Your browser does not support JavaScript!
 23 Nov 2016    15:00 WIB
Apakah Ada Hubungan Antara Kafein dan Gejala Menopause???
Setiap wanita pasti akan mengalami hal yang satu ini, menopause. Menopause merupakan suatu masa peralihan yang akan dialami oleh setiap wanita. Seorang wanita dikatakan telah memasuki masa menopause bila ia tidak lagi mendapat menstruasi selama minimal 12 bulan. Menopause rata-rata terjadi saat seorang wanita berusia 50 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada wanita yang berusia 40 tahun. Biasanya ketika mendekati masa menopause, lama dan banyaknya darah yang keluar saat menstruasi cenderung bervariasi, tidak seperti biasanya. Pada beberapa wanita, aktivitas menstruasi dapat berhenti secara tiba-tiba, tetapi biasanya terjadi secara bertahap (baik jumlah maupun lamanya) dan jarak antara 2 siklus menjadi lebih dekat atau lebih jarang. Ketidakteraturan ini bisa berlangsung selama 2-3 tahun sebelum akhirnya menstruasi benar-benar berhenti.   Baca juga: Penanganan Gejala Menopause   Tidak hanya membuat siklus menstruasi seorang wanita berhenti, menopause juga akan memicu terjadinya berbagai gejala. Hot flashes merupakan gejala menopause yang paling sering ditemukan. Hot flashes terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah wajah, leher, dada dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai keringat yang berlebihan. Sekitar 75 % wanita mengalaminya selama 1 tahun, dan 25-50% mengalaminya selama lebih dari 5 tahun. Hot flashes dapat berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit. Beberapa penelitian telah menemukan tampaknya ada suatu hubungan antara konsumsi kafein dengan gejala menopause yang satu ini. Para ahli menemukan bahwa wanita yang telah memasuki masa menopause dan mengkonsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, dan minuman bersoda lebih sering mengalami hot flashes dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi kafein. Jadi, bila Anda sering mengkonsumsi minuman berkafein dan merasa terganggu dengan munculnya hot flashes, maka mungkin ada baiknya bila Anda mulai mengurangi atau bahkan berhenti mengkonsumsi minuman berkafein dan lihat apakah berdampak positif pada gejala hot flashes yang Anda alami.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: mayoclinic
 19 Aug 2016    11:00 WIB
Hubungan Migrain dan Kadar Hormon
Sekitar 70% penderita migrain adalah wanita dan sekitar 60-70% nya mengalami serangan migrain saat menstruasi.   Hubungan Hormon dan Nyeri Kepala Nyeri kepala, terutama serangan migrain seringkali berhubungan dengan perubahan kadar hormone estrogen saat menstruasi terjadi. Kadar hormon estrogen akan mendadak turun beberapa waktu sebelum menstruasi dimulai. Migrain premenstrual ini biasanya terjadi saat atau setelah kadar hormon estrogen dan progesteron berada pada titik terendahnya. Serangan migrain ini biasanya akan menghilang selama kehamilan. Akan tetapi, beberapa wanita justru mengalami serangan migrain selama trimester pertama kehamilan dan menghilang saat kehamilan mencapai usia 3 bulan.   Pemicu Migran Hormonal Penggunaan pil KB dan terapi sulih hormon pada saat menopause telah diketahui sebagai salah satu pemicu migrain pada wanita. Efek samping ini dapat dikurangi dengan menurunkan kadar hormon estrogen pada pil KB anda atau menggunakan pil KB yang hanya mengandung hormon progesteron.   Pilihan Terapi Migrain Hormonal (Migrain Saat Menstruasi) Pengobatan utama untuk menghentikan migrain hormonal adalah pemberian obat anti inflamasi atau NSAID (non steroid anti inflammatory drugs). Penggunaan NSAID harus dimulai 2 atau 3 hari sebelum menstruasi terjadi dan dilanjutkan hingga menstruasi selesai. Bagi wanita yang mengalami migrain hormonal berat atau yang ingin meneruskan penggunaan pil KB, maka dokter akan menyarankan untuk mengkonsumsi NSAID yang dimulai pada hari ke 19 siklus menstruasi anda hingga hari ke 2 siklus menstruasi anda berikutnya. Selain itu, adanya retensi cairan selama menstruasi berlangsung juga dapat menyebabkan timbulnya migrain selama menstruasi. Oleh karena itu, dokter juga dapat menyarankan penggunaan obat diuretika dan menganjurkan anda untuk membatasi konsumsi garam beberapa hari sebelum menstruasi terjadi. Lupron merupakan sebuah obat yang dapat mempengaruhi kadar hormon dan hanya diberikan bila semua pengobatan lain tidak berhasil mengatasi serangan migrain anda.   