Your browser does not support JavaScript!
 14 Feb 2020    08:00 WIB
Amankah Mengkonsumsi Madu Saat Hamil ?
Saat hamil, memang banyak sekali pantangan makanan yang harus dilakukan oleh para wanita. Namun, madu ternyata bukan salah satunya. Walaupun madu tidak boleh dikonsumsi oleh bayi, akan tetapi madu aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Madu tidak aman dikonsumsi bayi dan anak-anak yang berusia kurang dari 1 tahun karena madu sebenarnya mengandung bakteri, yang dapat berkembang biak di dalam usus bayi dan menyebabkan terjadinya botulisme, suatu penyakit yang dapat berakibat fatal. Hal ini dikarenakan usus bayi belum cukup matang untuk membunuh bakteri di dalam madu.   Baca juga: Manfaat dan Resiko Mengkonsumsi Air Lemon Saat Hamil   Namun berbeda halnya dengan orang dewasa sehat. Orang dewasa sehat tidak akan mengalami botulisme saat mereka mengkonsumsi madu, bahkan saat mereka hamil. Pastikan saja Anda membeli madu yang telah melalui proses pasteurisasi. Berbeda dengan proses pasteurisasi susu sapi yang berfungsi untuk membunuh kuman, madu melalui proses pasteurisasi selama 15-30 detik untuk membunuh sel jamur sehingga madu tidak terfermentasi dan menghambat proses pengkristalan madu sehingga madu tetap berbentuk cairan kental. Bila Anda lebih menyukai rasa madu mentah, sayangnya hingga saat ini belum ada penelitian mengenai apakah aman bagi ibu hamil untuk mengkonsumsi madu mentah. Namun, berbeda dengan keju dan daging yang tidak dipasteurisasi, madu mentah tidak akan menyebabkan Anda mengalami listeriosis.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.     Sumber: babycenter
 13 Feb 2020    11:00 WIB
Apakah Bentuk Perut Dapat Kembali Seperti Semula Setelah Melahirkan?
Hamil dan melahirkan dapat menyebabkan terjadinya berbagai perubahan pada tubuh Anda. Beberapa perubahan yang terjadi pada tubuh Anda adalah payudara menjadi lebih turun, terbentuknya stretch mark atau selulit pada perut, dan vagina Anda pun akan tampak lebih hitam. Akan tetapi, selain berbagai perubahan di atas, ada 1 lagi perubahan yang seringkali membuat para ibu baru ini merasa frustasi yaitu perut menjadi lebih besar dan kendor. Jadi, apakah mungkin bagi seorang wanita untuk kembali memiliki perut rata dan kencang seperti saat sebelum hamil dan melahirkan? Pada kenyataannya, walaupun faktor genetika dan tingkat aktivitas fisik sebelum Anda hamil juga turut berperan, akan tetapi setiap wanita yang pernah hamil dan melahirkan tetap harus menerima kenyataan bahwa pasti ada sejumlah "pelebaran" pada perut yang bersifat permanen. Sejumlah wanita mungkin akan kembali memiliki perut rata setelah hamil dan melahirkan, akan tetapi, sebagian besar wanita membutuhkan usaha yang sangat keras untuk memperoleh perut ratanya kembali atau bahkan harus menerima kenyataan bahwa perutnya tidak dapat kembali rata seperti semula. Hal ini dikarenakan dibutuhkan waktu 9 bulan untuk membuat perut Anda membesar seiring dengan pertumbuhan bayi Anda, jadi merupakan hal yang masuk akal bila perut Anda juga membutuhkan waktu yang hampir sama untuk kembali rata seperti semula. Dan hal ini pun dapat terjadi bila Anda hanya mengalami peningkatan berat badan sesuai dengan rekomendasi dokter, yaitu sekitar 12.5-15 kg selama hamil. Mengalami peningkatan berat badan lebih banyak daripada 15 kg berarti akan ada sejumlah lemak yang masih tersisa di tubuh Anda, yang sulit untuk dihilangkan. Selain itu, perut yang tetap besar dan menonjol setelah melahirkan juga dapat terjadi akibat penumpukkan kulit yang telah kehilangan elastisitasnya, yang tidak dapat diperbaiki (dikencangkan) dengan melakukan sit up. Akan tetapi, bila Anda merupakan ibu baru yang sedang berusaha mengembalikan bentuk tubuh Anda seperti semula (sebelum hamil) atau calon ibu yang khawatir bentuk tubuhnya tidak dapat kembali seperti semula paska melahirkan, maka Anda tidak perlu merasa khawatir, terutama bila Anda bukanlah seorang selebritis yang memang harus memiliki bentuk tubuh sempurna. Ingatlah bahwa yang terpenting adalah menjaga kesehatan Anda.   Baca juga: Berbagai Jenis Pemeriksaan yang Biasa Dilakukan Pada Trimester I Kehamilan   Sumber: womenshealthmag
