Your browser does not support JavaScript!
 31 Jul 2017    12:00 WIB
Beberapa Wabah Paling Mematikan Dalam Sejarah Manusia
CACAR Tahukah Anda bahwa penyakit cacar pernah menjadi momok yang menakutkan bagi manusia di masa lampau? Pada zaman dahulu, cacar merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia, yang telah menewaskan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia.                                                                                                                                                     Cacar sendiri sebenarnya merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus. Sekarang ini, cacar sudah bukan merupakan suatu penyakit mematikan lagi, apalagi setelah ditemukannya vaksin cacar yang sangat membantu mencegah dan mengurangi tingkat keparahan penyakit.   FLU SPANYOL Dalam waktu kurang dari 2 tahun, flu Spanyol telah menewaskan 50-100 juta orang di seluruh dunia. Hingga saat ini, para ahli masih tidak dapat menemukan obat untuk mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus, termasuk virus influenza.   Pada zaman dahulu, banyak orang meninggal karena mereka mengalami infeksi sekunder oleh bakteri yang menginfeksi paru-paru dan menyebabkan terjadinya pneumonia. Hal ini dikarenakan belum ditemukannya antibiotika sehingga berbagai gangguan kesehatan yang disebabkan oleh bakteri pun belum dapat diobati.   BLACK DEATH Wabah black death yang bermula di Asia Selatan, Asia Barat, dan Asia Tengah telah menewaskan lebih dari 75 juta orang di seluruh dunia. Penyakit ini pun menyebar hingga ke Eropa pada akhir tahun 1340-an. Penyakit ini diduga telah menyebabkan kematian pada 1/3-2/3 penduduk Eropa.   Baca Juga: Tipe Demam yang Harus Anda Waspadai   MALARIA Hingga saat ini, malaria masih merupakan penyakit menular yang cukup mematikan di dunia. Penyakit yang ditularkan melalui bantuan nyamuk Anopheles betina ini disebabkan oleh 3 jenis parasit. Parasite ini akan berkembang biak di dalam sel darah merah dan menimbulkan berbagai gejala malaria seperti pusing ringan, sesak napas, denyut jantung meningkat, demam, menggigil, mual, dan berbagai gejala flu lainnya. Pada kasus yang berat, malaria bahkan dapat menyebabkan penderitanya mengalami koma dan kematian. Setiap tahunnya, malaria menyebabkan kematian 1-3 juta orang di dunia, yang berarti 1 kematian setiap 30 detik.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: kwikku
 01 Oct 2016    15:00 WIB
Penyebab dan Cara Mengatasi Mata Bengkak
Kulit di sekitar mata sangat sensitif dan tipis. Oleh karena itu, setiap pembengkakan kecil pasti akan terlihat. Yang menjadi permasalahan pada kantung mata biasanya hanyalah kosmetika semata dan jarang disebabkan kondisi medis yang serius. Namun biasanya dokter akan mendeteksi dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang dapat berkontibusi terhadap pembengkakan, seperti masalah ginjal atau tiroid atau alergi Dalam banyak kasus, bengkak akan hilang dengan sendirinya dengan pengobatan tertentu atau hanya dengan cukup istirahat. Namun, jika bengkak disertai dengan iritasi, gatal, nyeri, demam, atau gangguan penghilatan, hal tersebut bisa menjadi tanda terjadinya masalah lain pada mata. Berikut adalah beberapa penyebab pembengkakan di bawah mata:•  MenangisMenangis dalam waktu lama membuat seluruh mata membengkak karena retensi cairan pada kelenjar mata di sekitar kelopak mata•  Demam, flu, infeksi sinusSama seperti menangis, saat demam juga dapat terjadi retensi cairan pada kelenjar mata sehingga menyebabkan kelopak mata membengkak•  Kurang tidur atau kurang istirahatKurang tidur atau bekerja dengan komputer dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kelelahan mata, ketegangan mata yang dapat menyebabkan mata membengkak•  GenetikMata bengkak dan lingkaran hitam pada mata juga ditentukan oleh faktor genetik•  DietDiet kaya yodium yang banyak memasukkan garam akan menyebabkan tubuh menahan banyak cairan, dan membuat mata bengkak•  UsiaSaat usia semakin menua, kulit tipis di sekitar mata mulai kehilangan elastisitasnya dan akan menggantung sehingga terlihat seperti membengkak.Bayangkan Anda terbangun dengan mata bengkak pada hari yang sangat penting untuk Anda. ternyata ada beberapa perawatan alami yang