Your browser does not support JavaScript!
 06 May 2018    08:00 WIB
Bagaimana Membantu Anak Anda Menghadapi Stress Saat Bersekolah?
Stress akibat sekolah bukanlah sesuatu yang aneh pada anak-anak. Bahkan, hampir sebagian besar anak-anak mengalami stress akibat tugas sekolah atau ujian sekolah atau akibat berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan sekolah.   Walaupun hal ini dialami oleh setiap anak, bukan berarti setiap anak dapat mengatasi stress tersebut. Di bawah ini terdapat beberapa cara yang dapat membantu anak Anda mengatasi stress akibat ujian sekolah.   Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh anak Anda untuk melawan stress akibat ujian sekolah terdiri dari: Mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya stress dan mengetahui apa pengaruh stress tersebut terhadap kesehatan fisik dan mental Cari tahu apa sumber stress dan cari tahu cara mengatasinya Cobalah melakukan beberapa metode relaksasi yang dapat membantu mengurangi rasa stress Hindari berbagai kebiasaan atau perilaku yang dapat membuat stress. Makan secara teratur, tidur yang cukup, dan berolahraga dapat membantu mengatasi rasa stress   Sebagai orang tua, terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak Anda mengatasi stress, yaitu: Menciptakan suatu lingkungan yang positif dan penuh empati Tidak membandingkan anak Anda dengan anak lain Berikan hadiah pada anak Anda atas segala pencapaian yang berhasil diperolehnya, besar maupun kecil Jangan memiliki harapan yang terlalu tinggi pada anak Anda. Pastikan harapan Anda sesuai dengan kemampuan anak Anda (realistis) Jangan melarang anak Anda melakukan berbagai kegiatan yang disukainya Pastikan anak Anda memiliki pola tidur sehat dan berolahraga secara teratur Beritahukan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh anak Anda padanya Ajak anak Anda berdiskusi mengenai berbagai kegagalan yang dialaminya Beritahukan pada anak Anda bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan hasil ujian atau tugas sekolahnya selama mereka telah berusaha sebaik-baiknya     Sumber: healthmeup
 12 Apr 2017    11:00 WIB
Anda Ibu Yang Sibuk Di Pagi Hari Karena Harus Siapin Ini Itu Untuk Keluarga? Nggak Lagi, Asal Anda Ikuti Cara Cerdas Ini
Menjadi seorang ibu, berarti Anda akan melakukan banyak kegiatan seperti mengurus anak, mengurus suami, mengurus rumah tangga dan belum lagi bila Anda adalah seorang wanita karir yang harus bekerja. Rasanya kesibukan ini akan Anda alami, terutama saat pagi hari. Kegiatan pagi Anda akan dimulai dengan membangunkan anak, menyiapkan makan pagi, menyiapkan barang keperluan anak dan suami dan lain-lain. Tampaknya memang sibuk sekali, terlebih bila Anda juga bekerja berarti Anda harus mempersiapkan diri juga. Nah untuk membantu Anda para ibu agar lebih mudah dalam menyiapkan pagi ada tips yang diberikan.   Berikut adalah tips: Mulai dari malam sebelumnya: Salah satu cara untuk mengurangi beban di pagi hari mempersiapkan dari malam sebelumnya. Anda bisa melakukannya dengan   Siapkan Perlengkapan Sekolah Anak dan Perlengkapan Kerja Anda Periksa jadwal harian anak dan mencari tahu apakah dia perlu membawa sesuatu yang khusus untuk sekolah pada keesokan harinya Siapkan isi tas anak Anda. Bila anak Anda sudah besar, ajak dia untuk membereskannya isi tasnya, agar dia belajar tanggung jawab atas tugas yang dia miliki. Bila Anda bekerja, siapkan juga isi tas Anda seperti siapkan dokumen yang harus Anda bawa.   Siapkan Menu Yang Akan Dimakan Besok Pagi Agar Anda tidak bingung menyiapkan makanan untuk sarapan besok pagi, bisa Anda siapkan dari malam sebelumnya. Siapkan bahan-bahannya di tempat yang mudah Anda jangkau, sehingga saat bangun pagi Anda langsung tahu apa yang harus dilakukan.   Siapkan Pakaian Yang Akan Digunakan Siapkan seragam yang akan digunakan anak Anda, pakaian yang akan Anda gunakan ke kantor dan juga pakaian suami. Gantung di luar lemari Anda dan lemari anak, sehingga setelah mandi, anak, Anda dan suami tahu pakaian apa yang akan digunakan, termasuk memoles sepatu   Pastikan anak Anda, Anda dan suami tidur tepat waktu: Dengan tidur tepat waktu maka esok hari akan lebih mudah bangun, sehingga memiliki waktu untuk bersiap-siap. Bila anak dibiasakan seperti ini maka akan menjadi kebiasaan bagi mereka untuk tidur tepat waktu dan bangun lebih awal.   Meminta Bantuan Suami Meski tugas ini seolah adalah tugas istri, sehingga kebanyakan hanya istri yang merasa sibuk di pagi hari dalam mengurus ini itu. Padahal sebenarnya Anda bisa berbagi tugas ini dengan suami. Tidak ada salahnya bila Anda meminta bantuan suami dalam menyiapkan pagi hari yang sibuk terutama bila Anda juga bekerja. Anda bisa meminta suami yang memandikan anak di pagi hari atau memakaikan pakaian. Awalnya mungkin mereka akan merasa canggung namun bila sudah biasa maka mereka juga bisa menjadi ahli seperti Anda.   Tugas ini memang bisa terasa berat, oleh karena itu pada waktu akhir minggu. Anda boleh memanjakan diri dan bangun agak siang. Pada saat inilah Anda tidak perlu merasa sibuk dan bisa santai sejenak.   Baca juga: https://www.dokter.id/berita/kiat-saat- anda-ingin- berliburan-bersama- anak-anda   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: beingtheparent
 06 Jan 2016    15:00 WIB
Menjadi Orang Tua Bahaya Bagi Kesehatan Anda, Masa Sih???
Tahukah Anda bahwa mengurus anak, keluarga, dan bekerja ternyata tidak hanya membuat para wanita merasa stress dan lelah tetapi juga dapat membuat usia mereka menjadi lebih pendek? Hal inilah yang mendorong para peneliti di Harvard University untuk mencari tahu apa sebenarnya hubungan antara peran ganda tersebut dengan banyaknya wanita yang meninggal sebelum berusia 75 tahun.   Baca juga: 5 Cara Merawat Anak Dengan ADHD   Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis data riwayat pekerjaan, pernikahan, dan mengasuh anak dari sekitar 7.500 orang wanita di Amerika. Mereka kemudian menemukan bahwa resiko seorang wanita untuk meninggal di antara usia 55-75 tahun sangat bervariasi, tergantung pada riwayat pekerjaan, pernikahan, dan mengasuh anak. Wanita yang telah menikah dan memutuskan untuk kembali bekerja setelah merawat anaknya memiliki resiko kematian dini yang paling rendah, yaitu hanya sekitar 5%. Sementara itu, para ibu tunggal yang tidak pernah bekerja justru memiliki resiko kematian dini tertinggi, yaitu sekitar 12%. Resiko kematian dini pada wanita yang telah menikah tetapi tidak bekerja adalah kurang dari 7%, sedangkan bagi ibu tunggal yang bekerja, resiko kematian dini adalah sekitar 8%. Akan tetapi, para peneliti tidak menganalisis hubungan antara kematian dini pada wanita dengan berapa lama seorang wanita bekerja atau apakah mereka puas dengan kehidupannya di rumah. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang hidup paling lama merupakan para wanita yang memiliki paling banyak dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: health.harvard
 28 Aug 2014    14:00 WIB
Anak-anak Sekolah Yang Menggunakan Hand Sanitizer Di Sekolah Masih Tetap Sakit
Sekolah merupakan tempat penyakit berkembang biak seperti pilek, penyakit pencernaan, flu dan lain-lain. Para peniliti ingin mengetahui hubungan antara seorang anak disekolah yang mencuci tangan apakah berpengaruh dengan kejadian penyakit. Namun berdasarkan penelitian mereka yang dilakukan di 68 sekolah dasar di Selandia baru. Di beberapa sekolah tesebut ditempatkan hand sanitizer. Setengah sekolah secara acak mendapatkan pembersih tersebut. Di sekolah-sekolah, anak-anak diajarkan selama 30 menit untuk menjaga kebersihan tangan dengan cara mengajarkan cara mencuci tangan yang baik dan juga diberitahu untuk menggunakan pembersih tangan hand sanitizer setelah batuk atau bersin dan saat mereka meninggalkan kelas untuk istirahat atau makan siang. (Bahan aktif dalam hand sanitizer tersebut hanya alkohol bukan antibakteri triclosan, yang kontroversial dikatakan berpotensi menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik). Sedangkan anak-anak di sekolah-sekolah lain hanya mendapat pelajaran tentang menjaga kebersihan tangan. Selama 20 minggu penelitian tersebut dilakukan, para peneliti menidaklanjuti penelitian tersebut. Diambil sampel secara acak dari 2443 siswa. Tingkat ketidakhadiran karena sakit dalam kelompok yang mendapatkan hand sanitizer dan kelompok yang tidak mendapatkan hand sanitizer adalah sama. Namun anak-anak yang berasal dari keluarga yang rajin mencuci tangan tidak sering sakit. Penelitian dilakukan pada tahun 2009 dan dimulai tepat sebelum terjadi pandemi flu H1N1 . Jadi para peneliti memperingatkan agar anak-anak mungkin lebih berhati-hati tentang kebersihan tangan pada umumnya, yang bertujuan untuk membatasi penyebaran flu. Mereka menyimpulkan bahwa penggunaan pembersih tangan untuk kebersihan tangan yang ada tidak menghasilkan manfaat yang penting Tapi Dr Aaron Glatt, wakil presiden eksekutif di Mercy Medical Center di Rockville Centre, NY, dan juru bicara Infectious Diseases Society of America, menekankan bahwa tidak ada salahnya apabila setiap sekolah tetap diberikan hand sanitizer . Karena seperti diketahui sekolah juga merupakan tempat penularan penyakit sehingga diperlukan upaya untuk menjaga kebersihan tangan. Sumber: npr