Your browser does not support JavaScript!
 23 Feb 2020    08:00 WIB
Berbagai Bahaya Layar Sentuh Bagi Anak
Anda tentunya telah melihat bagaimana anak kecil zaman sekarang sudah demikian akrab dengan berbagai perangkat layar sentuh seperti telepon genggam, tablet, laptop, hingga televisi. Mereka telah mahir menggunakan berbagai perangkat layar sentuh tersebut, bahkan beberapa di antara mereka malah telah mengalami ketergantungan. Mengapa demikian? Teknologi layar sentuh memang memiliki berbagai manfaat, akan tetapi, bahaya ternyata juga menyertai penggunaannya, terutama pada para balita. Seorang ahli terapi dari Maryland, Amerika Serikat, memperingatkan bahwa penggunaan layar sentuh dalam waktu lama oleh seorang anak dapat melemahkan otot tangan anak tersebut. Hal inilah yang membuat banyak anak mengalami keterlambatan pertumbuhan otot atau kelemahan otot di beberapa bagian.   Baca Juga: Mengapa Kemajuan Teknologi Berbahaya Bagi Anak?   Walaupun para ahli masih memperdebatkan pengaruh layar sentuh bagi tubuh seseorang karena teknologi ini masih baru dan pengaruh jangka panjangnya masih belum diketahui dengan pasti, akan tetapi the American Academy of Pediatri, mengatakan bahwa seorang anak tidak boleh menggunakan layar sentuh lebih dari dua jam setiap harinya. Bahkan mereka juga mengatakan bahwa anak yang masih berusia kurang dari dua tahun sebenarnya sama sekali tidak boleh menggunakan berbagai perangkat layar sentuh tersebut. Selain itu, di Inggris pun para ahli telah memperingatkan bahwa penggunaan berbagai perangkat elektronik seperti komputer, alat video game, dan smartphone merupakan suatu bom waktu bagi kesehatan anak karena dapat menimbulkan rasa sakit pada Leher dan punggungnya. Bahkan, menurut sebuah penelitian; 3 dari 4 orang anak SD dan 2 dari 3 orang anak SMP/SMU dilaporkan menderita nyeri leher dan nyeri punggung akibat penggunaan berbagai alat elektronik dengan layar sentuh dalam waktu lama. Seorang fisioterapis mengatakan bahwa gaya hidup modern dan kemajuan teknologi membawa efek yang sangat buruk bagi kesehatan anak, yang jika tidak segera ditanggulangi akan memberikan efek yang sangat besar bagi generasi mendatang.   Sumber: tipssehat
 12 Feb 2020    16:00 WIB
Berapa Banyak Sayur dan Buah Yang Harus Dikonsumsi Dalam Sehari Oleh Si Kecil ?
Makan sayur dan buah adalah hal yang baik, kandungan nutrisi di dalamnya adalah faktor penting untuk menjaga kesehatan tubuh, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.   Berapa banyak buah dan sayur yang dibutuhkan oleh anak? Kita semua perlu makan berbagai macam buah dan sayur berbeda warna setiap harinya. Jumlah harian yang direkomendasikan untuk anak-anak dan remaja tergantung pada tingkat usia, nafsu makan dan aktivitas mereka.   Berikut tabel rekomendasi makan buah dan sayur harian sesuai dengan usia: Usia Buah (perempuan) Buah (laki-laki) Sayur (perempuan) Sayur (laki-laki) 1-2 ½ ½ 2 - 3 2 - 3 2-3 1 1 2 ½ 2 ½ 4-8 1 ½ 1 ½ 4 ½ 4 ½ 9-11 2 2 5 5 12-18 2 2 5 5 ½ Catatan: Satu porsi buah diatas berarti 150 gram (setara dengan 1 buah apel ukuran sedang, 2 potongan kecil (misalnya alpukat), 1 cangkir buah cincang, ½ cangkir (125ml) 99% jus buah tanpa gula, atau 1 ½ sendok makan buah kering. Satu porsi sayuran berarti 75 gram (setara dengan ½ cangkir sayuran dimasak, ½  kentang ukuran sedang; 1 cangkir salad sayuran, atau ½ cangkir kacang-kacangan yang dimasak (kacang kering, kacang polong).   Buah segar adalah pilihan yang lebih baik daripada jus Seluruh buah mengandung beberapa gula alami yang membuatnya memiliki rasa manis, selain itu juga mengandung banyak vitamin, mineral dan serat, yang membuatnya lebih bergizi daripada segelas jus buah.   