Your browser does not support JavaScript!
 01 May 2017    12:00 WIB
Kurangnya Konsumsi Zat Besi Selama Hamil Tingkatkan Resiko Terjadinya Autisme Pada Janin
  Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang mengalami kekurangan zat besi dan memiliki berbagai faktor resiko lainnya memiliki resiko menderita gangguan autisme 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati apa sebenarnya hubungan antara konsumsi zat besi sang ibu dan resiko terjadinya autisme pada seorang anak. Hubungan antara peningkatan resiko terjadinya gangguan autisme dengan kuranganya asupan zat besi (dalam bentuk suplemen) pada ibu hanya terjadi bila ibu berusia 35 tahun atau lebih saat melahirkan atau bila sang ibu menderita suatu gangguan metabolik seperti obesitas, tekanan darah tinggi, atau diabetes. Para peneliti mengamati sepasang ibu dan anak yang terdiri dari ibu yang memiliki anak yang menderita gangguan autisme dan ibu yang memiliki anak yang menderita gangguan perkembangan tertentu. Pada penelitian ini, para peneliti memeriksa berapa asupan zat besi sang ibu, termasuk berapa banyak vitamin, berbagai suplemen nutrisi lainnya, dan sereal yang dikonsumsi oleh sang ibu selama 3 bulan sebelum kehamilan terjadi dan selama kehamilan berlangsung hingga masa menyusui. Kekurangan zat besi dan anemia merupakan salah satu defisiensi nutrisi yang paling sering terjadi, terutama selama kehamilan berlangsung, yang mengenai sekitar 40-50% wanita hamil dan bayinya. Zat besi merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk proses perkembangan otak awal, proses produksi neurotransmiter, mielinisasi, dan fungsi sistem kekebalan tubuh. Walaupun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kebenaran teori ini, para peneliti menganjurkan para ibu hamil untuk mengkonsumsi berbagai suplemen yang dianjurkan oleh para dokter. Jika Anda mengalami efek samping, berkonsultasilah dengan dokter Anda.       Sumber: foxnews
 21 Nov 2016    11:00 WIB
Tanda Terlambatnya Perkembangan Sosial dan Emosional Pada Anak
Anak-anak mungkin dapat mengalami gangguan interaksi (berhubungan dengan orang lain), baik dengan orang dewasa maupun dengan anak-anak lainnya. Keadaan ini mungkin merupakan tanda keterlambatan perkembangan sosial dan atau emosional. Gangguan ini biasanya mulai timbul sebelum anak memulai masa sekolah.PenyebabBeberapa hal yang dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan sosial dan emosional pada anak, yaitu:•  Kurangnya perhatian dari orang tua•  Gangguan dalam menjalin hubungan dengan orang tua•  Kesulitan belajar Berbagai hal lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan perkembangan sosial dan emosional adalah berbagai gangguan yang termasuk dalam spektrum gangguan autistik. Gangguan ini juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan komunikasi, mulai dari ringan hingga berat. Berbagai gangguan yang termasuk dalam spektrum gangguan autistik (ASD) adalah:•  Autisme•  Sindrom Asperger•  Gangguan disintegratif pada anak-anak•  Sindrom RettPengobatanTidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan ASD. Akan tetapi, beberapa langkah pengobatan yang sering dilakukan untuk membantu mengurangi gejala ASD adalah:•  Pengobatan untuk membantu mengatasi gangguan perilaku•  Terapi perilaku dan keterampilan khusus Pengobatan sedini mungkin dapat membuat perbedaan yang cukup besar dalam perkembangan anak anda. Tergantung pada jenis keterlambatan perkembangan yang terjadi, pengobatan dapat berupa terapi bermain atau terapi untuk membantu membangun hubungan antara orang tua dan anak.Tanda Awal Keterlambatan Perkembangan Sosial dan EmosionalSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami berbagai gejala di bawah ini atau bila anak anda mengalami kemunduran atau kehilangan kemampuan yang telah dikuasai. Usia 3 BulanSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Tidak tersenyum pada orang lain•  Tidak tampak memperhatikan wajah yang baru pertama kali dilihatnya atau malah terlihat ketakutan saat melihat wajah baru Usia 7 BulanSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Menolak pelukan•  Tidak menunjukkan tanda sayang pada orang tua atau orang yang merawatnya•  Tidak tampak bahagia saat berada bersama orang lain•  Tidak dapat ditenangkan saat malam hari (setelah anak berusia 5 bulan)•  Tidak pernah tersenyum tanpa alasan (saat berusia 5 bulan)•  Tidak pernah tertawa atau memekik (saat berusia 6 bulan)•  Tidak tertarik dengan permainan cilukba (saat berusia 8 bulan) Usia 1 TahunSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Tidak pernah saling bertukar suara (mengobrol), senyuman, atau ekspresi wajah (saat berusia 9 bulan)•  Tidak adanya gerakan tertentu seperti melambai, berusaha menggapai, atau menunjuk sesuatu bendaSumber: webmd
 19 May 2014    13:00 WIB
Benarkah Lingkungan Turut Berperan Dalam Terjadinya Autisme?
Para ahli masih belum dapat menemukan penyebab pasti dari autisme, akan tetapi para ahli menduga bahwa keadaan ini (autisme) dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetika dan lingkungan.Sebuah penelitian baru menemukan bahwa berbagai racun yang terdapat pada lingkungan mungkin memiliki peranan yang cukup besar pada terjadinya gangguan perkembangan saraf. Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa terdapat hubungan antara autisme dan penurunan intelektual dengan banyaknya kasus kelainan genital pada bayi laki-laki yang baru lahir. Para peneliti menduga bahwa hubungan ini merupakan penanda adanya paparan berbahaya berbagai faktor lingkungan selama perkembangan janin di dalam kandungan. Seorang ahli genetika mengatakan bahwa selama kehamilan terdapat suatu waktu tertentu di mana janin sangat rentan terhadap berbagai jenis paparan zat berbahaya, seperti obat-obatan, pestisida, dan sebagainya; walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Zat-zat ini dapat menyebabkan perubhaan kecil yang dapat mempengaruhi perkembangan normal, terutama pada organ reproduksi laki-laki (kemaluan). Para ahli masih belum menemukan mengapa hal ini dapat terjadi. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati perbandingan antara kasus autisme dengan kelainan kongenital pada organ reproduksi bayi laki-laki dan perempuan. Setelah mempertimbangkan berbagai hal seperti jenis kelamin, ras, status sosial ekonomi, dan faktor geopolitical; para peneliti menemukan bahwa terjadi peningkatan rasio autisme sebesar 283% untuk setiap 1% peningkatan resiko kelainan kongenital. Sementara itu, rasio penurunan intelektual juga mengalami peningkatan sebanyak 94% untuk setiap 1% peningkatan resiko kelainan kongenital. Hubungan ini lebih jelas pada bayi laki-laki daripada bayi perempuan.Sumber: foxnews