Your browser does not support JavaScript!
 05 Sep 2018    16:00 WIB
Hati-hati Gejala dan Resiko Depresi Bisa Terjadi Paska Melahirkan
Melahirkan pasti memang merupakan kejadian paling penting dalam kehidupan wanita dan pada sebagian besar kasus, saat ini merupakan saat penuh kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup wanita. Akan tetapi, walaupun demikian, melahirkan juga dapat membuat seorang wanita mengalami stress emosional, fisik, dan psikologis yang cukup berat. Beberapa di antaranya bahkan mengalami gangguan cemas atau bahkan depresi, segera setelah mereka melahirkan. Keparahan depresi atau rasa cemas paska melahirkan ini dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Keadaan ini biasanya disebut dengan depresi paska melahirkan. Pengobatan segera sangat penting untuk mencegah terjadinya efek jangka panjang. Selain itu, depresi paska melahirkan juga berbeda dengan baby blues, yang merupakan gangguan yang lebih ringan dan lebih sering ditemukan pada wanita yang baru saja melahirkan.   Apa Saja Gejala Depresi Paska Melahirkan? Seperti halnya gangguan depresi pada umumnya, gejala-gejala depresi paska melahirkan dapat menjadi semakin berat dan dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Pada masa ini, ibu yang baru melahirkan mungkin merasa tidak berdaya dan mungkin akan kehilangan sebagian atau seluruh ketertarikannya terhadap bayinya. Pada kasus yang jarang, para wanita ini dapat memiliki keinginan untuk bunuh diri atau melukai bayinya. Oleh karena itu, mendapatkan pertolongan dan pengobatan secepat mungkin sangatlah penting. Tanda dan gejala depresi paska melahirkan biasanya mulai terlihat dalam setahun pertama paska melahirkan dan dapat dipicu oleh berbagai hal, mulai dari perubahan kadar hormonal did alam tubuh hingga perubahan fisik dan emosional ibu setelah melahirkan. Stress merupakan pemicu utama dari terjadinya depresi paska melahirkan. Beberapa gejala depresi paska melahirkan yang paling sering ditemukan adalah: Kemarahan yang tidak terkendali dan terjadi secara mendadak Terus merasa sedih Merasa bersalah Merasa tidak memiliki harapan Kehilangan minat akan hobi atau bahkan bayinya Sering menangis Mudah marah Terus merasa lelah Insomnia Perubahan perilaku yang signifikan Mengalami gangguan makan Sangat penting untuk membedakan gejala depresi paska melahirkan dengan baby blues, yang biasanya hanya berlangsung selama 1-2 minggu. Secara umum, gejala baby blues yang sering ditemukan adalah mood yang berubah-ubah, sering menangis, dan selalu merasa cemas. Perbedaannya dengan depresi paska melahirkan adalah tingkat keparahan gejala. Gangguan kejiwaan lainnya yang lebih jarang tetapi lebih berat adalah psikosis paska melahirkan. Tanda dan gejala yang sering ditemukan adalah sikap paranoid, tampak bingung, tidak dapat membedakan waktu atau tempat, mengalami delusi, dan bahkan berhalusinasi. Segera hubungi dokter Anda, bila Anda mengalami berbagai gejala di atas atau gejala terus saja memburuk.   Apa Penyebab Utama Depresi Paska Melahirkan? Penyebab terjadinya depresi paska melahirkan dapat berbeda-beda. Penyebabnya mungkin hanya satu atau kombinasi dari berbagai hal. Perubahan emosional yang dialami oleh sang ibu segera setelah melahirkan seringkali merupakan penyebab utama terjadinya depresi paska melahirkan, di mana ibu selalu kurang tidur dan selalu merasa cemas saat merawat bayinya. Selain itu, perubahan kadar hormonal selama hamil dan melahirkan juga turut mempengaruhi terjadinya depresi paska melahirkan. Selain hormon seksual, perubahan kadar hormon tiroid juga dapat membuat ibu merasa sangat lelah, depresi, mood berubah-ubah, dan sebagainya.   