Your browser does not support JavaScript!
 02 Feb 2015    10:00 WIB
Apakah Pemeriksaan USG Berbahaya Bagi Bayi?
Anda tentunya telah mengetahui bahwa setiap wanita hamil harus melakukan pemeriksaan USG perut untuk mengetahui bagaimana keadaan bayinya dan bahkan apa yang sedang dilakukan oleh sang bayi di dalam kandungan ibunya. Walaupun sebenarnya pemeriksaan USG ini hanya boleh dilakukan untuk tujuan medis, akan tetapi sekarang ini telah tersedia suatu tempat di mana Anda dapat menonton “siaran” atau rekaman video USG sehingga Anda dan keluarga dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh bayi Anda di dalam kandungan. Karena banyak sekali tempat yang tidak menggunakan tenaga ahli seperti dokter untuk melakukan pencitraan USG ini, maka hal ini dapat membuat ibu dan bayi terpapar oleh banyak gelombang energi USG yang tidak diperlukan, yang mungkin dapat berdampak negatif terhadap kesehatan bayi di dalam kandungan. Walaupun saat ini para ahli masih tidak memiliki terlalu banyak bukti yang menunjukkan pengaruh berbahaya dari paparan gelombang energi USG terhadap bayi di dalam kandungan, akan tetapi BPOM Amerika mengatakan bahwa akan lebih bila pemeriksaan USG dilakukan oleh seorang tenaga medis professional, yaitu dokter. Hal ini dikarenakan USG dapat sedikit memanaskan jaringan tubuh dan pada beberapa kasus juga dapat memicu terbentuknya lubang-lubang kecil pada beberapa jaringan tubuh tertentu. Karena efek jangka panjang dari pemanasan jaringan dan adanya lubang pada jaringan tubuh masih tidak diketahui, maka BPOM Amerika mengatakan bahwa pemeriksaan USG sebaiknya hanya dilakukan untuk tujuan medis dan oleh petugas terlatih. Sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa pemeriksaan USG yang menggunakan gelombang suara dapat berbahaya bagi bayi. Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus percobaan yang hamil di Amerika, para peneliti menemukan bahwa paparan USG, dengan jumlah yang sama dengan yang diterima oleh manusia, dapat mengganggu perkembangan otak normal pada bayi tikus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paparan USG pada manusia juga dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas otak. Beberapa penelitian lainnya menemukan adanya hubungan antara paparan USG dengan terjadinya perdarahan otak. Selain itu, sebuah penelitian lainnya yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa kematian perinatal (bayi mati di dalam kandungan) pada manusia dapat menjadi 2 kali lebih tinggi bila bayi terpapar oleh 2 atau lebih pemeriksaan USG Doppler. Jika pemeriksaan USG memang diperlukan dengan alasan medis, maka batasilah lama dan intensitas paparan. Pastikan Anda tidak melakukan pemeriksaan USG Doppler pada trimester pertama kehamilan.     Sumber: newsmaxhealth
 03 Dec 2014    13:00 WIB
Tidur di Sofa Dapat Menyebabkan Kematian Pada Bayi, Benarkah?
Berdasarkan sebuah penelitian baru, sofa merupakan salah satu tempat paling berbahaya bagi bayi untuk tidur. Hampir 8.000 bayi mengalami kematian saat tidur di Amerika dan para peneliti menemukan bahwa sekitar 12% di antaranya berhubungan dengan sofa, di mana sekitar tiga perempat bayi tersebut merupakan bayi baru lahir. Sudden infant death syndrome (SIDS) merupakan suatu keadaan di mana bayi yang tampak sehat tibat-tiba meninggal tanpa sebab yang jelas, yang biasanya terjadi saat bayi tidur. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa para bayi yang meninggal saat tidur di sofa ini mungkin disebabkan oleh kesulitan bernapas. Sekitar 40% dari bayi dalam penelitian ini meninggal akibat kesulitan bernapas, sekitar 36% di antaranya meninggal tanpa penyebab yang jelas, dan 24% di antaranya meninggal karena SIDS. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 7.900 bayi yang dilaporkan meninggal saat tidur selama 8 tahun di sekitar 24 negara bagian di Amerika. Sekitar setengah kasus kematian bayi ini terjadi saat bayi tidur di atas ranjang orang dewasa dan sekitar seperlimanya terjadi saat bayi tidur di ranjang bayi. Akan tetapi, para peneliti lebih memfokuskan penelitian ini pada kematian 1.000 orang bayi yang terjadi saat tidur di sofa. Sebagian besar bayi yang meninggal saat tidur di atas sofa ini berusia 3 bulan atau lebih muda. Para peneliti mengatakan bahwa bayi seringkali tertidur di atas sofa karena orang tuanya memberinya makan sambil menonton televisi atau melakukan hal lainnya saat terbangun di tengah malam, akan tetapi secara tidak sengaja tertidur di atas sofa karena merasa kelelahan. Pada penelitian ini, para peneliti juga menemukan bahwa bayi yang meninggal saat tidur di atas sofa biasanya ditemani oleh orang lain saat tidur di sofa, terutama dengan orang dewasa. Para peneliti menduga bahwa kematian bayi ini mungkin terjadi karena bayi sulit bernapas akibat tertekan di antara 2 orang dewasa atau di antara orang dewasa dan sofa. Mengapa sofa berbahaya bagi bayi? Hal ini dikarenakan sofa empuk dan lembut, yang membuat bayi lebih mudah mengalami kesulitan bernapas karena bayi lebih mudah berguling dan akhirnya tergencet di antara tempat duduk dan senderan sofa. Berdasarkan penelitian ini, para peneliti mengatakan bahwa bayi yang meninggal saat tidur di atas sofa juga memiliki faktor resiko SIDS lainnya atau kematian saat tertidur lainnya, misalnya memiliki ibu yang merokok selama hamil, dibandingkan dengan bayi yang meninggal saat tidur di atas ranjang orang dewasa atau ranjang bayi. Satu hal yang perlu diingat para orang tua adalah bahwa SIDS dapat terjadi kapan saja (saat tidur siang atau di malam hari), dan dapat terjadi di mana saja (di rumah, tempat penitipan anak, atau di rumah saudara). Pastikan bahwa bayi Anda selalu tertidur sendirian (tidak ada orang dewasa atau bantal atau benda lemut lainnya), dengan posisi terlentang, dan di ranjangnya sendiri (ranjang bayi).     Sumber: webmd  
 15 Oct 2014    12:00 WIB
Meninggal Secara Misterius, Seorang Bayi Ternyata Menderita Suatu Penyakit Langka
Jatuh sakitnya sang ayah setelah kematian bayi lelakinya yang baru saja lahir membuat para peneliti mencurigai adanya suatu penyakit yang diturunkan dalam keluarga tersebut. Dengan menggunakan analisis genom, para ahli pun mulai meneliti apa sebenarnya yang terjadi pada ayah dan anak tersebut. Erik Drewniak yang baru berusia 43 tahun dilarikan ke rumah sakit dengan gejala demam tinggi, gangguan pernapasan berat, dan perdarahan di dalam paru-paru, usus, dan otaknya. Ia tampaknya mengalami gejala yang sama dengan apa yang dialami oleh anak lelakinya yang meninggal beberapa saat sebelumnya saat masih berusia 23 hari. Untuk mengetahui apakah gejala yang dialami oleh Drewniak ini sama dengan anaknya yang telah meninggal, para peneliti kemudian melakukan analisis genom.  Melalui pemeriksaan ini, para peneliti menemukan bahwa Drewniak mengalami mutasi baru pada suatu protein, yang tidak terdapat pada kedua orang tuanya, tetapi tampaknya diturunkan pada anak lelakinya. Mutasi ini tampaknya mengganggu proses terbentuknya reaksi peradangan di dalam tubuh. Dengan penemuan tersebut, para dokter yang merawat Drewniak pun mulai menyusun rencana pengobatan baru, yang pada akhirnya membuat Drewniak dapat keluar dari rumah sakit. Pada saat Drewniak kembali mengingat masa lalunya, ia ingat bahwa saat baru dilahirkan ia juga mengalami gejala serupa. Ia juga mengatakan bahwa ia seringkali mengalami demam tinggi bila ia merasa stress atau kelelahan, bahkan hingga saat ini.     Sumber: foxnews
 18 Sep 2014    13:00 WIB
Isi Kotak Pertolongan Pertama Untuk Bayi Anda
