Your browser does not support JavaScript!
 21 Jan 2020    18:00 WIB
Apa Hubungan Gen Anak Dengan Resiko Terjadinya Artritis Reumatoid ?
Sebuah penelitian baru mengenai artritis rheumatoid menemukan sebuah hal mengejutkan. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa gen anak, termasuk gen yang diperolehnya dari sang ayah, mungkin dapat mempengaruhi resiko sang ibu untuk menderita artritis reumatoid. Para peneliti menemukan bahwa sel-sel janin yang mungkin membawa gen-gen tertentu dapat meningkatkan resiko terjadinya artritis reumatoid pada sang ibu setelah ia melahirkan. Artritis reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun yang menyebabkan terjadinya proses peradangan pada persendian penderita. Para ahli telah lama mengetahui bahwa wanita memang memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita artritis reumatoid dibandingkan dengan pria. Hasil penelitian ini mungkin dapat menambahkan lagi penyebab mengapa wanita memiliki resiko menderita artritis reumatoid yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria.   Mengapa Kehamilan Dapat Meningkatkan Resiko Terjadinya Artritis Reumatoid? Selama kehamilan, Anda dapat menemukan sejumlah kecil sel-sel janin di dalam aliran darah ibu. Pada beberapa wanita, keadaan ini dapat berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada wanita yang menderita artritis reumatoid dibandingkan dengan wanita yang tidak menderita artritis reumatoid. Dengan demikian, para peneliti pun menduga hal ini juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya artritis reumatoid. Para ahli menduga terjadinya artritis reumatoid mungkin berhubungan dengan gen human leukocyte antigen (HLA), yang berfungsi untuk mengatur sistem imunitas. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa memiliki anak dengan gen HLA tertentu (gen yang diwariskan dari sang ayah) dapat meningkatkan resiko terjadinya artritis reumatoid pada sang ibu. Para peneliti menemukan bahwa berbagai jenis protein yang terdapat di dalam gen ini dapat menstimulasi suatu reaksi sistem imunitas di dalam tubuh ibu, yang membuat sistem kekebalan tubuh sang ibu justru menyerang protein yang dihasilkan oleh janin ini karena dianggap sebagai suatu ancaman. Karena sel-sel janin dapat bertahan hidup di dalam tubuh sang ibu selama berpuluh-puluh tahun, maka proses autoimun pun akan terus berlangsung di dalam tubuh sang ibu walaupun sang bayi telah lahir. Hingga saat ini, para ahli masih tidak mengetahui apa sebenarnya penyebab pasti dari artritis reumatoid. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti berspekulasi bahwa adanya sel-sel janin di dalam tubuh sang ibu merupakan salah satu hal yang berpotensi memicu terjadinya artritis reumatoid. Karena sistem kekebalan ibu menganggap sel-sel janin sebagai suatu antigen asing, maka hal ini akan memicu terjadinya reaksi antibodi-antigen yang menyebabkan terjadinya peradangan di dalam persendian ibu. Jika proses peradangan ini terus berlangsung, maka ibu pun akan mengalami artritis reumatoid.   Sumber: healthline
 31 Jul 2017    08:00 WIB
“Wabah” Rabuh Jauh, Apa Penyebabnya???
Apakah Anda merasa semakin sering melihat orang berkacamata akhir-akhir ini??? Anda bukanlah orang pertama yang merasa demikian. Bahkan sebuah rumah sakit mata di wilayah selatan Guangzhou, Cina harus memperbesar fasilitasnya karena semakin banyak pasien yang berdatangan. Enam puluh tahun lalu, hanya sekitar 10-20% penduduk Cina yang mengalami rabun jauh. Akan tetapi, sekarang ini sekitar 90% remaja dan orang dewasa muda di Cina menderita rabun jauh.  Selain di Cina, hal yang sama juga terjadi di Negara-negara Asia lainnya, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa. Rabun jauh atau miopia sendiri sebenarnya terjadi karena bola mata penderita sedikit memanjang sehingga bayangan benda yang berada jauh jatuh di depan retina dan bukannya tepat di retina. Pada kasus berat, kelainan ini dapat membuat merusak struktur dalam mata dan meningkatkan resiko terjadinya robekan atau lepasnya retina, katarak, glaukoma, dan bahkan kebutaan. Karena mata masih berkembang di sepanjang masa kanak-kanak, maka miopia biasanya baru mulai terjadi saat anak memasuki usia sekolah dan remaja. Peningkatan kasus miopia ini telah mendorong para ahli untuk melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya miopia. Salah satu hal yang ditemukan peneliti adalah bahwa terjadinya miopia mungkin berhubungan dengan faktor genetika. Hal ini dikarenakan kasus miopia lebih sering ditemukan pada anak kembar identik dibandingkan dengan anak kembar non identik. Akan tetapi, karena pesatnya peningkatan kasus miopia di dunia, maka hal ini menunjukkan bahwa genetika bukanlah satu-satunya penyebab (karena dibutuhkan waktu lama bila penyebabnya adalah perubahan genetika). Para ahli pun menduga bahwa faktor lingkungan juga turut berperan dalam terjadinya miopia. Salah satu penyebab yang jelas adalah membaca dalam jarak dekat. Pada zaman modern seperti sekarang ini, semakin banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku, belajar, dan bermain komputer atau telepon genggamnya. Dari sisi biologis sendiri, membaca dalam jarak dekat dalam waktu yang lama dapat mempengaruhi perkembangan bola mata karena mata harus bekerja ekstra untuk memfokuskan cahaya agar jatuh tepat di retina. Hal menarik lainnya yang ditemukan para peneliti pada tahun 2007 adalah bahwa seberapa lama seorang anak menghabiskan waktunya di luar ruangan ternyata juga mempengaruhi seberapa besar resiko miopia yang ia miliki. Para peneliti menemukan bahwa semakin sedikit seorang anak menghabiskan waktunya di luar ruangan, maka semakin besar resikonya untuk menderita miopia. Akan tetapi, hasil ini tampaknya tidak berhubungan dengan banyak olahraga atau aktivitas yang anak lakukan atau tidak dan tidak berhubungan dengan sering tidaknya anak tersebut membaca buku. Oleh karena itu, para peneliti menduga hal ini berhubungan dengan seberapa banyak mata anak terpapar oleh cahaya terang. Hingga saat ini, para ahli masih belum dapat memastikan mekanisme apa yang membuat paparan cahaya terang dapat mencegah terjadinya miopia. Para ahli menduga bahwa paparan cahaya terang ini dapat menstimulasi pelepasan dopamin di dalam retina, yang akan mencegah pemanjangan bola mata selama proses perkembangannya. Berdasarkan analisa dari berbagai penelitian sebelumnya, seorang peneliti miopia di Australia menganjurkan agar seorang anak menghabiskan setidaknya 3 jam di luar ruangan (dengan kekuatan cahaya setidaknya 10.000 lux) setiap harinya untuk mencegah terjadinya miopia.   Baca juga: 7 Penyebab Mengapa Anda Tidak Dapat Melihat Dengan Jelas   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: nature
 10 May 2017    18:00 WIB
7 Fakta Mengenai Lupus Yang Harus Anda Ketahui
Bulan Mei adalah bulan peduli Lupus dan berikut adalah beberapa hal mengenai lupus yang menarik untuk Anda ketahui. Mungkin Anda seorang pengidap lupus atau mungkin seseorang yang Anda kenal menderita lupus. Dengan mengetahui mengenai suatu penyakit akan membantu Anda memahami apa yang sedang terjadi pada penderita penyakit tersebut dan apa yang ia rasakan. Mengetahui mengenai penyakit juga dapat membantu Anda menghilangkan mitos yang yang beredar. Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai lupus.1.  Lupus merupakan jenis penyakit autoimunSistem imunitas Anda berfungsi sebagai sistem yang melindungi tubuh dari serangan benda asing. Inilah mengapa Anda bisa bersih atau mengeluarkan air mata ketika terpapar dengan debu. Tetapi pada penderita lupus, sistem imunitas tubuhnya menjadi hiperaktif dan mulai menyerang sel tubuh yang sehat sehingga membuat tubuh menderita lupus menjadi sakit. 2.  Ada beberapa jenis lupusTipe yang paling sering terjadi adalah  systemic lupus erythematosus, yang dapat menyerang berbagai bagian dari tubuh. Tipe lupus yang lain adalah Discoid lupus erythematosus, yang menyebabkan ruam di kulit tidak pernah menghilang. Tipe subacute cutaneous lupus erythematosus menyebabkan kulit yang terekspose sinar matahari terasa sakit. Lupus yang terinduksi obat-obatan merupakan bentuk dari alergi terhadap obat-obatan dan lupus neonatal adalah bentuk lupus yang menyerang bayi baru lahir. 3.  Lupus dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ didalam tubuhSendi, kulit, ginjal, hati, paru-paru, pembuluh darah, dan otak adalah beberapa bagian dari tubuh yang mengalami kerusakan saat tubuh terserang lupus. 4.  Untuk mengatasi lupus diperlukan tim dokterUntuk dapat mengatasi lupus diperlukan kerjasama tim dokter dari berbagai disiplin ilmu. Beberapa spesialisasi yang mungkin terlibat saat terjadi kasus lupus adalah kedokteran keluarga, dokter ahli imunologi, dokter ahli ginjal, dokter ahli hati, dokter kulit, dokter ahli rematik, dokter jantung, dokter ahli endokrin, psikolog dan perawat. 5.  Wanita penderita lupus dapat hamil dan melahirkan bayi dengan aman dan sehatSangat mungkin untuk wanita dengan lupus untuk hamil dan melahirkan dengan sehat. hanya saja ia harus berkonsultasi dengan dokter secara teratur selama masa kehamilannya untuk memastikan tidak ada komplikasi yang muncul. 6.  Tidak ada tes yang dapat mendiagnosis jika Anda terkena lupusDiperlukan serial tes dan banyak sekali pemeriksaan fisik dan gejala-gejala yang dikumpulkan sebelum seorang dokter dapat menegakkan diagnosis lupus. Beberapa jenis tes yang harus dilakukan untuk melengkapi riwayat kesehatan misalnya tes seluruh tubuh, tes darahm biopsi kulit dan biopsi ginjal. 7.  Penyebab pasti dari lupus belum diketahui dengan pastiFaktor genetik selama ini diduga memainkan peranan penting dalam menyebabkan lupus. Sampai saat ini para peneliti masih melakukan berbagai penelitian untuk mengetahui penyebab pasti dari lupus sehingga dapat didiagnosa dengan cepat dan dapat diobati sejak dini.Sumber: magforwomen
 08 Sep 2015    12:00 WIB
Atasi Masalah Rambut Bercabang Dengan Cara Alami Berikut Ini!
Bagi wanita, rambut adalah mahkota yang berharga yang perlu dijaga dengan baik. Rambut yang terawat dan sehat akan membuat seorang wanita tampak lebih cantik. Akan tetapi, karena banyaknya penggunaan berbagai bahan kimia seperti pewarna rambut, cairan keriting, dan sebagainya; maka saat ini banyak wanita yang mengalami berbagai masalah dengan rambutnya. Beberapa masalah yang sering dialami oleh rambut para wanita di zaman modern ini adalah rambut bercabang, berketombe, kering, dan rambut rontok. Untuk menjaga keindahan dan kemilau alami rambut Anda, di bawah ini Anda dapat melihat beberapa bahan alami yang dapat Anda gunakan untuk memperbaiki kerusakan yang mungkin sudah terjadi pada rambut Anda tersebut.   Lidah Buaya Tahukah Anda bahwa lendir lidah buaya baik bagi kesehatan rambut Anda? Kandungan vitamin alami yang terdapat di dalam lidah buaya dapat membantu memulihkan kekuatan akar dan batang rambut sehingga kerontokan rambut pun dapat terhindarkan. Caranya adalah dengan mengoleskan lendir lidah buaya ini pada kulit kepala Anda, pijat, dan diamkan selama sekitar 15 menit, kemudian bilas dengan air bersih.   Minyak Alami Selain lidah buaya, Anda juga dapat menggunakan berbagai jenis minyak alami, misalnya minyak zaitun dan minyak kelapa yang dipanaskan untuk mengatasi rambut rontok. Caranya adalah dengan mengoleskan minyak ini pada kulit kepala, pijat kepala sebentar, kemudian tutup rambut dengan handuk atau shower cap selama sekitar 1 jam. Proses pemanasan minyak berguna untuk mengaktifkan kandungan vitamin di dalamnya sehingga menjadi lebih efektif untuk menjaga kekuatan rambut Anda.   Baca Juga: 6 Penyebab Rambut Rontok   Jangan Pakai Sisir Bergigi Rapat Untuk mencegah terjadinya kerusakan dan rambut rontok, hindarilah penggunaan sisir bergigi rapat, penggunaan alat pemanas seperti hair dryer atau alat catok pada rambut Anda. Selain itu, pastikan juga Anda tidak menggosok rambut Anda saat keramas atau setelah keramas. Gunakanlah jari tangan untuk merapikannya, kemudian biarkan rambut Anda kering secara alami. Gunakanlah sisir bergigi renggang. Pemakaian conditioner setelah keramas juga dapat membuat rambut menjadi lebih halus dan teratur. Terakhir; jauhilah stress, lakukan gaya hidup sehat, dan rajinlah berolahraga.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang .   Sumber: manfaatnyasehat
 07 May 2015    11:00 WIB
Alergi Kacang Berhubungan Dengan Gen, Benarkah?
Para peneliti menemukan adanya sebuah bukti bahwa faktor genetika ternyata turut berperan dalam terjadinya alergi kacang pada anak-anak. Akan tetapi, hasil penelitian mereka juga menunjukkan bahwa faktor genetika bukanlah satu-satunya penyebab. Alergi kacang merupakan salah satu alergi yang paling sering ditemukan pada anak-anak di Amerika. Sekitar 1 di antara 13 orang anak menderita alergi ini. Alergi kacang juga paling sering membahayakan jiwa anak dan seringkali berlangsung seumur hidup. Para peneliti di John Hopkins University di Baltimore menganalisa DNA dari sekitar 2.759 peserta yang terdiri dari 1.315 orang anak-anak dan 1.444 orang tua kandung anak-anak tersebut. Sebagian besar anak-anak ini menderita sejenis alergi makanan.   Baca juga: Mengkonsumsi Kacang Membuat Anda Lebih Panjang Umur, Benarkah   Para peneliti memeriksa sekitar 1 juta marker genetika di dalam gen manusia, mencoba untuk mencari tahu gen mana yang mungkin turut berkonstribusi dalam peningkatan resiko terjadinya berbagai jenis alergi makanan, termasuk alergi kacang. Para peneliti kemudian menemukan bahwa suatu bagian gen yang terdapat pada kromoson tertentu ternyata turut berperan dalam terjadinya alergi kacang pada anak-anak yang menjadi peserta penelitian, yaitu sekitar 20%. Akan tetapi, para peneliti juga menemukan bahwa tidak semua orang yang mengalami mutasi genetik ini mengalami alergi kacang. Mereka menduga bahwa alergi terjadi karena adanya pengaruh faktor lain yang mempengaruhi DNA. Faktor lain ini mungkin merupakan faktor lingkungan yang terjadi sebelum atau segera setelah bayi lahir.   Sumber: newsmaxhealth
 20 Aug 2014    09:00 WIB
Anak Kembar Kembali Bertemu dan Menemukan Betapa Mengejutkannya Pengaruh Genetika
Di Amerika, pertemuan kembali anak kembar identik yang telah terpisah sejak berusia 4 minggu, Jim Lewis dan Jim Springer membuat keduanya terkejut akan betapa banyaknya kesamaan yang mereka miliki walaupun tidak pernah tinggal bersama. Kedua anak kembar ini akhirnya kembali bertemu saat mereka telah berusia 39 tahun. Mereka pun terkejut saat mengetahui betapa banyak kesamaan yang mereka miliki walaupun tidak pernah bertemu dan tinggal bersama sebelumnya. Keduanya sama-sama menderita nyeri kepala tension, memiliki kebiasaan menggigiti kuku, memilih jenis rokok yang sama, memiliki jenis mobil yang sama, dan bahkan berlibur ke tempat yang sama. Mengapa keduanya dapat memiliki begitu banyak kesamaan walaupun tidak pernah bertemu atau tinggal bersama? Genetika lah jawabannya! Menurut seorang psikolog, gen merupakan satu-satunya hal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang pintar atau tidak, mengapa seseorang menyukai atau mempercayai sesuatu, dan mengapa seseorang lebih rentan terhadap suatu penyakit tertentu. Para ahli telah mulai meneliti berbagai pengaruh genetik ini sejak 35 tahun lalu. Sebuah penelitian di Amerika yang mengamati beberapa orang anak kembar, baik kembar identik maupun tidak identik yang telah hidup terpisah sejak kecil menemukan berbagai hal menarik. Para peneliti menemukan beberapa perilaku tertentu yang menunjukkan adanya peranan genetika yang sama di antara kedua anak kembar. Beberapa perilaku tertentu tersebut adalah ketaatan beribadah dan perilaku sosial. Para peneliti terkejut saat menemukan banyak kesamaan dalam kedua hal tersebut, karena banyak orang menduga keduanya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan keluarga. Penelitian yang dimulai pada tahun 1979 ini mengamati sekitar 137 pasang anak kembar, yang terdiri dari 81 pasang anak kembar identik (berasal dari satu sel telur dan sperma yang sama), dan 56 pasang anak kembar tidak identik (berasal dari 2 sel telur dan 2 sperma yang berbeda) selama lebih dari 20 tahun. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati berbagai keadaan kesehatan dan karakteristik psikologis. Melalui sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa pose atau gaya berdiri dua orang anak kembar identik saat difoto adalah sama, akan tetapi tidak demikian halnya pada anak kembar non identik. Penelitian lainnya menemukan bahwa genetika memiliki peranan yang lebih kuat dalam hal orientasi pada anak kembar laki-laki dibandingkan dengan anak kembar perempuan. Sebuah penelitian lainnya di tahun 1986 menemukan bahwa genetika juga memiliki peranan penting dalam hal kepribadian seseorang, bahkan lebih besar daripada yang diduga sebelumnya. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa lingkungan memang dapat mempengaruhi kepribadian sepasang anak kembar akan tetapi hanya bila mereka tinggal terpisah dan tidak dapat mempengaruhi kepribadian mereka bila mereka dibesarkan bersama. Pada penelitian lainnya mengenai hubungan IQ dan genetika, para peneliti menemukan bahwa sekitar 70% variasi IQ di antara para anak kembar disebabkan oleh pengaruh genetika pada setiap orang, sedangkan 30% sisanya adalah berasal dari perbedaan lingkungan. Selain itu, pada sebuah penelitian di tahun 1990, para peneliti menemukan bahwa genetika memiliki peranan cukup besar (50%) pada ketaatan seseorang. Anak kembar identik biasanya akan memiliki tingkat ketaatan yang sama dalam beribadah bila dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya. Berbagai penelitian lainnya menemukan adanya hubungan yang kuat antara genetika dan kesehatan gigi serta gusi. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa berbagai penyakit gusi ternyata tidak hanya disebabkan oleh infeksi bakteri tetapi juga dipengaruhi oleh faktor gentika. Penelitian lainnya bahkan menemukan bahwa kebahagiaan dan kepuasan seseorang juga dipengaruhi oleh faktor genetika. Pada penelitian lainnya, para peneliti menemukan bahwa para anak kembar yang hidup terpisah dan baru bertemu kembali setelah dewasa ini tetap merasa lebih dekat dengan kembarannya dibandingkan dengan teman baiknya. Hal ini menunjukkan bahwa genetika juga turut berperan dalam pembentukan suatu ikatan di antara anak kembar. Sumber: foxnews
 02 May 2014    13:00 WIB
Genetika Ternyata Turut Berperan Dalam Terjadinya ADHD
Berjuta-juta sel di dalam tubuh anda terus berkomunikasi antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka menyampaikan berbagai informasi dengan cara melepaskan suatu komponen kimiawi yang kemudian akan diterima oleh berbagai reseptor di dalam membran sel lainnya. Sebuah penelitian pada tikus menemukan bahwa tikus yang kekurangan protein penghantar pesan ini (neurotransmiter) atau disebut dengan LMTK3 menjadi hiperaktif. Hiperaktif merupakan suatu gangguan perilaku yang ditandai dengan sikap gelisah, kurangnya koordinasi, dan perilaku agresif. Menemukan faktor genetika yang berperan dalam terjadinya gangguan perilaku ini dapat membantu menjelaskan proses terjadinya autisme dan ADHD pada manusia. LMTK3 terdapat dalam jumlah yang sangat banyak pada kedua bagian otak (korteks serebral), yang berfungsi untuk mengkoordinasikan persepsi, gerakan, gan pikiran. LMTK3 juga terdapat pada hippocampus, yaitu suatu bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan dan mengatur daya ingat serta kemampuan belajar. Di dalam otak, sel-sel saraf berkomunikasi melalui sinapsis. Untuk mengirimkan suatu pesan (impuls saraf), sel saraf yang terletak pada pre sinapsis akan melepaskan suatu neurotransmiter yang akan diterima oleh reseptor post sinapsis. Penelitian di atas menemukan bahwa LMTK3 ini berfungsi untuk mengatur lalu lintas neurotransmiter ke dalam berbagai reseptor di sinapsis. Pada sel-sel saraf tikus yang mengalami kekurangan LMTK3, reseptor neurotransmiter di daerah post sinapsis menjadi sangat banyak, yang menandakan adanya gangguan komunikasi antar sinaps. Tikus yang mengalami kekurangan LMTK3 menunjukkan berbagai perilaku hiperaktif seperti sikap gelisah dan hipersensitivitas terhadap suara. Hal lain yang menarik adalah mereka pun mengalami peningkatan kadar dopamin. Dopamin merupakan suatu neurotransmiter yang berfungsi untuk mengatur pergerakan dan kadar hormon, motivasi, kemampuan belajar, dan mengekspresikan emosi. Pengeluaran dopamine yang berelbihan menyebabkan terjadinya skizofrenia, yang menyebabkan hilangnya aktivitas sel-sel saraf dan menyebabkan timbulnya berbagai pikiran serta perasaan yang abnormal. Akan tetapi, para peneliti masih belum menemukan bagaimana hubungan antara pengaturan reseptor neurotransmiter, kadar dopamin, dan proses biokimia yang memicu terjadinya perilaku hiperaktif.Sumber: news-medical