Your browser does not support JavaScript!
 09 Jul 2019    18:00 WIB
Apa Itu Epididimitis ?
Epididimitis adalah suatu proses peradangan atau inflamasi pada epididimis. Epididimis merupakan suatu tabung melingkar yang terletak mengelilingi kedua buah zakar (testis). Epididimis berfungsi untuk menyalurkan, menyimpan, dan mematangkan sel sperma yang diproduksi oleh testis. Selain itu, epididimis juga berfungsi untuk menghubungkan testis dengan vas deferens (suatu saluran yang membawa sperma). Penyebab Epididimitis Epididimitis seringkali disebabkan oleh suatu infeksi atau penyakit menular seksual, seperti klamidia dan gonorea. Pada pria yang berusia 40 tahun ke atas, epididimitis biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada saluran kemih. Gejala Epididimitis Gejala yang sering ditemukan pada epididimitis adalah: Nyeri pada kantong zakar (skrotum) Pembengkakan skrotum Keluarnya cairan abnormal dari penis Nyeri saat buang air kecil Nyeri saat penetrasi Nyeri saat ejakulasi Pada infeksi berat, infeksi dapat menyebar ke testis lainnya dan menyebabkan demam serta abses (kumpulan nanah) Pengobatan Epididimitis Beberapa langkah pengobatan bagi penderita epididimitis adalah: Tirah baring atau istirahat total Pemberian antibiotika Kompres dingin pada skrotum untuk mengurangi pembengkakan Penggunaan penyangga skrotum Obat anti inflamasi Bila epididimitis disebabkan oleh penyakit menular seksual, maka pasangan anda juga harus diobati. Jika epididimitis dibiarkan tanpa pengobatan, maka dapat terbentuk jaringan parut pada epididimis, yang dapat menghambat pengeluaran sperma dari testis. Hal ini dapat menyebabkan infertilitas (kemandulan), terutama bila kedua testis terinfeksi. Pencegahan Epididimitis Salah satu langkah pencegahan epididimitis adalah penggunaan kondom saat berhubungan seksual. Hal ini dapat mencegah infeksi klamidia atau gonorea yang dapat menyebabkan epididimitis akibat penyakit menular seksual.   Sumber: webmd
 01 Mar 2019    18:00 WIB
Apakah Saya Menderita Klamidia ?
Klamidia merupakan salah satu penyakit menular seksual yang paling sering terjadi di Amerika. Penularannya sangat mudah terjadi karena klamidia seringkali tidak menimbulkan gejala apapun dan dengan demikian baik orang yang terinfeksi maupun pasangannya tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi. Bahkan sekitar 75% wanita dan 50% pria terinfeksi penyakit ini tanpa mengalami gejala apapun.   Apakah Saya Menderita Klamidia ? Bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui apakah anda menderita klamidia atau tidak karena gejala yang dialami biasanya tidak jelas atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Akan tetapi, terdapat beberapa gejala yang dapat muncul, biasanya sekitar 3 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang dapat ditemukan pada wanita adalah: Cairan vagina yang abnormal dan mungkin berbau Keluarnya darah dari kemaluan di luar masa menstruasi Menstruasi yang terasa nyeri Nyeri perut disertai demam Nyeri saat berhubungan seksual Rasa terbakar atau gatal di dalam atau sekitar vagina Nyeri saat buang air kecil Gejala yang dapat ditemukan pada pria adalah: Keluarnya cairan dari ujung penis yang berwarna jernih atau keruh Nyeri saat buang air kecil Rasa panas dan gatal pada bagian ujung penis Nyeri dan bengkak di sekitar testis (buah zakar) Bila dokter menduga anda menderita klamidia, maka dokter akan melakukan pemeriksaan apus vagina atau penis untuk memeriksa ada tidaknya bakteri penyebab.   Pengobatan Klamidia Obat yang biasa digunakan pada pengobatan klamidia adalah antibiotika, seperti azitromisin atau doksisiklin. Dokter juga akan menganjurkan agar pasangan anda juga melakukan pengobatan karena kemungkinan telah terinfeksi juga. Dengan pengobatan, klamidia biasanya membaik dalam waktu 1-2 minggu. Lanjutkan pengobatan sampai tuntas walaupun gejala telah membaik. Wanita yang menderita klamidia berat membutuhkan perawatan di rumah sakit, pemberian antibiotika intravena (melalui pembuluh darah), dan obat anti nyeri. Setelah regimen pengobatan selesai, maka anda harus melakukan pemeriksaan ulang untuk mengetahui apakah anda telah benar-benar terbebas dari infeksi. Dianjurkan untuk jangan berhubungan seksual hingga anda dan pasangan menyelesaikan pengobatan dan telah benar-benar terbebas dari infeksi.   Apa yang Terjadi Bila Anda Tidak Berobat ? Pada Wanita Bila tidak diobati, infeksi klamidia dapat menyebabkan penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease) yang dapat menyebabkan kerusakan tuba fallopii (suatu saluran yang menghubungkan indung telur dengan rahim, tempat sperma dan sel telur bertemu). Selain itu, infeksi klamidia yang tidak diobati juga dapat menyebabkan terjadinya: Kehamilan ektopik (suatu kehamilan yang tidak berlangsung di dalam rahim, biasanya di dalam tuba fallopii) Kelahiran prematur Penularan infeksi dari ibu pada bayinya saat proses persalinan yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi mata, kebutaan, atau pneumonia pada bayi Pada Pria Klamidia yang tidak diobati dapat menyebabkan terjadinya: Uretritis non gonokokal, yaitu suatu infeksi pada uretra (saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan lubang kencing di penis) Epididimitis, yaitu suatu infeksi pada epididimis (suatu saluran yang membawa sperma dari buah zakar) Proktitis, yaitu infeksi pada rektum (bagian akhir dari usus besar yang berhubungan dengan anus)   Pencegahan Klamidia Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya infeksi dan penularan klamidia adalah: Menggunakan kondom dengan benar setiap kali berhubungan seksual, terutama bila anda sering berganti-ganti pasangan seksual Jangan berganti-ganti pasangan seksual Hindari berhubungan seksual selama mengalami infeksi klamidia, terutama bila pasangan anda tidak terinfeksi Jangan berhubungan seksual bila anda mengalami beberapa gejala infeksi kelamin, seperti keluarnya cairan abnormal dari kemaluan atau rasa terbakar saat buang air kecil atau adanya luka atau bercak pada kemaluan Lakukanlah pengobatan hingga tuntas bila anda menderita klamidia sehingga pasangan anda dapat terhindar dari infeksi klamidia Dianjurkan agar anda melakukan pemeriksaan secara teratur untuk klamidia bila anda sering berganti-ganti pasangan seksual   Sumber: webmd