Your browser does not support JavaScript!
 08 Jul 2021    13:00 WIB
Apa Bahaya Konsumsi Kopi Berlebihan Pada Kesehatan?
Peningkatan penggunaan kopi karena efek stimulasinya dapat berakhir pada penyalahgunaan dan meningkatkan resiko terjadinya gangguan kesehatan. Reaksi setiap orang terhadap kafein dapat berbeda-beda, segelas kopi yang membuat jantung Anda terasa berdebar-debar dan membuat telinga Anda berdenging, mungkin justru dapat memperbaiki mood dan mengembalikan tenaga orang lain. Perbedaan ini tergantung pada seberapa cepat tubuh Anda dapat memetabolisme kafein di dalam kopi.   Seperti halnya perbedaan efek kafein di atas, apa yang menyebabkan seseorang mengalami kecanduan kopi juga berbeda-beda, tergantung pada seberapa baik atau buruknya tubuh Anda memetabolisme kopi. Mengkonsumsi kopi secara teratur dapat membuat tubuh Anda mengalami reaksi toleransi, yaitu suatu reaksi di mana tubuh Anda tidak lagi bereaksi dengan cara yang sama saat mengkonsumsi suatu zat dalam jumlah yang sama dan membutuhkan zat dalam jumlah yang lebih banyak daripada biasanya untuk memperoleh efek yang sama.   Kafein akan melalui proses detoksifikasi di dalam hati melalui cara yang sama dengan obat-obatan lainnya seperti asetaminofen dan ibuprofen. Selain itu, terdapat beberapa hal yang mempengaruhi proses metabolisme kafein di dalam tubuh Anda seperti usia, jenis kelamin, ukuran tubuh Anda, dan obat-obatan apa saja yang Anda konsumsi.  Biasanya dibutuhkan kurang lebih 5 jam untuk memetabolisme setengah jumlah kafein yang terdapat dalam 1 gelas kopi. Mengkonsumsi lebih dari 1 gelas kopi atau minuman berkafein lainnya dapat membuat kafein bertumpuk di dalam hati. Lama kelamaan hal ini dapat menyebabkan stress pada hati dan menyebabkan peningkatan zat racun di dalam tubuh Anda yang dapat mengganggu kemampuan tubuh Anda untuk mengatasi berbagai stress lain seperti infeksi atau kurang tidur. Karena kafein merupakan stimulant sistem saraf pusat, maka konsumsi kafein dapat membuat Anda mengalami gangguan irama jantung, yaitu kontraksi preventrikular, yang merupakan suatu kondisi yang dapat membahayakan jiwa Anda, yang dapat terjadi pada siapa saja walaupun tidak memiliki gangguan jantung lainnya. Mengkonsumsi kafein secara berlebihan dapat meningkatkan resiko terjadinya kontraksi preventrikular ini. Selain itu, konsumsi kafein juga berhubungan dengan terjadinya fibrokistik payudara, suatu keadaan di mana payudara terasa sangat nyeri yang membuat payudara terasa keras, akan tetapi bukan merupakan suatu keganasan.   Selain orang dewasa, kafein juga dapat mempengaruhi janin yang sedang berkembang. Karena janin masih belum memiliki enzim yang diperlukan untuk memetabolisme kafein sehingga kafein dapat terus berada dalam aliran darah janin hingga 100 jam setelah konsumsi. Tingginya kadar kafein di dalam darah janin diduga berhubungan dengan terjadinya kelainan bawaan, berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur. Sebuah penelitian di tahun 2011 menemukan bahwa kombinasi obat stimulan dan kafein lebih beracun bagi tubuh daripada hanya mengkonsumsi salah satunya saja. Kombinasi keduanya dapat menyebabkan pelepasan banyak neurotransmiter dopamin, yang membuat Anda merasa senang. Selain itu, kombinasi keduanya juga dapat meningkatkan kadar stress oksidatif di dalam otak. Para peneliti menemukan bahwa kafein dapat meningkatkan efek stimulasi dan efek toksik dari metamfetamin.   Sumber: healthyeating.sfgate
 22 Jun 2021    13:00 WIB
Manfaat Kopi Bagi Kesehatan
