Your browser does not support JavaScript!
 31 Jul 2016    15:00 WIB
Hubungan Kadar Gula Darah dengan Sindrom Tidur Apneu
Para peneliti telah menemukan hubungan antara sindrom tidur apneu dengan peningkatan gula darah, dimana beratnya gangguan tidur dihubungkan dengan peningkatan kadar gula darah.Sindrom tidur apneu obstruktif merupakan salah satu gangguan tidur yang ditandai dengan adanya henti nafas saat tidur, dan hal ini dapat menyebabkan kelelahan saat siang hari. Sindrom tidur apneu juga sering dihubungkan dengan berbagai masalah keseshatan seperti gangguan jantung, depresi dan peningkatan berat badan. Penelitian ini diterbitkan di the European Respiratory Journal, dengan mengikutsertakan sukarelawan sebanyak 5.294 dan tidak menderita diabetes. Penelitian ini merupakan bagian dari the European Sleep Apnoea Cohort. Para ahli meneliti tingkat keparahan dari sindrom tidur apneu yang mereka alami kemudian mengukur kadar gula darah dan HbA1C mereka. HbA1c merupaka indikator peningkatan gula darah yang paling akurat saat ini. Mereka yang menderita diabetes pasti memiliki kadar HbA1C yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki diabetes. Peningkatan HbA1c juga merupakan indikator adanya kontrol gula darah yang buruk dan peningkatan resiko sakit jantung. Para peneliti ini kemudia menemukan hubungan antara tingkat HbA1c dengan tingkat keparahan sindrom tidur apneu. Mereka yang memiliki tingkat keparahan sindrom tidur apneu yang rendah dan sedang ternyata memiliki kadar HbA1c yang rendah, sedangkan mereka yang memiliki tingkat keparahan sindrom tidur apneu yang tinggi juga memiliki kadar HbA1c yang tinggi. Dengan penemuan ini akan mendorong dilakukannya penelitian terbaru tentang hubungan sinrom tidur apneu dengan diabetes. Sebuah studi yang dipresentasikan di ATS 2012 International Conference menunjukkan jika sindrom tidur apneu sedang dan berat diprediksi dapat mengidap diabetes tipe 2 karena adanya peningkatan dari kadar HbA1c tersebut.Sumber: huffingtonpost
 04 Sep 2015    18:00 WIB
Obat Batuk Dapat Membantu Melawan Diabetes, Masa Sih?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa salah satu komponen yang terdapat di dalam obat batuk yang banyak dijual bebas di pasaran ternyata dapat membantu meningkatkan pelepasan insulin di dalam tubuh manusia, yang tentu saja dapat membantu pengobatan diabetes tipe 2.   Insulin merupakan sejenis hormon yang diproduksi di dalam pankreas, yang berfungsi untuk “mengangkut” glukosa dari dalam darah dan masuk ke dalam sel-sel tubuh. Akan tetapi, pada penderita diabetes tipe 2, pankreas tidak memproduksi cukup banyak insulin atau sel-sel tubuh tidak berespon sebagaimana mestinya terhadap hormon insulin yang ada (resistensi insulin).   Kurangnya produksi hormon insulin dan resistensi insulin akan membuat glukosa menumpuk di dalam darah, tanpa dapat digunakan oleh sel-sel tubuh untuk menjalankan fungsinya, akibatnya adalah penderita selalu merasa lapar dan lemas akibat kekurangan sumber tenaga.   Para dokter di Heinrich Heine University di Dusseldorf, Jerman secara tidak sengaja menemukan bahwa obat dekstrometorfan dapat meningkatkan jumlah insulin yang dilepaskan dari dalam pankreas.   Pada awalnya, para peneliti menduga bahwa dektrometorfan dapat  menekan sekresi (pengeluaran) insulin pada penderita yang mengalami hiperinsulinisme, suatu keadaan di mana terdapat terlalu banyak insulin di dalam aliran darah seseorang.   Sebaliknya, para peneliti justru menemukan bahwa dekstrometrofan, atau khususnya dekstrorfan, sebuah produk sampingan dari dekstrometorfan yang terbentuk di dalam tubuh saat seseorang mengkonsumsi obat ini; justru dapat meningkatkan pelepasan insulin dari dalam pankreas. Hasil ini diperoleh setelah mereka melakukan berbagai percobaan pada hewan (tikus), jaringan pankreas manusia, dan pada para penderita diabetes.   Dekstrometorfan sebenarnya merupakan suatu obat batuk yang bekerja dengan cara menekan aktivitas reseptor tertentu di dalam tubuh yang disebut dengan N-Metil-D-Aspartat (NMDA), yang terdapat di dalam medulla oblongata, yang merupakan bagian dari batang otak.   Selain di batang otak, reseptor NMDA ini ternyata juga terdapat di dalam sel-sel yang berfungsi untuk memproduksi hormon insulin di dalam pankreas. Akan tetapi, berbeda dengan batuk yang akan berhenti bila reseptor NMDA di batang otak dihambat, terhambatnya reseptor NMDA di dalam pankreas justru dapat meningkatkan pelepasan hormon insulin.   Walaupun demikian, para peneliti tidak menganjurkan para penderita diabetes untuk mengkonsumsi dekstrometorfan untuk membantu mengendalikan kadar gula darahnya. Hal ini dikarenakan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai apa efek pemberian dekstrometorfan dalam jangka panjang pada seseorang. Selain itu, pada penelitian ini, para peneliti hanya melakukan percobaan pada sekitar 20 orang peserta.   Baca juga: Penggunaan Obat Pencahar Secara Berlebihan Dapat Mematikan   Sumber: livescience
 26 Jul 2015    09:00 WIB
Tips Mengendalikan Kadar Gula Darah Anda
1.  Pilihlah Makanan Anda Dengan BijaksanaMenderita diabetes bukan berarti anda tidak dapat lagi mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang anda sukai. Anda hanya harus tahu bagaimana makanan tersebut mempengaruhi kadar gula darah anda. Seorang ahli gizi atau dokter spesialis gizi dapat membantu anda menghitung jumlah karbohidrat di dalam makanan anda dan mengajarkan anda bagaimana mengatur porsi makan anda sehingga kadar gula darah anda tetap terkendali serta anda tetap dapat menikmati makanan favorit anda tersebut.2.  Atur Porsi Makan AndaMengatur porsi makan anda dapat membantu anda menurunkan berat badan, mengendalikan kadar gula darah anda, dan tetap merasa kenyang. Bagilah piring makan anda menjadi 3 bagian. Isilah setengah bagian piring anda dengan sayuran seperti bayam atau brokoli, kemudian, bagilah setengah bagian sisanya menjadi dua, dan isilah salah satunya dengan makanan sumber karbohidrat seperti roti atau pasta atau nasi, dan setengahnya lagi dengan daging atau sumber protein lainnya. Anda juga dapat menambahkan menu makan anda dengan segelas susu rendah lemak dan satu porsi buah-buahan.3.  Catat Kadar Gula Darah Harian AndaCatatlah kadar gula darah anda setiap hari sehingga anda dapat mengetahui bagaimana makanan, aktivitas, dan obat-obatan mempengaruhi kadar gula darah anda. Catatan ini dapat membantu anda dan dokter anda mengetahui apakah obat yang diberikan telah sesuai dosis dan jenisnya.4.  Persiapkan Diri Saat SakitBerbagai jenis infeksi yang sering terjadi seperti flu dan diare dapat meningkatkan kadar gula darah anda. Sementara itu, diabetes juga membuat daya tahan tubuh anda menurun sehingga anda lebih sulit melawan berbagai infeksi. Siapkanlah berbagai cemilan yang mudah dicerna oleh lambung anda tetapi tetap dapat memenuhi kebutuhan cairan dan karbohidrat harian anda. Periksalah kadar gula darah anda lebih sering saat anda sakit dan hubungi dokter anda bila gejala tidak membaik setelah mengkonsumsi obat beberapa hari. Bila diperlukan, anda dapat menerima vaksinasi flu setiap tahunnya.5.  Periksa Persediaan Obat AndaTerdapat dua jenis obat anti diabetes, obat minum (pil) atau obat yang disuntikkan. Pastikan agar anda selalu memeriksa persediaan obat anda secara teratur. Catatlah berbagai nama obat yang anda gunakan dan beritahukan hal ini pada dokter anda. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum menghentikan atau mengganti obat yang anda gunakan atau sebelum mengkonsumsi suplemen apapun. Jangan mengubah dosis atau mengganti obat anda sebelum berkonsultasi dengan dokter anda.6.  Atasi Stress Dengan Tetap AktifMenderita diabetes dapat membuat anda merasa sedih dan stress. Stress ternyata tidak hanya  mempengaruhi mood anda, tetapi juga dapat meningkatkan kadar gula darah anda. Selain itu, stress juga membuat anda mengkonsumsi lebih banyak  minuman beralkohol dan mengkonsumsi makanan tidak sehat. Salah satu cara mengatasi stress adalah dengan tetap aktif. Berolahraga secara teratur atau mengikuti berbagai kelas dansa dapat membuat anda tetap aktif dan mengurangi stress.7.  