Your browser does not support JavaScript!
 30 Sep 2015    09:00 WIB
OMG! Kabar Buruk Bagi Anda Para Workaholic!
Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang bekerja lebih dari 55 jam setiap minggunya memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita stroke! Pada penelitian yang menganalisa lebih dari 600.000 orang ini, para peneliti menemukan bahwa orang yang bekerja selama lebih dari 55 jam setiap minggunya memiliki resiko stroke yang lebih tinggi, yaitu hingga 33% dan memiliki resiko terjadinya penyakit jantung koroner yang lebih tinggi, yaitu hingga 13% dibandingkan dengan orang yang hanya bekerja selama 35-40 jam setiap minggunya. Para peneliti menemukan bahwa untuk setiap 1 jam kelebihan waktu kerja (batasnya adalah 40 jam untuk 1 minggu), maka resiko terjadinya stroke pun akan meningkat. Para peneliti menemukan bahwa orang yang bekerja selama 48 jam setiap minggunya memiliki resiko stroke yang lebih tinggi daripada orang yang hanya bekerja selama 40 jam setiap minggunya, yaitu hingga 10% lebih tinggi. Sementara itu, orang yang bekerja selama 54 jam setiap minggunya akan memiliki resiko stroke yang lebih tinggi lagi, yaitu hingga 27% lebih tinggi daripada orang yang hanya bekerja selama 40 jam setiap minggunya.   Baca juga: Tips Hilangkan Kantuk Saat Bekerja   Walaupun demikian, para peneliti hanya berhasil menemukan adanya hubungan antara lamanya waktu kerja dengan kesehatan jantung seseorang dan tidak menemukan apa penyebab dari peningkatan resiko tersebut, bahkan setelah meneliti berbagai hal lain yang juga dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke dan gangguan jantung seperti kebiasaan merokok. Para peneliti menduga hal ini mungkin terjadi karena semakin lama seseorang bekerja, maka orang tersebut pun akan memiliki gaya hidup yang semakin tidak sehat seperti stress, pola makan yang buruk, kurang olahraga, dan duduk terlalu lama. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang . Sumber: foxnews
 09 Sep 2015    12:00 WIB
OMG! Patah Hati Benar-Benar Dapat Menyebabkan Hati Patah?!
Anda mungkin sudah sering melihat gambaran hati terbelah pada berbagai film kartun saat seseorang patah hati, akan tetapi tahukah Anda bahwa patah hati ternyata memang benar-benar mempengaruhi kesehatan jantung Anda?   Sindrom patah hati (broken heart syndrome) atau kardiomiopati takotsubo atau stress kardiomiopati merupakan suatu gangguan jantung sementara yang terjadi akibat adanya peristiwa yang membuat seseorang merasa sangat tertekan, misalnya kematian pasangan hidup.   Sindrom patah hati lebih sering terjadi pada wanita, terutama mereka yang telah berusia 50 tahun atau lebih. Penderita sindrom patah hati ini biasanya mengalami gangguan fungsi pompa jantung sementara, sementara fungsi jantung lainnya tetap normal. Gejala sindrom patah hati dapat menyerupai gejala serangan jantung seperti nyeri dada dan sesak napas. Gejala ini biasanya membaik atau menghilang dengan sendirinya dalam waktu 1 minggu.   Kabar baiknya adalah sindrom patah hati biasanya dapat diobati. Sebagian besar penderita biasanya akan mengalami perbaikan gejala atau sembuh dalam waktu beberapa minggu. Kabar buruknya adalah sindrom patah hati ini dapat menyebabkan kegagalan otot jantung berat, yang tentu saja akan mengancam jiwa penderitanya.   Baca juga: Obati Patah Hati Dengan Mengkonsumsi Empat Makanan Ini   Apa Penyebabnya? Penyebab pasti dari sindrom patah hati hingga saat ini belum diketahui. Para ahli menduga gangguan ini terjadi akibat peningkatan mendadak dari berbagai hormon stress, termasuk adrenalin, yang menyebabkan gangguan sementara pada jantung seseorang.   Beberapa kejadian atau peristiwa yang dapat memicu terjadinya sindrom patah hati adalah: Meninggalnya orang tercinta Saat menerima diagnosis suatu penyakit mematikan Mengalami kekerasan rumah tangga Kehilangan uang dalam jumlah besar Menjadi korban bencana alam Saat diberikan pesta kejutan Saat merasa gugup untuk tampil di depan umum Kehilangan pekerjaan Perceraian Gangguan fisik misalnya saat seseorang mengalami serangan asma, kecelakaan lalu lintas, atau baru saja menjalani prosedur pembedahan besar Konsumsi obat-obatan tertentu seperti epinefrin, obat anti depresi, dan obat tiroid   Apa Saja Gejalanya? Gejala yang paling sering ditemukan pada sindrom patah hati adalah nyeri dada dan sesak napas. Gejala ini dapat terjadi pada orang yang tidak pernah memiliki riwayat gangguan jantung sebelumnya.   Beberapa gejala lainnya yang dapat ditemukan adalah denyut jantung tidak teratur dan syok kardiogenik. Syok kardiogenik merupakan suatu keadaan di mana jantung tiba-tiba melemah dan tidak dapat memompa cukup banyak darah ke seluruh tubuh. Keadaan ini membutuhkan penanganan segera karena dapat menyebabkan terjadinya kematian.   Apa Perbedaan Sindrom Patah Hati Dengan Serangan Jantung? Serangan jantung biasanya terjadi akibat adanya penyempitan pembuluh darah jantung, baik sebagian atau seluruhnya. Penyempitan ini biasanya terjadi akibat adanya bekuan darah yang terbentuk di daerah dinding pembuluh darah yang memang telah dipenuhi oleh tumpukkan lemak.   Sementara itu, pada sindrom patah hati, biasanya tidak ditemukan penyempitan atau sumbatan apapun pada pembuluh darah jantung, tetapi aliran darah di dalam pembuluh darah jantung berkurang. Perbedaan lainnya yang dapat Anda temukan adalah: Perbedaan hasil rekaman irama jantung (EKG)Pada pemeriksaan darah, tidak ditemukan adanya kerusakan pada jantung Tidak ditemukan adanya sumbatan pada pembuluh darah jantung Ditemukan pembesaran bilik jantung kiri sehingga jantung tidak dapat memompa darah dengan baik Masa penyembuhan lebih cepat, biasanya hanya dalam beberapa hari hingga beberapa minggu Untuk memonitor kesehatan jantung penderita, dokter biasanya akan menganjurkan penderita untuk melakukan pemeriksaan EKG dan ECG (echocardiogram) 1 bulan setelah penderita didiagnosa menderita sindrom patah hati.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang .   Sumber: heart, mayoclinic
 22 Apr 2015    11:00 WIB
Hindari Kesalahan Gaya Hidup Pengundang Penyakit Mematikan ini
Dengan alasan terlalu sibuk bekerja atau beraktivitas, kita lupa akan kesehatan diri sendiri. Parahnya, beberapa kesalahan kecil gaya hidup ini hampir dilakukan oleh semua orang. Berikut kesalahan kecil gaya hidup yang tidak kita sadari:   POLA TIDUR TIDAK TERATUR Istirahat malam yang cukup dapat menurunkan tekanan darah tinggi saat melakukan aktivitas di pagi hingga sore hari dan mengurangi detak jantung yang tidak teratur. Orang yang memiliki waktu tidur tidak cukup cenderung lebih rentan terkena serangan jantung.   KURANG SINAR MATAHARI Kekurangan vitamin D mengakibatkan timbunan plak-plak kotor dalam pembuluh darah. Dokter menyarankan, setidaknya butuh minimal 30 menit terpapar sinar matahari pada pukul 10:00-15:00 setiap hari untuk membantu tubuh memproduksi vitamin D yang sangat baik bagi kesehatan. MINIM KONSUMSI SAYUR & BUAH Sebuah penelitian baru menemukan, orang yang cukup mendapatkan asupan gizi buah dan sayur dapat menurunkan risiko terserang stroke hingga 52%. Buah & sayur mengandung serat, vitamin, mineral, antioksidan, dan kaya akan kalium. Kalium adalah elektrolit penting bagi fungsi jantung dan juga membantu menyeimbangkan kadar asam-basa dalam tubuh.   KURANG JALAN KAKI Coba luangkan waktu untuk berjalan kaki sebelum bekerja. Berjalan 10.000 langkah setara dengan berolahraga selama 45 menit.   LUPA AKAN KEBERSIHAN GIGI Ternyata kesehatan gigi dan jantung saling berhubungan. Bahkan penelitian menunjukan bahwa buruknya kesehatan gigi dan radang gusi dapat menyebabkan penyakit jantung. Peradangan kronis yang terjadi pada lapisan gusi bisa memengaruhi tubuh dan menyebarkan bakteri-bakteri kecil ke dalam aliran darah.   KURANG SUSU Penelitian terbaru menunjukan bahwa wanita yang mendapatkan asupan susu tertinggi mengurangi 50% risiko mereka terhadap penyakit diabetes, dibandingkan dengan wanita yang kurang menerima asupan susu.   TERLALU BANYAK MINUMAN BERENERGI Minuman berenergi adalah salah satu sumber gula nomor satu dan berkontribusi besar terhadap peningkatan kadar trigliserida dalam darah, penyebab panyakit kardiovaskular. Beralihlah ke air putih, lemon, atau jus buah lainnya untuk mengurangi dahaga.   