Untuk Anda yang memiliki bayi ada baiknya Anda memiliki kotak pertolongan pertama atau tas obat yang berisi barang-barang yang dapat digunakan untuk bayi Anda. Usahakan agar kotak pertolongan pertama ini mudah untuk dijangkau dan tas obat yang mudah dibawa kemana-mana Berikut adalah barang-barang dan obat yang sebaiknya ada dalam kotak pertolongan pertama dan kotak tas:  Termometer digital (yang dapat digunakan melalui anus atau di ketiak)  Sirup penurun panas (sirup parasetamol) dan untuk diatas 6 bulan Anda dapat menyiapkan sirup ibuprofen Losion calamine atau krim hidrokortison untuk gigitan serangga dan ruam  Alkohol untuk membersihkan termometer, pinset, dan gunting  Petroleum jelly atau pelumas yang larut dalam air (untuk termometer yang dimasukkan ke anus)  Salep antibiotik untuk luka dan kulit yang tergores  Pinset untuk mengambil serpihan dan kutu  Cairan larutan garam (nasal saline)untuk mengencerkan lendir sebelum Anda menggunakan semprotan  Plester dalam berbagai ukuran dan bentuk  Kasa gulungan (lebar 1/2 sampai 2 inci lebar) untuk membuat perban  Kain kassa (2 x 2 dan 4 x 4 inci) untuk membuat perban atau memberi tekanan apabila terjadi perdarahan Pita perekat untuk membuat perban  Sepasang gunting tajam untuk memotong kain kasa dan pita  Bola kapas untuk mengoleskan cairan (seperti calamine lotion) dan untuk membersihkan alat dengan alkohol  Sabun cair ringan untuk membersihkan luka yang tergores. Sabun antibakteri mungkin terlalu kuat untuk kulit sensitif bayi Anda.  Pipet untuk memberikan obat tetes Larutan elektrolit untuk hidrasi setelah muntah (harus didinginkan setelah dibuka)  Sebuah bantal pemanas untuk meringankan rasa nyeri  Sebuah kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan dengan benjolan kecil dan memar  Sebuah senter kecil untuk memeriksa hidung, telinga, dan mulut bayi Anda Buku Panduan pertolongan pertama  Mainan untuk mengalihkan perhatian bayi Anda jika diperlukan  Sepasang gunting kuku bayi atau kikir kuku kecil untuk menggunting kuku bayi Anda  Losion tabir surya untuk bayi yang aman Obat nyamuk untuk bayi yang aman Sampo dan sabun bayi Krim pelembab bayi Krim ruam popok Waslap untuk membersihkan tubuh bayi Anda Sebuah sikat gigi berbulu lembut Sumber: babycenter
 15 Aug 2014    13:00 WIB
Produk Anti Bakteri Sebabkan Gangguan Perkembangan Pada Janin
Sebuah penelitian menduga bahwa banyak wanita hamil dan janin mereka terpapar oleh berbagai komponen anti bakterial yang mungkin berhubungan dengan terjadinya gangguan perkembangan dan reproduksi pada janin. Suatu zat anti bakterial, triklosan, dapat ditemukan di dalam air kemih setiap wanita yang menjadi peserta penelitian ini. Selain itu, triklokarban, suatu zat anti bakteri lainnya juga ditemukan pada lebih dari 85% air kemih peserta penelitian. Yang lebih buruk lagi adalah triklosan juga ditemukan pada lebih dari setengah contoh darah tali pusat, yang menandakan bahwa zat kimia ini telah mencapai janin di dalam kandungan. BPOM Amerika sekarang ini sedang meneliti ulang mengenai keamanan triklosan pada manusia, karena berbagai penelitian pada hewan percobaan menemukan bahwa triklosan dapat mempengaruhi fungsi berbagai jenis hormon. Seorang ahli mengatakan bahwa gangguan pada berbagai hormon selama masa perkembangan janin ini dapat sangat mempengaruhi perkembangan janin yang belum lahir tersebut. Triklosan dan triklokarban telah banyak digunakan pada lebih dari 2.000 produk seperti pasta gigi, sabun, deterjen, karpet, cat, alat tulis, dan mainan. Pada penelitian ini, para peneliti mengumpulkan contoh air kemih dan darah tali pusat dari 184 wanita hamil di Brooklyn, New York. Para peneliti kemudian menemukan adanya triklosan dan triklokarban pada hampir semua wanita hamil tersebut. Selain berbagai zat anti bakterial, butil paraben merupakan zat kimia lainnya yan banyak ditemukan pada air kemih dan contoh darah tali pusat. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa ada suatu hubungan antara butil paraben yang banyak digunakan pada berbagai produk kosmetik dengan berkurangnya panjang badan bayi baru lahir (bayi baru lahir menjadi lebih pendek). Sumber: newsmaxhealth