Your browser does not support JavaScript!
 03 Oct 2020    17:00 WIB
Cairan Mani Berwarna Cokelat, Apa Penyebabnya?
Melihat adanya darah pada cairan maninya dapat membuat seorang pria merasa takut dan cemas. Untungnya, hal ini tidak selalu berarti Anda sedang menderita gangguan kesehatan berat. Bila Anda merupakan seorang pria yang berusia kurang dari 40 tahun, tidak mengalami gejala apapun, dan tidak memiliki faktor resiko apapun untuk menderita suatu gangguan kesehatan tertentu; maka darah di dalam cairan mani Anda biasanya akan menghilang dengan sendirinya. Akan tetapi, bila Anda merupakan pria yang telah berusia lebih dari 40 tahun, adanya darah di dalam cairan mani Anda membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan segera, apalagi bila Anda juga mengalami beberapa hal di bawah ini, yaitu: Telah beberapa kali menemukan adanya darah di dalam cairan mani Anda Memiliki berbagai gejala lain saat buang air kecil atau berejakulasi Memiliki resiko untuk menderita kanker, gangguan perdarahan, atau gangguan kesehatan lain Dalam dunia kedokteran, adanya darah di dalam cairan mani disebut dengan hematospermia atau hemospermia. Apa saja penyebabnya? Adanya darah di dalam cairan mani dapat disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini. Infeksi dan Radang Kedua hal ini merupakan penyebab tersering dari adanya darah di dalam cairan mani seorang pria. Darah dapat berasal dari infeksi atau radang dari kelenjar atau saluran manapun yang berfungsi untuk membentuk dan menyalurkan cairan mani dari dalam tubuh. Beberapa kelenjar dan saluran yang dimaksud adalah: Prostat (kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan cairan mani) Uretra (saluran yang berfungsi untuk mengeluarkan air kemih dan cairan mani dari dalam penis Epididimis dan vas deferens (saluran kecil yang berfungsi sebagai tempat pematang sperma sebelum ejakulasi) Vesika semilunaris (berfungsi untuk menambahkan cairan ke dalam cairan mani) Infeksi dan radang merupakan penyebab dari 4 di antara 10 kasus hematospermia. Menderita Penyakit Menular Seksual Adanya darah di dalam cairan mani juga dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual seperti gonorea atau klamidia atau infeksi virus atau bakteri lain. Trauma Atau Baru Saja Menjalani Tindakan Medis Tertentu Adanya darah di dalam cairan mani merupakan hal yang normal terjadi bila Anda baru saja menjalani tindakan medis tertentu, misalnya saat Anda baru saja menjalani biopsi prostat. Selain itu, berbagai tindakan medis yang dilakukan untuk mengatasi gangguan saluran kemih juga dapat menyebabkan terjadinya trauma ringan yang dapat memicu terjadinya perdarahan sementara. Hematospermia yang terjadi akibat tindakan medis biasanya akan menghilang dalam waktu beberapa minggu paska tindakan. Selain itu, terapi radiasi, vasektomi, dan penyuntikan wasir juga dapat menyebabkan hematospermia. Trauma fisik pada organ reproduksi akibat patah tulang pinggul, cedera pada buah zakar, melakukan hubungan intim atau masturbasi yang terlalu kasar, atau berbagai cedera lain juga dapat menyebabkan terjadinya hematospermia. Sumbatan Semua saluran kecil di dalam organ reproduksi seorang pria dapat tersumbat. Hal ini dapat menyebabkan pembuluh darah robek dan menyebabkan keluarnya sedikit darah. Selain itu, pembesaran prostat jinak (BPH) yang menyebabkan prostat membesar dan menekan uretra juga dapat memicu terjadinya hematospermia. Tumor dan Polip Adanya tumor pada prostat juga dapat menyebabkan terjadinya hematospermia. Selain itu, kanker buah zakar, kanker kandung kembih, dan kanker pada organ reproduksi lainnya juga dapat menyebabkan terjadinya hematospermia. Oleh karena itu, pria, terutama yang telah berusia lanjut, yang juga memiliki resiko kanker harus segera melakukan pemeriksaan jika menemukan adanya darah di dalam cairan maninya. Selain tumor dan kanker, adanya polip pada organ reproduksi juga dapat menyebabkan terjadinya hematospermia. Gangguan Pembuluh Darah Karena seluruh organ reproduksi pria mengandung pembuluh darah, maka kerusakan pada pembuluh darah di bagian mana pun dapat menyebabkan terjadinya hematospermia. Gangguan Kesehatan Lain Menderita tekanan darah tinggi, HIV, gangguan jantung, leukemia, dan gangguan kesehatan lain juga dapat menyebabkan terjadinya hematospermia. Sekitar 15% kasus hematospermia tidak diketahui penyebabnya dan banyak di antaranya sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Pengobatan hematospermia dapat berbeda-beda tergantung pada penyebabnya. Dokter biasanya akan memberikan antibiotika bila penyebab hematospermia adalah infeksi. Obat anti radang bila penyebabnya adalah peradangan. Bila hematospermia disebabkan oleh tindakan medis tertentu, maka biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu. Pada pria yang masih muda, adanya darah di dalam cairan mani yang hanya terjadi 1 atau 2 kali tanpa gejala lain atau riwayat gangguan kesehatan lain biasanya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Jika Anda mengalami hematospermia berulang yang disertai dengan rasa nyeri saat buang air kecil atau berejakulasi, maka dokter Anda biasanya akan merujuk Anda ke seorang dokter spesialis bedah urologi. Jika dokter mencurigai Anda menderita kanker prostat atau kanker lainnya, maka ia mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan biopsi prostat atau jaringan untuk memastikannya. Oleh karena itu, segera periksakan diri Anda ke seorang dokter untuk memperoleh pengobatan sedini mungkin. Sumber: webmd
 22 Mar 2018    18:00 WIB
Dari Mana Sih Asalnya Cairan Mani?
Anda mungkin sudah sering mendengar mengenai orgasme dan bagaimana cara seorang pria dapat mencapainya. Akan tetapi, apa yang Anda ketahui mengenai cairan kental berbau khas yang keluar saat seorang pria mencapai orgasme? Di bawah ini Anda dapat melihat apa sebenarnya cairan misterius tersebut dan dari mana ia berasal.   Apa Perbedaan Ejakulasi dan Ejakulat? Ejakulasi merupakan suatu keadaan di mana cairan mani dikeluarkan dari dalam penis. Ejakulat merupakan cairan mani yang dikeluarkan saat seorang pria mengalami ejakulasi. 90% cairan mani atau ejakulat terdiri dari air. Cairan mani biasanya memiliki warna putih seperti susu dan bersifat kental. Warna cairan mani akan semakin putih seiring dengan semakin banyaknya sperma di dalamnya.   Dari Mana Cairan Mani Berasal? Sekitar 65% cairan mani berasal dari vesikula seminalis, 35% nya berasal dari kelenjar prostat (yang menyebabkan semen memiliki bau khasnya), dan 5% terdiri dari berbagai cairan lain. Saat seorang pria mengalami orgasme, maka ia biasanya akan mengeluarkan sekitar 1-5 ml cairan mani, dengan rata-rata 2-3 ml (satu sendok teh). Saat dikeluarkan, cairan mani dapat "berpergian" hingga jarak 90 cm atau lebih, akan tetapi rata-rata hanya mencapai 17-25 cm.   Baca juga: Tips Mudah Untuk Menaklukkan Ejakulasi Dini   Sebelum cairan mani dikeluarkan, tubuh biasanya akan mengeluarkan sekitar 1-2 tetes cairan basa yang berasal dari kelenjar Cowper (2 kelenjar kecil yang terletak di bawah kelenjar prostat) untuk menetralisir keasaman di dalam uretra (saluran kencing).   Seberapa Sering Seorang Pria Dapat Berejakulasi? Seberapa sering seorang pria dapat berejakulasi dapat berbeda-beda dan biasanya akan mulai berkurang segera setelah masa pubertas selesai. Dalam waktu 1-2 jam, sebagian besar pria dapat mengalami 1 kali ejakulasi. Sementara itu, sejumlah pria dapat mengalami 2-4 kali ejakulasi dalam kurun waktu tersebut.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: menshealth
 16 Jan 2015    11:00 WIB
Berapa Lama Virus Ebola Dapat Bertahan Hidup di Dalam Cairan Mani?
Anda sudah sembuh sepenuhnya dari infeksi virus ebola? Anda mungkin harus sedikit khawatir bila hal tersebut baru berlangsung selama 3 bulan. Menurut WHO, cairan mani seorang pria dapat mengandung virus ebola yang masih infeksius hingga 3 bulan setelah gejala pertama dari infeksi ebola terjadi. WHO juga menyarankan agar seorang pria yang baru saja dinyatakan sembuh dari infeksi ebola untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual selama setidaknya 3 bulan setelah dinyatakan sembuh.Berita baru ini muncul dikarenakan adanya sebuah temuan di bulan lalu mengenai hasil pemeriksaan darah dan cairan mani seorang pria India yang pernah didiagnosa menderita infeksi ebola dan telah dinyatakan sembuh pada tanggal 30 September lalu. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di sebuah bandara udara tersebut, para petugas kesehatan menemukan bahwa hasil pemeriksaan darah pria tersebut negatif terhadap virus ebola, tetapi tidak demikian dengan cairan maninya. Para petugas kesehatan menemukan adanya virus ebola di dalam cairan maninya. Pria ini kemudian kembali dikarantina.Walaupun CDC telah menyatakan bahwa cairan mani juga merupakan salah satu cairan tubuh yang dapat menularkan suatu virus dari penderita pada orang lain, akan tetapi CDC tidak yakin apakah adanya partikel virus di dalam cairan mani seseorang juga berarti bahwa orang tersebut sebenarnya masih dapat menularkan penyakit tersebut pada orang lain atau tidak.Sekalipun para ahli telah berhasil menemukan adanya virus ebola di dalam cairan mani, akan tetapi para ahli masih tidak mengetahui apakah keberadaan virus tersebut juga membuat penyakit ebola dapat ditularkan melalui hubungan seksual, termasuk melalui seks oral.Sebagai langkah pencegahan, para ahli dari CDC menyarankan agar para pria yang baru saja dinyatakan sembuh dari infeksi virus ebola untuk tidak berhubungan seks, termasuk seks oral selama setidaknya 3 bulan. Jika hal ini tidak memungkinkan, maka penggunaan kondom saat berhubungan seks juga dapat membantu mencegah penularan penyakit ebola ini.Sumber: womenshealthmag