Your browser does not support JavaScript!
 18 Dec 2019    08:00 WIB
Hubungan Antara Konsumsi Kopi dan Kadar Insulin
Sebuah penelitian menemukan bahwa kadar insulin tidak akan mengalami perubahan setelah Anda mengkonsumsi segelas espresso double atau single. Pada penelitian yang dilakukan di tahun 2012 ini, para peneliti melakukan pemeriksaan toleransi glukosa pada peserta penelitian, 1 jam setelah mereka mengkonsumsi espresso, baik yang mengandung kafein maupun yang tidak mengandung kafein.  Pada pemeriksaan toleransi glukosa, para peserta diminta untuk mengkonsumsi 75 gram glukosa dan diukur kadar gula darahnya dengan interval waktu tertentu selama 2 jam setelah konsumsi glukosa dilakukan.  Para peneliti juga menemukan bahwa juga tidak ditemukana danya perubahan sensitivitas insulin sebagai reaksi karena mengkonsumsi segelas espresso single atau double. Berdasarkan sebuah penelitian lainnya di tahun 2012, para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi (kopi hitam tanpa gula atau krim) secara teratur setiap harinya dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes tipe 2.  Para peneliti menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi 4-6 gelas kopi setiap harinya memiliki resiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah dibandingkan dengan peserta lain yang mengkonsumsi kurang dari 2 gelas kopi setiap harinya. Kopi yang telah melalui proses filtrasi dan tidak mengandung kafein memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan kopi yang tidak difiltrasi dan mengandung kafein. Pada sebuah penelitian lainnya di tahun 2005, para peneliti menemukan bahwa konsumsi kopi, baik yang mengandung kafein maupun yang tidak mengandung kafein tidak mempengaruhi kadar insulin seseroang.  Akan tetapi, setiap orang memiliki metabolisme insulin yang berbeda-beda. Hal inilah yang mungkin menyebabkan para peneliti sulit menentukan apakah ada suatu hubungan antara konsumsi kopi dan kadar insulin seseorang. Mengkonsumsi 5 gelas kopi, baik berkafein maupun tidak setiap harinya dapat membuat kadar gula darah 2 jam setelah makan menjadi lebih rendah. Para peneliti menduga bahwa asam klorogenik yang terdapat di dalam kopilah yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah ini. Akan tetapi, mengkonsumsi kopi sebelum makan dapat mengganggu hasil pemeriksaan toleransi glukosa. Sebuah penelitian lainnya di tahun 2008 menemukan bahwa mengkonsumsi kopi berkafein bersamaan dengan makanan mungkin dapat meningkatkan sekresi insulin, tetapi dapat menurunkan sensitivitas insulin. Pada penelitian ini, para peserta diminta untuk mengkonsumsi kopi berkafein sebanyak 5 mg/kgBB dalam waktu 1 jam sebelum makan, terlepas dari indeks glikemik makanan yang akan dikonsumsi (indeks glikemik tinggi maupun rendah).  Para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi berkafein sebelum mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat meningkatkan sekresi insulin sebanyak 40% dibandingkan dengan mengkonsumsi kopi tanpa kafein sebelum mengkonsumsi makanan yang sama.  Mengkonsumsi kopi berkafein sebelum mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah menyebabkan peningkatan sekresi insulin sebanyak 36% dibandingkan dengan saat mengkonsumsi kopi tanpa kafein sebelum mengkonsumsi makanan yang sama. Oleh karena itu, para peneliti pun berkesimpulan bahwa kopi berkafein mungkin dapat memicu terjadinya resistensi insulin.   Sumber: healthyeating.sfgate
 22 Nov 2019    11:00 WIB
Apa Dampak Mengonsumsi Kopi Secara Berlebihan ?
Sebagian besar orang tentunya pernah mengkonsumsi kopi atau bahkan menjadi menu harian tiap pagi. Banyak pro dan kontra mengenai dampak kesehatan dari kopi. Bagi Anda penikmat kopi tak perlu khawatir, karena penelitian terbaru menunjukkan dampak positif dari kopi yang lebih besar daripada dampak negatif.  Mengkonsumsi kopi yang baik bagi tubuh adalah 1-2 gelas kopi setiap harinya yang dapat membantu mencegah berbagai penyakit dikarenakan mengandung antioksidan. Sebaliknya, jika Anda mengonsumsi 4-7 gelas kopi tiap harinya dapat menyebabkan terjadinya gangguan cemas, mudah marah, gelisah, insomnia, dan tidur kurang nyenyak. Para peneliti menemukan bahwa kopi mungkin turut berperan dalam mencegah terjadinya berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2, kanker hati, dan penyakit Parkinson. Selain itu, sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi kopi lebih jarang mengalami demensia, stroke, maupun gangguan irama jantung daripada orang yang tidak mengkonsumsi kopi. Wanita yang mengkonsumsi kopi secara teratur memiliki resiko depresi yang lebih rendah. Akan tetapi, para ahli juga memberikan peringatan pada beberapa orang yang mungkin mengalami beberapa efek samping kopi akibat mutasi genetik di dalam tubuhnya yang membuat mereka lebih lambat mencerna kafein. Orang yang mengalami mutasi genetik ini dan mengkonsumsi kopi secara teratur dapat menyebabkan peningkatan resiko terjadinya penyakit jantung serta mungkin dapat meningkatkan sedikit kadar kolesterol Anda. Sebuah penelitian lain di Amerika yang mengamati 130.000 pria dan wanita selama 24 tahun tidak menemukan bukti adanya hubungan antara konsumsi kopi berlebihan dengan peningkatan resiko kematian atau resiko suatu penyakit tertentu.Sumber: healthyeating.sfgate
 14 Nov 2019    16:00 WIB
Menderita Diabetes Tipe 1, Bolehkah Mengkonsumsi Kopi?
Pada sebuah penelitian yang sangat kecil, para peneliti mengamati para atlit dewasa yang menderita diabetes tipe 1. Pada penelitian yang dilakukan di tahun 2010 ini, para peneliti mengamati 5 orang atlit dewasa yang menderita diabetes tipe 1, yang rata-rata berusia 38 tahun, yang membutuhkan beberapa kali suntikan insulin setiap harinya. Pada penelitian ini, para peserta penelitian diminta untuk menyuntikkan insulin bersamaan dengan waktu makan. Dua jam setelah makan, para atlit ini diminta untuk mengkonsumsi 5 mg/kgBB kafein atau plasebo yang terdapat di dalam sebuah minuman. Para peserta penelitian kemudian diminta untuk beristirahat selama 30 menit. Setelah itu, peserta penelitian diminta untuk berolahraga selama 40 menit. Percobaan ini dilakukan 2 kali sehingga para peneliti memiliki semua data dari peserta penelitian, baik saat mereka mengkonsumsi kafein atau plasebo untuk mengetahui apakah para peserta penelitian membutuhkan tambahan suplemen glukosa saat berolahraga. Para peneliti kemudian menemukan bahwa saat para peserta penelitian mengkonsumsi kafein, mereka tidak membutuhkan tambahan suplemen glukosa. Sedangkan saat para peserta penelitian mengkonsumsi plasebo, kadar gula darah mereka menjadi sangat rendah saat berolahraga dan membuat mereka membutuhkan tambahan suplemen glukosa. Karena pada penelitian ini jumlah peserta penelitian sangat sedikit dan jumlah kafein yang digunakan cukup tinggi, maka para peneliti mengatakan bahwa masih dibutuhkan lebih lanjut dengan jumlah peserta penelitian yang lebih banyak dan jumlah kafein yang lebih sedikit. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti mengatakan bahwa saat seorang penderita diabetes tipe 1 berolahraga di luar rencan dan tidak dapat mengurangi dosis insulin yang digunakan, maka kafein dapat membantu mengurangi kebutuhan kalori sehingga dapat mencegah terjadinya hipoglikemia.     Sumber: diabetescare
 05 Nov 2019    11:00 WIB
Apakah Kopi Dapat Menyebabkan Sembelit?
Sembelit merupakan suatu keadaan di mana buang air besar kurang dari 3 kali seminggu. Walaupun kopi mengandung kafein yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi, akan tetapi kopi sebenarnya bermanfaat untuk mencegah terjadinya sembelit. Tidak mengkonsumsi cukup banyak sayuran atau air putih dapat menyebabkan terjadinya sembelit. Beberapa hal lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya sembelit adalah suatu penyakit, jarang berolahraga, obat-obatan tertentu, salah menggunakan obat laksatif, gangguan kelenjar tiroid, gangguan sistem pencernaan, dehidrasi, sering menahan keinginan buang air besar, hamil, dan penuaan. Beberapa gejala terjadinya sembelit adalah tinja keras dan kering serta sulit buang air besar. Selain itu, Anda mungkin dapat merasa buang air besar tidak lampias. Segera hubungi dokter Anda bila Anda mengalami penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, ada darah pada tinja, atau nyeri perut hebat. Ketiga hal ini dapat merupakan gejala suatu gangguan kesehatan yang berat. Berdasarkan sebuah penelitian di Eropa, sekitar 14-24% orang yang mengalami sembelit mengatakan bahwa kopi dapat membantu melunakkan tinja mereka. Penelitian lainnya di tahun 2006 menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi lebih banyak kopi lebih jarang mengalami sembelit dibandingkan dengan orang yang mengkonsumsi lebih sedikit kopi. Jika Anda sedang mengalami sembelit dan ingin mengkonsumsi kopi, maka cegah efek dehidrasi kopi dengan mengkonsumsi kopi tanpa kafein atau minumlah banyak air putih setelah mengkonsumsi kopi. Selain itu, pastikan Anda mengkonsumsi lebih banyak sayuran dan air putih serta lebih banyak berolahraga untuk membantu mencegah terjadinya sembelit. Hubungi dokter Anda bila sembelit Anda tidak membaik setelah melakukan beberapa hal di atas. Sumber: healthyeating.sfgate
 15 Oct 2019    16:00 WIB
5 Fakta Mengkhawatirkan Tentang Kopi
1.  Kopi Mengandung Lebih Banyak Kafein Daripada Minuman BersodaSebagian besar minuman bersoda berkafein mengandung sekitar 35-40 mg kafein per 12 ons. Mengkonsumsi 5 kaleng minuman bersoda setiap harinya hanya membuat anda mengkonsumsi kafein dalam jumlah sedang bila dibandingkan dengan mengkonsumsi kopi. Kopi mengandung lebih banyak kafein, jadi 5 ons kopi encer pun mengandung 2 kali lebih banyak kafein daripada sekaleng minuman bersoda. Kopi kental dapat mengandung kafein 3 kali lebih banyak daripada minuman bersoda. Segelas kopi berukuran Grande dari Starbucks mengandung kafein yang hampir sama dengan 9 kaleng minuman bersoda yang mengandung kafein.2.  Membuat Anda Mengalami KetergantunganBerdasarkan penelitian, orang yang mengkonsumsi 100 mg kafein setiap harinya dapat mengalami gejala kecanduan jika mereka berhenti mengkonsumsi kafein secara tiba-tiba. 100 mg kafein hampir sama dengan 3 kaleng soda atau tergantung pada seberapa kental kopi yang anda minum, maka setara dengan 1 atau 2 gelas kopi. Jika anda mengalami ketergantungan pada kafein, mengkonsumsi 100 mg kafein setiap harinya biasanya tidak akan mempengaruhi kesehatan anda. Pada sebagian besar orang dewasa, mengkonsumsi 300-400 mg kafein setiap harinya masih termasuk dalam konsumsi kafein tingkat sedang, akan tetapi hal ini tergantung pada ukuran tubuh anda, faktor genetika, dan berbagai faktor lainnya. Pada beberapa orang, seperti pada perokok, mereka dapat memproses kafein lebih cepat, sehingga mereka memerlukan jumlah kafein yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama. 3.  