Your browser does not support JavaScript!
 11 Aug 2016    15:00 WIB
Implan Vagina Berhasil Dikembangkan Oleh Para Dokter
Untuk seorang wanita yang menderita sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser, hidup dapat menjadi sangat sulit. Terlahir tanpa vagina yang tidak berkembang, wanita dengan sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) sangat sulit mengalami pengalaman seksual secara normal, tidak mengalami menstruasi dan tidak dapat bereproduksi secara alami. Tetapi saat ini, para peneliti dari Wake Forest Baptist Medical Center telah menemukan cara bagaimana seorang wanita dengan sindrom MRKH dapat hidup normal. Dengan menggunakan sel tubuh dari pasien sendiri para peneliti berhasil mengembangkan vagina di labolatorium dan menanamnya sebagai implan untuk empat wanita. Dr. Anthony Atala, direktur dari the Wake Forest Institute for Regenerative Medicine bersama timnya telah bekerja mengembangkan sel vagina di laboratorium selama 25 tahun. Mereka mempelajari bagaimana menanam sel vagina dengan benar dan melakukan prosedur percobaan terhadap tikus. Pada studi terbaru yang dipublikasikan di the Lancet, Dr. Atala dan timnya dilaporkan berhasil mengembangkan organ vaniga di laboratorium. Pada studi ini Dr. Atala dan tim merekrut empat wanita berusia 13-18 tahun yang menderita MRKH. Operasi penanaman implan ini dilakukan antara Juni 2005 samapi Oktober 2008. Selama 8 tahun setelah prosedur implan dilakukan, setiap wanita dimonitor secara ketat untuk mendeteksi adanya komplikasi dan menjalani berbagai tes untuk memastikan semua berjalan dengan baik. Secara keseluruhan, operasi berjalan dengan baik, sukses dan menunjukkan hasil tes yang sehat. Semua vagina implan dilaporkan memiliki tingkat "hasrat, gairah, lubrikasi, orgasme, kepuasan" yang normal dan dapat berhubungan seksual tanpa rasa sakit. Para penerima organ juga melaporkan tidak ada efek samping yang mereka rasakan dari prosedur operasi yang dilakukan. Para peneliti menjelaskan bahwa sebenarnya vagina yang diimplankan itu merupakan organ mereka sendiri, dan pada dasarnya para peneliti hanya mengembalikan ke tempat asalnya. Karena penanaman dan pengembangan organ berasal dari sel tubuh pasien sendiri, maka tidak perlu menggunakan obat-obatan ati penolakan organ setelah prosedur operasi.Sumber: foxnews