Kandungan Nutrisi di Dalam KopiKopi mengandung sangat sedikit kalori dan merupakan sumber utama dari kafein (sekitar 95% kopi terdiri dari kafein). Berbagai vitamin dan mineral yang terdapat di dalam kopi adalah natrium, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, asam folat, fosfor, magnesium, mangan, dan kalium. Selain itu, kopi juga mengandung berbagai antioksidan.1.  Membantu Menurunkan Kadar Gula DarahAsam klorogenik dan alkaloid trigonelin di dalam kopi dapat membantu mengurangi kadar glukosa dan insulin, yang sangat membantu penderita diabetes tipe 2. 2.  Mencegah KankerAdanya asam klorogenik, asam kaffein, dan fitoestrogen di dalam kopi, membuatnya dapat membantu menurunkan resiko terjadinya kanker payudara. Orang yang mengkonsumsi kopi setiap harinya memiliki resiko kanker mulut, kanker esofagus (tenggorokan), dan kanker faring (kerongkongan) yang lebih rendah. Kopi juga dapat menurunkan resiko terjadinya kanker hati dan kanker prostat. 3.  Menurunkan Resiko Gangguan Daya IngatKopi dapat meningkatkan daya ingat anda. Mengkonsumsi kopi diduga dapat mencegah terjadinya dementia (pikun) dan penyakit Alzheimer pada orang lanjut usia. Kopi dapat membantu menghambat efek neurotransmiter adenosin, yang meningkatkan kerja sel-sel saraf di dalam otak dan membantu pelepasan neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin. Kedua neurotransmiter ini dapat membantu meningkatkan mood dan meredakan stress. Mengkonsumsi kopi diduga juga dapat menurunkan resiko terjadinya penyakit Parkinson.4.  Melindungi HatiKopi dapat membantu meningkatkan kerja hati dan menurunkan resiko terjadinya kolangitis sklerosing primer yang dapat menyebabkan terjadinya sirosis hati dan gagal hati. Selain itu, kopi juga dapat menurunkan resiko terjadinya karsinoma hepatoseluler (suatu jenis kanker hati).5.  Manfaat LainnyaManfaat lain dari kopi bagi kesehatan anda adalah:•  Meningkatkan kekebalan tubuh (kaya antioksidan)•  Membantu mengatasi nyeri kepala dan migraine (kafein)•  Membantu memperbaiki mood, meredakan stress, dan meningkatkan fungsi kognitif, termasuk meningkatkan kewaspadaan, daya ingat verbal, dan kemampuan analisis visuospasial•  Menurunkan resiko terbentuknya batu di dalam kandung kemih (kafein)•  Mencegah terjadinya sembelit dan melancarkan pencernaan dengan cara meningkatkan gerakan otot-otot halus usus•  Membantu mencegah terbentuknya plak pada gigi dan meningkatkan kesehatan gigi (tannin)     Sumber: foodtofitness
 22 Dec 2020    10:25 WIB
Minum Kopi Saat Masih Menyusui, Amankah?
Mengkonsumsi minuman berkafein seperti kopi saat masih menyusui bayi Anda sebenarnya boleh-boleh karena dianggap cukup aman. Walaupun kafein yang Anda konsumsi akan masuk ke dalam ASI Anda, akan tetapi sebagian besar penelitian menemukan bahwa hanya kurang dari 1% kafein yang masuk ke dalam ASI Anda. Jadi, berapa gelas kopi yang boleh Anda konsumsi setiap harinya? The American Academy of Pediatrics menganjurkan agar seorang ibu yang sedang menyusui tidak mengkonsumsi lebih dari 3 gelas sehari. Sebagian besar ahli setuju bahwa seorang ibu yang masih menyusui dianjurkan untuk membatasi konsumsi kafeinnya yaitu tidak lebih dari 300 mg setiap harinya. Oleh karena itu, pastikan Anda mengetahui jumlah kafein pada berbagai jenis minuman yang Anda konsumsi. Jika Anda ingin mengkonsumsi lebih dari 1 gelas kopi setiap harinya, minimalkan jumlah kafein di dalam ASI Anda dengan membagi jumlah kopi yang Anda konsumsi setiap harinya, misalnya 1 gelas di pagi hari dan 1 gelas di siang hari atau sore hari. Konsumsilah kopi susu yang mengandung lebih sedikit kafein dibandingkan dengan kopi hitam. Walaupun bayi biasanya tidak akan menunjukkan tanda-tanda gangguan apapun saat mengkonsumsi kafein yang berasal dari ASI Anda, akan tetapi bila Anda merasa bahwa bayi Anda menjadi lebih rewel setelah Anda minum kopi dan kemudian menyusuinya, maka Anda dapat melakukan percobaan di bawah ini. Cobalah untuk tidak mengkonsumsi kafein sama sekali selama 1 minggu dan perhatikanlah apakah ada perubahan pada perilaku bayi Anda. Setelah itu, Anda dapat kembali mengkonsumsi kafein dan perhatikan apakah bayi Anda kembali rewel. Bila ya, maka Anda harus berhenti mengkonsumsi minuman berkafein selama masih menyusui. Intinya adalah karena bayi Anda biasanya tidak akan terpengaruh oleh kafein yang Anda konsumsi, maka Anda sebenarnya dapat mengkonsumsi kopi kesukaan Anda tanpa perlu merasa khawatir, hanya saja jangan berlebihan. Baca juga: Mengatasi Bau Mulut Karena Kopi Sumber: babycenter
 20 Aug 2020    13:00 WIB
Menderita Diabetes Tipe 1, Bolehkah Mengkonsumsi Kopi?