 17 Jan 2020    18:00 WIB
Gerakan Olahraga Sederhana Untuk Ibu Hamil
Berolahraga saat hamil dapat membuat anda lebih sehat dan tetap bersemangat. Namun, tidak semua olahraga dapat dilakukan selama kehamilan. Oleh karena itu, konsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum anda mulai berolahraga. Dokter akan menentukan olahraga apa saja yang boleh dan tidak boleh anda lakukan berdasarkan pada riwayat kesehatan dan berbagai resiko yang anda miliki. Peregangan Peregangan adalah salah satu olahraga yang berguna untuk membuat otot anda lebih lentur, yang dapat sangat membantu anda selama kehamilan. Di bawah ini terdapat beberapa macam olahraga peregangan yang dapat anda lakukan. Peregangan Leher Lemaskan leher dan bahu anda. Kemudian tundukkan kepala anda, lalu putar kepala anda perlahan-lahan ke bahu kanan anda, kembali ke tengah, dan kemudian ke bahu kiri anda. Ulangi gerakan ini sebanyak 4 kali. Peregangan Bahu Gerakkan bahu anda ke depan, kemudian putar bahu anda ke atas, dekat dengan telinga anda, lalu turunkan. Ulangi gerakan ini sebanyak 4 kali. Peregangan Tangan Lakukanlah gerakan seperti saat anda berenang dengan gaya katak, tetapi tanpa menggerakkan kaki anda. Ulangi gerakan ini sebanyak 10 kali. Peregangan Kaki Pertama-tama duduk dengan kedua kaki diluruskan, kemudian gerakan kaki anda ke atas dan bawah secara bergantian dengan perlahan. Setelah itu, putar pergelangan kaki anda ke arah kanan dan kiri secara bergantian. Ulangi gerakan ini sebanyak 4 kali. Senam Kegel Senam kegel dapat menguatkan otot-otot yang menyangga kandung kemih, uterus (rahim), dan perut. Dengan menguatkan otot-otot ini selama kehamilan, anda dapat memperoleh kemampuan untuk mengendalikan gerakan otot-otot ini yang sangat berguna saat melahirkan. Senam kegel juga sangat dianjurkan setelah anda melahirkan untuk mempercepat penyembuhan jaringan perineum, meningkatkan kekuatan otot dasar panggul, membantu otot kembali pulih, dan meningkatkan pengendalian berkemih. Senam kegel adalah melakukan gerakan yang sama seperti saat anda sedang mencoba menghentikan aliran kemih atau mencoba untuk menahan keinginan untuk membuang gas melalui anus. Saat anda melakukan gerakan ini, terjadi kontraksi otot dasar panggul dan secara tidak langsung anda sedang melakukan gerakan senam kegel. Saat melakukan senam kegel, usahakan untuk tidak menggerakkan otot kaki, bokong, atau perut anda. Setiap kali anda mengkontraksikan otot-otot anda tahanlah selama 5 detik sebelum melemaskan otot anda kembali. Disarankan untuk mengulangi gerakan ini sebanyak 10 kali. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd  
 08 Jan 2020    18:00 WIB
Manfaat Mengkonsumsi “Daging" Kelapa Saat Hamil