Bagaimana membantu anak-anak dan remaja makan lebih banyak buah dan sayur? Membuat anak makan lebih banyak buah dan sayur setiap hari bisa jadi adalah sebuah  perjuangan bagi seorang ibu. Untuk dapat menyukai sayur dan buah, anak perlu mencobanya sampai 10 kali terlebih dahulu. Jadi tetap sabar dan terus tawarkan kepada mereka. Hal ini juga dapat membantu Anda untuk mempersiapkan dan menghidangkan dengan cara yang berbeda dan kreatif.   Beberapa ide yang dapat Anda coba agar anak ingin makan sayur dan buah: Libatkan seluruh keluarga dalam memilih dan menyiapkan buah dan sayur yang akan dihidangkan Pilih buah dan sayur yang sedang musimnya, biasanya rasanya lebih enak dan lebih murah. Selalu simpan buah dan sayur di kulkas Anda, potong dadu buah dan taruh dalam mangkuk di lemari es. Sehingga bila anak membuka kulkas mereka akan lebih sering melihat buah dan sayur dan merasa lebih tergoda untuk memakannya. Jadilah kreatif dalam cara Anda mempersiapkan dan menghidangkan buah dan sayuran agar terlihat menarik dan disukai anak. Sertakan buah dan sayur di setiap makanan yang Anda hidangkan. Misalnya, menambahkan sayur cincang, parutan sayuran untuk saus pasta, daging burger, kentang goreng dan sup, dan menambahkan buah untuk sarapan sereal. Coba tambahkan buah atau sayur berbeda pada roti panggang Anda seperti pisang, jamur atau tomat. Tambahkan buah untuk yoghurt plain Anda Membuat smoothie buah dengan buah segar campurkan dengan susu rendah lemak dan yoghurt. Masukkan buah dan sayur ke dalam bekal anak Anda. Buat sate buah menjadi camilan yang menyegarkan. Anda bisa memilih buah-buah yang manis seperti stroberi, melon, anggur dan celupkan dalam coklat.   Baca juga: Satu Buah Sehari Mampu Turunkan Resiko Terjadinya Serangan Jantung   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: healthykids
 30 Jan 2020    16:00 WIB
6 Cara Membantu Menghilangkan Rasa Takut Anak Pada Dokter Gigi
Bacakan Buku Mengenai Dokter Gigi Salah satu cara menolong anak Anda untuk menghadapi rasa takutnya terhadap dokter gigi adalah dengan membacakan mereka buku-buku mengenai dokter gigi. Saat ini telah tersedia berbagai jenis buku anak-anak mengenai dokter gigi yang dapat Anda pilih bagi anak Anda.  Melalui buku-buku cerita ini, anak Anda dapat mengetahui apa yang kira-kira akan terjadi di klinik dokter gigi. Dianjurkan agar Anda membaca buku cerita tersebut sebelum membacakannya bagi anak Anda untuk mengetahui apakah buku tersebut sesuai bagi anak Anda atau tidak.   Bermain  Cara lainnya untuk mengurangi rasa takut anak Anda terhadap dokter gigi adalah dengan bermain. Bermainlah dengan anak Anda mengenai kunjungan ke dokter gigi. Saat melakukan permainan ini, Anda dapat melakukan berbagai hal; mulai dari menghitung jumlah giginya atau menyikat giginya. Anda pun dapat mencoba menjadi pasien dan anak Anda sebagai dokter giginya.   Jadilah Contoh yang Baik Apapun situasinya, berusahalah untuk menjadi contoh yang baik bagi anak-anak Anda. Beritahukanlah pada anak Anda mengenai betapa pentingnya menjaga kesehatan mulut dan giginya. Ajak anak Anda untuk melihat bagaimana cara Anda menyikat gigi dan beritahukan padanya kapan saja Anda pergi ke dokter gigi sewaktu masih kecil dan saat ini setelah Anda dewasa.   Mulailah Sejak Dini Lakukanlah pemeriksaan gigi anak Anda sedini mungkin, yaitu pada saat gigi pertama mereka tumbuh. Hal ini akan membuat anak Anda menganggap bahwa kunjungan ke dokter gigi merupakan bagian dari suatu rutinitas. Selain itu, carilah dokter gigi yang membuat anak Anda merasa nyaman.   Alihkan Perhatiannya Jika Anda ingin mengajak anak Anda ke dokter gigi, maka pastikan Anda tidak lupa membawa serta mainan kesukannya. Hal ini akan membantu mengalihkan perhatian anak dan mengurangi rasa takutnya.    Hati-hati Saat Berbicara Anak-anak memiliki daya ingat yang sangat baik, oleh karena itu berhati-hatilah saat Anda berbicara mengenai apa saja yang terjadi saat kunjungan Anda ke dokter gigi atau saat Anda berbicara hal yang negatif mengenai dokter gigi. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang  Sumber: allwomenstalk
 25 Jan 2020    16:00 WIB
Dampak Terlalu Lama Menonton Televisi Pada Anak
Sebuah penelitian di Skotlandia menemukan bahwa menonton televisi selama 3 jam atau lebih setiap harinya dapat meningkatkan resiko anak untuk memiliki perilaku antisosial, walaupun bermain video games tampaknya tidak menimbulkan efek yang sama. Walaupun demikian, sebuah penelitian lainnya yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa resiko tersebut sangatlah kecil. Pada penelitian di Skotlandia ini, para peneliti mengamati sekitar 11.000 orang anak dan menganalisa apa sebenarnya dampak menonton televisi dan bermain video game pada anak yang berusia antara 5-7 tahun. Setelah memasukkan berbagai faktor lain yang juga dapat mempengaruhi perilaku anak seperti keadaan keluarga dan peran orang tua, para peneliti menemukan bahwa sekitar 15% anak yang menonton televise selama lebih dari 3 jam setiap harinya, memiliki resiko yang sedikit lebih tinggi untuk memiliki perilaku antisosial pada saat mereka berusia 7 tahun. Para peneliti menekankan bahwa hubungan antara banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi dan resiko terjadinya gangguan perilaku pada anak mungkin hanya merupakan suatu hubungan tidak langsung. Peningkatan resiko terjadinya perilaku antisosial dapat dipengaruhi oleh berapa lama waktu yang dihabiskan oleh seorang anak untuk duduk diam tanpa melakukan aktivitas fisik apapun atau apakah anak mengalami kesulitan tidur setelah menonton televisi. Pada penelitian ini, para peneliti tidak mencatat jenis film atau acara televisi apa yang ditonton oleh anak. Para peneliti menyatakan bahwa menonton televisi tidak memiliki efek langsung pada keadaan emosional anak atau kemampuan anak untuk mempertahankan konsentrasinya. Selain itu, para peneliti juga tidak menemukan adanya hubungan antara bermain video game dengan perilaku antisosial atau gangguan kesehatan lainnya. Walaupun para peneliti tidak menemukan adanya hubungan langsung antara menonton televisi dan kemungkinan timbulnya perilaku antiososial, para peneliti tetap menganjurkan agar para orang tua membatasi waktu menonton televisi pada anak karena hal ini dapat menyebabkan gangguan pada prestasi akademik dan kesehatan fisik anak. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan di New Zealand yang juga meneliti hubungan antara terlalu banyak menonton televisi dengan perilaku antisosial menemukan hal yang berbeda. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisa data dari 1.037 penduduk New Zealand yang diamati sejak mereka lahir hingga mereka berusia 26 tahun. Para peneliti kemudian membandingkan antara berapa banyak waktu yang dihabiskan mereka untuk menonton televisi semasa kanak-kanak dengan aktivitas criminal, kepribadian agresif, atau gangguan mental, terutama gangguan kepribadian antisosial saat mereka telah dewasa. Para peneliti juga memperhitungkan berbagai faktor lainnya yang mungkin mempengaruhi perilaku dan kepribadian anak seperti perilaku orang tua, status sosial ekonomi, dan berbagai faktor lainnya. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi semasa kanak-kanak dan dewasa cenderung lebih banyak terlibat dengan tindakan kriminal, memiliki gangguan kepribadian antisosial, dan cenderung memiliki kepribadian agresif dibandingkan dengan anak yang lebih jarang menonton televisi. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti pun mengajurkan agar anak-anak tidak menghabiskan lebih dari 1-2 jam untuk menonton televisi setiap harinya. Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa karena anak-anak balita akan meniru setiap perilaku agresif atau perilaku baik yang mereka lihat di televisi dan film, maka pengawasan orang tua sangatlah penting karena hal ini dapat mempengaruhi perilaku anak di masa mendatang. Sebuah penelitian lainnya di tahun 1999 juga menganjurkan para orang tua untuk membatasi lama waktu menonton televisi dan bermain video game pada anak sebagai salah satu cara untuk mencegah terjadinya obesitas pada anak.   Sumber: healthline