Pada sebuah penelitian yang sangat kecil, para peneliti mengamati para atlit dewasa yang menderita diabetes tipe 1. Pada penelitian yang dilakukan di tahun 2010 ini, para peneliti mengamati 5 orang atlit dewasa yang menderita diabetes tipe 1, yang rata-rata berusia 38 tahun, yang membutuhkan beberapa kali suntikan insulin setiap harinya. Pada penelitian ini, para peserta penelitian diminta untuk menyuntikkan insulin bersamaan dengan waktu makan. Dua jam setelah makan, para atlit ini diminta untuk mengkonsumsi 5 mg/kgBB kafein atau plasebo yang terdapat di dalam sebuah minuman. Para peserta penelitian kemudian diminta untuk beristirahat selama 30 menit. Setelah itu, peserta penelitian diminta untuk berolahraga selama 40 menit. Percobaan ini dilakukan 2 kali sehingga para peneliti memiliki semua data dari peserta penelitian, baik saat mereka mengkonsumsi kafein atau plasebo untuk mengetahui apakah para peserta penelitian membutuhkan tambahan suplemen glukosa saat berolahraga. Para peneliti kemudian menemukan bahwa saat para peserta penelitian mengkonsumsi kafein, mereka tidak membutuhkan tambahan suplemen glukosa. Sedangkan saat para peserta penelitian mengkonsumsi plasebo, kadar gula darah mereka menjadi sangat rendah saat berolahraga dan membuat mereka membutuhkan tambahan suplemen glukosa. Karena pada penelitian ini jumlah peserta penelitian sangat sedikit dan jumlah kafein yang digunakan cukup tinggi, maka para peneliti mengatakan bahwa masih dibutuhkan lebih lanjut dengan jumlah peserta penelitian yang lebih banyak dan jumlah kafein yang lebih sedikit. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti mengatakan bahwa saat seorang penderita diabetes tipe 1 berolahraga di luar rencana dan tidak dapat mengurangi dosis insulin yang digunakan, maka kafein dapat membantu mengurangi kebutuhan kalori sehingga dapat mencegah terjadinya hipoglikemia. Sumber: diabetescare
 23 Jul 2020    08:00 WIB
Merasa Berdebar-debar Setelah Minum Kopi? Mengapa Demikian?
