Your browser does not support JavaScript!
 03 Sep 2020    13:00 WIB
Atasi "Kuning" Pada Bayi Dengan Fototerapi
Ikterus neonatorum adalah suatu keadaan di mana kulit dan selaput mata bayi baru lahir berwarna kuning yang biasanya terjadi pada minggu pertama kehidupan bayi. Ikterus sendiri berarti kulit, selaput mata, atau jaringan lainnya (membran mukosa) berwarna kuning akibat penumpukkan bilirubin.Ikterus dapat terjadi akibat peningkatan kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah yang menyebabkan penumpukkan bilirubin pada kulit dan selaput mata bayi.   Peningkatan kadar bilirubin di dalam darah bayi dapat terjadi karena hati bayi belum berfungsi sempurna (fisiologis) atau akibat gangguan kesehatan lain (patologis). Peningkatan kadar bilirubin di dalam darah bayi dapat mengganggu perkembangan sistem saraf pusat bayi dan menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan saraf yang tidak dapat diperbaiki kembali. Penanganan segera dibutuhkan untuk menurunkan kadar bilirubin di dalam darah bayi anda. Salah satunya adalah dengan melakukan fototerapi. Fototerapi dilakukan dengan cara meletakkan bayi yang hanya mengenakan popok (mencegah terjadinya kemandulan akibat fototerapi) dan penutup mata (mencegah terjadinya kerusakan retina akibat fototerapi) di bawah lampu yang memancarkan spektrum cahaya hijau-biru dengan panjang gelombang 450-460 nm. Selama fototerapi, bayi harus tetap disusui dan diubah posisi tidurnya (terlentang dan telungkup) setiap 2 jam agar penyinaran mengenai seluruh bagian kulit dengan merata. Melalui fototerapi, bilirubin diubah menjadi suatu senyawa yang dapat larut di dalam air sehingga dapat dikeluarkan melalui air kemih. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan apakah bayi anda telah mendapat cukup cairan, baik melalui ASI maupun air putih agar tidak mengalami dehidrasi. Efek samping lain yang mungkin timbul akibat tindakan fototerapi adalah diare. Diare dapat terjadi akibat peningkatan pengeluaran cairan empedu ke dalam usus pada proses pemecahan bilirubin, sehingga gerakan usus (peristaltik) pun meningkat. Fototerapi biasanya dilakukan selama 24 jam atau hingga kadar bilirubin dalam darah turun pada ambang batas normal. Sumber: clinicforchild.wordpress
 16 Nov 2019    16:00 WIB
Kulit Kuning Karena Saluran Empedu yang Tersumbat, Apa Pengobatannya?
Bila Anda mengalami jaundice (kulit dan bagian putih mata tampak kekuningan), maka segera periksakan diri Anda ke seorang dokter, terutama bila jaundice juga disertai oleh nyeri perut hebat, demam, menggigil, mual, dan muntah karena hal ini merupakan tanda adanya penyumbatan pada saluran empedu Anda.   Baca juga: Jaundice Pada Bayi, Penyebab dan Komplikasinya   Tergantung pada penyebabnya, pada awalnya dokter mungkin hanya akan memberikan obat anti nyeri dan antibiotik untuk mengatasi infeksi bila penyebabnya berhubungan dengan batu empedu. Pemeriksaan radiologi dan darah dapat membantu mencari tahu apa sebenarnya penyebab jaundice yang Anda alami. Dengan demikian pengobatan yang tepat pun dapat segera diberikan. Jika disebabkan oleh batu empedu, maka mungkin perlu dilakukan pemasangan stent endoskopi untuk mengatasi sumbatan sementara waktu dan mengatasi infeksi bakteri sebelum tindakan pembedahan dapat dilakukan. Tindakan pembedahan yang biasa dilakukan adalah tindakan laparoskopi untuk mengangkat kandung empedu yang merupakan tempat asal batu empedu. Jika penyebabnya adalah kanker, maka selain tindakan pembedahan biasanya perlu dilakukan kemoterapi dan atau terapi radiasi. Bila tindakan pembedahan tidak dapat dilakukan, maka pengobatan yang tersedia adalah kemoterapi dan atau terapi radiasi. Selain itu, biasanya juga akan dilakukan pemasangan stent endoskopik untuk menbantu mengurangi gejala. Jika sumbatan pada saluran empedu ini dibiarkan tanpa pengobatan, maka resiko terjadinya infeksi akan meningkat, karena berlebihannya kadar bilirubin di dalam aliran darah. Untuk mencegah terjadinya sumbatan pada saluran empedu akibat adanya batu empedu, dianjurkan agar Anda mengkonsumsi makanan yang sehat dan seimbang, serta mengurangi konsumsi makanan berlemak dan alkohol.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange