Your browser does not support JavaScript!
 28 Jan 2021    13:00 WIB
Mitos Seputar Perselingkuhan
Banyak orang menganggap bahwa pihak yang biasa berselingkuh adalah pria, akan tetapi ternyata tidak demikian, saat ini wanita pun telah banyak menjadi pihak yang berselingkuh. Berbagai anggapan yang salah atau mitos seputar perselingkuhan pun telah banyak berkembang. Di bawah ini terdapat beberapa mitos salah yang mungkin pernah Anda dengar. Saat Sebuah Perselingkuhan Diketahui, Maka Pernikahan Pun Akan Hancur Saat suatu perselingkuhan terjadi, maka timbullah rasa sakit hati, kecewa, sedih, marah, dan sebagainya. Akan tetapi, seiring dengan berlalunya waktu dan usaha yang keras, berbagai emosi negatif ini pun dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. Perselingkuhan memang menyakitkan, akan tetapi bila Anda dan pasangan berhasil melalui cobaan ini, maka hubungan Anda dan pasangan mungkin dapat menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Tentunya hal ini membutuhkan kerja sama dan kerja keras kedua belah pihak. Banyak orang mengira bahwa perselingkuhan berarti akhir dari suatu pernikahan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa banyak pernikahan yang dapat melalui cobaan ini? Untuk mempertahankan pernikahan, dibutuhkan kerja sama dan kerja keras dari kedua belah pihak untuk membangun kembali kepercayaan yang telah hilang pada salah satu pihak. Pada kenyataannya, perselingkuhan bukanlah penyebab utama hancurnya sebuah pernikahan, akan tetapi tinggal terpisah dan kurangnya komunikasi di antara pasangan. Penyebab Perselingkuhan Tidak Selalu Adalah Seks Memang benar beberapa perselingkuhan terjadi akibat tidak tercukupinya suatu kebutuhan emosional tertentu, akan tetapi pada beberapa orang perselingkuhan memang terjadi akibat seks. Tanpa Seks, Maka Sebuah Hubungan Bukanlah Suatu Perselingkuhan Banyak perselingkuhan terjadi tanpa seks. Banyak orang memulai perselingkuhan mereka dengan saling berkirim pesan singkat di malam hari mengenai berbagai hal, termasuk hal-hal yang sangat intim. Walaupun orang yang menjalaninya mungkin tidak menganggap hal ini sebagai suatu perselingkuhan, akan tetapi pasangannya mungkin menganggap sebaliknya. Perselingkuhan Terjadi Akibat Adanya Masalah Dalam Rumah Tangga Setiap pernikahan tentunya memiliki masalahnya masing-masing. Perselingkuhan tidak terjadi akibat adanya masalah dalam suatu pernikahan, tetapi terjadi akibat kedua belah pihak tidak dapat mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut. Sekali Berselingkuh, Pasti Berulang Kembali Memang benar terdapat beberapa orang di dunia ini yang memang merupakan seorang "tukang selingkuh" sejati; akan tetapi hal ini bukan berarti setiap orang yang pernah berselingkuh pasti akan mengulangi lagi perbuatannnya tersebut. Langkah pertama untuk memperbaiki hubungan Anda dengan pasangan Anda setelah sebuah perselingkuhan adalah dengan memberitahukan seluruh kebenaran mengenai perselingkuhan tersebut pada pasangan Anda. Pasangan Selingkuh Biasanya Merupakan Orang yang Lebih Muda atau Lebih Menarik Pasangan selingkuh tidak selalu merupakan seseorang yang lebih muda atau lebih cantik atau lebih tampan atau lebih kaya daripada pasangannya. Perselingkuhan Terjadi Karena Pria Selalu Mencari "Mangsa" Sebagian besar perselingkuhan justru terjadi pada orang-orang yang tidak berniat untuk melakukannya. Perselingkuhan biasanya dimulai dengan timbulnya rasa nyaman berada di dekat seseorang yang bukan pasangan Anda. Rasa nyaman ini kemudian dapat berlanjut menjadi saling memberitahukan rahasia terdalam dan perselingkuhan pun mulai berkembang. Baca juga: 4 Alasan Mengapa Pria Selingkuh Sumber: askmen