Pilihan Terapi Migrain Saat Menopause Salah satu cara mencegah terjadinya migrain pada wanita yang harus terus mengkonsumsi suplemen estrogen setelah memasuki masa menopause adalah dengan mengkonsumsi suplemen estrogen setiap harinya dengan dosis kecil untuk menstabilkan kadar hormon estrogen di dalam tubuh anda.   Pilihan Terapi Migarain Saat Kehamilan Selama kehamilan, tidak ada obat-obatan yang dapat anda gunakan untuk mengatasi migrain. Hal ini karena obat anti migraine dapat mempengaruhi rahim, plasenta, dan bayi anda. Bila anda mengalami migrain atau nyeri kepala saat hamil, maka anda sebaiknya berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter anda mengenai obat anti nyeri apa yang dapat anda konsumsi dan berapa dosisnya.  Baca juga: Mengatasi Migrain dan Nyeri Kepala Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 17 Oct 2015    18:00 WIB
Manfaat Akupuntur Untuk Wanita Menopause
Akupuntur merupakan terapi tradisional yang berasal dari China dengan sarana menggunakan jarum yang ditusukkan ke tubuh. Terapi ini juga telah digunakan untuk pengobatan tradisional dari gejala-gjala menopause pada wanita. Berikut adalah keuntungan dari akupuntur terhadapa wanita menopause : Mengurangi timbulnya bercak kemerahan yang panas (hot flashes) Seorang ilmuwan Turki terkenal mengakui bahwa akupunktur dapat membantu menurunkan kejadian timbulnya bercak kemerahan yang panas pada wanita menopause atau dikenal sebagai hot flashes. Subyek uji penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat 35 persen wanita memiliki kemungkinan lebih rendah terkena hot flashes setelah melalui pengobatan akupunktur. Membantu menyeimbangkan mood Teori akupuntur menyatakan jika ketidakseimbangan antara energy yin dan yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan system hormonal, yang menyebabkan mood menjadi naik-turun. Akupuntur membantu untuk memperkuat dan menyeimbangkan energy tersebut dan terbukti dapat memperbaiki mood menjadi lebih seimbang. Melawan kelelahan Perubahan hormonal dalam tubuh seorang wanita yang mengalami masa menopause sering menimbulkan kelelahan tubuh. Akupunktur dapat membantu mengobati kondisi ini dengan meningkatkan tingkat energi dalam tubuh. Mengobati nyeri otot Para wanita yang menjalani terai akupuntur juga melaporkan jika akupuntur dapat meredakan nyeri otot. Sebagai terapi, akupuntur dikenal dapat mengurangi tekanan darah yang tinggi dan meningkatkan sirkulasi, secara alami akupuntur melepaskan zat kimia alami yang dapat menghilangkan rasa sakit  yang disebut endorfin untuk mengobati nyeri tersebut. Mengurangi depresi Seiring dengan mengobati sakit dan menyeimbangkan hormon, akupunktur juga mengurangi depresi yang terkait dengan menopause.   Sumber: healthmeup  
 17 Oct 2015    12:00 WIB
10 Gejala Menopause dan Cara Mengatasinya
Menopause merupakan suatu keadaan di mana anda tidak lagi mengalami menstruasi selama 1 tahun. Masa peri menopause merupakan suatu periode di mana wanita mulai mengalami berbagai perubahan di akhir usia produktifnya. Setiap wanita mengalami menopause pada usia yang berbeda-beda. Perubahan kadar hormon estrogen, progesteron, dan testosteron selama masa peri menopause dan menopause dapat menyebabkan berbagai gejala, yaitu: 1. Menstruasi tidak teratur 2. Jumlah menstruasi banyak 3. Mengalami gejala pra menstruasi yang berat 4. Gangguan tidur 5. Badan terasa panas 6. Vagina kering 7. Penurunan atau hilangnya gairah seksual 8. Nyeri sendi 9. Gangguan daya ingat 10. Mood berubah-ubah Selain itu, rendahnya kadar hormon estrogen juga dapat mempengaruhi jantung dan kepadatan tulang anda.   