Your browser does not support JavaScript!
 01 Oct 2016    15:00 WIB
Penyebab dan Cara Mengatasi Mata Bengkak
Kulit di sekitar mata sangat sensitif dan tipis. Oleh karena itu, setiap pembengkakan kecil pasti akan terlihat. Yang menjadi permasalahan pada kantung mata biasanya hanyalah kosmetika semata dan jarang disebabkan kondisi medis yang serius. Namun biasanya dokter akan mendeteksi dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang dapat berkontibusi terhadap pembengkakan, seperti masalah ginjal atau tiroid atau alergi Dalam banyak kasus, bengkak akan hilang dengan sendirinya dengan pengobatan tertentu atau hanya dengan cukup istirahat. Namun, jika bengkak disertai dengan iritasi, gatal, nyeri, demam, atau gangguan penghilatan, hal tersebut bisa menjadi tanda terjadinya masalah lain pada mata. Berikut adalah beberapa penyebab pembengkakan di bawah mata:•  MenangisMenangis dalam waktu lama membuat seluruh mata membengkak karena retensi cairan pada kelenjar mata di sekitar kelopak mata•  Demam, flu, infeksi sinusSama seperti menangis, saat demam juga dapat terjadi retensi cairan pada kelenjar mata sehingga menyebabkan kelopak mata membengkak•  Kurang tidur atau kurang istirahatKurang tidur atau bekerja dengan komputer dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kelelahan mata, ketegangan mata yang dapat menyebabkan mata membengkak•  GenetikMata bengkak dan lingkaran hitam pada mata juga ditentukan oleh faktor genetik•  DietDiet kaya yodium yang banyak memasukkan garam akan menyebabkan tubuh menahan banyak cairan, dan membuat mata bengkak•  UsiaSaat usia semakin menua, kulit tipis di sekitar mata mulai kehilangan elastisitasnya dan akan menggantung sehingga terlihat seperti membengkak.Bayangkan Anda terbangun dengan mata bengkak pada hari yang sangat penting untuk Anda. ternyata ada beberapa perawatan alami yang bisa menghilangkan bengkak pada mata.Berikut adalah cara menghilangkan bengkak pada mata dan mencegahnya timbul kembali:•  Percikkan air dingin ke sekitar mata Anda•  Minum banyak air putih•  Kompres mata Anda menggunakan es yang dibungkus kain•  Tidur yang cukup•  Lakukan pijatan didaerah sekitar mata•  Batasai asupan sodiumTerkadang bengkak pada mata diikuti gejala-gejala lain yang dapat menjadi tanda kondisi serius. Jika hal ini terjadi segeralah memeriksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan menyeluruh. Gejala-gejalanya adalah:•  Pembengkakan terjadi hanya pada satu mata•  Pembengkakan mata yang diikuti nyeri, gatal atau kemerahan•  Pembengkakan mata dalam waktu yang lama Baca juga: Pemeriksaan Mata Menggunakan Smartphone Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: healthmeup
 25 Dec 2014    08:00 WIB
Berbagai Gejala Kanker yang Sering Diabaikan Oleh Pria (Part 1)
Kanker atau keganasan merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Kanker merupakan suatu keadaan di mana suatu kumpulan sel tumbuh dan berkembang melebihi kecepatan pertumbuhan sel normal. Screening atau melakukan pemeriksaan rutin terhadap kanker merupakan salah satu cara terbaik untuk mengetahui keberadaan sel kanker di dalam tubuh anda. Diagnosa dini dapat membuat anda memiliki lebih banyak pilihan pengobatan dan dengan demikian anda memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk sembuh. Sulitnya pengobatan kanker terutama disebabkan oleh terlambatnya diagnosa. Hal ini terutama disebabkan oleh berbagai gejala kanker yang biasanya tidak timbul pada stadium awal penyakit dan baru timbul kemudian di saat sel kanker telah menyebar ke berbagai organ lainnya. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang dapat merupakan suatu gejala kanker yang seringkali tidak anda sadari.   Benjolan Pada Payudara Sebagian besar pria beranggapan bahwa kanker payudara hanya dapat terjadi pada kaum wanita. Walaupun jarang, akan tetapi para pria pun dapat mengalami kanker payudara. Jika anda merasakan atau melihat adanya suatu benjolan pada daerah payudara anda, segera hubungi dokter anda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa gejala lainnya pada payudara yang patut anda waspadai, baik pria maupun wanita adalah: Adanya suatu lekukan atau pengkerutan pada kulit payudara Retraksi puting susu (puting susu tertarik ke dalam) Puting susu dan atau kulit payudara berwarna kemerahan atau bersisik Keluarnya cairan dari puting susu (di luar masa menyusui) Bila anda memiliki satu atau beberapa gejala di atas, dokter anda mungkin akan melakukan berbagai pemeriksaan baik fisik maupun penunjang seperti mamografi atau biopsi, serta menanyakan riwayat kesehatan anda dan keluarga anda.   Rasa Nyeri Seiring dengan semakin bertambahnya usia anda, anda akan semakin sering merasa nyeri, baik di otot maupun sendi anda. Hal ini merupakan hal yang wajar, akan tetapi, nyeri juga dapat merupakan salah satu gejala awal kanker. Walaupun sebagian besar rasa nyeri bukan disebabkan oleh kanker. Bila anda mengalami nyeri kronik pada suatu bagian tubuh anda, segera periksakan diri ke dokter anda. Dengan melakukan hal ini anda akan memperoleh dua keuntungan, yang pertama adalah anda dapat mengetahui sedini mungkin apakah nyeri yang anda rasakan diakibatkan oleh kanker dan yang kedua adalah bila ternyata rasa nyeri tersebut bukan diakibatkan oleh kanker, maka dokter anda dapat segera melakukan berbagai tindakan yang diperlukan untuk mengatasi rasa nyeri anda.   Perubahan Pada Buah Zakar (Testis) Kanker testis paling sering terjadi pada pria yang berusia antara 20-39 tahun. Waspadailah setiap perubahan pada testis anda, baik membesar atau mengecil. Beberapa hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah adanya pembengkakan, benjolan atau rasa berat pada kantong zakar anda. Beberapa kanker testis dapat berkembang sangat cepat, oleh karena itu diagnosa dini sangatlah penting. Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami beberapa gejala di atas pada testis anda. Dokter anda mungkin akan melakukan pemeriksaan darah, USG kantong zakar, dan biopsi benjolan tersebut.   Perubahan Pada Kelenjar Getah Bening Jika terdapat benjolan atau pembengkakan pada kelenjar getah bening di ketiak atau leher anda atau di bagian tubuh lainnya, segera hubungi dokter anda. Dokter anda akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk mencari penyebabnya. Pembengkakan atau pembesaran kelenjar getah bening dapat disebabkan oleh infeksi atau kanker. Bila bukan disebabkan oleh infeksi, maka dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan biopsi.   Demam Jika anda mengalami demam dengan penyebab yang tidak jelas, hal ini mungkin disebabkan oleh kanker. Akan tetapi, demam juga dapat disebabkan oleh suatu infeksi atau berbagai penyakit lainnya. Sebagian besar kanker akan menyebabkan demam pada suatu saat tertentu. Seringkali, demam pada kanker terjadi saat kanker telah menyebar ke organ tubuh lainnya. berdasarkan American Cancer Society, demam juga dapat disebabkan oleh limfoma (kanker kelenjar getah bening) atau kanker darah (leukemia). Sebaiknya jangan meremehkan demam dengan penyebab yang tidak jelas. Segera hubungi dokter anda untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan pengobatan sedini mungkin.   Sumber: webmd
 12 Aug 2014    10:00 WIB
Pemeriksaan Yang Sering Dilakukan Saat Demam