Kopi merupakan suatu stimulan karena mengandung kafein yang dapat membuat Anda lebih bersemangat, tidak mengantuk, dan meningkatkan fungsi otak serta tubuh Anda di pagi hari. Seperti halnya semua stimulan, kafein dapat mempengaruhi jantung, otak, dan otot-otot tubuh Anda.  Mengkonsumsi terlalu banyak kopi atau mengkonsumsi kopi pada waktu yang tidak tepat dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah jantung terasa berdebar-debar akibat peningkatan denyut jantung. Kafein di dalam kopi dapat memicu sistem saraf simpatik yang merupakan pengendali respon "fight" atau "flight" tubuh, yang dapat bereaksi dengan cara melepaskan sejumlah energi pada otot, meningkatkan kewaspadaan mental, dan meningkatkan aliran darah yang menuju pada anggota gerak tubuh dengan cara meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.  Pada sebagian besar kasus, efek ini hanya menyebabkan suatu perubahan kecil, akan tetapi kadangkala dapat terjadi gangguan irama jantung yang membuat Anda merasa berdebar-debar karena adanya peningkatan denyut jantung. Pada keadaan normal, Anda mungkin tidak akan menyadari denyut jantung Anda, kecuali saat Anda sedang berolahraga. Merasa jantung Anda berdebar lebih cepat atau bahkan tidak teratur dapat membuat Anda merasa cemas dan khawatir. Walaupun sebagian besar kasus tidak berbahaya, akan tetapi bila hal ini terjadi berulang kali, maka Anda mungkin harus memeriksakan keadaan jantung Anda pada dokter. Peningkatan denyut jantung dapat disebabkan oleh berbagai stimulan. Mengkonsumsi kafein berlebihan merupakan salah satu hal yang sering menyebabkan jantung terasa berdebar-debar. Bahkan, beberapa orang merasakan peningkatan denyut jantung walau hanya mengkonsumsi sedikit kafein. Satu gelas kopi mengandung sekitar 100-200 mg kafein. Mengkonsumsi lebih dari 500 mg kafein setiap harinya dapat menyebabkan timbulnya nyeri kepala, badan terasa gemetar, dan peningkatan denyut jantung. Selain kopi, kafein juga dapat ditemukan pada teh hitam, teh hijau, teh putih, minuman bersoda, minuman energi, coklat, dan beberapa jenis obat-obatan; terutama obat yang digunakan untuk mencegah rasa kantuk. Berbagai penyebab lain dari peningkatan denyut jantung adalah anemia, tekanan darah rendah, tekanan darah tinggi, stress, dan demam.   Kapan Hubungi Dokter? Peningkatan denyut jantung yang tidak berbahaya biasanya hanya terjadi satu kali dan tidak berulang. Jika Anda mengkonsumsi terlalu banyak kopi atau lebih dari biasanya dan merasa bahwa denyut jantung Anda meningkat, maka denyut jantung Anda biasanya akan kembali normal dalam waktu beberapa menit. Segera hubungi dokter Anda bila peningkatan denyut jantung berlangsung dalam waktu lama atau terjadi berulang kali. Hal ini dapat merupakan gejala adanya gangguan jantung. Selain itu, segera cari pertolongan medis bila Anda merasa nyeri atau mati rasa pada lengan, dada terasa seperti tertekan, nyeri ulu hati yang terjadi bersamaan dengan peningkatan denyut jantung.  Baca juga: Apakah Kopi Dapat Menyebabkan Sembelit? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: healthyeating.sfgate
 21 Apr 2020    16:00 WIB
Kopi Dan Teh Malah Bikin Efek Dehidrasi ?
Kebutuhan air putih yang diminum setiap hari ternyata tergantung pada beberapa hal seperti tingkat aktivitas, suhu lingkungan dan lain-lain. Hal lain yang mempengaruhi kebutuhan minum air putih setiap harinya adalah minuman yang dikonsumsi.  Sering orang bertanya bolehkah minum kopi atau teh sebagai pengganti minum air putih.  Ternyata kopi dan teh tidak bisa dijadikan sebagai pengganti air putih karena kopi dan teh mengandung kafein yang bersifat diuretik . Kafein adalah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan bersifat diuretik ringan.  Menurut seorang staf pengajar di Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan bahwa "teh atau kopi sebenarnya juga terdiri dari air yang dapat menghidrasi tubuh". Tapi kandungan kafein dalam kedua minuman tersebut dapat membuat tubuh semakin kekurangan cairan". Namun untuk mengkonsumsi kopi tergantung kepada jumlah kafein yang terkandung dalam teh atau kopi. Berdasarkan saran Food Standards Agency bahwa saran harian untuk menikmati kafein sebenarnya adalah 200 miligram. Takaran tersebut biasanya setara dengan satu sampai dua cangkir kopi (tergantung kandungan kafein setiap macam kopi) dan menurut mayoclinic bahwa konsumsi kafein tidak lebih dari 500 mg tidak memicu dehidrasi.  Teh dan kopi instan biasanya mengandung kafein jauh lebih rendah dari pada kopi yang diseduh. Sehingga untuk Anda yang ingin tetap menikmati teh dan kopi ada baiknya memperhatikan jumlah kafein yang terkandung dalam teh dan kopi tersebut dan perbanyak air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi.    Sumber: mayoclinic
 29 Feb 2020    08:00 WIB
Mengapa Anda Sakit Kepala Setelah Minum Kopi???
