. Sesak Nafas - ini adalah perasaan bahwa bernafas membutuhkan lebih banyak usaha daripada yang biasanya diperlukan. Napas pendek bisa terjadi saat mengerahkan diri, duduk atau berbaring rata. Merokok adalah faktor risiko terbesar untuk penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), yang meliputi bronkitis kronis dan Emphysema. Ini meningkatkan risiko kita meningkat dan mati karena COPD. Sekitar 85 hingga 90 persen dari kasus COPD disebabkan oleh merokok. Perokok wanita hampir 13 kali lebih mungkin meninggal akibat COPD dibandingkan wanita yang tidak pernah merokok; pria perokok hampir 12 kali lebih mungkin meninggal akibat COPD dibandingkan pria yang tidak pernah merokok. Faktor risiko lain untuk COPD termasuk: Paparan polusi udara. Menghirup asap rokok bekas. Bekerja dengan bahan kimia, debu, dan asap. Kondisi genetik yang disebut defisiensi Alpha-1. Riwayat infeksi pernapasan pada anak-anak. Ada tiga jenis Emphysema morfologis; 1) centriacinar, 2) panacinar, dan 3) paraseptal. Centriacinar dimulai pada bronkiolus pernafasan dan menyebar secara perifer terutama di bagian atas paru-paru dan biasanya dikaitkan dengan merokok lama. Panacinar mendominasi di bagian bawah paru-paru dan menghancurkan jaringan alveolar dan dikaitkan dengan defisiensi antitripsin alpha-1 homozigot, suatu penyakit genetik. Emphysema paraseptal yang berlokasi di sekitar septa paru-paru atau pleura, sering dikaitkan dengan proses inflamasi, seperti infeksi paru-paru sebelumnya. Cara Menguji Emphysema ada beberapa cara: Pemeriksaan fisik akan dilakukan. Dokter akan memberi perhatian khusus pada bunyi pernapasan, bunyi jantung, dan penampilan fisik umum kita. Rontgen. Tes fungsi paru-paru. Untuk kasus genetik seperti alpha-1-antitrypsin, dokter mungkin menganjurkan tes darah untuk mengevaluasi penyakit genetik ini. Perawatan Emphysema bisa dimulai dari hal kecil, seperti: berhentilah merokok. Terapi obat. Rehabilitasi paru-paru. Terapi oksigen. Pembedahan Jika kita menderita Emphysema berat dengan kerusakan paru-paru lanjut. Vaksinasi (vaksinasi influenza, vaksin pneumokokus) ini akan membantu mengurangi eksaserbasi yang efektif. Diuretik– Jika kita memiliki komplikasi gagal jantung kanan, kita mungkin dirawat dengan tablet untuk menghilangkan kelebihan cairan. Eksaserbasi akut - Serangan akut harus ditangani dengan bronkodilator, oksigen tambahan, antibiotik, dan glukokortikoid. Anti Depresi - Karena Emphysema dapat menyebabkan kecacatan yang signifikan, tidak jarang pasien menjadi depresi. Obat konseling dan antidepresan dapat membantu kita mengatasi hal ini. Kontrol berat badan - Adalah penting bahwa kita menjaga berat badan dan nutrisi yang sehat, makan-makanan yang sehat dan bernutrisi, vitamin, banyak minum air putih dan olah raga secara teratur (ciptakan pola hidup sehat). Demikianlah pembahasan kita hari ini tentang Emphysema, pasti bermanfaat bagi kita semua, dan penting sekali punya paru-paru yang sehat, so dimulai dari berhenti merokok yah! Sampai jumpa!.