Ternyata tidak hanya air kelapa saja yang bermanfaat bagi kesehatan ibu hamil dan bayinya, "daging" kelapa pun memiliki beberapa manfaat baik bagi kesehatan ibu hamil. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa manfaat dari mengkonsumsi "daging" kelapa saat hamil.   Meningkatkan Produksi ASI Mengkonsumsi daging kelapa secara teratur saat hamil dapat meningkatkan suplai ASI setelah Anda melahirkan. Selain itu, minyak kelapa juga membantu produksi ASI. Mengkonsumsi daging kelapa saat menyusui juga baik karena daging kelapa mengandung asam laurat dan capriat. Kedua asam ini memiliki efek antivirus, anti bakteri, dan anti parasit; yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit.   Melancarkan Sirkulasi Darah Volume darah akan meningkat menjadi 2 kali lipat selama kehamilan, yang akan membuat kaki ibu hamil membengkak. Sirkulasi darah yang buruklah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan ini. Mengkonsumsi kelapa dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan mencegah pembengkakan pada kaki.   Baca juga: Berbagai Jenis Pemeriksaan yang Biasa Dilakukan Pada Trimester I Kehamilan   Membantu Pencernaan Mengkonsumsi daging dan air kelapa juga dapat mencegah terjadinya sembelit karena daging kelapa berfungsi sebagai laksatif.   Membuat Tidur Lebih Nyenyak Mengkonsumsi kelapa dan poppy seed serta ghee dapat membuat tidur Anda lebih nyenyak.   Meningkatkan Laju Metabolisme Tubuh Saat Anda mencampurkan kelapa dengan rempah-rempah, maka hal ini dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh pada wanita hamil.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: momjunction
 23 Dec 2019    18:00 WIB
Ayah Perokok Berisiko Memiliki Anak Asma
Saat Anda sedang merencanakan kehamilan, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh ibu sebelum kehamilan seperti seperti meningkatkan asupan asam folat dan berhenti merokok atau minum alkohol. Namun bagaimana dengan calon ayah? Sering orang berpendapat bahwa calon ayah tidak perlu melakukan perubahan pola hidup, namun ternyata menurut sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa seorang calon ayah yang merokok memiliki risiko bayi yang menderita asma.  Berdasarkan sebuah penelitian yang dipaparkan oleh European Respiratory Society (ERS) Kongres Internasional di Munich, Jerman, dan merupakan penelitian pertama yang meneliti hubungan antara kebiasaan ayah yang merokok dengan kesehatan pernapasan anak-anaknya.  Penelitian tersebut memberikan bukti bahwa sejarah orang tua yang buruk memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan masa depan anak, diterbitkan dalam jurnal Science. Penelitian yang dipimpin oleh Prof Sarah Robertson dari University of Adelaide di Australia mengatakan sebagai contoh bahwa orang tua yang obesitas/ kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko anaknya untuk terkena penyakit gangguan metabolik "Dalam 10 tahun terakhir ini komunitas ilmu pengetahuam telah serius membahas masalah ini" kata Prof Robertson, "dan hanya dalam 5 tahun terakhir bahwa kami telah mulai memahami mekanisme bagaimana hal ini terjadi."  Dia menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki pola hidup, seperti pola makan yang buruk atau kebiasaan merokok, hal ini akan tersimpan dalam sel telur dan sperma dan akan berpengaruh pada pertumbuhan janin.  Dalam penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr Cecile Svanes dari University of Bergen di Norwegia, para peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai kebiasaan merokok lebih dari 13.000 pria dan wanita.  Penelitian ini difokuskan pada beberapa pasangan yang mempunyai kebiasaan merokok sebelum terjadi kehamilan dengan kejadian asma pada anak-anak mereka dan pada pasangan yang telah menghentikan kebiasaan merokok.  Dalam penelitian tersebut di temukan bahwa seorang calon ayah yang mempunyai kebiasaan merokok sebelum terjadi kehamilan ternyata memiliki risiko lebih besar mempunyai anak yang mengalami asma non alergi. Selain itu risiko anak mengalami asma meningkat apabila calon ayah mulai merokok pada usia sebelum 15 tahun dan risiko ini semakin meningkat berdasarkan berapa lama calon ayah merokok.    Sumber: medicalnewstoday 
 21 Dec 2019    11:00 WIB
Hamil atau Tidak ?