Bingung mengapa Anda mengalami sakit kepala setiap kali minum kopi atau teh? Bukankah kafein merupakan salah satu pengobatan untuk sakit kepala dan migrain? Memang benar bahwa kafein sering digunakan dalam berbagai jenis obat sakit kepala untuk mengatasi sakit kepala berat dan migrain. Akan tetapi, pada sisi lain, mengurangi atau berhenti mengkonsumsi kafein juga dapat membuat Anda mengalami sakit kepala.   Baca juga: Sakit Kepala Biasa Atau Migrain Ya???   Kafein Sebagai Terapi Sakit Kepala Memang benar bahwa kafein tampaknya dapat membantu mengatasi sakit kepala dan migrain. Dengan menambahkan sekitar 130 mg kafein ke dalam obat anti nyeri, maka obat tersebut dapat membantu mengatasi sakit kepala hingga 40%. Oleh karena itu, banyak orang mengkonsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, dan minuman bersoda untuk membantu mengatasi nyeri kepala. Akan tetapi, hingga saat ini para ahli masih belum menemukan bagaimana cara dan mengapa kafein dapat membantu mengurangi sakit kepala. Para ahli menduga kafein memiliki efek stimulan, yang akan menyebabkan pembuluh darah melebar atau berelaksasi sehingga dapat mengurangi keluhan nyeri kepala.   Sakit Kepala Akibat Gejala Putus Kafein Di sisi lain, jika Anda pernah mencoba mengurangi jumlah kafein yang Anda konsumsi, maka Anda mungkin akan mengalami sakit kepala setelah mengkonsumsi minuman berkafein. Hal ini biasanya tidak akan terjadi bila Anda hanya mengkonsumsi 1 gelas kopi atau kurang setiap harinya dan memutuskan untuk berhenti. Bagi sebagian besar orang, gejala putus kafein biasanya tidak akan terjadi kecuali bila mereka telah terbiasa mengkonsumsi sekitar 500 mg kafein setiap harinya (sekitar 5 gelas per hari). Tidak peduli dari mana sumber kafein tersebut, yang penting adalah Anda mengkonsumsi jumlah kafein yang hampir sama setiap harinya. Jika Anda tiba-tiba tidak mengkonsumsi kafein, maka Anda mungkin akan mengalami sakit kepala. Mengapa demikian? Hingga saat ini para ahli masih belum menemukan penyebabnya. Kabar baiknya adalah efek ini biasanya hanya berlangsung sementara dan dalam waktu beberapa hari gejala putus kafein ini biasanya akan menghilang, sehingga Anda pun tidak lagi mengalami nyeri kepala. Cara terbaik untuk meminimalisir terjadinya sakit kepala akibat gejala putus kafein adalah dengan mengurangi jumlah kafein yang Anda konsumsi secara perlahan, jangan mendadak.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: everydayhealth
 21 Feb 2020    08:00 WIB
5 Perbedaan Antara Kopi dan Teh
Selama ini semua orang dari berbagai Negara di seluruh dunia telah menikmati teh maupun kopi baik dalam tujuan kesehatan , minuman santai, yang mempunyai cita rasa yang unik. Di Indonesia sangat mudah kita temukan teh ataupun kopi, dan sekarang sudah ada teh dan kopi dalam kemasan yang siap minum. Kedua minuman ini memang sangat populer dan memiliki penggemarnya sendiri-sendiri. Sementara ada orang yang tak bisa melewati pagi tanpa kopi, ada juga orang yang tak bisa bertahan sehari tanpa menyeduh teh. Sementara kedua minuman ini sama-sama bisa membuat bertenaga, namun keduanya memiliki perbedaan antara satu sama lain. Berikut adalah perbedaan antara teh dan kopi yang menarik untuk diketahui: 1.  Level kafeinTeh dan kafein sama-sama mempunyai kandungan kafein didalamnya, tetapi kopi memiliki level kafein yang lebih tinggi dibandingkan teh. Kandungan kafein didalam secangkir teh sebesar 55mg, sementara secangkir kopi memiliki kandungan kafein sebesar 125-128mg. kandungan kafein didalam teh dapat membantu meningkatkan konsentrasi, sementara kafein didalam kopi dalam membuat kita tegang atau dikenal sebagai "coffee jitters" 2.  Pencegahan kankerStudi mengungkapkan bahwa teh mengandung sejumlah quercetin yang membantu tubuh mencegah terjadinya kanker dan gangguan jantung dan pembuluh darah. Sayangnya kopi tidak mempunyai khasiat yang sama. Penelitia juga mengatakan tingkat kejadian kanker pada orang Asia lebih rendah dibandingkan orang Amerika karena orang Asia lebih banyak meminum teh. 3.  