Your browser does not support JavaScript!
 14 Sep 2015    20:00 WIB
Minum Soda = Minum Bahan Bakar?!
Hobi minum minuman bersoda? Anda mungkin harus berpikir ulang! Selain mengandung banyak gula yang dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan Anda dan meningkatkan resiko terjadinya diabetes, minuman bersoda ternyata memiliki efek buruk lainnya seperti yang dapat Anda lihat di bawah ini.   Mengandung Bahan Bakar Tahukah Anda bahwa minuman bersoda ternyata mengandung sejenis zat kimia yang juga berfungsi sebagai bahan bakar? BVO atau brominated vegetable oil sebenarnya merupakan suatu zat yang berfungsi untuk membuat plastik tidak mudah terbakar. Negara Eropa dan Jepang telah melarang para pabrik pembuat minuman bersoda untuk memasukkan zat kimia berbahaya tersebut.   Membuat Tulang Menjadi Rapuh Tahukah Anda bahwa mengkonsumsi minuman bersoda ternyata juga berbahaya bagi kesehatan tulang dan gigi Anda? Minuman bersoda dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang dan membuat gigi menjadi rapuh. Selain itu, konsumsi minuman bersoda juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan ginjal.   Memperpendek Umur Minuman bersoda, baik yang biasa maupun soda diet tetap mengandung asam fosfor, yang dapat membuat seseorang mengalami kecanduan. Hal inilah yang membuat Anda ingin terus mengkonsumsi minuman bersoda.  Selain dapat menyebabkan terjadinya kecanduan, asam fosfor di dalam minuman bersoda juga membuat umur tikus percobaan menjadi lebih pendek.   Jadi, bagi Anda para penggemar minuman bersoda, ada baiknya bila Anda mulai mengurangi atau bahkan menghentikan kebiasaan Anda tersebut, terutama bila Anda ingin hidup lama dan sehat!   Baca juga: Konsumsi Minuman Bersoda Membuat Umur Anda Menjadi Lebih Pendek, Benarkah?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang .   Sumber: huffingtonpost
 04 Sep 2015    18:00 WIB
Obat Batuk Dapat Membantu Melawan Diabetes, Masa Sih?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa salah satu komponen yang terdapat di dalam obat batuk yang banyak dijual bebas di pasaran ternyata dapat membantu meningkatkan pelepasan insulin di dalam tubuh manusia, yang tentu saja dapat membantu pengobatan diabetes tipe 2.   Insulin merupakan sejenis hormon yang diproduksi di dalam pankreas, yang berfungsi untuk “mengangkut” glukosa dari dalam darah dan masuk ke dalam sel-sel tubuh. Akan tetapi, pada penderita diabetes tipe 2, pankreas tidak memproduksi cukup banyak insulin atau sel-sel tubuh tidak berespon sebagaimana mestinya terhadap hormon insulin yang ada (resistensi insulin).   Kurangnya produksi hormon insulin dan resistensi insulin akan membuat glukosa menumpuk di dalam darah, tanpa dapat digunakan oleh sel-sel tubuh untuk menjalankan fungsinya, akibatnya adalah penderita selalu merasa lapar dan lemas akibat kekurangan sumber tenaga.   Para dokter di Heinrich Heine University di Dusseldorf, Jerman secara tidak sengaja menemukan bahwa obat dekstrometorfan dapat meningkatkan jumlah insulin yang dilepaskan dari dalam pankreas.   Pada awalnya, para peneliti menduga bahwa dektrometorfan dapat  menekan sekresi (pengeluaran) insulin pada penderita yang mengalami hiperinsulinisme, suatu keadaan di mana terdapat terlalu banyak insulin di dalam aliran darah seseorang.   Sebaliknya, para peneliti justru menemukan bahwa dekstrometrofan, atau khususnya dekstrorfan, sebuah produk sampingan dari dekstrometorfan yang terbentuk di dalam tubuh saat seseorang mengkonsumsi obat ini; justru dapat meningkatkan pelepasan insulin dari dalam pankreas. Hasil ini diperoleh setelah mereka melakukan berbagai percobaan pada hewan (tikus), jaringan pankreas manusia, dan pada para penderita diabetes.   Dekstrometorfan sebenarnya merupakan suatu obat batuk yang bekerja dengan cara menekan aktivitas reseptor tertentu di dalam tubuh yang disebut dengan N-Metil-D-Aspartat (NMDA), yang terdapat di dalam medulla oblongata, yang merupakan bagian dari batang otak.   Selain di batang otak, reseptor NMDA ini ternyata juga terdapat di dalam sel-sel yang berfungsi untuk memproduksi hormon insulin di dalam pankreas. Akan tetapi, berbeda dengan batuk yang akan berhenti bila reseptor NMDA di batang otak dihambat, terhambatnya reseptor NMDA di dalam pankreas justru dapat meningkatkan pelepasan hormon insulin.   Walaupun demikian, para peneliti tidak menganjurkan para penderita diabetes untuk mengkonsumsi dekstrometorfan untuk membantu mengendalikan kadar gula darahnya. Hal ini dikarenakan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai apa efek pemberian dekstrometorfan dalam jangka panjang pada seseorang. Selain itu, pada penelitian ini, para peneliti hanya melakukan percobaan pada sekitar 20 orang peserta.   Baca juga: Penggunaan Obat Pencahar Secara Berlebihan Dapat Mematikan   Sumber: livescience
 02 Sep 2015    12:00 WIB
"Pembunuh" Ini Berhasil Turunkan Berat Badan Sebanyak 400kg!