 18 Jan 2021    11:00 WIB
Belajar Mencintai Diri Sendiri
Kita cenderung lebih sering memberikan rasa sayang yang berlimpah kepada pasangan, anak-anak, keluarga, bahkan sahabat. Tapi justru orang yang paling penting, yaitu diri kita sendiri, luput dari perhatian. Saat ditanya mengenai prioritas hidup, kebanyakan kita menjawab: keluarga, kesuksesan, kesehatan, pendidikan, perjalanan, tapi kita lupa untuk memasukkan diri kita sendiri dalam daftar tersebut. Tanpa hadir di prioritas hidup, maka kita tidak akan belajar dan berusaha memberikan rasa cinta pada diri sendiri. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa membantu kita belajar mencintai diri: Terima diri sendiri Menerima diri sendiri dengan apa adanya dan berhenti mengkritik atau membandingkan diri dengan orang lain. Diri kita sempurna adanya, sayangi dan cintai seperti apa adanya. Jaga diri Menjadikan diri kita prioritas pertama dalam hidup dan juga berarti memberikan waktu yang lebih banyak untuk menjaga tiga hal utama dalam diri kita: - Tubuh (lakukan yoga, olahraga, makanan sehat, dan perawatan tubuh) - Pikiran (membaca, belajar hal baru, dan selalu berpikir positif) - Jiwa (berdoa, meditasi, liburan demi memperkaya dan menenangkan jiwa serta dekatkan diri dengan alam) Buat batasan Berani untuk berkata "tidak" dan menolak hal-hal yang tidak diinginkan, menyakitkan, melewati batas, serta melanggar nilai-nilai hidup yang kita pegang. Hal ini menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri, sehingga mampu membuat orang lain lebih menghargai diri kita. Sembuhkan luka Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa diri kita pernah terluka sekecil apapun itu. Rasa takut, trauma dan luka dalam hati adalah emosi negatif yang harus diproses dan dilepaskan dari pikiran dan hati agar dapat diisi kembali dengan rasa cinta. Meditasi dapat membantu kita memproses emosi negatif ini dengan lebih cepat, sehingga kita dapat memaafkan diri kita sendiri maupun orang lain, dan kembali memberikan rasa cinta dan bahagia. Penyembuhan luka yang tak terlihat ini sangat penting untuk mengembalikan rasa bahagia, respek, dan percaya pada diri sendiri. Baca juga: Bahagiakan Dirimu Sendiri Sebelum Membahagiakan Orang Lain
 16 Jan 2021    11:00 WIB
Jangan Baper! Ini Tanda Pria yang Cuma Ingin Berteman
Pernah enggak merasa digodain, diperhatiin, dan dibaik-baikin cowok, yang berujung bikin kita baper, tapi akhirnya dia malah jadian sama cewek lain? Pasti rasanya hati kita bercampur aduk, mulai dari malu, kesel, dan kecewa! Nah, buat kita yang enggak bisa bedakan cowok yang ngajak PDKT beneran atau memang cuma pengin berteman, lebih baik lihat tanda-tanda ini, ya! Percaya deh, bahasa tubuh enggak bakalan bisa bohong! Cowok yang benar-benar ingin PDKT sama kita biasanya punya kecenderungan untuk punya bahasa tubuh yang terasa lebih dekat dan intim sama kita, misalnya ingin selalu dekat sama kita, mencoba untuk memegang tangan kita, menatap mata kita. Ada pula bahasa tubuh yang lebih lembut, seperti tubuh yang selalu condong dan menghadap kita, kakinya yang selalu tertuju pada kita ketika dia lagi menyilangkan kaki, dan mata yang lebih melebar pas lagi melihat kita. Nah, kalau kita melihat dia punya bahasa tubuh yang sama ke orang lain, coba hati-hati, bisa jadi dia memang seorang playboy! Dia perhatian ke siapa aja? Jangan langsung baper kalau dia terlihat baik dan perhatian sama kita. Perhatikan