Your browser does not support JavaScript!
 24 Nov 2019    16:00 WIB
Mengenal Manfaat Dan Efek Samping Dari Antasida
Antasida merupakan salah satu jenis obat yang digunakan untuk meredakan berbagai masalah pencernaan. Tetapi jika problem pencernaan yang Anda alami bertambah serius, maka Anda akan memerlukan pengobatan tambahan. Antasida digunakan untuk apa?Antasida mampu mengobati masalah keasaman lambung dengan menetralisir asam hialuronik didalam lambung atau mencegah sekresi dari asam lambung. Antasida dapat digunakan untuk mengobati:•  Nyeri ulu hati•  Gangguan pencernaan•  Gejala refluks asam lambung Tindakan apa yang harus saya sadari sebelum menggunakan Antasida?Antasida mempunyai efek laxative atau efek konstipasi. Antasida juga dapat menyebabkan alkalosis, yaitu kondisi yang menyebabkan hanya sedikit asam lambung yang bisa berfungsi dengan baik didalam tubuh. Bagaimana saya dapat menggunakan antasida?Antasida hanya bisa digunakan secara oral, biasanya dalam bentuk tablet atau bentuk cair. Efek samping yang bisa ditimbulkan dari konsumsi antasida?Beberapa orang melaporkan mengalami reaksi alergi saat mengkonsumsi antasida. Antasida juga bisa meningkatkan gejala perut sensitif saat memakan makanan tertentu dan sangat terkait dengan kemungkinan patah tulang.Penggunaan antasida yang berlebihan dapat menyebabkan overdosis dari kalsium karbonat dan magnesium yang merupakan bahan utama dari antasida. Dimana sebaiknya saya menyimpan antasida?Simpanlah antasida di tempat yang sejuk, kering atau pada suhu ruangan. Informasi tambahan•  Bicarakan dengan dokter Anda jika Anda memiliki gejala refluks asam lambung atau tukak lambung. Antasida hanya dapat meredakan gejala dari refluks asam lambung dan tukak lambung tetapi tidak dapat mengobati secara keseluruhan. Dokter Anda akan memberikan Anda pengobatan lain untuk penyakit tersebut.•  Beberapa gejala serangan jantung bisa menyerupai nyeri ulu hati dan nyeri lambung. Jika Anda berpikir Anda mengalami serangan jantung maka jangan tunda lagi, segera temui tenaga kesehatan terdekat dengan Anda.•  Ketahuilah obat-obatan yang Anda konsumsi. Obat dengan golongan  H2-receptor blocker juga dapat mengurangi produksi dari asam lambung dan obat dari golongan proton-pump inhibiting (PPI)  dapat memblok produksi asam lambung.•  Hati-hati terhadap interaksi obat. Antasida dapat berinteraksi dengan obat dari golongan tetrasiklik dan amfetamin.Sumber: heathline
 13 Jun 2019    08:00 WIB
Sering Menderita Gangguan Lambung? Waspada Dispepsia
Apa itu dispepsia?Dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut. Apa penyebab dispepsia?Penyebab Dispepsia adalah :1.  Menelan udara (aerofagi) 2.  Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung 3.  Iritasi lambung (gastritis) 4.  Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis5.  Kanker lambung 6.  Peradangan kandung empedu (kolesistitis) 7.  Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya) 8.  Kelainan gerakan usus 9.  Kecemasan atau depresi   Apa saja gejala dari dispepsia?Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya. Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung). Apa pengobatan untuk dispepsia?Bila tidak ditemukan penyebabnya,dokter akan mengobati gejala-gejalanya. Antasid seperti Magnesium hidroksi , Sucralfate,  yang berfungsi untuk menetralkan asam lambung, atau penghambat H2 seperti Cimetidine , Famotidine , Nizatidine , dan Omeprazole , Lansoprazole , Rabeprazole , Esomeprazole , Pantoprazole. Untuk gejala mual dapat diberikan anti muntah seperti domperidone dan metoclopramide. Bila orang tersebut terinifeksi Helicobacter pylori di lapisan lambungnya, maka biasanya diberikan bismuth subsalisilate dan antibiotik seperti Clarithromycin , Amoxicillin , Tetracycline , Metronidazole Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai dispepsia? Silahkan baca di siniSumber: cek gejala penyakit
 05 Apr 2019    18:00 WIB
Kebiasaan Mendengkur Bisa Menggambarkan Kondisi Kesehatan Sebenarnya
Mendengkur mengacu pada suara ngorok yang terjadi pada saat tidur. Masalah ini umum terjadi pada siapa saja, pada kelompok usia manapun dan jenis kelamin apa saja. Mendengkur sesekali ketika tidur memang bukanlah masalah serius, walaupun cukup mengganggu bagi orang yang tidur di dekat anda. ternyata mendengkur sangat berhubungan dengan beberapa kondisi medis.   ObesitasMendengkur sering disebabkan karena adanya sumbatan di saluran nafas yang membuat aliran udara sulit lewat. Dalam kondisi obesitas, terutama dengan timbunan lemak di sekitar leher akan meningkatkan sumbatan di jalan nafas. Kondisi ini diperburuk lagi saat orang dengan obesitas berbaring terlentang, udara akan semakin terjepit dan suara ngorok akan semakin kencang.   Penyakit jantungPenelitian terbaru mengungkapkan bahwa mendengkur merupakan faktor resiko terbesar dari serangan jantung dan stroke. Penelitian tersebut melaporkan jika mengorok dapat merusak arteri karotis yang merupakan jalan darah terpenting untuk mengantar oksigen ke otak.   Asam lambungPenelitian melaporkan bahwa 75% kasus yang dilaporkan oleh mereka yang mengalami penyakit asam lambung kronis atau gastroesophageal reflux disease (GERD) juga memiliki gejala mendengkur. Hal ini terjadi karena GERD menyebabkan sumbatan jalan nafas yang menimbulkan suara ngorok.   SinusOrang-orang yang memiliki kcenderungan mengalami sinus ternyata juga cenderung mengorok saat tidur karena adanya hambatan pada sistem turbin di jalur nasal.   Sindrom tidur apneuSuara ngorok yang keras dan berkepanjangan merupakan salah satu gejala dari sindrom tidur apneu. Mereka yang menderita sindrom ini tidak akan mengetahui seberapa berat problem pernafasannya sampai seseorang mengenalinya melalui suara ngorok yang keras.   Anda ingin mengetahui tentang Sindrom tidur apneu? Silahkan baca di sini Sumber: healthmeup
 25 Nov 2017    13:00 WIB
Berbagai Pengobatan Untuk Batuk
Pengobatan batuk tergantung dari tingkat keparahan batuk tersebut dan penyebab awalnya.   Pengobatan batuk akutPengobatan batuk akut ditujukan langsung untuk menurunkan kuantitas batuk sebagai tambahan dari mengobati penyebab awalnya.•  Pengobatan simptomatik dari batuk dapat dilakukan melalui pemberian obat batuk, baik yang bisa dibeli bebas atau yang dengan resep dokter.•  Jika dicurigai adanya infeksi bakteri, maka dokter seringkali akan memberikan obat antibiotika. Jika dicurigai penyebabnya adalah virus, maka pasien tidak akan mendapatkan manfaat dari pemberian antibiotika tersebut dan akan diberikan pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi gejalanya saja.•  Pada pasien lanjut usia, pasien dengan infeksi bakteri/virus yang parah, dan pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah mungkin membutuhkan rawat inap di rumah sakit untuk mengatasi penyebab masalahnya.   Pengobatan batuk kronisPengobatan batuk kronis juga ditujukan untuk mengatasi kondisi dasarnya. Sangat penting untuk mengetahui bahwa pengobatan yang dijalani mungkin sulit untuk dilakukan dan dapat membutuhkan beberapa pendekatan yang berbeda, serta mungkin juga tidak dapat menghilangkan batuk secara keseluruhan.•  Jika pasien mengalami batuk yang disebabkan oleh asap rokok, alergi atau bahan iritan dari lingkungan, maka batuk dapat diatasi dengan menghilangkan hal-hal tersebut. Mungkin diperlukan waktu beberapa minggu bagi dokter untuk dapat menilai respon dari pendekatan tersebut karena dibutuhkan waktu tertentu untuk memperbaiki kerusakan paru-paru dan saluran pernafasan akibat terkena bahan iritan.•  Jika pasien memiliki penyakit paru-paru, maka ia akan membutuhkan terapi yang terus menerus untuk mengatasi kondisinya tersebut. Terapi yang diberikan tergantung dari jenis penyakitnya. Kepatuhan terhadap pengobatan yang dilakukan sangat penting untuk membantu memperlambat perkembangan penyakit dan untuk mengurangi gejala penyakit tersebut. Pada kasus dimana pengobatan dirumah gagal dilakukan dan gejala semakin memburuk, maka pasien perlu untuk mendapatkan rawat inap supaya terapi tambahan atau terapi lain yang lebih intensif dapat dilakukan.•  Jika batuk dicurigai disebabkan oleh pemberian obat tertentu, maka pasien akan menunjukkan perbaikan bila obat tersebut dihentikan. Untuk itu, dibutuhkan waktu beberapa minggu sampai batuk benar-benar berhenti. Kemudian obat yang dihentikan tersebut dapat diganti dengan obat lainnya.•  Jika batuk dicurigai terjadi akibat reflux gastroesofageal, maka diperlukan terapi untuk menurunkan tingkat keasaman lambung. Hal ini biasanya dapat dilakukan dengan mengubah pola makan dan memberikan obat-obatan. Keberhasilan terapi mungkin membutuhkan waktu tertentu dan pemberian terapi yang berbeda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: merckmanual