Seorang wanita dengan berat badan 500 kilogram yang pernah dijuluki sebagai “pembunuh setengah ton” ini berhasil mengubah hidupnya sejak tahun 2011 saat ia sukses menurunkan berat badannya hingga 400 kg.   Mayra Rosales, 34 tahun, yang berasal dari Texas, Amerika Serikat ini sebenarnya telah menyerah dengan kehidupannya. Hal ini pulalah yang membuat ia rela menggantikan sang adik, Jamie, saat adiknya tersebut secara tidak sengaja membunuh anaknya sendiri, Eliseo, pada tahun 2008.   Rosales mengaku bahwa ia tidak sengaja membunuh keponakannya tersebut. Ia mengatakan pada polisi bahwa ia membunuh keponakannya tersebut saat ia secara tidak sengaja menindih keponakannya itu. Pernyataan ini pun kemudian berhasil dibantah setelah hasil autopsi menunjukkan bahwa sang bocah meninggal akibat adanya banyak luka pada tulang tengkoraknya.   Setelah sang adik, Jamie, mengakui tindakannya dan dihukum selama 15 tahun di penjara, maka Rosales pun bersumpah untuk hidup lebih sehat sehingga ia dapat merawat anak adiknya yang masih hidup. Ia pun memutuskan untuk mengubah hidupnya dan sejak tahun 2011, ia telah berhasil menurunkan beberapa ratus kg berat badannya.   Rosales berhasil menurunkan berat badannya setelah melalui 11 tindakan pembedahan, termasuk pembedahan untuk membuat perutnya lebih kecil (lap band surgery) dan pembedahan untuk mengangkat kulit yang berlebih.   Selain itu, ia juga mengubah pandangannya mengenai makanan. Sebelumnya, ia menganggap bahwa ia hidup untuk makan, akan tetapi sekarang ini, ia hanya menganggap makanan sebagai sesuatu yang harus ia makan demi kelangsungan hidupnya.   Setelah persidangannya selesai, Rosales pun memulai terapinya, hasilnya adalah berat badannya pun turun hingga 50 kg dalam waktu 10 hari pertama.   Setelah mengalami penurunan berat badan dengan cukup drastis. Rosales tidak hanya mengalami perubahan penampilan fisik, keadaan kesehatannya pun juga mengalami perbaikan yang cukup drastis. Rosales mengatakan bahwa ia tidak lagi menderita diabetes, tidak lagi memiliki kadar kolesterol yang tinggi, dan tidak lagi menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).   Rosales kini aktif di Facebook dan memiliki lebih dari 18.000 fans. Rosales juga mengundang para penggemarnya yang sedang berjuang untuk menurunkan berat badan untuk mengirimkan pesan pada facebooknya jika mereka ingin menerima berbagai tips kesehatan. Saat ini, Rosales sedang berjuang untuk mendapatkan hak asuh anak adiknya yang masih hidup.   Baca Juga: Ke mana Perginya Lemak Tubuh Anda Saat Berat Badan Turun?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang .   Sumber: dailymail
 16 Aug 2015    16:00 WIB
Diabetes dan Alkohol
Alkohol dapat meningkatkan kadar gula darah anda dan juga mengandung banyak kalori. Oleh karena itu, jika anda menderita diabetes, dianjurkan agar anda menghindari minuman beralkohol. Bila anda tetap ingin mengkonsumsi alkohol, dianjurkan agar jangan terlalu sering mengkonsumsi alkohol dan hanya mengkonsumsi alkohol bila kadar gula darah anda telah terkendali dengan baik. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda untuk mengetahui berapa banyak alkohol yang dapat anda konsumsi dan seberapa sering. Efek Alkohol Pada Diabetes Di bawah ini terdapat beberapa efek alkohol terhadap penderita diabetes, yaitu: Mengkonsumsi alkohol dalam jumlah sedang dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Akan tetapi, mengkonsumsi alkohol secara berelebihan atau sangat banyak justru dapat menurunkan kadar gula darah anda, bahkan dapat membahayakan jiwa anda Bir dan wine yang manis mengandung karbohidrat dan dapat meningkatkan kadar gula darah anda Alkohol meningkatkan nafsu makan anda dan menyebabkan anda makan secara berlebihan sehingga mempengaruhi kadar gula darah anda Alkohol dapat mengganggu kerja obat anti diabetes atau insulin Alkohol dapat meningkatkan kadar trigliserida Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah Alkohol dapat membuat wajah anda memerah, mual, meningkatkan denyut jantung, dan bicara tidak jelas Berbagai efek di atas dapat menyerupai dengan gejala hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah) yang dapat membahayakan jiwa anda bila tidak segera ditangani. Tips Mengkonsumsi Alkohol Bagi Penderita Diabetes Terdapat beberapa hal yang harus anda perhatikan bila anda menderita diabetes dan tetap ingin mengkonsumsi alkohol, yaitu: Pada pria dianjurkan agar tidak mengkonsumsi alkohol lebih dari dua gelas sehari, sedangkan pada wanita dianjurkan agar tidak mengkonsumsi alkohol lebih dari satu gelas sehari Tetap makan saat mengkonsumsi alkohol Minumlah secara perlahan Hindari minuman manis lainnya Campurkan minuman beralkohol tersebut dengan air Baca juga: Tips untuk berhenti konsumsi alkohol  Sumber: webmd
 24 Dec 2014    09:00 WIB
5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Diabetes
1. Diabetes Tipe 2 Tidak Hanya Dialami Oleh Orang Dengan Berat Badan Berlebih Banyak orang mengira bahwa dengan bertubuh langsing maka mereka pun akan terbebas dari diabetes tipe 2, akan tetapi ternyata tidak demikian. Sekitar 15% penderita diabetes tipe 2 tidak memiliki berat badan berlebih. Hal ini dikarenakan mereka mungkin terlihat sehat di luaran, akan tetapi berbagai kebiasaan buruk yang mereka lakukan membuat keadaan di dalam tubuhnya sama seperti seseorang yang mengalami obesitas, yang tentu saja dapat meningkatkan resiko terjadinya diabetes tipe 2.  2.      Diet Soda Mungkin Dapat Memicu Terjadinya Diabetes Tipe 2 Tahukah Anda bahwa diet soda ternyata memiliki dampak negatif lainnya pada tubuh Anda selain merusak gigi dan membuat tulang Anda menjadi rapuh? Berdasarkan sebuah penelitian, mengkonsumsi pemanis buatan (terdapat di dalam diet soda) dapat menyebabkan terjadinya intoleransi glukosa, yang dapat berakhir pada terjadinya diabetes tipe 2.  3.      Kopi Dapat Turunkan Resiko Terjadinya Diabetes Pada sebuah penelitian di Amerika, para peneliti menemukan bahwa para pecinta kopi atau orang yang mengkonsumsi 4-6 gelas (1 gelas kopi sama dengan 240 ml) kopi (kopi hitam yang tidak mengandung gula, susu, sirup, atau pemanis lainnya) memiliki resiko yang lebih rendah (29-54% lebih rendah) untuk mengalami diabetes tipe 2. Hasil ini diperoleh para peneliti setelah melakukan pengamatan selama 18 tahun.  4.      Jarang Sarapan Dapat Tingkatkan Resiko Terjadinya Diabetes Sebuah penelitian menemukan bahwa seorang wanita karir yang kadang melewatkan waktu sarapannya memiliki resiko yang lebih tinggi (54% lebih tinggi) untuk mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan dengan wanita karir lainnya yang selalu sarapan di pagi hari. Hal ini dikarenakan ketidakstabilan kadar insulin di dalam tubuh. Saat Anda tidur di malam hari, kadar insulin Anda tetap stabil dan bila Anda tidak sarapan di pagi hari, maka kadar insulin Anda pun akan menurun. Setelah itu, kadar insulin akan meningkat drastis saat Anda makan siang. Bila hal ini terus berlangsung dalam waktu lama, maka tubuh Anda pun dapat mengalami resistensi insulin, yang dapat menyebabkan terjadinya diabetes tipe 2.  5.      Olahraga dan Diet Bukanlah Satu-satunya Cara Menurunkan Resiko Diabetes Memang benar bahwa menurunkan berat badan Anda sebanyak 5 kg dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes dengan cukup signifikan. Akan tetapi, selain berolahraga secara teratur dan mengkonsumsi diet sehat, tidur yang cukup dan mengatasi stress juga merupakan hal penting yang perlu Anda lakukan bila ingin menurunkan resiko diabetes tipe 2. Stress kronik dapat membuat kadar gula darah Anda menjadi sangat tinggi dan kurang tidur (lama tidur kurang dari 6 jam) dalam waktu lama dapat meningkatkan resiko terjadinya diabetes hingga 2 kali lipat.     Sumber: womenshealthmag
 03 Jul 2014    11:00 WIB
Benarkah kemampuan indera pengecap menurun akibat penuaan?