bisa menghilangkan bengkak pada mata.Berikut adalah cara menghilangkan bengkak pada mata dan mencegahnya timbul kembali:•  Percikkan air dingin ke sekitar mata Anda•  Minum banyak air putih•  Kompres mata Anda menggunakan es yang dibungkus kain•  Tidur yang cukup•  Lakukan pijatan didaerah sekitar mata•  Batasai asupan sodiumTerkadang bengkak pada mata diikuti gejala-gejala lain yang dapat menjadi tanda kondisi serius. Jika hal ini terjadi segeralah memeriksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan menyeluruh. Gejala-gejalanya adalah:•  Pembengkakan terjadi hanya pada satu mata•  Pembengkakan mata yang diikuti nyeri, gatal atau kemerahan•  Pembengkakan mata dalam waktu yang lama Baca juga: Pemeriksaan Mata Menggunakan Smartphone Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: healthmeup
 12 Aug 2014    10:00 WIB
Pemeriksaan Yang Sering Dilakukan Saat Demam
Demam adalah suatu keadaan saat tubuh melebihi 37 derajat celcius. Apakah Anda mengalami demam sepanjang hari atau demam di sore dan malam hari? Demam bisa disebabkan oleh berbagai hal. Jangan sepelekan demam. Karena demam bisa berakibat fatal. Demam paling sering disebabkan oleh Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Typhus   Gambaran klinis/ gejala DBD & Typhoid   DBD/ Demam berdarah dengue Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari Terdapat tanda-tanda perdarahan seperti bintik-bintik merah, perdarahan gusi, mimisan dll Kaki dan tangan dingin   Typhoid Demam di sore hari atau malam hari tidak terlalu tinggi selama 1 minggu, setelah itu demam tinggi hingga 40 derajat celcius Sakit perut, mual dan muntah Perubahan pola buang air besar Denyut nadi melambat Lidah berwarna putih   Apabila Anda mengalami hal tersebut diatas segera konsultasikan dengan dokter Anda Apabila pasien mengalami demam dokter biasanya akan menyarankan melakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium) untuk mendeteksi penyebab demam   Pemeriksaan demam yang sering dilakukan adalah: Hematologi lengkap  Pemeriksaan umum menggunakan alat modern otomatis untuk memeriksa sel darah, yang dapat membantu mendiagnosis kelainan seoerti anemia, penurunan trombosit (DBD) dan lain-lain NS 1 Adalah pemeriksaan yang akurat dan cepat untuk mendeteksi adanya penyakit demam berdarah dengue (DBD) Tes NS 1 sensitif untuk 3 hari pertama, hasil NS 1 terlihat 1 hari setelah demam Tubex Adalah pemeriksaan yang akurat dan cepat untuk mendeteksi timbulnya antibodi yang menandakan infeksi Salmonella typhi   
 13 Jan 2014    11:00 WIB
Dilema Seorang Dokter, antara Pemilihan Antibiotik dengan Kondisi Ekonomi Pasien
Infeksi bakteri sering menyulitkan klinisi, terutama dalam pemilihan obat terbaik yang bisa mencapai tingkat kesembuhan tinggi. Dalam praktek klinis, baik ditempat praktek swasta dokter maupun di rumah sakit, antibiotik diberikan sebagai profilaksis, pre-emptif, terapi empirik maupun terapi definitif. Sebagian besar terapi antibiotik dilakukan sebagai terapi empirik, karena biasanya pasien datang ke tempat praktek swasta dokter maupun ke rumah sakit sudah dengan kondisi infeksi namun belum diketahui hasil mikrobiologinya (mikroba patogen atau kolonisasi). Dalam terapi empirik, antibiotik yang diberikan adalah antibiotik spektrum luas, dengan memperhatikan 3 hal yaitu, patogen yang diperkirakan menyebabkan infeksi, pola resistensi dan penyebaran patogen di rumah sakit (lokal) dan faktor-faktor resiko yang ada pada pasien, termasuk resiko resistensi. Sayangnya tidak semua rumah sakit memiliki data tentang pola penyebaran patogen lokal maupun data tentang resistensi. Pun tidak semua dokter mengetahui peta kuman di sekitarnya dan kondisi imun pasien. Sebagai ilustrasi kasus, pasien laki-laki dewasa, perokok berat,tidak mau makan antibiotik, karena alasannya demam dan batuk-batuk yang di alaminya hanya keletihan dan virus influenza saja. Namun pada hari ke-6, pasien tersebut mengalami sesak nafas yang hebat, sedangkan demam dan batuk tak kunjung reda. Saat dibawa ke praktek swasta, dokter menyarankan agar segera dilarikan ke rumah sakit. Pasien tersebut diketahui menderita pneumonia (CAP). Sampai disini, Panduan antibiotik menurut ATS maupun IDSA untuk terapi antibiotik pasien CAP dengan late