Dampak Negatif Kafein Bagi Kesehatan AndaSalah satu gangguan kesehatan yang sering terjadi akibat mengkonsumsi terlalu banyak kafein adalah insomnia atau sulit tidur. Akan tetapi, efek ini berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang dapat meminum kopi sebelum tidur dan tetap dapat tidur nyenyak, akan tetapi beberapa orang lainnya mengkonsumsi kopi saat makan siang dan tidak dapat tidur semalaman atau bahkan merasa berdebar-debar. Selain itu, kafein juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan cemas. Beberapa orang bahkan perlu mengkonsumsi obat tidur atau minuman beralkohol agar dapat tidur. Hal ini dapat membuat mereka pusing dan mengantuk di pagi hari sehingga mereka pun harus mengkonsumsi kopi agar tidak mengantuk. Siklus ini pun terus berulang setiap harinya.4.  Membutuhkan Dosis Lebih Tinggi Untuk Memperoleh Efek yang SamaSalah satu alasan mengapa seseorang membutuhkan kopi (kafein) walaupun terdapat berbagai efek sampingnya adalah karena kafein di dalam kopi dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi anda. Berdasarkan berbagai penelitian, kafein juga dapat membantu meningkatkan stamina bagi para atlet. Akan tetapi, berbagai efek positif di atas akan berkurang seiring dengan semakin seringnya anda mengkonsumsi kopi. Sebagian orang membutuhkan dosis yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama (toleransi kafein). Berbeda dengan minuman beralkohol, anda dapat menghilangkan toleransi kafein bila anda tidak mengkonsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya dalam waktu singkat (1 minggu). Anda mungkin akan mengalami berbagai gejala kecanduan karena tiba-tiba berhenti mengkonsumsi kopi, akan tetapi anda akan memperoleh efek yang lebih baik daripada sebelum anda berhenti.5.  Kafein Alami Tidak Memiliki Manfaat Lebih Daripada Kafein SintetikApapun jenis kafein yang anda konsumsi, alami maupun sintetik anda akan memperoleh manfaat yang sama. Kafein alami tidak memiliki manfaat yang lebih baik bila dibandingkan dengan kafein sintetik.Sumber: huffingtonpost
 02 Jul 2019    18:00 WIB
Apakah Kopi Dapat Menyebabkan Penyumbatan Pembuluh Darah?
Walaupun kopi memiliki berbagai manfaat positif bagi kesehatan seperti mengandung banyak antioksidan, dapat meningkatkan energi Anda, dan mencegah terjadinya beberapa jenis kanker; akan tetapi kopi juga dapat merupakan sumber kolesterol yang tidak diinginkan yang dapat menyumbat pembuluh darah Anda.  Adanya cafestol yaitu suatu zat larut lemak di dalam kopi membuat kopi dapat turut berperan dalam terjadinya peningkatan kadar kolesterol Anda. Cafestol dapat mengaktivasi gen FGF15, yang membuat gen lainnya di dalam hati tidak begitu dapat mengendalikan kadar kolesterol Anda. Proses filtrasi dalam pembuatan kopi dapat menurunkan jumlah cafestol di dalam kopi. Jika Anda ingin mencegah terjadinya peningkatan kadar kolesterol darah Anda, maka Anda sebaiknya menghindari beberapa jenis kopi yang tidak melalui proses filtrasi sperti kopi Turki, French press brew, dan Scandinavian boiled coffee.  Pada sebuah penelitian di Amerika, para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi yang tidak melalui proses filtrasi dapat meningkatkan kadar kolesterol Anda hingga 23 mg/dL darah dan meningkatkan kadar kolesterol LDL Anda sebanyak 14 mg/dL darah. Berbagai jenis kopi instan dan kopi jawa yang telah melalui proses filtrasi hanya meningkatkan sangat sedikit kadar kolesterol darah Anda, yaitu hanya sebanyak 3 mg/dL darah dan sama sekali tidak mempengaruhi kadar kolesterol LDL. Proses filtrasi telah mengeliminasi sebagian besar cafestol. Walaupun espresso tidak melalui proses filtrasi, tetapi karena kecilnya porsi espresso, maka satu gelas espresso hanya mengandung 4 mg cafestol. Perlu diingat bahwa kopi tanpa kafein pun masih mengandung cafestol dan dapat meningkatkan kadar kolesterol Anda.   Sumber: healthyeating.sfgate
 07 Jun 2019    18:00 WIB
Kafein dan Hubungannya Dengan Diabetes Tipe 2