JARANG LIBURAN Seperti yang sudah diketahui bahwa pergi liburan dengan keluarga atau teman dapat mengurangi tingkat stres penyebab tekanan darah tinggi. Bahkan sebuah studi selama 20 tahun yang melibatkan 750 wanita mengungkapkan, bahwa mereka yang tidak berlibur sekali dalam 6 tahun berisiko 50-100% terkena serangan jantung. So, take a little time to go on vacation! Baca Juga: Lima Kategori Orang Gila Berdasarkan Penyebabnya   Nah, ayo koreksi kembali gaya hidupmu, ingat pola hidup sehari-hari sangat mempengaruhi kesehatan tubuh ;)   Sumber: Future Cycle
 03 Feb 2015    14:00 WIB
Konsumsi Mie Instan Bisa Sebabkan Penyakit Berbahaya
Apabila Anda masih mempertimbangkan makan mie instan untuk makan siang, maka Anda harus mengetahui mengenai sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition menemukan bahwa seorang wanita yang mengkonsumsi mie instan secara berlebihan memiliki risiko lebih besar yang signifikan akan terkena sindrom metabolik dibanding mereka yang konsumsi mie instan lebih sedikit. Seorang wanita yang makan mie instan lebih dari dua kali dalam seminggu sekitar 68 persen lebih mungkin mengalami sindrom metabolik – sekumpulan gejala seperti obesitas sentral (lemak berlebihan di daerah perut), tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, trigliserida meningkat, dan rendahnya tingkat kolesterol HDL. Memiliki tiga atau lebih gejala diatas akan meningkatkan risiko terkena diabetes (kencing manis) dan penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Penelitian terakhir juga menganalisis asupan gizi secara keseluruhan antara mereka yang konsumsi mie instan dan tidak konsumsi mie instan. Dan hasilnya seperti yang mungkin Anda duga, bahwa konsumsi mie instan memberikan kontribusi yang kecil untuk diet yang sehat. Mereka yang konsumsi mie instan memiliki asupan nutrisi penting yang lebih rendah seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, vitamin A, niasin, dan vitamin C dibandingkan dengan mereka yang tidak konsumsi mie instan. Mereka yang konsumi mie instan juga memiliki asupan energi, lemak tidak sehat dan natrium yang berlebihan (hanya satu bungkus mengandung 2.700 miligram sodium). Sumber: articlesmercola
 26 Dec 2014    13:00 WIB
Seorang Wanita Meninggal Akibat Alat Detektor Logam
Sebuah berita menyedihkan datang dari Eropa. Akibat sebuah kecelakaan tragis, gelombang elektromagnetik dari alat detektor logam di bandara udara menyebabkan gangguan fungsi alat pacu jantung seorang wanita dan menyebabkan ia meninggal. Diana Tolstova, seorang wanita berusia 30 tahun, pingsan di dalam pelukan sang suami, Maxim, yang berusia 33 tahun, setelah melalui sebuah alat detektor logam di bandara Ulan-Ude di Republik Buryatia di Rusia bagian Selatan. Para petugas pun segera menghubungi petugas medis, akan tetapi karena keterlambatan respon, Diana pun tidak berhasil diselamatkan. Sang suami menceritakan bahwa ia telah memberitahu para petugas bandara bahwa sang istri menggunakan alat pacu jantung, bahkan ia telah menunjukkan surat-surat yang menyatakan hal tersebut. Akan tetapi, entah bagaimana Diana tetap harus melewati alat detektor logam tersebut. Saat pasangan ini telah tiba di pintu keberangkatan bandara, Diana mulai merasa pusing dan tiba-tiba pingsan. Saat para dokter tiba, mereka pun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Para dokter ini tidak memberikan pertolongan pertama pada sang istri dan tidak menelepon ambulans. Sementara itu, juru bicara bandara setempat mengatakan bahwa semua petugas keamanan dan petugas bandara telah diberikan instruksi ketat mengenai bagaimana cara menangani seorang pengguna alat pacu jantung dan telah diberikan peringatan untuk tidak pernah membiarkan seorang pengguna alat pacu jantung untuk melewati alat detektor logam. Pada keadaan normal, petugas bandara akan membiarkan sang pengguna alat pacu jantung lewat tanpa melalui alat detektor logam setelah mereka memeriksan surat-surat yang menyatakan hal tersebut.     Sumber: foxnews