Menurut penelitian terbaru jumlah indera pengecap pada lidah akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini menjadi penting sebab oleh semakin sedikitnya indera pengecap pada lidah yang berhubungan erat dengan peningkatan kasus kadar gula darah puasa. Penurunan jumlah indera pengecap ini menjadi alasan mengapa lebih banyak orang tua yang menderita penyakit kencing manis atau diabetes tipe 2 saat ini. Berdasarkan penelitian ditemukan jumlah indera pengecap di lidah mempunyai hubungan dengan usia dan bagaimana cara tubuh menangani gula. Berdasarkan data dari CDC pada tahun 2012, sebanyak 9,3 % penduduk di Amerika menderita Penyakit Kencing Manis Tipe 2. Diantara mereka yang usia diatas 65, seperempatnya atau sekitar 11,2 juta orang mengidap Penyakit Kencing Manis. Berdasarkan penelitian terdahulu menunjukkan Penderita Kencing Manis Tipe 2 memiliki indera pengecap namun tidak dapat merasakan rasa manis seperti seharusnya.  Para peneliti melakukan pemeriksaan data terhadap 353 orang dewasa, meneliti mengenai hubungan antara proses penuaan, Massa Indeks Tubuh (BMI), gula darah dan indera pengecap. Pengukuran terhadap jumlah indera pengecap adalah mudah dan simpel.  Pengukuran dilakukan dengan memberikan pewarna biru pada lidah setiap partisipan. Lidah akan berubah menjadi biru, namun taktil pengecap yang tidak dapat diwarnai dan akan berubah menjadi bintik merah muda, sehingga dapat dihitung jumlahnya.   Hasil awal dari penelitian jumlah indera pengecap ini mungkin akan mempunyai peran terhadap bagaimana tubuh kita memproses gula selama proses penuaan dimasa yang akan datang. Untuk menjawab pertanyaan tentang apakah ada yang dapat dilakukan untuk meningkatkan  jumlah indera pengecap seiring pertambahan usia, maka dapat dikatakan bahwa penelitian  mengenai indera pengecap adalah bidang yang sangat baru dan sampai saat ini belum diketahui alasan mengapa jumlah indera pengecap bisa menurun jumlahnya seiring dengan pertambahan usia. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi kemungkinan hubungan antara penurunan indera pengecap dengan peningkatan kejadian penyakit kencing manis dan usia.   Sumber: webmd
 30 May 2014    14:30 WIB
Gangguan Jiwa Lebih Berbahaya Dibandingkan Merokok
Penelitian terbaru yang dilakukan di Oxford University mengenai gangguan jiwa mengatakan sebenarnya gangguan jiwa dapat mempersingkat harapan hidup seseorang. Penelitian ini mengatakan harapan hidup yang berkurang bisa mencapai 10 tahun dimana hal ini lebih buruk dibandingkan pengurangan harapan hidup pada seorang perokok yang meroko 20 rokok per hari. Setelah meneliti 1,7 juta pasien dan menganalisis data dari berbagai negara maju, penelitian ini menyimpulkan bahwa seorang perokok berar dapat mengurangi harapan hidup selama 8-10 tahun dibandingkan pengurangan harapan hidup pada pasien gangguan jiwa bisa sampai 10-25 tahun. The Guardian Liberty Voice melaporkan bahwa penelitian yang sama juga mengklaim bahwa rata-rata harapan hidup penderita skizofenia berkurang 10-20 tahun dibandingkan mereka yang normal, 10-20 tahun pengurangan harapan hidup untuk penderita gangguan bipolar, 10-15 tahun untuk pasien penderita depresi dan antara 10-25 tahun lebih singkat untuk penderita penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Peneliti senior pada tim peneliti ini mengatakan sudah banyak penekanan yang disebarluaskan ke masyarakat mengenai bahaya merokok dan bagaimana merokok dapat menyebabkan kematian, sementara tidak demikian dengan gangguna jiwa. Peneliti juga menekankan bahwa gangguan jiwa juga dapat menyebabkan gangguan fisik yang dapat berakhir menjadi diabetes, penyakit jantung dan kanker. Sayangnya banyak kasus yang terjadi pada pasien gangguan jiwa tidak mendapatkan akses cukup ke fasilitas kesehatan.   Sumber: healthmeup
 10 May 2014    14:00 WIB
Apa Penyebab Dari Nyeri Kronik?