Olahraga TeraturBanyak orang kesulitan menyisihkan waktunya untuk berolahraga, apalagi selama 30 menit setiap harinya. Selain itu, anda juga mungkin merasa kelelahan bila harus berolahraga selama itu. Apa yang harus dilakukan? Tidak perlu khawatir, anda dapat membagi waktu olahraga anda menjadi beberapa kali sehari, misalnya anda dapat berjalan cepat selama 10 menit di pagi hari, lalu 20 menit di sore atau malam hari. Hal  ini memiliki efek yang sama dengan saat anda berolahraga selama 30 menit.Terdapat berbagai jenis olahraga yang dapat anda lakukan, seperti berjalan cepat, jogging, atau angkat beban. Olahraga angkat beban dapat membantu mencegah hilangnya massa otot dan memperbaiki reaksi berbagai organ tubuh terhadap insulin dan glukosa (gula).Berolahraga secara teratur dapat membantu mengendalikan kadar gula darah anda, menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan berat badan, dan mengurangi stress.8.  Periksa Kaki Anda Setiap MalamPeriksalah keadaan kaki anda setiap malam. Anda dapat menggunakan kaca atau meminta bantuan pasangan atau anggota keluarga anda untuk melihat adanya luka, pembengkakan, atau perubahan warna pada kaki anda. Jangan lupa untuk memeriksa kulit di antara jari-jari kaki anda. Segera hubungi dokter anda bila anda menemukan adanya luka yang sulit sembuh atau kulit anda mengelupas. Cucilah kaki anda setiap hari, gunakan pelembab dan guntinglah kuku kaki anda secara teratur. Jangan lupa untuk meminta dokter anda memeriksa kaki anda juga saat pemeriksaan.9.  Berhenti MerokokBila anda merokok, maka berhenti merokok dapat sangat membantu anda. Bila anda merasa sangat sulit berhenti merokok akibat efek kecanduan nikotin, anda dapat meminta bantuan pada dokter anda. Dukungan dari anggota keluarga lainnya juga dapat membantu.10.  Tetap Makan Saat Minum BirAlkohol dapat menurunkan kadar gula darah anda. Oleh karena itu, minumlah bir atau minuman beralkohol lainnya bersamaan dengan waktu makan anda. Bagi wanita, anda hanya dapat mengkonsumsi 1 gelas minuman beralkohol setiap harinya, sementara bagi pria, anda hanya dapat mengkonsumsi 2 gelas minuman beralkohol setiap harinya.Sumber: webmd
 09 Jun 2015    18:00 WIB
Kurangi Konsumsi Gula, Apakah Mudah?
Seperti yang kita ketahui bahwa konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan banyak efek buruk pada tubuh kita. Ok, mendengar hal ini kita harus mengurangi konsumsi gula. Mungkin Anda berpikir hal ini adalah hal yang mudah. Anda tinggal menghindari makan makanan manis. Tidak makan donat yang manis, kue cupcake yang berwarna warni tentu sangat menggoda. Tapi-argh!. Mengapa begitu sulit? Apakah kita terlalu lemah? Sebenarnya Gula adalah zat adiktif. Penelitian pada hewan menunjukkan konsumsi gula akan menimbulkan rasa ingin makan gula sebanyak-banyaknya, rasa tertarik dan keinginan yang berlebihan. Berdasarkan penelitian tersebut, bahwa mengkonsumsi fruktosa (gula yang terdapat secara alami dalam buah-buahan dan madu. Fruktosa digunakan untuk pemanis beberapa makanan) akan membuat otak seperti mendapat hadiah dan dapat bekerja lebih baik. Namun seperti obat, dari waktu ke waktu otak membutuhkan lebih banyak fruktosa untuk dapat bekerja dengan baik. Penelitian tambahan menunjukkan gula benar-benar dapat membuat lebih adiktif dibandingkan obat-obatan seperti kokain. Penelitian menunjukkan, gula tidak menyebabkan rasa kenyang. Sementara selera untuk lemak, karbohidrat, dan protein akan memudar, namun selera untuk gula tidak ada hentinya. Oleh karena itu sebaiknya Anda selalu memperhatikan makanan yang Anda konsumsi, karena gula memang dibutuhkan oleh tubuh. Namun bila dikonsumsi secara berlebihan maka akan memberikan efek samping yang tidak baik bagi tubuh. Baca juga: Gula Merusak Kulit Anda?   Sumber: howstuffworks
 30 Jan 2015    12:00 WIB
Apa yang Dilakukan Gula di Dalam Tubuh?
Saat Anda mengkonsumsi suatu makanan yang manis maka indra pengecap Anda akan langsung mengirimkan “pesan” ke otak Anda yang akan memicu suatu bagian otak tertentu untuk melepaskan dopamin. Gula kemudian akan masuk ke dalam lambung dan melalui bantuan enzim-enzim pencernaan, maka gula ini akan dimetabolisme menjadi 2 molekul yaitu glukosa dan fruktosa. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang akan terjadi di dalam tubuh Anda setelah gula dimetabolisme menjadi glukosa dan fruktosa.   Glukosa Glukosa akan meresap masuk ke dalam aliran darah melalui dinding usus halus, kemudian memicu pankreas untuk mengeluarkan insulin, suatu hormon yang berfungsi untuk “mengambil” glukosa dari dalam aliran darah dan mengantarkannya ke dalam berbagai sel di dalam tubuh Anda untuk digunakan sebagai energi. Akan tetapi, karena berbagai makanan manis saat ini mengandung terlalu banyak glukosa, maka kadar glukosa di dalam darah juga akan menjadi terlalu banyak, yang membuat Anda memperoleh energi cepat dalam waktu singkat. Keadaan ini akan memicu otak Anda untuk mengeluarkan serotonin, suatu hormon yang berfungsi untuk mengatur waktu tidur. Selain itu, insulin juga menghambat produksi leptin, hormon “lapar” yang berfungsi untuk memberitahu otak Anda bahwa Anda telah kenyang. Jadi, semakin tinggi kadar insulin di dalam tubuh Anda, maka Anda pun akan merasa semakin lapar, bahkan setelah Anda makan banyak sekalipun. Dengan demikian, di saat Anda berada dalam mode “lapar” maka otak Anda akan “memerintahkan” tubuh Anda untuk mulai menyimpan glukosa sebagai lemak perut. Peningkatan kadar insulin juga akan terjadi dalam otak, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya penyakit Alzheimer. Di tengah “kekacauan” ini, maka otak Anda pun akan memproduksi lebih sedikit dopamin, yang membuat Anda merasa ingin makan sesuatu dan seperti mengalami “kecanduan”. Jika Anda terus makan dalam jumlah berlebihan, maka pankreas Anda akan memompa lebih banyak insulin sehingga sel-sel tubuh Anda menjadi resisten terhadap insulin tersebut, yang membuat glukosa “menumpuk” di dalam aliran darah Anda, dan menyebabkan terjadinya pre diabetes, yang pada akhirnya akan berubah menjadi diabetes.   Fruktosa Seperti halnya glukosa, fruktosa juga akan meresap masuk ke dalam usus halus Anda ke dalam aliran darah, yang kemudian akan langsung menuju ke hati. Hati kemudian akan memetabolisme fruktosa dan mengubahnya menjadi sesuatu hal yang dapat digunakan oleh tubuh Anda. Akan tetapi, karena hati tidak dapat memetabolisme semua fruktosa yang masuk ke dalamnya, terutama bila Anda sering mengkonsumsi makanan manis, maka seiring dengan berlalunya waktu kelebihan kadar fruktosa ini akan membentuk suatu kumpulan lemak di dalam hati (lipogenesis), yang merupakan suatu faktor resiko dari terjadinya perlemakkan hati. Kadar fruktosa yang berlebihan ini juga dapat menurunkan kadar kolesterol HDL atau kolesterol “baik” dan memicu produksi trigliserida, sejenis lemak yang dapat berpindah dari hati ke dalam pembuluh darah arteri, dan meningkatkan resiko terjadinya serangan jantung atau stroke. Selain itu, kadar fruktosa yang tinggi di dalam hati juga membuat hati “meminta” lebih banyak insulin untuk membantu hati memetabolisme kelebihan fruktosa ini. Akan tetapi, karena banyak “permintaan” insulin oleh tubuh, maka pankreas Anda pun harus bekerja lebih keras dan memicu terjadinya berbagai proses peradangan di dalam tubuh, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya obesitas dan diabetes.     Sumber: womenshealthmag