Meredakan nyeriTeh mengandung beberapa zat yang dapat meredakan nyeri karena gangguan inflamasi dan arthritis. Teh juga dapat mengurangi terjadinya endapan darah. Sementara kopi mempunyai kemampuan meringankan gejala asma dan parkinson. 4.  Efek antioksidanBaik teh dan kopi memiliki zat antioksidan yang bisa membantu kebugaran tubuh. Teh memiliki zat antioksidan yang melindungi tubuh dari stres dan menurunkan tingkat kolesterol dalam tubuh. Sementara kopi mengandung antioksidan yang bisa menjaga tingkat gula darah dan mencegah batu ginjal. 5.  Daerah asalSatu lagi perbedaan teh dan kopi adalah daerah asalnya. Teh pada awalnya diproduksi di Cina dan India, sedangkan kopi berasal dari Ethiopia dan sebagian daerah AfrikaSumber: magforwomen
 18 Dec 2019    08:00 WIB
Hubungan Antara Konsumsi Kopi dan Kadar Insulin
Sebuah penelitian menemukan bahwa kadar insulin tidak akan mengalami perubahan setelah Anda mengkonsumsi segelas espresso double atau single. Pada penelitian yang dilakukan di tahun 2012 ini, para peneliti melakukan pemeriksaan toleransi glukosa pada peserta penelitian, 1 jam setelah mereka mengkonsumsi espresso, baik yang mengandung kafein maupun yang tidak mengandung kafein.  Pada pemeriksaan toleransi glukosa, para peserta diminta untuk mengkonsumsi 75 gram glukosa dan diukur kadar gula darahnya dengan interval waktu tertentu selama 2 jam setelah konsumsi glukosa dilakukan.  Para peneliti juga menemukan bahwa juga tidak ditemukana danya perubahan sensitivitas insulin sebagai reaksi karena mengkonsumsi segelas espresso single atau double. Berdasarkan sebuah penelitian lainnya di tahun 2012, para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi (kopi hitam tanpa gula atau krim) secara teratur setiap harinya dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes tipe 2.  Para peneliti menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi 4-6 gelas kopi setiap harinya memiliki resiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah dibandingkan dengan peserta lain yang mengkonsumsi kurang dari 2 gelas kopi setiap harinya. Kopi yang telah melalui proses filtrasi dan tidak mengandung kafein memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan kopi yang tidak difiltrasi dan mengandung kafein. Pada sebuah penelitian lainnya di tahun 2005, para peneliti menemukan bahwa konsumsi kopi, baik yang mengandung kafein maupun yang tidak mengandung kafein tidak mempengaruhi kadar insulin seseroang.  Akan tetapi, setiap orang memiliki metabolisme insulin yang berbeda-beda. Hal inilah yang mungkin menyebabkan para peneliti sulit menentukan apakah ada suatu hubungan antara konsumsi kopi dan kadar insulin seseorang. Mengkonsumsi 5 gelas kopi, baik berkafein maupun tidak setiap harinya dapat membuat kadar gula darah 2 jam setelah makan menjadi lebih rendah. Para peneliti menduga bahwa asam klorogenik yang terdapat di dalam kopilah yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah ini. Akan tetapi, mengkonsumsi kopi sebelum makan dapat mengganggu hasil pemeriksaan toleransi glukosa. Sebuah penelitian lainnya di tahun 2008 menemukan bahwa mengkonsumsi kopi berkafein bersamaan dengan makanan mungkin dapat meningkatkan sekresi insulin, tetapi dapat menurunkan sensitivitas insulin. Pada penelitian ini, para peserta diminta untuk mengkonsumsi kopi berkafein sebanyak 5 mg/kgBB dalam waktu 1 jam sebelum makan, terlepas dari indeks glikemik makanan yang akan dikonsumsi (indeks glikemik tinggi maupun rendah).  Para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi berkafein sebelum mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat meningkatkan sekresi insulin sebanyak 40% dibandingkan dengan mengkonsumsi kopi tanpa kafein sebelum mengkonsumsi makanan yang sama.  Mengkonsumsi kopi berkafein sebelum mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah menyebabkan peningkatan sekresi insulin sebanyak 36% dibandingkan dengan saat mengkonsumsi kopi tanpa kafein sebelum mengkonsumsi makanan yang sama. Oleh karena itu, para peneliti pun berkesimpulan bahwa kopi berkafein mungkin dapat memicu terjadinya resistensi insulin.   Sumber: healthyeating.sfgate