Menstruasi Terlambat Menstruasi yang terlambat memang biasanya merupakan gejala kehamilan, akan tetapi kehamilan bukanlah satu-satunya penyebab dari terlambatnya menstruasi. Stress atau gangguan hormonal juga dapat menyebabkan terlambatnya menstruasi.   Payudara Mengeras atau Membengkak Banyak wanita mengalami pengerasan payudara beberapa hari atau satu minggu sebelum menstruasi dimulai. Akan tetapi, bila payudara Anda mengeras dan tetap membengkak setelah menstruasi Anda selesai, maka Anda mungkin sedang hamil.   Mudah Lelah Wanita seringkali merasa mengantuk atau mudah lelah beberapa hari sebelum dimulainya menstruasi, akan tetapi bila Anda terus merasa mengantuk dan mulai tidur pukul 7 malam hampir setiap harinya, maka Anda mungkin perlu melakukan pemeriksaan kehamilan.   Mual Sindrom premenstrual dapat menyebabkan seorang wanita kehilangan nafsu makannya atau merasa mual, akan tetapi jarang sekali membuat Anda muntah. Jika Anda sering muntah selama beberapa hari dan terlambat menstruasi, Anda mungkin harus melakukan pemeriksaan kehamilan.   Kram Perut Banyak wanita mengalami kram perut sebelum menstruasi mereka dimulai. Kehamilan biasanya tidak menyebabkan kram perut, kecuali bila terjadi kehamilan ektopik.   Nyeri Kepala dan Nyeri Pinggang Nyeri kepala dan nyeri pinggang memang bukanlah gejala kehamilan yang khas, akan tetapi bila gejala ini disertai dengan beberapa gejala kehamilan lainnya, maka Anda mungkin harus melakukan pemeriksaan kehamilan.       Sumber: ehow
 14 Dec 2019    16:00 WIB
Berapa Banyak Peningkatan Berat Badan Pada Ibu Hamil Sebaiknya ?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa wanita yang mengalami peningkatan berat badan terlalu banyak atau terlalu sedikit saat hamil dapat meningkatkan resiko anak untuk memiliki berat badan berlebih atau mengalami obesitas. Selain itu, karena anak yang lahir dari ibu yang mengalami peningkatan berat berlebih selama hamil memiliki resiko yang lebih tinggi untuk memiliki berat badan berlebih atau bahkan obesitas dibandingkan dengan anak yang lahir dari wanita dengan berat badan normal, maka hal ini berarti bahwa efek ini tidak berhubungan dengan faktor genetika. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 4.145 orang wanita yang telah diminta untuk mengisi sebuah survei kesehatan saat mereka hamil di antara tahun 2007-2009 dan telah melahirkan. Para peneliti kemudian melihat rekam medis anak-anak yang dilahirkan, yang telah berusia antara 2-5 tahun dan menemukan bahwa sekitar 20.4% anak yang dilahirkan oleh wanita yang mengalami peningkatan berat badan lebih daripada yang dianjurkan memiliki berat badan berlebih atau mengalami obesitas. Sementara itu, sekitar 19.5% anak yang dilahirkan oleh wanita yang mengalami peningkatan berat badan kurang daripada yang dianjurkan juga memiliki berat badan berlebih atau mengalami obesitas dan sekitar 14.5% anak yang dilahirkan oleh anak yang mengalami peningkatan berat badan sesuai dengan yang dianjurkan memiliki berat badan berlebih atau mengalami obesitas. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa anak yang dilahirkan oleh wanita yang memiliki indeks massa tubuh normal sebelum hamil dan mengalami peningkatan berat badan kurang daripada yang dianjurkan, justru memiliki resiko yang lebih tinggi yaitu hingga 63% untuk memiliki berat badan berlebih atau mengalami obesitas. Sementara itu, anak yang dilahirkan oleh wanita yang memiliki indeks massa tubuh normal sebelum hamil dan mengalami peningkatan berat badan lebih daripada yang dianjurkan, memiliki resiko yang lebih tinggi yaitu hingga 80% untuk memiliki berat badan berlebih atau mengalami obesitas.   Berapa Banyak Peningkatan Berat Badan yang Boleh Terjadi Saat Hamil? Bagi seorang wanita yang mengalami obesitas yaitu yang memiliki indeks massa tubuh 30 atau lebih, dianjurkan untuk hanya mengalami peningkatan berat badan sebanyak 5.5-10 kg saat hamil. Bagi wanita yang memiliki berat badan berlebih (indeks massa tubuh antara 25-29), dianjurkan untuk hanya mengalami peningkatan berat badan sebanyak 7.5-12.5 kg saat hamil. Bagi wanita yang memiliki berat badan normal (indeks massa tubuh antara 18.5-25), dianjurkan untuk hanya mengalami peningkatan berat badan sebanyak 12.5-17.5 kg saat hamil. Bagi wanita dengan berat badan kurang (indeks massa tubuh kurang dari 18.5), dianjurkan untuk mengalami peningkatan berat badan sebanyak 14-20 kg saat hamil.   Efek Jangka Panjang Pada Bayi Para peneliti pun mengatakan bahwa mengalami peningkatan berat badan yang terlalu banyak atau terlalu sedikit saat hamil dapat mempengaruhi bayi secara permanen, yaitu pada mekanisme tubuh yang mengatur keseimbangan energi dan laju metabolisme tubuh seperti pengendalian nafsu makan dan pembakaran energi. Hal inilah yang diduga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan berat badan anak di masa yang akan datang.   Sumber: healthline
 28 Nov 2019    18:00 WIB
Seks Saat Hamil Apakah Aman ?
Selain mengalami perubahan fisik yang cukup signifikan, wanita hamil juga mengalami peningkatan dorongan seks yang tinggi dan orgasme yang kuat selama beberapa tahap kehamilan. Bagi sebagian wanita, hubungan seks selama kehamilan boleh saja dilakukan. Seorang ahli obstetry gynecology dari Columbia University Medical Center menyatakan jika kehamilan berkembang normal, hubungan seks pada masa kehamilan sama sekali tidak berbahaya bagi bayi. Bayi terlindungi dengan baik di dalam rahim. Cairan ketuban dan segel tebal berlendir yang mengunci serviks dapat melindungi bayi dari berbagai infeksi. Meski pun pada beberapa wanita orgasme dapat menyebabkan kontraksi rahim, namun hal ini tidak akan mempengaruhi proses persalinan. Biasanya wanita hamil akan mengalami peningkatan gairah seks pada trimester kedua. Ketika tingkat energi mulai meningkat seiring mual yang semakin berkurang. Seks bisa menjadi hal nomor satu yang dipikirkan wanita hamil pada masa ini, karena adanya peningkatan aliran darah ke vagina, sehingga vagina semakin membesar dan mengalami peningkatan lubrikasi (cairan pelumas). Selain itu, perubahan fisik berupa peningkatan berat badan dan perut yang semakin membesar akan membuat Anda sedikit mengalami gangguan saat melakukan hubungan seks. Oleh sebab itu, para ahli menyarankan agar Anda mencari berbagai variasi gaya yang aman dan nyaman saat berhubungan seks. Menikmati Seks pada Masa