Sebuah penelitian kecil yang dilakukan di Amerika, melakukan pengamatan pada para penyuka kopi yang terdiri dari 5 orang pria dan 5 orang wanita, yang rata-rata berusia 63 tahun dan menderita diabetes tipe 2 untuk mengevaluasi apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Kadar gula darah para peserta penelitian telah berhasil dikendalikan dengan diet, olahraga, dan obat-obatan oral (yang dikonsumsi melalui mulut). Kadar HbA1c para peserta adalah sekitar 6.4%. Tidak ada peserta penelitian yang membutuhkan terapi insulin dan tidak ada peserta penelitian yang merokok atau menggunakan obat golongan psikotropika (obat penenang). Pada penelitian ini, para peneliti memberikan para peserta 500 mg kafein setiap harinya dan plasebo untuk mengetahui apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Pemberian kafein dan plasebo dibagi menjadi 2 dosis, yang diberikan pada waktu sarapan dan makan siang. Para peneliti juga meminta para peserta penelitian untuk menggunakan alat pemeriksa kadar gula darah pada saat penelitian berlangsung sehingga kadar gula darah para peserta penelitian dapat diukur setiap waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saat para peserta penelitian mengkonsumsi kafein, kadar gula darah mereka di siang hari menjadi lebih tinggi dan hasil pemeriksaan kadar gula darah setelah makan (kadar gula darah post prandial) juga meningkat secara berlebihan. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi kafein mengalami penurunan kadar gula darah di pagi hari saat mereka baru saja bangun tidur. Para peneliti mengatakan bahwa masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efek kafein terhadap kadar gula darah seseorang.     Sumber: diabetescare
 21 Mar 2019    16:00 WIB
Jaga Sistem Kekebalan Tubuh Dengan Segelas Kopi
Berdasarkan sebuah penelitian di Amerika, mengkonsumsi kopi (kopi hitam) secara teratur setiap harinya mungkin dapat membantu mencegah terjadinya penyakit Parkinson, gangguan hati, dan diabetes tipe 2, bahkan dapat membuat sistem kekebalan tubuh Anda menjadi lebih kuat. Sebuah penelitian di tahun 2009 menemukan bahwa mengkonsumsi kopi setiap paginya mungkin dapat mencegah terjadinya berbagai reaksi alergi. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa hewan-hewan yang mengkonsumsi 91 ml kopi/kgBB setiap harinya memiliki sel imunitas yang berhubungan dengan alergi yang lebih rendah, terutama terjadi penurunan reaksi alergi pada kulit. Walaupun demikian, para peneliti juga menemukan bahwa kopi tidak dapat mencegah reaksi alergi bila penderita telah terpapar oleh alergen.  Sebuah penelitian lainnya di tahun 2010 menemukan bahwa kopi dapat menekan sistem kekebalan tubuh yang berhubungan dengan terjadinya proses peradangan dan pembentukan jaringan parut di dalam hati.  Selain itu, antioksidan yang terdapat di dalam kopi juga dapat membantu menjaga kadar enzim yang diperlukan hati untuk proses detoksifikasi tubuh dan mencegah pembentukan gen pemicu kanker. Berdasarkan sebuah penelitian lainnya di tahun 2008, mengkonsumsi kopi secara teratur juga dapat menurunkan resiko beberapa jenis kanker. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi dalam jangka waktu lama dapat mencegah pertumbuhan kanker payudara. Kafein di dalam kopi juga dapat menghambat kemampuan sel-sel kanker dalam menghambat kerja sistem kekebalan tubuh. Selain menurunkan resiko kanker, kopi ternyata juga dapat membantu mengatasi batuk. Berdasarkan sebuah penelitian di tahun 2011, para peneliti menemukan bahwa ekstrak kopi dapat mengurangi batuk secara signifikan dalam waktu 30-60 menit setelah konsumsinya dan efek ini pun dapat berlangsung dalam waktu cukup lama. Ekstrak kopi ini juga dapat mempengaruhi aktivitas beberapa jenis sistem kekebalan tubuh dan dapat mengaktivasi sistem kekebalan tubuh.   Sumber: healthyeating.sfgate
 30 Jan 2019    16:00 WIB
Minum Kopi Saat Masih Menyusui, Amankah ?
Mengkonsumsi minuman berkafein seperti kopi saat masih menyusui bayi Anda sebenarnya boleh-boleh karena dianggap cukup aman. Walaupun kafein yang Anda konsumsi akan masuk ke dalam ASI Anda, akan tetapi sebagian besar penelitian menemukan bahwa hanya kurang dari 1% kafein yang masuk ke dalam ASI Anda. Jadi, berapa gelas kopi yang boleh Anda konsumsi setiap harinya? The American Academy of Pediatrics menganjurkan agar seorang ibu yang sedang menyusui tidak mengkonsumsi lebih dari 3 gelas sehari. Sebagian besar ahli setuju bahwa seorang ibu yang masih menyusui dianjurkan untuk membatasi konsumsi kafeinnya yaitu tidak lebih dari 300 mg setiap harinya. Oleh karena itu, pastikan Anda mengetahui jumlah kafein pada berbagai jenis minuman yang Anda konsumsi. Jika Anda ingin mengkonsumsi lebih dari 1 gelas kopi setiap harinya, minimalkan jumlah kafein di dalam ASI Anda dengan membagi jumlah kopi yang Anda konsumsi setiap harinya, misalnya 1 gelas di pagi hari dan 1 gelas di siang hari atau sore hari. Konsumsilah kopi susu yang mengandung lebih sedikit kafein dibandingkan dengan kopi hitam.   Baca juga: Makanan Sehat Untuk Ibu Menyusui   Walaupun bayi biasanya tidak akan menunjukkan tanda-tanda gangguan apapun saat mengkonsumsi kafein yang berasal dari ASI Anda, akan tetapi bila Anda merasa bahwa bayi Anda menjadi lebih rewel setelah Anda minum kopi dan kemudian menyusuinya, maka Anda dapat melakukan percobaan di bawah ini. Cobalah untuk tidak mengkonsumsi kafein sama sekali selama 1 minggu dan perhatikanlah apakah ada perubahan pada perilaku bayi Anda. Setelah itu, Anda dapat kembali mengkonsumsi kafein dan perhatikan apakah bayi Anda kembali rewel. Bila ya, maka Anda harus berhenti mengkonsumsi minuman berkafein selama masih menyusui. Intinya adalah karena bayi Anda biasanya tidak akan terpengaruh oleh kafein yang Anda konsumsi, maka Anda sebenarnya dapat mengkonsumsi kopi kesukaan Anda tanpa perlu merasa khawatir, hanya saja jangan berlebihan.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: babycenter
 28 Jan 2019    08:00 WIB
Kopi Dan Teh Malah Bikin Efek Dehidrasi ?
Kebutuhan air putih yang diminum setiap hari ternyata tergantung pada beberapa hal seperti tingkat aktivitas, suhu lingkungan dan lain-lain. Hal lain yang mempengaruhi kebutuhan minum air putih setiap harinya adalah minuman yang dikonsumsi.  Sering orang bertanya bolehkah minum kopi atau teh sebagai pengganti minum air putih.  Ternyata kopi dan teh tidak bisa dijadikan sebagai pengganti air putih karena kopi dan teh mengandung kafein yang bersifat diuretik . Kafein adalah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan bersifat diuretik ringan.  Menurut seorang staf pengajar di Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan bahwa "teh atau kopi sebenarnya juga terdiri dari air yang dapat menghidrasi tubuh". Tapi kandungan kafein dalam kedua minuman tersebut dapat membuat tubuh semakin kekurangan cairan". Namun untuk mengkonsumsi kopi tergantung kepada jumlah kafein yang terkandung dalam teh atau kopi. Berdasarkan saran Food Standards Agency bahwa saran harian untuk menikmati kafein sebenarnya adalah 200 miligram. Takaran tersebut biasanya setara dengan satu sampai dua cangkir kopi (tergantung kandungan kafein setiap macam kopi) dan menurut mayoclinic bahwa konsumsi kafein tidak lebih dari 500 mg tidak memicu dehidrasi.  Teh dan kopi instan biasanya mengandung kafein jauh lebih rendah dari pada kopi yang diseduh. Sehingga untuk Anda yang ingin tetap menikmati teh dan kopi ada baiknya memperhatikan jumlah kafein yang terkandung dalam teh dan kopi tersebut dan perbanyak air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi.    Sumber: mayoclinic