 20 Feb 2020    16:00 WIB
Buang Nikotin Dari Tubuh Anda Dengan Cara Berikut
Nikotin merupakan bahan berbahaya yang berasal dari rokok. Nikotin memiliki banyak efek negatif terhadap tubuh, seperti: Penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah Kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker esofagus Bronkitis Tekanan darah tinggi Impotensi Gangguan kehamilan dan cacat pada janin. Untuk Anda yang perokok aktif maupun perokok pasif, berikut adalah cara yang dapat Anda lakukan untuk membantu membuang nikotin dari dalam tubuh: 1.      Banyak minum air putih setiap hari Selama Anda sehat dan tidak memiliki masalah kesehatan yang mengharuskan Anda untuk membatasi asupan cairan. Maka sebaiknya Anda minum minimal 8 gelas sehari. Nikotin dan kotinin akan dibuang melalui ginjal. Dengan meningkatkan asupan cairan setiap harinya akan membantu tubuh memaksa keluar setiap limbah yang ada didalam tubuh termasuk nikotin dan kotinin. 2.      Makan makanan yang mengandung antioksidan Antioksidan adalah zat yang membantu membersihkan tubuh dari racun dengan mempercepat metabolisme. Jus buah tanpa tambahan gula merupakan sumber antioksidan. 3.      Makan makanan yang meningkatkan produksi empedu Empedu diproduksi dalam hati dan membantu untuk mendetoksifikasi tubuh Anda dan membuang nikotin. Makanan tersebut seperti bawang merah dan bawang putih. 4.      Olahraga yang teratur Apabila Anda melakukan olahraga secara teratur makan hal ini akan membantu mempercepat metabolisme tubuh Anda yang akan membantu membuang nikotin dan kotinin dari dalam tubuh.   Sumber: newhealthguide
 17 Jan 2020    08:00 WIB
Cara Alami Mengatasi Migrain dan Nyeri Kepala
Siapakah diantara Anda disini yang sering mengalami migrain atau nyeri kepala? Saat migraine atau nyeri kepala datang biasanya akan terasa sangat sakit dan dapat mengganggu aktivitas. Namun Anda tak perlu khawatir, karena ada beberapa tips untuk mengatasi sakit migraine dan sakit kepala, yakni:     •    Cobalah untuk kurangi stress Pekerjaan yang menumpuk di kantor dapat membuat siapa saja merasa lelah dan stress. Maka dari itu usahakan agar Sobat memiliki waktu istirahat yang cukup di rumah agar pikiran lebih rileks. Selain itu Anda dapat mencoba berdiri sesekali tiap 1 jam sambil menenangkan leher, rahang, serta bahu Anda.     •    Berolahraga secara teratur Berolahraga secara teratur minimal tiga kali seminggu dengan durasi 20 menit.     •    Melakukan rutinitas yang baik Cobalah untuk melakukan rutinitas yang baik seperti menjaga pola makan, asupan makan yang masuk ke dalam tubuh, serta waktu istirahat dengan konsisten, maka niscaya sakit migraine dan nyeri kepala akan pergi jauh-jauh.     •    Berhenti merokok Jika Anda memiliki kebiasaan merokok maka usahakan agar mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan merokok, sebab merokok dapat memicu munculnya nyeri di kepala menjadi lebih buruk.     •    Mengetahui faktor pemicu dari nyeri kepala Dengan mengetahui penyebab dari migraine dan nyeri kepala, maka Anda dapat melakukan pencegahan di kedepannya.   Sumber: webmd
 23 Dec 2019    18:00 WIB
Ayah Perokok Berisiko Memiliki Anak Asma
Saat Anda sedang merencanakan kehamilan, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh ibu sebelum kehamilan seperti seperti meningkatkan asupan asam folat dan berhenti merokok atau minum alkohol. Namun bagaimana dengan calon ayah? Sering orang berpendapat bahwa calon ayah tidak perlu melakukan perubahan pola hidup, namun ternyata menurut sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa seorang calon ayah yang merokok memiliki risiko bayi yang menderita asma.  Berdasarkan sebuah penelitian yang dipaparkan oleh European Respiratory Society (ERS) Kongres Internasional di Munich, Jerman, dan merupakan penelitian pertama yang meneliti hubungan antara kebiasaan ayah yang merokok dengan kesehatan pernapasan anak-anaknya.  Penelitian tersebut memberikan bukti bahwa sejarah orang tua yang buruk memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan masa depan anak, diterbitkan dalam jurnal Science. Penelitian yang dipimpin oleh Prof Sarah Robertson dari University of Adelaide di Australia mengatakan sebagai contoh bahwa orang tua yang obesitas/ kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko anaknya untuk terkena penyakit gangguan metabolik "Dalam 10 tahun terakhir ini komunitas ilmu pengetahuam telah serius membahas masalah ini" kata Prof Robertson, "dan hanya dalam 5 tahun terakhir bahwa kami telah mulai memahami mekanisme bagaimana hal ini terjadi."  Dia menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki pola hidup, seperti pola makan yang buruk atau kebiasaan merokok, hal ini akan tersimpan dalam sel telur dan sperma dan akan berpengaruh pada pertumbuhan janin.  Dalam penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr Cecile Svanes dari University of Bergen di Norwegia, para peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai kebiasaan merokok lebih dari 13.000 pria dan wanita.  Penelitian ini difokuskan pada beberapa pasangan yang mempunyai kebiasaan merokok sebelum terjadi kehamilan dengan kejadian asma pada anak-anak mereka dan pada pasangan yang telah menghentikan kebiasaan merokok.  Dalam penelitian tersebut di temukan bahwa seorang calon ayah yang mempunyai kebiasaan merokok sebelum terjadi kehamilan ternyata memiliki risiko lebih besar mempunyai anak yang mengalami asma non alergi. Selain itu risiko anak mengalami asma meningkat apabila calon ayah mulai merokok pada usia sebelum 15 tahun dan risiko ini semakin meningkat berdasarkan berapa lama calon ayah merokok.    Sumber: medicalnewstoday