dengan baik, selama ini dia juga baik, perhatian,dan menggoda cewek lain atau enggak ya? Kalau misalnya dia benar-benar hanya baik, perhatian, dan menggoda kita aja, itu tandanya dia benar-benar serius ingin mencoba PDKT-in kita, girls! Gimana jenis obrolan kalian? Selama ini, apa aja yang sudah kalian obrolkan? Kalau obrolan yang selama ini kalian lakukan adalah obrolan yang lebih personal dan terlihat dia seperti ingin mencari tahu diri kita yang sebenarnya, tandanya dia benar-benar ingin PDKT! Karena biasanya kalau cowok ingin berteman, kita hanya akan nemuin obrolan soal hal-hal yang biasa, bercanda, dan gosipin orang lain! Lihat juga gimana caranya dia ngasih pujian buat kita. Kalau niat dia cuma berteman, dia enggak bakalan malu-malu ngomong kalau kita menarik. Namun kalau niatnya buat PDKT, dia bakalan lebih malu dan pujian biasanya terlontar lewat chat, nih. Balas perhatian & godaannya Cara paling tepat dan cepat untuk memastikan dia cuma ingin berteman atau benar-benar ingin PDKT adalah dengan membalas perhatian dan godaan yang dia berikan pada kita. Kalau dia kelihatan awkward dan malah mencoba mengganti topik pembicaraan, tandanya dia memang cuma pengin berteman sama kita, girls. Sebaliknya, kalau dia makin membalas perhatian dan godaan kita, tandanya dia memang benar-benar ingin menjalin hubungan sama kita! Namun ingat, hanya lakukan cara ini kalau kita juga punya perasaan ke dia, ya! Baca juga: Dilarang Baper! Ini Tata Tertib Friends With Benefits Sumber: Cewek Banget
 13 Jan 2021    17:00 WIB
5 Sifat Wanita yang Disukai Pria
1. Selera humor yang baik Salah satu cara terbaik untuk merebut perhatian laki-laki adalah dengan menanggapi lelucon yang dilontarkan pria, bukan hanya sekadar menanggapinya. Jika Anda hanya tertawa saja di akhir setiap lelucon, apalagi jika kemudian Anda terdiam dan menunggu hingga mereka melontarkan lelucon lain, dapat membuat pria jadi tidak tertarik dengan Anda. Mereka membutuhkan teman untuk diajak bicara juga, bukan sekadar "penggemar". 2. Anda tak terobsesi dengan urusan penampilan Pria menyukai wanita yang peduli akan penampilannya, tapi bukan berarti Anda harus menjadi superficial, bukan? Pria menyukai saat Anda tahu bahwa kecantikan bukan hanya didapat dari penampilan, tapi juga kepercayaan diri tak peduli apa yang Anda kenakan. 3. Anda peduli kesehatan, tapi tak berlebihan Pastinya pria suka saat wanita yang disukainya memiliki tubuh yang bagus, tapi tidak demikian jika ia lebih banyak menghabiskan waktu di gym ketimbang dengan mereka. Mereka juga akan memaklumi jika Anda sesekali makan salad saat kencan, tapi bukan berarti Anda harus terus memesan salad di tiap kesempatan, bukan? 4. Anda passionate, tapi bukan fanatik Ketika seseorang amat passionate tentang sesuatu, hal itu sangat inspiratif bagi orang-orang di sekitarnya. Baik jika itu pekerjaan, hobi, atau lainnya, pria senang melihat seorang wanita passionate, bahkan berapi-api, saat membahas suatu hal yang penting baginya. Tentu saja, asalkan tidak berlebihan. 5. Anda memiliki hubungan pertemanan yang solid Bagi pria, mendekati seorang wanita yang dikelilingi teman-temannya memang terasa menakutkan, tapi mendekati a lone she-wolf bahkan lebih menakutkan lagi. Pria senang saat wanita yang disukainya memiliki support system yang solid saat Anda membutuhkannya, karena dari situ pula ia bisa "menentukan" karakter Anda saat berhubungan dengan orang lain. Baca juga: 4 Tanda Seorang Pria Telah Jatuh Cinta Pada Anda
 13 Jan 2021    13:00 WIB
Kenapa Wanita Sulit Mencapai Orgasme?