onset > 5 hari sudah memiliki resiko mikroba patogen yang resisten (MDR) dan karenanya harus diberikan antibiotik spektruk luas untuk patogen MDR. Untuk terapi CAP dengan late onset > 5 hari, biasanya diberikan kombinasi antibiotik. Untuk bakteri MDR, biasanya ulah dari mikroba cocci Gram positif maupun MRSA (meticilin resistens Staphylococcus aureus). Pilihannya adalah vancomycin atau linezolid. Karena ada studinya dan sesuai dengan panduan internasional (ATS, IDSA), bahwa pemberian baik vancomycin atau linezolid menunjukkan efikasi yang tinggi dan angka kesembuhan lebih baik dibandingkan dengan antibiotik golongan lainnya. Kembali sama pasien diatas, setelah kita jelaskan sama keluarga dan pasiennya sendiri, bahwa kita akan memberikan antibiotik vancomycin, namun kendalanya adalah harga obat yang mahal, sehingga baik keluarga dan pasien sendiri menolak diberikan antibiotik vancomycin dan meminta agar diberikan obat antibiotik yang murah dan setara dengan vancomycin. Sebagai dokter yang merawat, sudah barang tentu, hal ini menjadi dilematis, oleh karena tidak ada antibiotik yang murah tapi kekuatannya setara dengan pilihan vancomycin. Bila pasien menggunakan asuransi ASKES sebenarnya vancomycin sudah tersedia namun sayangnya regulasi dan peraturan dari ASKES bahwa harus ada kultur darah yang mendukung pemberian Vancomycin, sedangkan kita ketahui hasil kultur darah bisa menunggu 7 hari, apakah bijaksana membiarkan pasien tidak mendapat antibiotik hanya karena menunggu dulu hasil kutur selama 1 minggu ? Akhirnya setelah berpikir panjang, diputuskan antibiotik yang akan diberikan adalah cefotaxim generik. Lalu setelah pasien merasa pulih dan sehat, akhirnya pulang pada hari ke-7.     Namun setelah 3 minggu pulang, pasien tersebut kembali lagi ke rumah sakit dengan kondisi infeksi yang berat, demam, batuk-batuk disertai sesak nafas dan nyeri dada. Setelah melalui proses pemeriksaan penunjang, maka diketahui bahwa pasien mengalami kembali pneumonia, bahkan sudah taraf keracunan kuman (sepsis). Akibatnya pasien tidak hanya mengalami kerusakan pada paru-paru, tapi juga menderita gagal organ lainnya seperti hati dan ginjal sebagai akibat komplikasi dari sepsis. Pelajaran dari pasien tersebut bahwa, setiap keputusan pemilihan antibiotik mempunyai dampak terhadap kondisi infeksi pasien. Terulangnya kembali penyakit pneumonia pada penderita tersebut tidak lain karena antibiotik yang dipilihnya sudah tidak sensitif lagi. Sehingga terjadilah proses resistensi antibiotik dan menyebabkan kambuhnya kembali pneumonia yang bahkan sangat berat (pneumonia toksik). Di sisi lain, sebagai dokter, untuk memutuskan antibiotik yang sesuai dengan kondisi infeksi pasien diatas dan harus berdasarkan panduan (ATS, IDSA), juga harus melihat kondisi ekonomi keluarga penderita yang tidak mampu membelinya. Dalam hal ini tinjauan farmakoekonomi sangat berperan, namun tidak semua pasien mengerti dan memahaminya. Ketidak fahaman pasien pun pada akhirnya menyebabkan biaya yang dikeluarkannya bertambah banyak akibat dari kambuhnya kembali penyakit tersebut. Biaya rawat inap, dan belum lagi biaya tambahan bagi keluarga yang menunggu pasien. Padahal sebagai dokter, telah kita berikan informasi kepada pasien dan keluarga bahwa untuk kondisi pneumonia dengan late onset > 5 hari punya resiko kekambuhan terulangnya pneumonia dan antibiotik yang tepat berdasarkan panduan internasional adalah vancomycin dengan angka kesembuhan saat ini masih 100%, dan itu berarti pasien tidak akan mengalami kekambuhan kembali pneumonianya kelak. Oleh sebab itu, melalui artikel ini, mari kita mulai berhitung, mana pilihan kita ? Antara biaya obat antibiotik mahal yang harus dikeluarkan pasien namun dampaknya masa rawat inap yang singkat serta tingkat kesembuhan 100% dibandingkan dengan biaya obat antibiotik yang murah, akan tetapi pasien mengalami kekambuhan kembali penyakitnya sehingga harus masuk rumah sakit lagi ? Belum lagi masa rawat inap nya lebih lama menambah pula biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga dan pasien tersebut. Apapun keputusannya, maka kita harus menerimanya, asalkan dengan pemahaman yang baik dan benar, bukan pada prasangka buruk yang selalu berakhir dengan kerugian yang besar.