Nyeri, walaupun bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi merupakan cara tubuh Anda memperingatkan ada sesuatu yang salah. Rasa kaku, kesemutan, merupakan tanda bahwa otot Anda mengalami kerusakan syaraf atau telah bekerja terlalu berat. Nyeri yang berkepanjangan (paling tidak berlangsung minimal tiga bulan atau lebih) dianggap sebagai nyeri kronik. Nyeri kronik dapat menyerang berbagai bagian tubuh, terutama di bagian bawah tubuh dan rentang sakit bisa dari ringan sampai berat. Nyeri dapat bersifat tajam, tumpul, sensasi seperti terbakar, gatal atau ditandai dengan kekakuan. Nyeri yang ditimbulkan oleh cedera atau trauma adalah hal yang lumrah, tetapi nyeri yang bersifat kronik dapat mengganggu kehidupan Anda sehari-hari dan juga pekerjaan Anda. Nyeri kronik dapat merusak emosi dan fisik Anda. rasa stress yang Anda alami bahkan dapat memperlemah sistem imunitas tubuh Anda dan dapat menyebabkan infeksi, kelelahan dan depresi.Pemicu dari nyeri kronik Sebanyak satu dari tiga orang di Amerika mengalami nyeri kronik, yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan tahunan. Akar penyebab dari nyeri kronis bisa berupa:•  Kimia: jika keseimbangan kimiawi di otak Anda terganggu maka Anda bisa merasakan nyeri yang berlangsung lama•  Neurogenik: jenis nyeri ini dapat dihasilkan oleh kerusakan sistem syaraf pusat yang menyebabkan gangguan pada syaraf pengatur nyeri•  Psikogenik: nyeri ini dapat dipicu oleh gangguan emosional dan masalah mental•  Psikologis: nyeri ini ditimbulkan karena gangguan personalistas atau masalah kejiwaan yang bermanifestasi menjadi nyeri secara fisik•  Tidak teridentifikasi: saat tes yang dilakukan tidak dapat memastikan penyebab pasti dari nyeri maka dokter akan menggolongkannya ke dalam nyeri yang tidak dapat diidentifikasi. Faktor resiko dari nyeri kronikDengan mengetahui penyebab dari nyeri kronis yang Anda rasakan maka Anda dapat mengatasi dan mencegah munculnya nyeri. Berbagai penyebab dari nyeri adalah:•  Usia: nyeri kronis memang bukanlah sesuatu yang normal terjadi, tetapi beberapa penyakit seperti arthritis dan diabetes dapat menyebabkan munculnya berbagai nyeri kronis karena gangguan sendi dan kerusakan nervus•  Kondisi kesehatan: fibromialgia, depresi atau gangguan kecemasan, cedera sendi, amputasi kaki dan operasi dapat menimbulkan nyeri yang bersifat kronik.•  Sistem imunitas: sistem imunitas yang melemah dapat menimbulkan berbagai ganguan seperti infeksi dan penyakit lainnya.•  Merokok: merokok dapat menyebabkan nyeri kronik dan menghambat penyerapan obat yang digunakan untuk meredakan sakit tersebut.•  Diet dan gaya hidup: memakan junk food, gaya hidup tidak sehat, mengkonsumsi alkohol dan kebiasaan tidak sehat lainnya dapat menyebabkan timbulnya nyeri kronik.Sumber: healthline