Orgasme memberikan banyak manfaat bagi orang yang mengalaminya seperti melatih jantung Anda, membantu meredakan stres, selain itu untuk Anda wanita akan membuat Anda semakin cantik karena saat orgasme membantu memproduksi hormon estrogen yang bisa kulit wanita jadi lebih halus dan bersinar. Namun tidak semua wanita bisa merasakan orgasme. Hal ini bisa disebabkan karena sang pria mengacaukan ritme bercinta saat sang wanita hampir mencapai orgasme dan akhirnya gagal merasakan orgasme. Agar hal ini terjadi, sebaiknya Anda mempelajari dan menghindari penyebab wanita gagal merasakan orgasme. Ini penyebab wanita gagal merasakan orgasme: Tekanan yang berlebihan Untuk seorang wanita untuk dapat meningkatkan libido memang membutuhkan foreplay yang cukup. Apabila sang pria melakukan tekanan berlebihan pada klitoris sebelum melakukan  foreplay yang cukup dapat membuat wanita gagal mencapai orgasme. Oleh karena itu lakukan foreplay yang cukup sebelum menekan g-spot wanita dan lakukan dengan perlahan. Terlalu sering bertanya Terlalu banyak bertanya apakah wanita sudah mencapai orgasme bisa membuatnya kehilangan konsentrasi dan memicu rasa cemas yang membuatnya gagal mencapai orgasme. Ada baiknya sang pria lebih tenang dan ikut membantu wanita untuk mencapai klimaks. Mengubah kecepatan Ketika seorang wanita mendekati orgasme, mereka membutuhkan tekanan dan irama yang konstan selama beberapa saat. Untuk itu, pria harus bisa memastikan bahwa mereka telah memberikan kecepatan yang konstan sama dalam beberapa saat sebelum wanita mencapai orgasme. Jika pria tiba-tiba memutuskan untuk meningkatkan kecepatan saat wanita hampir mencapai puncak, hal itu bisa saja menggagalkan orgasme. Karena hal itu bisa menghilangkan fokus wanita. Kurang komunikasi Setiap wanita memiliki titik sensitif yang berbeda, sedangkan pria selalu berpikir hanya di daerah vagina titik sensitif wanita. Padahal ada beberapa titik sensitif yang dapat pria rangsang untuk membantu mempercepat terjadinya orgasme. Jadi komunikasikan hal ini pada suami Anda untuk lebih tahu kebutuhan Anda. Tidak antusias Wanita berbeda dengan pria, seringkali lebih banyak memainkan perasaan dan berpikir hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh pria. Saat wanita melihat pria kurang antusias bisa saja hal ini mencegah wanita merasakan klimaks. Jadi bila Anda ingin merasakan orgasme, hindari semua penyebab yang dapat mengganggu tercapainya klimaks. Baca juga: Sulit Orgasme? Coba Tips Ini Sumber: menshealth
 04 Jan 2021    11:16 WIB
Keuntungan Sahabat Jadi Pacar
Saat Anda mulai memacari sahabat sendiri, banyak hal yang Anda dapatkan: seorang pelindung, rasa percaya diri, juga niat kuat untuk memastikan agar hubungan baru ini berhasil. Berikut beberapa keuntungan dari pacaran dengan sahabat yang akan membuat Anda menyadari bahwa it is absolutely worth it: Anda tahu persis apa yang dipikirkannya Oke, mungkin tidak 100% tahu persis apa yang ada dalam pikirannya, tapi paling tidak, very close to 100%. Anda sudah bersahabat sejak lama, sehingga sudah hafal hal-hal yang membuatnya senang ataupun mengganggunya, bahkan bisa jadi Anda sudah hafal tabiatnya saat berhadapan dengan situasi tertentu. Jika biasanya hubungan baru seringkali dipenuhi keraguan di antara kedua belah pihak, kali ini rasanya Anda tak perlu melalui tahap itu. Anda tak akan berhenti saling meledek satu sama lain Dengan berubahnya status Anda berdua, bukan berarti Anda akan kesulitan untuk saling bercanda atau make fun of each other. Sebaliknya, ada suatu kenyamanan tersendiri yang didapatkan saat Anda pacaran dengan sahabat sendiri. Tak ada lagi fase "jaga image", Anda sudah merasa begitu nyaman dengan kehadiran masing-masing, sehingga keintiman pun lebih mudah didapatkan. Paling tidak, jika biasanya bercandaan kalian berakhir dengan pukulan ringan dan playful di lengan, kini bisa diakhiri dengan kecupan manis di dahi atau pipi. Fun, right? Pertengkaran pertama Anda akan terjadi lebih cepat dari perkiraan - but it's OK Sahabat Anda sudah tahu betul apa yang membuat Anda kesal, begitu pun sebaliknya. Lebih baiknya lagi, baik Anda maupun sahabat tak pernah menahan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya meskipun ada risiko perkataan tersebut akan menyakiti perasaan pasangan. Tapi, kedua belah pihak pun sudah tahu cara terbaik untuk berbaikan. Baca juga: Pacaran Sama Brondong? Siapa Takut
 01 Jan 2021    19:00 WIB
Kunci Hidup Bahagia Setelah Menikah
