Your browser does not support JavaScript!
 23 Aug 2019    16:00 WIB
Pentingnya Vaksin DPT Untuk Mencegah Difteri, Tetanus dan Pertusis
Saat anak Anda lahir, maka saat itu adalah saat terbaik dalam hidup Anda. Anda sudah membayangkan bahwa bayi Anda akan tumbuh sehat dan menjadi kebanggaan untuk diri Anda dan keluarga besar. Untuk menjaga kesehatan bayi  yang baru lahir selain memberikan ASI dan susu formula bila ternyata ASI ibu tidak keluar, Anda juga harus melakukan vaksinasi. Dengan vaksinasi maka Anda akan menjaga anak agar tidak mudah terjangkit penyakit yang berbahaya. Ada beberapa macam vaksin wajib untuk bayi. Salah satunya adalah vaksin DPT. Agar Anda para orang tua menjadi lebih tahu, ini manafaat dari vaksin DPT. Vaksin DPT diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah infeksi bakteri pada selaput lendir hidung dan tenggorokan yang memiliki efek yang serius. Bakteri menyebabkan penyakit ini dapat menghasilkan racun yang merusak jaringan, terutama pada hidung dan tenggorokan. Difteri akan membentuk lapisan tebal di tenggorakan, menyebabkan gangguan pernapasan, gangguan pada jantung dan kerusakan saraf. Tetanus menyebabkan pengetatan otot, terutama kepala dan leher, itulah sebabnya disebut "lockjaw" atau rahang terkunci. Pengencangan otot ini membuat sulit untuk membuka mulut, menelan, dan bernafas. Bahkan di zaman kesehatan yang lebih modern, satu dari 10 orang yang terinfeksi tetanus meninggal, namun risikonya sangat berkurang jika anak Anda mendapatkan vaksinasi sesuai anjuran. Rekomendasi booster direkomendasikan mulai usia 11 dan setiap 10 tahun setelahnya Pertusis lebih dikenal sebagai "batuk rejan." Penyakit ini sangat menular yang menyebabkan penyakit batuk yang berlangsung dua minggu atau lebih dan bisa disertai dengan muntah. Pertusis paling berbahaya di kalangan bayi dan bisa menyebabkan pneumonia, kerusakan otak, kejang, dan kematian. Pertusis adalah penyakit yang paling tidak terkontrol yang dapat dicegah dengan menggunakan vaksin. Vaksinasi DPT memiliki keefektifan antara 80-89 %. Dengan kata lain, bahkan jika anak divaksinasi, mungkin masih terjangkit pertusi, namun efeknya tentu tidak akan seberat bila dilakukan vaksin.   Vaksin DPT diberikan pada usia 2,4,6 bulan kemudian dilakukan booster kembali pada usia 15-18 bulan, usia 4-6 tahun. Diberikan melalui suntikan.   Baca juga: 7 Jenis Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: verywell
 06 Aug 2019    18:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin DPT?
Vaksin DPT merupakan suatu vaksin gabungan untuk mencegah difteria, pertusis, dan tetanus. Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin pun memiliki beberapa efek samping. Efek samping ini biasanya merupakan efek samping ringan yang dapat hilang dengan sendirinya. Dianjurkan untuk duduk atau berbaring selama sekitar 15 menit setelah menerima vaksin karena ada kemungkinan Anda merasa pusing atau pingsan, untuk mencegah terjadinya cedera akibat terjatuh.   Efek Samping Ringan Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT tetapi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam ringan (38 derajat Celcius) • Nyeri kepala • Merasa lelah • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Menggigil • Nyeri otot • Nyeri sendi • Timbul bercak kemerahan pada kulit • Pembesaran kelenjar getah bening   Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi tidak membutuhkan perawatan medis adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam lebih dari 39 derajat Celcius • Nyeri kepala • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Pembengkakan pada seluruh lengan tempat suntikan dilakukan   Efek Samping Berat Beberapa efek samping berat yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT dan membuat penerimanya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan membutuhkan perawatan medis adalah pembengkakan, nyeri hebat, perdarahan, dan kulit kemerahan pada daerah bekas suntikan. Reaksi alergi berat yang membahayakan jiwa setelah menerima vaksin dapat terjadi walaupun sangat jarang (kurang dari 1 dari 1.000.000 dosis).   Sumber: cdc