 19 Dec 2019    11:00 WIB
Tanda Adanya Gangguan Tidur Pada Anak Selain Mengorok
Sekitar 8-12% anak-anak mengorok di malam hari, yang disebut dengan mengorok habitual, dan sekitar 3-5% anak-anak mengalami gangguan tidur apneu. Gangguan tidur apneu pada anak ini merupakan suatu kondisi berat yang dapat berdampak negatif pada pertumbuhan fisik, emosional, perkembangan kognitif, dan kesehatan jantung serta pembuluh darah anak.  Di bawah ini terdapat beberapa hal yang dapat merupakan tAnda adanya gangguan tidur apneu pada anak selain dari mengorok.   Sering Berkeringat di Malam Hari Hal ini dapat terjadi akibat aktivitas berlebihan dari sistem saraf simpak selama tidur, yang dipicu oleh rendahnya kadar oksigen di dalam darah dan akibat tubuh berusaha untuk bernapas karena tertutupnya jalan napas.   Tulang Rusuk dan Dada Tampak Masuk ke Dalam Hal ini disebabkan oleh usaha keras tubuh untuk bernapas melalui jalan napas yang tertutup.   Posisi Tidur yang Aneh Anak yang mengalami gangguan tidur apneu cenderung tidur dengan posisi leher yang aneh (hiperekstensi). Hal ini merupakan salah satu usaha tubuh untuk membuka jalan napas yang tertutup.   Nyeri Kepala di Pagi Hari Nyeri kepala yang terjadi di pagi hari dapat terjadi akibat rendahnya kadar oksigen dan meningkatnya tekanan darah selama anak tertidur.   Terus Mengompol Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa anak yang terus mengompol seringkali juga menderita gangguan tidur apneu. Pengobatan gangguan tidur apneu dapat membantu mengatasi kebiasaan mengompol anak.   Perilaku Hiperaktif Anak yang menderita gangguan tidur apneu seringkali salah didiagnosa sebagai ADHD. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan mendetail tentang berbagai gejala yang dialami anak, termasuk apakah anak mengorok atau tidak saat tidur.   Berjalan Saat Tidur dan Sering Ketakutan di Malam Hari Gangguan tidur apneu dapat menyebabkan anak berjalan saat tidur atau mengalami teror malam (terbangun dalam keadaan ketakutan di malam hari). Sebuah penelitian menemukan bahwa dengan mengatasi gangguan tidur apneu, anak pun tidak lagi berjalan saat tidur.   Menderita Tekanan Darah Tinggi Semua anak yang menderita tekanan darah tinggi harus melalui pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui apakah anak menderita gangguan tidur apneu atau tidak.   Menderita Sindrom Down Sekitar 40-70% anak yang menderita sindrom Down mengalami gangguan tidur apneu. Gangguan tidur ini dapat menyebabkan gangguan berat pada kesehatan dan perkembangan mental anak.   Obesitas Berbagai penelitian baru-baru ini menemukan bahwa sekitar 30% anak yang mengalami obesitas juga mengalami gangguan tidur apneu. Bila tidak diobati, maka gangguan tidur ini dapat meningkatkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi, resistensi insulin, dan gangguan metabolik pada anak serta membuat anak sulit menurunkan berat badannya.   Karena gangguan tidur apneu pada anak dapat menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan pada anak bila tidak diobati, maka deteksi dini dan pengobatan secepatnya dapat membantu mencegah terjadinya berbagai gangguan kesehatan tersebut.  Jika anak Anda mengorok selama tidur dalam waktu yang cukup lama (kronis) atau bila disertai dengan beberapa gejala lain di atas, maka segera hubungi dokter anak Anda.   Sumber: huffingtonpost
 07 Dec 2019    08:00 WIB
Balita Sangat Suka Minum Susu, Apakah Baik Atau Tidak?