Apakah Anda sudah menikah? Bila belum maka Anda mungkin sudah sering mendengar berbagai mitos mengenai apa itu sebenarnya pernikahan yang bahagia dan apa jadinya hubungan sepasang kekasih setelah mereka menikah dan menjadi suami istri. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa mitos yang salah mengenai pernikahan dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan pernikahan. 50% Pernikahan Berakhir Dengan Perceraian Anggapan salah ini dimulai pada tahun 1970an saat pengadilan memutuskan perceraian diperbolehkan dan banyak orang mulai melakukannya. Pada pertengahan tahun 80an, angka perceraian bahkan mencapai puncaknya hingga 66%. Akan tetapi, angka ini telah menurun sekarang. Menurut sebuah data dari lembaga sensus di Amerika pada tahun 2009, hanya sekitar 30.8% pernikahan berakhir dengan perceraian. Dan pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, hanya sekitar 3.6 orang yang bercerai di antara 1.000 orang yang telah menikah. Pasangan yang Bahagia Tidak Pernah Bertengkar Tahukah Anda bahwa jarang bertengkar justru merupakan pertanda bahwa Anda dan pasangan tidak pernah menyelesaikan permasalahan yang ada di antara kalian? Menurut seorang ahli yang telah meneliti sekitar 350 orang pasangan selama 28 tahun, kebahagiaan selalu diiringi dengan pertengkaran. Menurutnya, apa yang membedakan pernikahan yang bahagia dan tidak adalah kemampuan kedua belah pihak untuk belajar menghadapi konflik dan perbedaan pendapat dengan cara yang sehat dan produktif. Selain itu, sebuah penelitian dari the University of Tennessee menunjukkan bahwa pasangan yang mengakui bahwa mereka pun pernah bertengkar justru merasa lebih bahagia mengenai hubungan mereka dalam jangka panjang. Baca juga: Jatuh Cinta Kembali Pada Suami Pasangan yang Memiliki Anak Lebih Bahagia Daripada yang Tidak Memiliki Anak Sebuah penelitian dari United Kingdom’s Open University menemukan bahwa pasangan suami istri yang tidak memiliki anak, rata-rata, justru merasa lebih bahagia dalam kehidupan asmara mereka dibandingkan dengan pasangan yang telah memiliki anak. Penurunan rasa bahagia ini bukan berarti bahwa rasa sayang yang dirasakan oleh pasangan suami istri yang telah memiliki anak tersebut juga berkurang. Akan tetapi, hal ini hanya menunjukkan bahwa semakin banyak tanggung jawab dan peran yang harus mereka jalani (misalnya menjadi pasangan, orang tua, karyawan, pelajar, dan lain sebagainya) membuat mereka memiliki waktu dan energi yang lebih sedikit untuk pasangannya. Kehidupan Seks Orang yang Telah Menikah Buruk Sebuah penelitian yang dilakukan oleh the Center for Sexual Health Promotion di Indiana University menunjukkan bahwa seorang wanita yang telah menikah justru melakukan hubungan seks lebih sering dibandingkan dengan wanita yang telah memiliki pasangan tetapi belum menikah. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan oleh Penn State juga menunjukkan bahwa rasa cinta dan komitmen yang ada di dalam kehidupan pernikahan cenderung membuat hubungan seks terasa lebih memuaskan bagi seorang wanita. Jika Telah Tinggal Bersama Sebelum Menikah, Maka Resiko Perceraian Pun Lebih Tinggi Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, para peneliti menemukan bahwa status pernikahan (sudah menikah atau belum) sepasang kekasih saat mereka memutuskan untuk tinggal bersama tidak terlalu mempengaruhi kebahagiaan mereka dalam kehidupan pernikahan.Pada penelitian yang dilakukan pada lebih dari 7.000 orang pasangan, para peneliti dari the University of North Carolina di Greensboro justru menemukan bahwa berapa usia pasangan tersebut saat mulai tinggal bersamalah yang lebih menentukan. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa bila pasangan baru berusia 18 tahun saat memutuskan untuk tinggal bersama atau menikah, maka resiko perceraian mereka pun mencapai angka 60%. Sementara itu, bila sepasang kekasih telah berusia 23 tahun saat mereka memutuskan untuk tinggal bersama atau menikah, maka resiko perceraian mereka pun hanya sekitar 30%. Jika Anda Sungguh-sungguh Mencintai Pasangan Anda, Maka Gairah Tidak Akan Pernah Pudar Gairah sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya hal baru dan misteri. Hal inilah yang seringkali membuat gairah di antara sepasang suami istri mulai memudar saat pernikahan telah berusia 12-16 bulan. Walaupun gairah memang akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu, akan tetapi gairah ini biasanya akan digantikan oleh jenis rasa cinta lainnya yang membuat kehidupan pernikahan sepasang suami istri menjadi langgeng dan penuh kebahagiaan. Baca juga: Ini Cara Pasangan Bahagia Mengatasi Pertengkaran Sumber: womenshealthmag
 29 Dec 2020    13:00 WIB
Putus Cinta? Jangan Lakukan 5 Hal Ini Ya, Ladies!
Ketika hubungan percintaan mu berakhir, rasanya memang sedih dan galau. Hal itu lumrah kok saat kamu kehilangan seseorang yang sudah bersama dalam waktu yang cukup lama. Tapi... ada beberapa hal yang sebaiknya kamu tidak lakukan ketika kamu putus cinta ya. Apa saja itu? Yuk kita bahas. Meminta atau Memohonnya Agar Tak Putus dengan Anda BIG NO! Saat-saat baru putus adalah masa di mana Anda masih amat vulnerable, hingga emosi dan pikiran pun seringkali "kacau" - dan tak hanya Anda saja, ini pun bisa dialami oleh si mantan. Kalau pun ia setuju untuk kembali berpacaran dengan Anda, biasanya yang terjadi adalah masa-masa "balikan" ini bersifat temporer. Akuilah kenyataan bahwa jika ia (kasarnya) "dipaksa" untuk kembali berpacaran dengan Anda, maka fondasi awal hubungan Anda juga sudah tak baik. Menghubunginya Demi mendapatkan pikiran jernih dan perspektif baru yang Anda butuhkan, maka Anda harus berhenti berhubungan dengan mantan Anda. Hal ini berarti: tak ada telepon, SMS, chat, e-mail, bahkan saling stalking lewat media sosial. Pokoknya, absolutely nothing! Jika Anda ingin move on dengan hidup Anda, maka Anda tak akan membuatnya lebih mudah dengan menghubungi si mantan. Menjelek-jelekan Mantan di hadapan Orang Lain Ah, poin yang satu ini memang "menggoda" sekali. Amat mudah, dan juga therapeutic, jika Anda bisa curhat kepada teman-teman dan membeberkan segala keburukan dari sang mantan. Selain membuat lega, Anda juga pasti mendapatkan simpati dari teman-teman, belum lagi kalau Anda bisa sekalian merencanakan skenario "balas dendam" dengan mereka. Well, honey, don't do it. Anda tentu lebih classy dari itu. Percayalah bahwa karma itu ada, dan bisa menimpa Anda berdua. Jadi jika ia benar-benar menyakiti Anda, just grit your teeth and let it go. Tetap Berhubungan dengan Teman-temannya Poin yang satu ini memang sulit, apalagi jika Anda sendiri sudah berteman dekat dengan teman-temannya. Namun, jika Anda benar-benar ingin melanjutkan hidup dan tak terpaku pada mantan, maka hal ini terpaksa dilakukan agar tak menghambat progres Anda. Jika perlu, Anda bisa menjelaskan kepada mereka, dan mereka akan mengerti. Jika Anda sudah move on, barulah Anda bisa kembali menghubungi mereka. Mencari Pelarian Satu lagi poin yang menggoda. Anda rindu sang mantan, ingin menghubunginya, dan merasa kesepian. Solusinya: mencari pria terdekat yang bisa dijadikan fling sementara, dan... hello, rebound guy! Ketahuilah bahwa Anda tidak sedang berpikir secara logis dan lebih gegabah dalam membuat keputusan. Jangan jadikan pria tak bersalah sebagai korban atas perasaan Anda yang tersakiti. Bila memang Anda butuh "distraction", maka tunggulah beberapa bulan, dan biarkan prospek cinta baru mendekati Anda... siapa tahu, ia akan jadi pacar Anda yang berikutnya! Baca juga: Ciri-ciri Mantan yang Belum Bisa Move On Sumber: Herworld