Tips Mengatasi Berbagai Gejala Menopause Sebagian besar wanita yang memasuki masa menopause biasanya telah disibukkan oleh berbagai kegiatan, mulai dari bekerja, mengurus anak remajanya, dan mengurus orang tuanya yang telah memasuki usia lanjut usia. Hal ini dapat menyebabkan anda tidak dapat berolahraga secara teratur, makan tidak teratur, atau bahkan kurang tidur. Semua tekanan dan stress yang anda alami dapat membuat anda semakin sulit mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuh anda. Olahraga Berolahraga secara teratur seperti berjalan cepat atau jogging dapat membantu melindungi jantung dan tulang anda. Untuk mengatasi gangguan tidur di malam hari, cobalah untuk berolahraga di malam hari tetapi jangan terlalu dekat dengan waktu tidur anda. Anda juga dapat mencoba yoga atau pilates untuk mengurangi stress. Selain itu, yoga, akupuntur, dan latihan pernapasan dapat membantu mengurangi rasa panas yang anda rasakan. Berolahraga juga dapat membantu mengatasi penurunan gairah seksual yang anda rasakan karena saat anda merasa percaya diri dan puas dengan tubuh anda, maka anda pun akan merasa lebih seksi dan tetap bergairah. Diet Sehat Diet sehat yang juga mengandung banyak kalsium dan vitamin D dapat membantu mengatasi gejala dan mencegah peningkatan berat badan yang kadang terjadi saat anda memasuki masa peri menopause. Hindarilah juga makanan pedas, anggur merah, dan minuman panas untuk mengurangi rasa panas yang anda rasakan. Obat-obatan Meningkatkan Gairah Seksual Krim yang mengandung estrogen atau pelumas dapat membantu mengatasi vagina yang kering dan mengurangi rasa nyeri saat berhubungan seksual. Sayangnya belum ada pengobatan tertentu yang dapat mengembalikan gairah seksual anda. Diskusikanlah masalah ini dengan pasangan anda dan bersabarlah. Gangguan Tidur dan Pencegahan Osteoporosis Hubungi dokter anda mengenai berbagai obat-obatan atau hal yang dapat anda gunakan untuk membantu mengatasi gangguan tidur anda. Untuk mencegah dan mendeteksi osteoporosis secara dini, maka dokter akan menyarankan anda untuk melakukan pemeriksaan kepadatan tulang. Ingatlah bahwa berbagai gejala menopause ini tidak akan berlangsung selamanya.   Sumber: webmd
 01 Jul 2014    11:00 WIB
Migrain Dapat Semakin Memburuk Saat Menopause
Penelitian terbaru mengungkapkan jika banyak wanita yang mengidap migrain mengeluh kepada dokternya jika serangan migrain yang mereka rasakan semakin memburuk sebelum dan selama masa menopause. Wanita yang menderita migrain, ternyata mengalami kenaikan serangan migrain sampai 50-60% saat mereka memasuki masa pre-menopause dan waktu menopause. Sebenarnya hal ini sudah banyak dikeluhkan oleh para wanita, dan saat ini para ahli sedang mencari bukti-buktinya. Masa pre-menopause adalah waktu dimana tubuh mengalami transisi ke masa menopause (saat menstruasi berhenti). Masa pre-menopause dapat berlangsung beberapa tahun, dan seringnya ditandai pada menstruasi yang tidak teratur, rasa panas pada pipi dan masalah tidur. Masa pre-menopause biasanya dimulai pada usia 40 tahunan dan menopause biasanya terjadi rata-rata pada usia 51 tahun. Pada penelitian ini, para ilmuwan melakukan survey terhadap lebih dari 3.600 wanita berusia 35-65 tahun. Wanita-wanita tersebut diklasifikasi berdasarkan frekuensi nyeri kepalanya. Jika wanita tersebut mengalami nyeri kepala lebih dari 10 hari dalam sebulan maka wanita tersebut akan masuk ke kelompok nyeri kepala frekuensi tinggi. Kelompok wanita tersebut juga dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok premenopause, perimenopause dan postmenopause. Ternyata ditemukan sebanyak 8% wanita premenopause mengalami peningkatan serangan migrain, 12,2% pada kelompok wanita perimenopause dan sebanyak 12% pada kelompok wanita menopause. Wanita mengalami serangan migrain biasanya pada beberapa hari sebelum menstruasi, saat hormon estrogen dan progesteron mengalami penurunan. Para peneliti menduga jika penyebab yang sama juga menjadi alasan mengapa serangan migrain semakin meningkat pada wanita yang masuk menopause. Untuk meredakan nyeri migrain tersebut, para peneliti menyarankan untuk mengkonsultasikan dengan dokter mengenai pengobatan migrain, apakah mereka harus menambahkan dosis obat migrain atau menggantinya dengan jenis obat migrain yang lain.   Sumber: webmd