Hampir kebanyakan anak suka minum susu, susu adalah cara yang baik untuk menjamin asupan kalsium anak. Tapi untuk anak Anda yang masih balita apakah kebiasan minum susu itu adalah hal yang baik atau tidak? Silahkan simak ulasan dibawah ini.   Jumlah Yang Disarankan Menurut Centers for Disease Control and Prevention, anak-anak berusia antara 1-5 tahun seharusnya mengonsumsi tidak lebih dari tiga gelas, 235 ml susu per hari. Minum sekitar satu setengah cangkir susu per hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kalsium anak-anak antara usia 1-3 tahun atau batita.   Anemia Defisiensi Besi Anemia kekurangan zat besi merupakan perhatian utama kebanyakan balita yang terlalu banyak minum susu. Susu rendah zat besi dan menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh, sehingga anak kecil yang banyak minum susu bisa mengalami kekurangan zat besi. Balita sangat rentan mengalami hal ini karena mereka mungkin tidak mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi, jadi mereka tidak dapat menebus kekurangan dengan cara lain. Selain itu, karena saluran pencernaan balita masih berkembang, mungkin mengalami reaksi ringan terhadap susu yang menyebabkan kehilangan darah di usus dalam jumlah kecil. Kehilangan darah mengurangi zat besi dalam tubuh, jadi ini bisa membuat kemungkinan mengalami anemia kekurangan zat besi lebih besar lagi.   Kalori dan Nutrisi Seorang balita yang minum terlalu banyak susu mungkin mendapatkan banyak kalsium, tapi mungkin dia menghindari makanan dan minuman lain yang memiliki nutrisi lain. Jika anak Anda minum lebih dari tiga cangkir susu setiap hari, dia mungkin mendapatkan setengah, atau lebih, asupan kalori hariannya hanya dari susu saja. Jika Anda memiliki riwayat keluarga obesitas, penyakit jantung atau diabetes, maka dokter spesialis anak Anda mungkin akan menyarankan untuk membatasi asupan susu atau beralih ke susu rendah lemak.   Intoleransi dan Alergi Laktosa Beberapa balita mengalami alergi susu. Anak-anak dengan alergi parah bisa mengalami mengi, muntah atau cegukan jika mereka minum susu. Terkadang alergi susu bisa mengancam nyawa. Berbeda dengan alergi susu, intoleransi laktosa tidak berbahaya, tapi bisa membuat tidak nyaman. Intoleransi laktosa terjadi saat tubuh perlahan berhenti memproduksi laktase, enzim yang mencerna gula dalam susu.   Intoleransi laktosa pada bayi jarang terjadi karena mereka membutuhkan laktase untuk mencerna ASI mereka, namun kemampuan untuk memproduksi laktase dapat mulai berkurang saat balita. Balita yang tidak toleran terhadap laktosa dapat mengalami sakit perut atau diare jika dia minum terlalu banyak susu. Jumlah susu yang bisa ditangani balita bergantung pada berapa banyak laktase yang masih dihasilkannya, sehingga setiap anak memiliki batas yang berbeda.   Baca juga: Tips Untuk Membuat Anak Mau Memakan Buah dan Sayuran Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: sfgate
 27 Oct 2019    11:00 WIB
Apa Penyebab Terjadinya Gangguan Autisme Pada Anak?
Penyebab utama terjadinya gangguan autisme masih tidak diketahui. Akan tetapi, para ahli yakin bahwa mereka telah menemukan beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme pada seorang anak.   Bentuk Otak Gangguan pada beberapa bagian otak manusia dapat menjadi petunjuk adanya gangguan autisme pada seorang anak. Beberapa peneliti menemukan bahwa adanya gangguan pada bagian otak yang bertugas untuk mengatur gerakan tubuh dan emosi dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme. Penelitian lainnya menemukan bahwa otak seorang penderita autisme memiliki ukuran dan struktur yang berbeda dengan orang lainnya yang tidak menderita autisme. Saat ini para peneliti sedang meneliti mengenai ada tidaknya hubungan antara neurotransmiter di dalam otak dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan autisme pada seorang anak.   Genetika Berbagai penelitian menemukan bahwa gangguan autisme lebih sering terjadi pada orang yang memiliki anggota keluarga yang juga menderita gangguan autisme. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetika juga turut berperan dalam terjadinya autisme. Selain itu, beberapa gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kelainan genetika juga telah ditemukan berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan autisme. Beberapa gangguan kesehatan tersebut adalah sindrom kromosom X yang rapuh (fragile X syndrome) dan sklerosis tuberous. Hubungan antara sklerosis tuberous dengan gangguan autisme memang belum jelas, akan tetapi berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa gangguan autisme lebih banyak terjadi pada anak-anak yang juga menderita sklerosis tuberous. Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hubungan antara genetika dan gangguan autisme adalah: Jika salah satu anak kembar identik menderita gangguan autisme, maka kemungkinan saudara kembarnya untuk juga menderita gangguan autisme adalah sebesar 60-96% Bila salah satu anak kembar tidak identik menderita gangguan autisme, maka kemungkinan saudara kembarnya untuk juga menderita gangguan autisme adalah sebesar 24% Jika sebuah keluarga telah memiliki seorang anak yang menderita gangguan autisme, maka kemungkinan bahwa anak-anaknya yang lain juga akan menderita gangguan autisme adalah antara 2-8% Sekitar 10% anak penderita gangguan autisme juga memiliki gangguan genetika, neurologis, atau metabolisme lainnya   Paparan Terhadap Obat-obatan dan Zat Kimia Tertentu Obat-obatan Beberapa jenis obat-obatan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme pada janin bila dikonsumsi oleh wanita hamil adalah thalidomide dan asam valproat. Thalidomide merupakan obat yang digunakan untuk mengobati seseorang yang baru saja didiagnosa menderita mieloma multipel. Sedangkan asam valproat banyak digunakan untuk mengatasi beberapa gangguan kesehatan seperti beberapa jenis kejang dan gejala gangguan manik pada seorang penderita gangguan bipolar. Selain itu, asam valproat juga dapat digunakan untuk mencegah terjadinya migrain. Zat Kimia Berbagai jenis racun yang terdapat pada lingkungan dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme pada anak. Sebuah penelitian di Amerika menduga adanya hubungan antara gangguan autisme dan polutan udara seperti merkuri, cadmium, nikel, dan vinil klorida.     Sumber: healthline
 25 Oct 2019    16:00 WIB
Diare Dapat Menyebabkan Kematian Pada Anak-Anak
Diare merupakan suatu keadaan di mana seseorang buang air besar (cair) lebih dari 3 kali sehari, yang dapat terjadi kapan saja dan gejalanya pun dapat bervariasi dari yang ringan hingga berat. Penyebabnya sendiri juga ada bermacam-macam; mulai dari bakteri, parasit, virus, hingga akibat reaksi alergi terhadap suatu jenis makanan atau zat di dalam makanan. Hal lainnya yang juga dapat menyebabkan terjadinya diare adalah gangguan penyerapan lemak dan gluten (intoleransi gluten). Pada anak, gejala diare dapat sedikit berbeda dibandingkan dengan orang dewasa. Beberapa gejala diare yang dapat ditemukan pada anak-anak adalah: Rewel Tampak gelisah Demam Tinja cair atau berlendir atau bahkan disertai darah (tinja menjadi berwarna hitam lunak atau kemerahan) Tinja berwarna kehijauan (bercampur dengan cairan empedu) Anus tampak lecet Kadang disertai dengan muntah Dehidrasi   Diare pada anak dianggap cukup berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya kematian pada anak akibat dehidrasi berat. Dehidrasi merupakan suatu keadaan di mana seseorang kekurangan cairan tubuh. Dehidrasi dapat terjadi akibat muntah, diare, tidak mengkonsumsi cukup cairan, atau kombinasi dari ketiganya. Walaupun agak jarang, keringat berlebih atau buang air kecil secara berlebihan juga dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi. Berbeda dengan orang dewasa, bayi dan anak-anak kecil lebih mudah mengalami dehidrasi. Hal ini dikarenakan tubuh mereka lebih mudah kehilangan cairan dibandingkan dengan orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar. Beberapa gejala dehidrasi yang perlu diwaspadai pada anak adalah: Rewel Mata tampak cekung Tidak ada air mata saat menangis Mulut kering Ubun-ubun cekung Elastisitas kulit menurun Jumlah air kemih berkurang atau jarang buang air kecil   Seorang bayi yang mengalami dehidrasi dan tidak segera ditangani dapat meninggal dalam waktu 2-3 hari kemudian. Oleh karena itu, segera periksakan anak Anda ke seorang dokter terdekat bila diare yang ia alami tidak juga membaik.   Baca Juga: Tips Mencegah Terjadinya Dehidrasi Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya Dokter. Sumber: emedicinehealth