Baca juga: Pengobatan dan Pencegahan Terjadinya Depresi Paska Melahirkan   Apa Saja yang Dapat Meningkatkan Resiko Terjadinya Depresi Paska Melahirkan? Walaupun tidak ada cara untuk memprediksi apakah seorang wanita akan mengalami depresi paska melahirkan atau tidak, akan tetapi ada beberapa hal yang diduga dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkan. Jika Anda pernah mengalami gangguan depresi sebelumnya, maka Anda mungkin akan mengalami depresi paska melahirkan. Selain itu, jika Anda memiliki masalah dalam pernikahan Anda (baik masalah kepercayaan, emosional, atau keuangan), maka resiko terjadinya depresi paska melahirkan juga akan lebih tinggi. Sementara itu, wanita yang pernah mengalami gangguan bipolar sebelum hamil, memiliki resiko tinggi untuk mengalami psikosis paska melahirkan, yang jauh lebih berbahaya daripada depresi, baik bagi ibu maupun bayinya. Stress karena sebab apapun yang dikombinasikan dengan kurangnya dukungan emosional, moral, atau keuangan dan adanya anggota keluarga yang menderita psikosis atau depresi atau keduanya juga dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkan. Satu hal lain yang perlu diingat adalah bahwa depresi paska melahirkan merupakan suatu gangguan psikologis berat yang dapat berkembang menjadi psikosis. Oleh karena itu, jangan pernah mengabaikan berbagai gejala depresi di atas. Wanita yang dianggap beresiko tinggi menderita depresi paska melahirkan adalah: Wanita yang merupakan ibu tunggal Wanita yang memiliki status sosial ekonomi bawah Wanita yang tidak menginginkan kehamilannya   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: lifespan
 05 Jul 2018    08:00 WIB
Gampang Depresi ? Mungkin Ini Penyebabnya
Guys pernah kepikir tidak bahwa ternyata kesukaan kita bangun entah di pagi atau siang hari ternyata mempengaruhi keadaan mental kita? Ternyata suatu studi menunjukan bahwa preferensi atau kesukaan kita tidur dan bangun mempengaruhi kebugaran dan keadaan mentalitas kita. Entahkah kita ini jenis burung yang suka tidur dan bangun lebih awal ataukan kita ini jenis burung hantu (kalau di masyarakat Indonesia ada yang menyebut sebagai kalong/kelelawar) yang tidur dan bangun telat ternyata berdampak pada kemungkinan berkembangnya kesehatan mental seperti depresi. Penelitian ini dilakukan oleh beberapa lembaga seperti the University of Colorado Boulder, the Channing Division of Network Medicine di Brigham, dan Women's Hospital di Boston. Tim peneliti melakukan penelitian atas 32.470 perempuan yang usia rata-ratanya 55 tahun. Tim ini juga meneliti hal-hal yang mempengaruhi siklus tidur-bangun seseorang seperti paparan sinar matahari dan jadwal kerja. Selain itu juga mencatat faktor lain yang berhubungan dengan depresi seperti berat badan, akttivitas fisik, penyakit kronis dan tentu saja durasi tidur juga. Dari peserta yang diteliti teridentifikasi 37 persen adalah mereka yang bangun pagian, 10 persennya adalah yang tipe "burung hantu", dan 53 persen adalah diantaranya dua kategori ini. Nah hasil yang di dapat ternyata mereka suka suka tidur terlambat dan bangun siang ada kecenderungan lebih suka hidup menurut maunya, cenderung mau menikah, cenderung memiliki kebiasaan merokok dan pola tidurnya tidak teratur. Mereka yang bangun lebih pagian dibandingkan dengan rata-rata orang memiliki resiko mengalami depresi lebih rendah sekitar 12-27 persen. Sedangkan mereka yang termasuk tipe burung hantu atau kalong ini 6 persen lebih tinggi kemungkinannya mengalami gangguan mood atau suasana hati. Jadi sobat sekalian kalau kita suka galau, gelisah tidak menentu mungkin ada baiknya kita coba untuk bangun bagi, Hindari hang out hingga malam atau pagi hari yang tidak perlu supaya kita bisa istirahat cukup dan bangun lebih pagi dengan tubuh dan otak yang lebih segar….selamat belajar bangun pagi!!! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber : www.medicalnewstoday.com
 15 Apr 2018    08:00 WIB
Olahraga, mengurangi depresi dan meningkatkan gairah seks!!
Olahraga, selain bisa membantu menjaga kesehatan dan berat badan tubuh, ternyata olahraga juga dapat membantu masalah performa seksual.   Wanita yang mengonsumsi obat antidepresan memiliki kecenderungan untuk terkena masalah seksual yang buruk,  sehingga dapat mengganggu keharmonisan dengan pasangan. Namun sebuah studi baru mengungkapkan bahwa berolahraga dapat membantu mengobati masalah kesehatan seksual pada wanita yang disebabkan oleh efek samping dari obat antidepresan. Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Texas, Austin,USA, ini melibatkan 52 partisipan wanita yang memiliki keinginan untuk sembuh dari efek samping obat antidepresan.   Para partisipan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok diminta untuk berolahraga secara rutin sebelum berhubungan seks dengan pasangan dan kelompok kedua diminta berolahraga tanpa diberikan batas waktu untuk berhubungan seks dengan pasangan. Selama tiga minggu para peneliti menganalisa perkembangan para partisipan dalam masalah kesehatan seksual mereka karena efek samping dari obat antidpresen tersebut.   Hasilnya menunjukan, bahwa berolahraga secara umum memang dapat memperbaiki kesehatan seksual karena obat antidepresan, namun melakukan 30 menit olahraga sebelum melakukan hubungan seks diketahui mampu meningkatkan libido secara signifikan dan dapat memperbaiki seluruh fungsi seksual pada wanita.   Selain itu, para peneliti juga menambahkan bahwa olahraga kecil dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik yang memainkan peran dalam aliran darah ke daerah genital, obat antidepresan diketahui menekan sistem tersebut dan menyebabkan aliran darah terhambat untuk masuk ke daerah genital. Menurut para peneliti, olahraga teratur menjadi cara yang murah dan aman untuk mengobati masalah kesehatan dari efek samping obat antidpresan.
 13 Mar 2018    08:00 WIB
5 Cara Mudah Untuk Mengatasi Depresi Paska Melahirkan
Depresi paska melahirkan berbeda dengan baby blues. Depresi paska melahirkan adalah perasaan sangat sedih dan berhubungan dengan gangguan psikologi setelah melahirkan. Banyak wanita mengalami baby blues setelah melahirkan. Baby blues adalah perasaan sedih, tidak karuan, cemas, atau kewalahan setelah melahirkan. Penderita dapat menangis, kehilangan nafsu makan, atau sulit tidur. Gangguan ini seringkali hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari atau seminggu. Gejala-gejala yang ada tidak berat dan tidak membutuhkan terapi. Gejala-gejala depresi paska melahirkan terjadi lebih lama dan lebih berat. Penderita juga dapat merasa putus asa, tidak berguna, dan kehilangan rasa ketertarikan dengan bayinya. Dalam bentuk yang berat, penderita bahkan dapat memiliki pikiran untuk melukai diri sendiri atau bayinya. Pengobatan perlu segera diberikan untuk mengatasinya. Jika keadaan Anda tidak terlalu berat, maka ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan jiwa Anda. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa tips yang dapat membantu mengatasi gejala depresi ringan.   Tetap Konsumsi Diet Sehat Saat ini Anda mungkin tidak merasa nafsu makan, akan tetapi cobalah untuk tetap makan walaupun sedikit. Makanlah sedikit-sedikit tetapi sering. Pilihlah berbagai jenis makanan yang memang dapat membantu memperbaiki mood seperti nasi, pisang, dan roti untuk memperoleh energi instan. Mengkonsumsi cokelat juga dapat membantu mengatasi stress dan dapat membuat Anda merasa lebih baik.   Olahraga Teratur Walaupun terdengar tidak berhubungan, akan tetapi olahraga sebenarnya dapat sangat mempengaruhi keadaan emosional Anda. Berjalan santai, stretching, atau bermain dengan bayi Anda dapat membantu memperbaiki mood Anda dengan cepat.   Baca juga: Apa Saja Gejala dan Resiko Terjadinya Depresi Paska Melahirkan?   Mengobrol Dengan Teman Curhat pada teman atau keluarga juga dapat membantu membuat Anda merasa lebih baik. Oleh karena itu, jangan ragu untuk curhat pada orang terdekat yang dapat dipercaya.   Istirahat yang Cukup Kurang tidur telah diketahui dapat membuat mood seseorang menjadi buruk dan mudah marah. Selain itu, badan juga dapat terasa sangat lemas. Oleh karena itu, usahakanlah untuk tidur dengan cukup setiap harinya, bila perlu Anda boleh tidur di siang hari.   Berpikir Positif Anda baru saja memiliki seorang bayi! Oleh karena itu, nikmatilah waktu menakjubkan ini dan temukanlah kesenangan dari semua kelelahan yang Anda rasakan saat merawat bayi Anda yang baru lahir. