Your browser does not support JavaScript!
 18 Jan 2021    11:00 WIB
Belajar Mencintai Diri Sendiri
Kita cenderung lebih sering memberikan rasa sayang yang berlimpah kepada pasangan, anak-anak, keluarga, bahkan sahabat. Tapi justru orang yang paling penting, yaitu diri kita sendiri, luput dari perhatian. Saat ditanya mengenai prioritas hidup, kebanyakan kita menjawab: keluarga, kesuksesan, kesehatan, pendidikan, perjalanan, tapi kita lupa untuk memasukkan diri kita sendiri dalam daftar tersebut. Tanpa hadir di prioritas hidup, maka kita tidak akan belajar dan berusaha memberikan rasa cinta pada diri sendiri. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa membantu kita belajar mencintai diri: Terima diri sendiri Menerima diri sendiri dengan apa adanya dan berhenti mengkritik atau membandingkan diri dengan orang lain. Diri kita sempurna adanya, sayangi dan cintai seperti apa adanya. Jaga diri Menjadikan diri kita prioritas pertama dalam hidup dan juga berarti memberikan waktu yang lebih banyak untuk menjaga tiga hal utama dalam diri kita: - Tubuh (lakukan yoga, olahraga, makanan sehat, dan perawatan tubuh) - Pikiran (membaca, belajar hal baru, dan selalu berpikir positif) - Jiwa (berdoa, meditasi, liburan demi memperkaya dan menenangkan jiwa serta dekatkan diri dengan alam) Buat batasan Berani untuk berkata "tidak" dan menolak hal-hal yang tidak diinginkan, menyakitkan, melewati batas, serta melanggar nilai-nilai hidup yang kita pegang. Hal ini menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri, sehingga mampu membuat orang lain lebih menghargai diri kita. Sembuhkan luka Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa diri kita pernah terluka sekecil apapun itu. Rasa takut, trauma dan luka dalam hati adalah emosi negatif yang harus diproses dan dilepaskan dari pikiran dan hati agar dapat diisi kembali dengan rasa cinta. Meditasi dapat membantu kita memproses emosi negatif ini dengan lebih cepat, sehingga kita dapat memaafkan diri kita sendiri maupun orang lain, dan kembali memberikan rasa cinta dan bahagia. Penyembuhan luka yang tak terlihat ini sangat penting untuk mengembalikan rasa bahagia, respek, dan percaya pada diri sendiri. Baca juga: Bahagiakan Dirimu Sendiri Sebelum Membahagiakan Orang Lain
 16 Jan 2021    11:00 WIB
Jangan Baper! Ini Tanda Pria yang Cuma Ingin Berteman
Pernah enggak merasa digodain, diperhatiin, dan dibaik-baikin cowok, yang berujung bikin kita baper, tapi akhirnya dia malah jadian sama cewek lain? Pasti rasanya hati kita bercampur aduk, mulai dari malu, kesel, dan kecewa! Nah, buat kita yang enggak bisa bedakan cowok yang ngajak PDKT beneran atau memang cuma pengin berteman, lebih baik lihat tanda-tanda ini, ya! Percaya deh, bahasa tubuh enggak bakalan bisa bohong! Cowok yang benar-benar ingin PDKT sama kita biasanya punya kecenderungan untuk punya bahasa tubuh yang terasa lebih dekat dan intim sama kita, misalnya ingin selalu dekat sama kita, mencoba untuk memegang tangan kita, menatap mata kita. Ada pula bahasa tubuh yang lebih lembut, seperti tubuh yang selalu condong dan menghadap kita, kakinya yang selalu tertuju pada kita ketika dia lagi menyilangkan kaki, dan mata yang lebih melebar pas lagi melihat kita. Nah, kalau kita melihat dia punya bahasa tubuh yang sama ke orang lain, coba hati-hati, bisa jadi dia memang seorang playboy! Dia perhatian ke siapa aja? Jangan langsung baper kalau dia terlihat baik dan perhatian sama kita. Perhatikan dengan baik, selama ini dia juga baik, perhatian,dan menggoda cewek lain atau enggak ya? Kalau misalnya dia benar-benar hanya baik, perhatian, dan menggoda kita aja, itu tandanya dia benar-benar serius ingin mencoba PDKT-in kita, girls! Gimana jenis obrolan kalian? Selama ini, apa aja yang sudah kalian obrolkan? Kalau obrolan yang selama ini kalian lakukan adalah obrolan yang lebih personal dan terlihat dia seperti ingin mencari tahu diri kita yang sebenarnya, tandanya dia benar-benar ingin PDKT! Karena biasanya kalau cowok ingin berteman, kita hanya akan nemuin obrolan soal hal-hal yang biasa, bercanda, dan gosipin orang lain! Lihat juga gimana caranya dia ngasih pujian buat kita. Kalau niat dia cuma berteman, dia enggak bakalan malu-malu ngomong kalau kita menarik. Namun kalau niatnya buat PDKT, dia bakalan lebih malu dan pujian biasanya terlontar lewat chat, nih. Balas perhatian & godaannya Cara paling tepat dan cepat untuk memastikan dia cuma ingin berteman atau benar-benar ingin PDKT adalah dengan membalas perhatian dan godaan yang dia berikan pada kita. Kalau dia kelihatan awkward dan malah mencoba mengganti topik pembicaraan, tandanya dia memang cuma pengin berteman sama kita, girls. Sebaliknya, kalau dia makin membalas perhatian dan godaan kita, tandanya dia memang benar-benar ingin menjalin hubungan sama kita! Namun ingat, hanya lakukan cara ini kalau kita juga punya perasaan ke dia, ya! Baca juga: Dilarang Baper! Ini Tata Tertib Friends With Benefits Sumber: Cewek Banget
 13 Jan 2021    17:00 WIB
5 Sifat Wanita yang Disukai Pria
1. Selera humor yang baik Salah satu cara terbaik untuk merebut perhatian laki-laki adalah dengan menanggapi lelucon yang dilontarkan pria, bukan hanya sekadar menanggapinya. Jika Anda hanya tertawa saja di akhir setiap lelucon, apalagi jika kemudian Anda terdiam dan menunggu hingga mereka melontarkan lelucon lain, dapat membuat pria jadi tidak tertarik dengan Anda. Mereka membutuhkan teman untuk diajak bicara juga, bukan sekadar "penggemar". 2. Anda tak terobsesi dengan urusan penampilan Pria menyukai wanita yang peduli akan penampilannya, tapi bukan berarti Anda harus menjadi superficial, bukan? Pria menyukai saat Anda tahu bahwa kecantikan bukan hanya didapat dari penampilan, tapi juga kepercayaan diri tak peduli apa yang Anda kenakan. 3. Anda peduli kesehatan, tapi tak berlebihan Pastinya pria suka saat wanita yang disukainya memiliki tubuh yang bagus, tapi tidak demikian jika ia lebih banyak menghabiskan waktu di gym ketimbang dengan mereka. Mereka juga akan memaklumi jika Anda sesekali makan salad saat kencan, tapi bukan berarti Anda harus terus memesan salad di tiap kesempatan, bukan? 4. Anda passionate, tapi bukan fanatik Ketika seseorang amat passionate tentang sesuatu, hal itu sangat inspiratif bagi orang-orang di sekitarnya. Baik jika itu pekerjaan, hobi, atau lainnya, pria senang melihat seorang wanita passionate, bahkan berapi-api, saat membahas suatu hal yang penting baginya. Tentu saja, asalkan tidak berlebihan. 5. Anda memiliki hubungan pertemanan yang solid Bagi pria, mendekati seorang wanita yang dikelilingi teman-temannya memang terasa menakutkan, tapi mendekati a lone she-wolf bahkan lebih menakutkan lagi. Pria senang saat wanita yang disukainya memiliki support system yang solid saat Anda membutuhkannya, karena dari situ pula ia bisa "menentukan" karakter Anda saat berhubungan dengan orang lain. Baca juga: 4 Tanda Seorang Pria Telah Jatuh Cinta Pada Anda
 13 Jan 2021    13:00 WIB
Kenapa Wanita Sulit Mencapai Orgasme?
Orgasme memberikan banyak manfaat bagi orang yang mengalaminya seperti melatih jantung Anda, membantu meredakan stres, selain itu untuk Anda wanita akan membuat Anda semakin cantik karena saat orgasme membantu memproduksi hormon estrogen yang bisa kulit wanita jadi lebih halus dan bersinar. Namun tidak semua wanita bisa merasakan orgasme. Hal ini bisa disebabkan karena sang pria mengacaukan ritme bercinta saat sang wanita hampir mencapai orgasme dan akhirnya gagal merasakan orgasme. Agar hal ini terjadi, sebaiknya Anda mempelajari dan menghindari penyebab wanita gagal merasakan orgasme. Ini penyebab wanita gagal merasakan orgasme: Tekanan yang berlebihan Untuk seorang wanita untuk dapat meningkatkan libido memang membutuhkan foreplay yang cukup. Apabila sang pria melakukan tekanan berlebihan pada klitoris sebelum melakukan  foreplay yang cukup dapat membuat wanita gagal mencapai orgasme. Oleh karena itu lakukan foreplay yang cukup sebelum menekan g-spot wanita dan lakukan dengan perlahan. Terlalu sering bertanya Terlalu banyak bertanya apakah wanita sudah mencapai orgasme bisa membuatnya kehilangan konsentrasi dan memicu rasa cemas yang membuatnya gagal mencapai orgasme. Ada baiknya sang pria lebih tenang dan ikut membantu wanita untuk mencapai klimaks. Mengubah kecepatan Ketika seorang wanita mendekati orgasme, mereka membutuhkan tekanan dan irama yang konstan selama beberapa saat. Untuk itu, pria harus bisa memastikan bahwa mereka telah memberikan kecepatan yang konstan sama dalam beberapa saat sebelum wanita mencapai orgasme. Jika pria tiba-tiba memutuskan untuk meningkatkan kecepatan saat wanita hampir mencapai puncak, hal itu bisa saja menggagalkan orgasme. Karena hal itu bisa menghilangkan fokus wanita. Kurang komunikasi Setiap wanita memiliki titik sensitif yang berbeda, sedangkan pria selalu berpikir hanya di daerah vagina titik sensitif wanita. Padahal ada beberapa titik sensitif yang dapat pria rangsang untuk membantu mempercepat terjadinya orgasme. Jadi komunikasikan hal ini pada suami Anda untuk lebih tahu kebutuhan Anda. Tidak antusias Wanita berbeda dengan pria, seringkali lebih banyak memainkan perasaan dan berpikir hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh pria. Saat wanita melihat pria kurang antusias bisa saja hal ini mencegah wanita merasakan klimaks. Jadi bila Anda ingin merasakan orgasme, hindari semua penyebab yang dapat mengganggu tercapainya klimaks. Baca juga: Sulit Orgasme? Coba Tips Ini Sumber: menshealth
 09 Jan 2021    17:00 WIB
Pacaran Beda Agama, Harus Bagaimana?
Kamu yakin sama dia yang beda kepercayaan? Kalau sudah beda keyakinan, rasanya enggak mungkin bisa disatukan -- begitu anggapan orang banyak. Dalam menjalani sebuah hubungan, akan selalu ada tantangan yang harus dilewati. Dalam hal ini adalah perbedaan agama antara kamu dan pasangan. Tak sedikit yang akhirnya memutuskan berpisah karena perbedaan ini, namun ada juga yang berusaha bertahan. Saat ini kita bukan lagi mencari jawaban atas pertanyaan "Apakah pacaran beda agama itu salah?" BUKAN. Tapi kita akan membahas hal-hal yang mungkin akan kalian hadapi dan persiapkan ketika kalian memilih bertahan. Saat memutuskan pilihan untuk bertahan, kamu dan pasangan harus tahu bahwa perjalanan pacaran berbeda agama tak semudah menjalani hubungan dengan pasangan yang seagama denganmu. Berikut ini beberapa hal yang mungkin akan kalian hadapi kedepannya: Sulit Mendapat Restu Keluarga Apakah kamu siap menghadapi kemungkinan tersebut? Entah dengan cara halus ataupun keras, keluargamu mungkin akan menyuruhmu untuk memutuskan hubungan dengan pacarmu. Kalau sudah begitu, pilihanmu cuma dua: mengikuti perintah mereka dan memutuskan pacarmu atau berupaya sekuat tenaga agar keluargamu akhirnya bisa memberi restu. Ingat, tidak ada pilihan yang bebas dari konsekuensi, jadi kalian harus sama-sama siap menanggung akibat apapun yang muncul dari pilihan kalian. Tekanan Orang Sekitarmu Kamu mungkin berpikir, "Ya cuekin aja orang-orang kayak gitu!". Mengatakannya memang gampang, tapi melakukannya tidak semudah itu. Sebuah komentar negatif bisa sangat menyakitkan hati dan membuat stres. Kalaupun kamu kuat menghadapinya, apakah pacarmu sama kuatnya denganmu? Jangan egois, pikirkan juga perasaan pacarmu lalu putuskanlah apa yang terbaik bagi kamu dan dia. Keinginan yang Tak Bisa Terwujud, yaitu Beribadah Bersama Sekilas, hal itu kedengarannya bukan sebuah masalah besar. Tapi sewaktu-waktu dalam hatimu bisa muncul keinginan untuk beribadah bersama dengan pacar, yang sayangnya tidak bisa diwujudkan. Apakah kamu tahan menghadapi perasaan itu? Dan bagaimana dengan pacarmu? Renungkanlah baik-baik, supaya itu tidak menjadi beban pikiran bagi kalian. Dorongan untuk Berpindah Agama Pemikiran seperti itu sebenarnya sah-sah saja. Tidak ada salahnya mempelajari sebuah keyakinan baru dan membandingkannya dengan keyakinanmu yang sekarang. Justru hal itu bagus, karena itu berarti kamu ingin memeluk agama yang benar-benar kamu yakini, bukan semata-mata karena orang tua dan keluargamu menganut agama tersebut. Tapi hati-hati, kamu harus bisa memisahkan antara rasa cintamu pada pacar dengan keinginan untuk mempelajari keyakinan baru. Jika kamu memilih pindah agama karena benar-benar yakin, itu bagus. Tapi jangan pindah agama hanya demi menyenangkan pacarmu karena hal itu tidak akan bermanfaat bagimu ataupun baginya. --- Atas dasar kemauan dan komitmen, kamu dan pasangan berusaha untuk menghadapinya berdua. Lalu, apa yang bisa dilakukan? Hadapi pacaran beda agama dengan cara ini: Pahami perbedaan budaya yang akan dijalani Agama adalah prinsip atau pedoman hidup yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, rutinitas seseorang biasanya akan mengacu pada ajaran agama yang dianutnya. Dalam menjalani hubungan beda agama, kalian harus bisa memahami dan mengerti rutinitas masing-masing yang mengacu pada agama atau bagaimana kalian memaknai sebuah peristiwa hingga mengekspresikan emosi. Saling mendalami agama yang dianut Lakukan tanpa paksaan. Kalian bisa saling berbagi informasi soal agama masing-masing sehingga kamu dan si dia bisa lebih memahami pribadi masing-masing. Namun, sebaiknya kamu sudah mendalami agamamu lebih dulu sebelum membaginya dengan pasangan. Tidak mencoba mengubah keyakinan pasangan Jangan pernah berpikir untuk mengubah keyakinan pasangan demi membuat hubungan kalian lebih lancar, apalagi kalau si dia ternyata punya keyakinan yang cukup kuat. Bukan hanya hal ini hanya akan memicu konflik besar, kamu juga akan memberikan kesan tidak bisa menerima pasangan seutuhnya. Mendiskusikan masa depan Mungkin hubungan kalian sudah cukup serius. Ada baiknya untuk mendiskusikan soal masa depan, seperti bagaimana upacara pernikahan nanti? Mungkinkah upacara pernikahan dilakukan dalam dua agama? Bagaimana agama yang akan dianut oleh anak-anak kalian nanti? Pastikan kamu dan pasangan mendiskusikan hal ini agar tak ada "kejutan" di masa depan. Selain itu, kalian pun akan merasa lebih yakin dan aman saat menjalani hubungan berdua. Sumber: IDN Times & Herworld
 04 Jan 2021    11:16 WIB
Keuntungan Sahabat Jadi Pacar
Saat Anda mulai memacari sahabat sendiri, banyak hal yang Anda dapatkan: seorang pelindung, rasa percaya diri, juga niat kuat untuk memastikan agar hubungan baru ini berhasil. Berikut beberapa keuntungan dari pacaran dengan sahabat yang akan membuat Anda menyadari bahwa it is absolutely worth it: Anda tahu persis apa yang dipikirkannya Oke, mungkin tidak 100% tahu persis apa yang ada dalam pikirannya, tapi paling tidak, very close to 100%. Anda sudah bersahabat sejak lama, sehingga sudah hafal hal-hal yang membuatnya senang ataupun mengganggunya, bahkan bisa jadi Anda sudah hafal tabiatnya saat berhadapan dengan situasi tertentu. Jika biasanya hubungan baru seringkali dipenuhi keraguan di antara kedua belah pihak, kali ini rasanya Anda tak perlu melalui tahap itu. Anda tak akan berhenti saling meledek satu sama lain Dengan berubahnya status Anda berdua, bukan berarti Anda akan kesulitan untuk saling bercanda atau make fun of each other. Sebaliknya, ada suatu kenyamanan tersendiri yang didapatkan saat Anda pacaran dengan sahabat sendiri. Tak ada lagi fase "jaga image", Anda sudah merasa begitu nyaman dengan kehadiran masing-masing, sehingga keintiman pun lebih mudah didapatkan. Paling tidak, jika biasanya bercandaan kalian berakhir dengan pukulan ringan dan playful di lengan, kini bisa diakhiri dengan kecupan manis di dahi atau pipi. Fun, right? Pertengkaran pertama Anda akan terjadi lebih cepat dari perkiraan - but it's OK Sahabat Anda sudah tahu betul apa yang membuat Anda kesal, begitu pun sebaliknya. Lebih baiknya lagi, baik Anda maupun sahabat tak pernah menahan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya meskipun ada risiko perkataan tersebut akan menyakiti perasaan pasangan. Tapi, kedua belah pihak pun sudah tahu cara terbaik untuk berbaikan. Baca juga: Pacaran Sama Brondong? Siapa Takut
 01 Jan 2021    19:00 WIB
Kunci Hidup Bahagia Setelah Menikah
Apakah Anda sudah menikah? Bila belum maka Anda mungkin sudah sering mendengar berbagai mitos mengenai apa itu sebenarnya pernikahan yang bahagia dan apa jadinya hubungan sepasang kekasih setelah mereka menikah dan menjadi suami istri. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa mitos yang salah mengenai pernikahan dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan pernikahan. 50% Pernikahan Berakhir Dengan Perceraian Anggapan salah ini dimulai pada tahun 1970an saat pengadilan memutuskan perceraian diperbolehkan dan banyak orang mulai melakukannya. Pada pertengahan tahun 80an, angka perceraian bahkan mencapai puncaknya hingga 66%. Akan tetapi, angka ini telah menurun sekarang. Menurut sebuah data dari lembaga sensus di Amerika pada tahun 2009, hanya sekitar 30.8% pernikahan berakhir dengan perceraian. Dan pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, hanya sekitar 3.6 orang yang bercerai di antara 1.000 orang yang telah menikah. Pasangan yang Bahagia Tidak Pernah Bertengkar Tahukah Anda bahwa jarang bertengkar justru merupakan pertanda bahwa Anda dan pasangan tidak pernah menyelesaikan permasalahan yang ada di antara kalian? Menurut seorang ahli yang telah meneliti sekitar 350 orang pasangan selama 28 tahun, kebahagiaan selalu diiringi dengan pertengkaran. Menurutnya, apa yang membedakan pernikahan yang bahagia dan tidak adalah kemampuan kedua belah pihak untuk belajar menghadapi konflik dan perbedaan pendapat dengan cara yang sehat dan produktif. Selain itu, sebuah penelitian dari the University of Tennessee menunjukkan bahwa pasangan yang mengakui bahwa mereka pun pernah bertengkar justru merasa lebih bahagia mengenai hubungan mereka dalam jangka panjang. Baca juga: Jatuh Cinta Kembali Pada Suami Pasangan yang Memiliki Anak Lebih Bahagia Daripada yang Tidak Memiliki Anak Sebuah penelitian dari United Kingdom’s Open University menemukan bahwa pasangan suami istri yang tidak memiliki anak, rata-rata, justru merasa lebih bahagia dalam kehidupan asmara mereka dibandingkan dengan pasangan yang telah memiliki anak. Penurunan rasa bahagia ini bukan berarti bahwa rasa sayang yang dirasakan oleh pasangan suami istri yang telah memiliki anak tersebut juga berkurang. Akan tetapi, hal ini hanya menunjukkan bahwa semakin banyak tanggung jawab dan peran yang harus mereka jalani (misalnya menjadi pasangan, orang tua, karyawan, pelajar, dan lain sebagainya) membuat mereka memiliki waktu dan energi yang lebih sedikit untuk pasangannya. Kehidupan Seks Orang yang Telah Menikah Buruk Sebuah penelitian yang dilakukan oleh the Center for Sexual Health Promotion di Indiana University menunjukkan bahwa seorang wanita yang telah menikah justru melakukan hubungan seks lebih sering dibandingkan dengan wanita yang telah memiliki pasangan tetapi belum menikah. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan oleh Penn State juga menunjukkan bahwa rasa cinta dan komitmen yang ada di dalam kehidupan pernikahan cenderung membuat hubungan seks terasa lebih memuaskan bagi seorang wanita. Jika Telah Tinggal Bersama Sebelum Menikah, Maka Resiko Perceraian Pun Lebih Tinggi Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, para peneliti menemukan bahwa status pernikahan (sudah menikah atau belum) sepasang kekasih saat mereka memutuskan untuk tinggal bersama tidak terlalu mempengaruhi kebahagiaan mereka dalam kehidupan pernikahan.Pada penelitian yang dilakukan pada lebih dari 7.000 orang pasangan, para peneliti dari the University of North Carolina di Greensboro justru menemukan bahwa berapa usia pasangan tersebut saat mulai tinggal bersamalah yang lebih menentukan. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa bila pasangan baru berusia 18 tahun saat memutuskan untuk tinggal bersama atau menikah, maka resiko perceraian mereka pun mencapai angka 60%. Sementara itu, bila sepasang kekasih telah berusia 23 tahun saat mereka memutuskan untuk tinggal bersama atau menikah, maka resiko perceraian mereka pun hanya sekitar 30%. Jika Anda Sungguh-sungguh Mencintai Pasangan Anda, Maka Gairah Tidak Akan Pernah Pudar Gairah sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya hal baru dan misteri. Hal inilah yang seringkali membuat gairah di antara sepasang suami istri mulai memudar saat pernikahan telah berusia 12-16 bulan. Walaupun gairah memang akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu, akan tetapi gairah ini biasanya akan digantikan oleh jenis rasa cinta lainnya yang membuat kehidupan pernikahan sepasang suami istri menjadi langgeng dan penuh kebahagiaan. Baca juga: Ini Cara Pasangan Bahagia Mengatasi Pertengkaran Sumber: womenshealthmag
 29 Dec 2020    13:00 WIB
Putus Cinta? Jangan Lakukan 5 Hal Ini Ya, Ladies!
Ketika hubungan percintaan mu berakhir, rasanya memang sedih dan galau. Hal itu lumrah kok saat kamu kehilangan seseorang yang sudah bersama dalam waktu yang cukup lama. Tapi... ada beberapa hal yang sebaiknya kamu tidak lakukan ketika kamu putus cinta ya. Apa saja itu? Yuk kita bahas. Meminta atau Memohonnya Agar Tak Putus dengan Anda BIG NO! Saat-saat baru putus adalah masa di mana Anda masih amat vulnerable, hingga emosi dan pikiran pun seringkali "kacau" - dan tak hanya Anda saja, ini pun bisa dialami oleh si mantan. Kalau pun ia setuju untuk kembali berpacaran dengan Anda, biasanya yang terjadi adalah masa-masa "balikan" ini bersifat temporer. Akuilah kenyataan bahwa jika ia (kasarnya) "dipaksa" untuk kembali berpacaran dengan Anda, maka fondasi awal hubungan Anda juga sudah tak baik. Menghubunginya Demi mendapatkan pikiran jernih dan perspektif baru yang Anda butuhkan, maka Anda harus berhenti berhubungan dengan mantan Anda. Hal ini berarti: tak ada telepon, SMS, chat, e-mail, bahkan saling stalking lewat media sosial. Pokoknya, absolutely nothing! Jika Anda ingin move on dengan hidup Anda, maka Anda tak akan membuatnya lebih mudah dengan menghubungi si mantan. Menjelek-jelekan Mantan di hadapan Orang Lain Ah, poin yang satu ini memang "menggoda" sekali. Amat mudah, dan juga therapeutic, jika Anda bisa curhat kepada teman-teman dan membeberkan segala keburukan dari sang mantan. Selain membuat lega, Anda juga pasti mendapatkan simpati dari teman-teman, belum lagi kalau Anda bisa sekalian merencanakan skenario "balas dendam" dengan mereka. Well, honey, don't do it. Anda tentu lebih classy dari itu. Percayalah bahwa karma itu ada, dan bisa menimpa Anda berdua. Jadi jika ia benar-benar menyakiti Anda, just grit your teeth and let it go. Tetap Berhubungan dengan Teman-temannya Poin yang satu ini memang sulit, apalagi jika Anda sendiri sudah berteman dekat dengan teman-temannya. Namun, jika Anda benar-benar ingin melanjutkan hidup dan tak terpaku pada mantan, maka hal ini terpaksa dilakukan agar tak menghambat progres Anda. Jika perlu, Anda bisa menjelaskan kepada mereka, dan mereka akan mengerti. Jika Anda sudah move on, barulah Anda bisa kembali menghubungi mereka. Mencari Pelarian Satu lagi poin yang menggoda. Anda rindu sang mantan, ingin menghubunginya, dan merasa kesepian. Solusinya: mencari pria terdekat yang bisa dijadikan fling sementara, dan... hello, rebound guy! Ketahuilah bahwa Anda tidak sedang berpikir secara logis dan lebih gegabah dalam membuat keputusan. Jangan jadikan pria tak bersalah sebagai korban atas perasaan Anda yang tersakiti. Bila memang Anda butuh "distraction", maka tunggulah beberapa bulan, dan biarkan prospek cinta baru mendekati Anda... siapa tahu, ia akan jadi pacar Anda yang berikutnya! Baca juga: Ciri-ciri Mantan yang Belum Bisa Move On Sumber: Herworld
 25 Dec 2020    21:00 WIB
Pacar Kamu Posesif? Tinggalin!
Posesif sebenarnya salah satu sifat yang umum dimiliki siapapun. Tapi jika sifat ini sudah dilakukan berlebihan dan didiamkan saja, sifat posesif ini akan membatasi kebebasan dan membawa efek negatif pada hubungan kalian lho! Nah daripada kamu terjebak sama pasangan posesif, yuk lihat ciri-ciri dari pacar posesif berikut ini: Doyan Periksa Handphone dan Media Sosialmu Ini adalah salah satu tanda pacar posesif. Ia harus tahu password di handphone dan semua akun media sosialmu. Bahkan, ia selalu membaca pesanmu. Ia juga selalu mengecek update foto dan status yang kamu buat setiap waktu, atau memantau dengan siapa saja kamu berinteraksi. Meski kalian adalah pasangan dan tak perlu ada yang harus disembunyikan, sikap posesifnya itu tidak boleh dibiarkan. Dalam hubungan, kalian harus tetap memiliki batasan dan privasi. Alih-alih jadi pasangan, ia justru lebih terlihat bak seorang stalker. Cemburu pada Semua Orang Dekatmu Mengawasimu tidak cukup, ia bahkan mudah marah dan cemburu terhadap semua orang yang berada di dekatmu. Rasa cemburu ini juga sering muncul tanpa alasan jelas. Bahkan, akibat cemburunya itu, ia bisa meneror semua orang, termasuk sahabat dekatmu. Wajib Lapor Pasanganmu selalu memantau gerak-gerikmu dan memintamu untuk melapor setiap waktu. Meski aturan ini tidak tertulis di atas kertas, ia selalu bertanya dengan siapa kamu berinteraksi dan ke mana saja kamu pergi saat sedang tidak bersamanya. Bukannya terkesan ingin tahu, sikapnya ini justru lebih mirip interogasi. Serius deh, kamu enggak membutuhkan sosok "satpam" dalam hubungan, melainkan orang yang bisa memercayaimu. Baca juga: Kenali Tanda-tanda Kekerasan Dalam Hubungan Anda Enggak Percaya Sama Kamu Tanda pacar posesif bisa juga terlihat dari rasa percaya yang mulai memudar. Entah apa yang ia pikirkan, namun ia mulai tidak memercayaimu. Saat kalian sedang tidak bersama, ia selalu meminta dikirimkan foto atau mengajakmu Facetime sebagai bukti keberadaanmu dan apa yang sedang kamu lakukan. Mengatur dengan Siapa Kamu Harus Berteman Pasangan mulai mengatur dengan siapa kamu boleh berteman. Tanpa disadari, semakin lama kamu akan semakin jauh dari teman-teman dan keluargamu karena alasan yang tidak logis. Ini adalah salah satu akibat paling mengerikan yang bisa terjadi saat berpacaran dengan sosok yang posesif. Masih kuat bertahan sama orang macam gini? Yang harus diingat, hubungan yang sehat memang perlu kerja keras tapi tetap harus saling mengutamakan kebahagiaan dan kenyamanan satu sama lain yaa...