 11 Oct 2019    08:00 WIB
Manjakan Si kecil dengan Teknik Pijat 'I Love You'
Pijat menjadi salah satu obat mujarab untuk menghilangkan pegal-pegal di tubuh. Tak hanya orang dewasa, bayi pun sebenarnya sesekali perlu dipijat untuk menghilangkan rasa pegal di badan. Saat ini pijat bayi sangat digemari karena terbukti membuat bayi lebih sehat, tidak rewel, dan tidur lebih nyenyak. Tak perlu repot mendatangkan terapis, Anda pun bisa memijat si kecil di rumah. Untuk memijat bayi di rumah, Anda bisa mempraktikkan teknik pijat 'I Love You' berikut ini: • Kaki Pijat telapak kaki dari arah tumit ke jari kaki. remas jari satu per satu. Pijat punggung kaki, mulai dari mata kaki sampai jari kaki • Paha dan betis Pegang kedua paha bayi dengan kedua tangan. Putar dari dalam ke luar sambil bergerak turun menuju betis. Kembali ke atas dengan gerakan yang sama. • Dada Telapak tangan terbuka ke tengah dada bayi, lalu geser menyilang ke kanan atas. Kemudian, kembali ke tengah, ke kiri atas, kembali ke tengah, kiri atas, kembali ke tengah, kanan bawah, dan kembali ke tengah. • Perut Gunakan dua atau tiga jari dan gerakkan dengan membentuk huruf I-L-U dari arah bayi (bila dari posisi kita membentuk hurug I-L-U terbalik). urut bagian kiri bayi dari bawah iga ke bawah (huruf I) urut melintang dari kanan bayi ke kiri bayi, kemudian turun ke bawah (huruf L) urut dari kanan bawah bayi, naik ke kanan atas bayi, melengkung membentuk huruf U dan turun lagi ke kiri bayi. Semua geerakan berakhir di perut kiri bayi. • Tangan pijat dari pangkal lengan, lalu turun ke tangan, kemudian kembali memijat dari tangan ke pangkal lengan. • Wajah Angkat bagian belakang kepalanya dengan kedua tangan Anda dan usap-usap kulit kepalanya dengan ujung jari Anda. Gosok-gosok daun telingannya dan usap-usap alis matanya, kedua kelopak matanya yang tertutup, dan mulai dari puncak tulang hidungnnya menyeberang ke kedua pipinya. Pijat dagunya dengan membuat lingkaran-lingkaran kecil. Menurut penelitian bayi prematur yang dipijat beratnya akan naik secara signifikan dibanding dengan bayi yang tidak dipijat. Lebih lanjut, berikut ini manfaat pijat untuk bayi: Meningkatkan berat badan. Pijat bayi bisa melancarakan pencernaan, jadi bayi mudah lapar dan otomatis meningkatkan berat badan. Selain itu, untuk ibu menyusui,secara tidak langsung juga bisa melancarkan ASI.  Jika sang ibu yang memijat, secara tidak langsung akan membangun kedekatan antara ibu dan anak. Membantu mengurangi gejala kembung dan kolik (menangis berlebihan) sehingga bayi akan tidur lebih nyenyak Meningkatkan konsentrasi bayi sebab ketika ia nyenyak tertidur usai dipijat, saat terbangun ia dalam keadaan konsentrasi penuh. Meningkatkan hormon oksitosin. Hormon oksitosin dikenal juga sebagai hormone cinta. Hormone ini menimbulkan rasa nyaman dan kasih saying, sehingga menimbulkan ikatan psikologis yang kuat antara ibu dan bayi Menurunkan hormone kortisol. Hormone kortisol menyebabkan stress. Dengan turunnya hormon kortisol bayi menjadi lebih ceria dan tidak suka menangis. Memijat secara teratur memberikan manfaat mempengaruhi rangsangan syaraf dan kulit dan memproduksi hormone yang berpengaruh dalam menaikkan berat badan. Bila Anda ingin mencoba melakukan pijat bayi pada si kecil, ada beberapa persiapan yang bisa anda lakukan, yaitu : - Pijat bayi pada pagi dan sore hari - Lakukan sebelum waktu tidur - Tunggu paling tidak 30 menit setelah menyusui si kecil sebelum memijat bayi - Gunakan baby oil yang lembut dan sesuai dengan kulit bayi - Saat memijat, putarkan musik yang menenangkan dan redupkan lampu ruangan - Untuk mempererat ikatan dengan si kecil, jaga kontak mata dengan bayi dan bicaralah dengan suara yang menenangkan - Pijat bayi dengan lembut sambil perhatikan ekspresi si kecil untuk melihat cara memijat yang dia sukai