Kehamilan Ketika gairah seks semakin meningkat pada kehamilan, Anda mungkin perlu membuat beberapa penyesuaian untuk kenyamanan Anda berhubungan seks, seperti Bereksperimen dengan Gaya Baru Seiring perut Anda membuncit mungkin yang perlu Anda lakukan adalah mencoba posisi seks miring atau posisi wanita berada di atas agar bisa mengontrol kedalaman penis. Bisa juga dengan meminta pasangan pria Anda duduk bersandar dan Anda duduk di pangkuannya. Wanita hamil tidak dianjurkan melakukan posisi seks berbaring terlentang, terutama pada masa akhir kehamilan. Karena berat bayi dan pasangan dapat memberikan tekanan pada vena cava inferior, pembuluh darah besar yang membawa darah kembali menuju jantung. Hal ini dapat mengakibatkan pusing dan peningkatan detak jantung. Tetap lakukan seks yang aman Jika Anda memiliki riwayat penyakit menular atau bahkan kemungkinan terpapar HIV maka sebaiknya Anda menggunakan kondom saat berhubungan seks. HIV dapat ditularkan pada bayi. Oral seks juga diperbolehkan tapi pastikan Anda melakukannya dalam keadaan yang sama-sama bersih. Meniup udara ke dalam vagina saat melakukan oral seks juga tidak dianjurkan, karena dapat menyebabkan air embolism (keadaan di mana pembuluh darah tersumbat oleh gelembung udara) yang bisa mengancam jiwa. Dokter juga tidak menganjurkan anal seks saat kehamilan karena bisa menyebabkan paparan bakteri dari anus menuju vagina pemicu infeksi. Bahkan, kebiasaan ini juga memicu wasir selama kehamilan. Berkomunikasi secara Terbuka Komunikasi memegang peran yang penting dalam mencapai kepuasan hubungan seksual. Terutama pada masa kehamilan. Anda dan pasangan mungkin memiliki ide berbeda tentang seberapa sering berhubungan seks dan gaya apa yang disukai masing-masing. Jika hubungan seks saat hamil menjadi sangat sulit dilakukan, terutama di masa akhir kehamilan, mungkin memberikan pijatan dan pelukan penuh kasih sayang bisa menjadi gantinya. Oleh karena itu, komunikasikan secara terbuka kendala yang Anda rasakan bersama pasangan, dan temukan solusinya bersama. Kapan Hubungan Seks saat Hamil Menjadi tidak Aman? Para ahli kandungan akan menyarankan untuk tidak berhubungan seks selama kehamilan jika terjadi beberapa hal di bawah ini: Kondisi medis tertentu yang menempatkan Anda pada risiko keguguran Berisiko mengalami persalinan prematur, sebelum usia kandungan 37 minggu Anda mengalami plasenta previa. Kondisi di mana plasenta menutupi pembukaan serviks Anda mengalami perdarahan vagina. Biasanya terjadi pada kehamilan kembar Mengalami infeksi tertentu Oleh karena itu, sebelum Anda mulai berhubungan seks di masa kehamilan sebaiknya kunjungi dokter kandungan Anda terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat kemanan berhubungan seks, baik bagi Anda, pasangan dan janin yang ada di dalam kandungan. Baca juga: Yoga dan Gairah Seksual
 23 Nov 2019    08:00 WIB
Kenali Tanda Depresi Paska Melahirkan Sejak Dini
Depresi paska melahirkan merupakan depresi yang terjadi pada beberapa wanita beberapa minggu atau beberapa bulan setelah melahirkan. Gejala terjadinya depresi paska melahirkan ini dapat berupa mood yang buruk, adanya perasaan tidak mampu mengatasi berbagai kesulitan hidup, dan adanya gangguan tidur. Beberapa wanita dapat mengalami depresi paska melahirkan dan bahkan tidak menyadarinya. Sekitar 1 dari 7 wanita mengalami berbagai gejala depresi dalam waktu 3 bulan setelah melahirkan. Walaupun perubahan mood (baby blues) sering terjadi setelah melahirkan, akan tetapi depresi paska melahirkan memiliki gejala yang lebih berat daripada baby blues.Siapa yang Beresiko Mengalami Depresi Paska Melahirkan?Sebagian besar ibu baru mengalami baby blues setelah melahirkan. Sekitar 1 dari 10 wanita yang mengalami baby blues ini akan mengalami gejala yang lebih berat dan lebih lama setelah melahirkan. Sekitar 1 dari 1.000 wanita yang mengalami depresi paska melahirkan dapat mengalami gejala yang lebih berat lagi yang disebut dengan psikosis paska melahirkan (psikosis postpartum).Faktor ResikoBeberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkan adalah:•  Pernah mengalami depresi selama kehamilan•  Usia ibu saat hamil. Semakin muda usia ibu, maka semakin besar resiko terjadinya depresi paska melahirkan•  Adanya campuran antara perasaan bahagia dan sedih saat hamil•  Jumlah anak. Semakin banyak jumlah anak yang anda miliki, maka semakin tinggi resiko terjadinya depresi paska melahirkan pada kehamilan berikutnya•  Pernah mengalami gangguan depresi atau gangguan disforik premenstrual (sindrom premenstrual yang berat) sebelum hamil•  Kurangnya dukungan keluarga atau teman atau lingkungan saat hamil•  Tinggal atau hidup sendiri•  Adanya permasalahan dalam pernikahanGejalaGejala depresi paska melahirkan mirip dengan apa yang biasanya terjadi setelah kelahiran seorang anak. Berbagai hal yang sering dialami oleh wanita yang baru saja melahirkan adalah:•  Kurang tidur•  Perubahan nafsu makan•  Merasa sangat lelah•  Penurunan gairah seksual•  Mood sering berubah-ubah Bila berbagai hal di atas disertai dengan gejala gangguan depresi, maka wanita tersebut diduga mengalami depresi paska melahirkan. Gejala gangguan depresi yang dapat ditemukan adalah:•  Mood depresi (merasa sedih terus-menerus atau merasa bersalah)•  Tidak merasa senang saat melakukan berbagai hal yang sebelumnya disukai atau dapat memberikan kebahagiaan sebelumnya•  Merasa tidak berharga•  Merasa putus asa dan tidak berdaya•  Adanya pemikiran tentang kematian atau keinginan untuk bunuh diriGangguan Cemas dan Depresi Paska MelahirkanBila anda memiliki gangguan cemas seperti gangguan obsesif kompulsif sebelum hamil, maka gangguan ini mungkin akan memburuk atau justru timbul beberapa saat setelah melahirkan. Obsesi yang terjadi biasanya berhubungan dengan kekhawatiran tentang keselamatan atau kesehatan bayinya. Gangguan panik juga dapat terjadi beberapa saat setelah melahirkan. Baik gangguan obsesif kompulsif maupun gangguan panik dapat terjadi bersamaan dengan gangguan depresi paska melahirkan.Apakah Saya Mengalami Depresi Paska Melahirkan?Untuk menegakkan diagnosa depresi paska melahirkan, dokter biasanya akan menanyakan dan mengamati berbagai gejala yang anda alami. Dokter juga mungkin akan melakukan berbagai pemeriksaan lain untuk menyingkirkan berbagai kemungkinan lain yang menyebabkan timbulnya berbagai gejala yang anda alami.Sumber: webmd