Demam adalah suatu keadaan saat tubuh melebihi 37 derajat celcius. Apakah Anda mengalami demam sepanjang hari atau demam di sore dan malam hari? Demam bisa disebabkan oleh berbagai hal. Jangan sepelekan demam. Karena demam bisa berakibat fatal. Demam paling sering disebabkan oleh Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Typhus   Gambaran klinis/ gejala DBD & Typhoid   DBD/ Demam berdarah dengue Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari Terdapat tanda-tanda perdarahan seperti bintik-bintik merah, perdarahan gusi, mimisan dll Kaki dan tangan dingin   Typhoid Demam di sore hari atau malam hari tidak terlalu tinggi selama 1 minggu, setelah itu demam tinggi hingga 40 derajat celcius Sakit perut, mual dan muntah Perubahan pola buang air besar Denyut nadi melambat Lidah berwarna putih   Apabila Anda mengalami hal tersebut diatas segera konsultasikan dengan dokter Anda Apabila pasien mengalami demam dokter biasanya akan menyarankan melakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium) untuk mendeteksi penyebab demam   Pemeriksaan demam yang sering dilakukan adalah: Hematologi lengkap  Pemeriksaan umum menggunakan alat modern otomatis untuk memeriksa sel darah, yang dapat membantu mendiagnosis kelainan seoerti anemia, penurunan trombosit (DBD) dan lain-lain NS 1 Adalah pemeriksaan yang akurat dan cepat untuk mendeteksi adanya penyakit demam berdarah dengue (DBD) Tes NS 1 sensitif untuk 3 hari pertama, hasil NS 1 terlihat 1 hari setelah demam Tubex Adalah pemeriksaan yang akurat dan cepat untuk mendeteksi timbulnya antibodi yang menandakan infeksi Salmonella typhi   
 13 Jan 2014    11:00 WIB
Dilema Seorang Dokter, antara Pemilihan Antibiotik dengan Kondisi Ekonomi Pasien
Infeksi bakteri sering menyulitkan klinisi, terutama dalam pemilihan obat terbaik yang bisa mencapai tingkat kesembuhan tinggi. Dalam praktek klinis, baik ditempat praktek swasta dokter maupun di rumah sakit, antibiotik diberikan sebagai profilaksis, pre-emptif, terapi empirik maupun terapi definitif. Sebagian besar terapi antibiotik dilakukan sebagai terapi empirik, karena biasanya pasien datang ke tempat praktek swasta dokter maupun ke rumah sakit sudah dengan kondisi infeksi namun belum diketahui hasil mikrobiologinya (mikroba patogen atau kolonisasi). Dalam terapi empirik, antibiotik yang diberikan adalah antibiotik spektrum luas, dengan memperhatikan 3 hal yaitu, patogen yang diperkirakan menyebabkan infeksi, pola resistensi dan penyebaran patogen di rumah sakit (lokal) dan faktor-faktor resiko yang ada pada pasien, termasuk resiko resistensi. Sayangnya tidak semua rumah sakit memiliki data tentang pola penyebaran patogen lokal maupun data tentang resistensi. Pun tidak semua dokter mengetahui peta kuman di sekitarnya dan kondisi imun pasien. Sebagai ilustrasi kasus, pasien laki-laki dewasa, perokok berat,tidak mau makan antibiotik, karena alasannya demam dan batuk-batuk yang di alaminya hanya keletihan dan virus influenza saja. Namun pada hari ke-6, pasien tersebut mengalami sesak nafas yang hebat, sedangkan demam dan batuk tak kunjung reda. Saat dibawa ke praktek swasta, dokter menyarankan agar segera dilarikan ke rumah sakit. Pasien tersebut diketahui menderita pneumonia (CAP). Sampai disini, Panduan antibiotik menurut ATS maupun IDSA untuk terapi antibiotik pasien CAP dengan late onset > 5 hari sudah memiliki resiko mikroba patogen yang resisten (MDR) dan karenanya harus diberikan antibiotik spektruk luas untuk patogen MDR. Untuk terapi CAP dengan late onset > 5 hari, biasanya diberikan kombinasi antibiotik. Untuk bakteri MDR, biasanya ulah dari mikroba cocci Gram positif maupun MRSA (meticilin resistens Staphylococcus aureus). Pilihannya adalah vancomycin atau linezolid. Karena ada studinya dan sesuai dengan panduan internasional (ATS, IDSA), bahwa pemberian baik vancomycin atau linezolid menunjukkan efikasi yang tinggi dan angka kesembuhan lebih baik dibandingkan dengan antibiotik golongan lainnya. Kembali sama pasien diatas, setelah kita jelaskan sama keluarga dan pasiennya sendiri, bahwa kita akan memberikan antibiotik vancomycin, namun kendalanya adalah harga obat yang mahal, sehingga baik keluarga dan pasien sendiri menolak diberikan antibiotik vancomycin dan meminta agar diberikan obat antibiotik yang murah dan setara dengan vancomycin. Sebagai dokter yang merawat, sudah barang tentu, hal ini menjadi dilematis, oleh karena tidak ada antibiotik yang murah tapi kekuatannya setara dengan pilihan vancomycin. Bila pasien menggunakan asuransi ASKES sebenarnya vancomycin sudah tersedia namun sayangnya regulasi dan peraturan dari ASKES bahwa harus ada kultur darah yang mendukung pemberian Vancomycin, sedangkan kita ketahui hasil kultur darah bisa menunggu 7 hari, apakah bijaksana membiarkan pasien tidak mendapat antibiotik hanya karena menunggu dulu hasil kutur selama 1 minggu ? Akhirnya setelah berpikir panjang, diputuskan antibiotik yang akan diberikan adalah cefotaxim generik. Lalu setelah pasien merasa pulih dan sehat, akhirnya pulang pada hari ke-7.     Namun setelah 3 minggu pulang, pasien tersebut kembali lagi ke rumah sakit dengan kondisi infeksi yang berat, demam, batuk-batuk disertai sesak nafas dan nyeri dada. Setelah melalui proses pemeriksaan penunjang, maka diketahui bahwa pasien mengalami kembali pneumonia, bahkan sudah taraf keracunan kuman (sepsis). Akibatnya pasien tidak hanya mengalami kerusakan pada paru-paru, tapi juga menderita gagal organ lainnya seperti hati dan ginjal sebagai akibat komplikasi dari sepsis. Pelajaran dari pasien tersebut bahwa, setiap keputusan pemilihan antibiotik mempunyai dampak terhadap kondisi infeksi pasien. Terulangnya kembali penyakit pneumonia pada penderita tersebut tidak lain karena antibiotik yang dipilihnya sudah tidak sensitif lagi. Sehingga terjadilah proses resistensi antibiotik dan menyebabkan kambuhnya kembali pneumonia yang bahkan sangat berat (pneumonia toksik). Di sisi lain, sebagai dokter, untuk memutuskan antibiotik yang sesuai dengan kondisi infeksi pasien diatas dan harus berdasarkan panduan (ATS, IDSA), juga harus melihat kondisi ekonomi keluarga penderita yang tidak mampu membelinya. Dalam hal ini tinjauan farmakoekonomi sangat berperan, namun tidak semua pasien mengerti dan memahaminya. Ketidak fahaman pasien pun pada akhirnya menyebabkan biaya yang dikeluarkannya bertambah banyak akibat dari kambuhnya kembali penyakit tersebut. Biaya rawat inap, dan belum lagi biaya tambahan bagi keluarga yang menunggu pasien. Padahal sebagai dokter, telah kita berikan informasi kepada pasien dan keluarga bahwa untuk kondisi pneumonia dengan late onset > 5 hari punya resiko kekambuhan terulangnya pneumonia dan antibiotik yang tepat berdasarkan panduan internasional adalah vancomycin dengan angka kesembuhan saat ini masih 100%, dan itu berarti pasien tidak akan mengalami kekambuhan kembali pneumonianya kelak. Oleh sebab itu, melalui artikel ini, mari kita mulai berhitung, mana pilihan kita ? Antara biaya obat antibiotik mahal yang harus dikeluarkan pasien namun dampaknya masa rawat inap yang singkat serta tingkat kesembuhan 100% dibandingkan dengan biaya obat antibiotik yang murah, akan tetapi pasien mengalami kekambuhan kembali penyakitnya sehingga harus masuk rumah sakit lagi ? Belum lagi masa rawat inap nya lebih lama menambah pula biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga dan pasien tersebut. Apapun keputusannya, maka kita harus menerimanya, asalkan dengan pemahaman yang baik dan benar, bukan pada prasangka buruk yang selalu berakhir dengan kerugian yang besar.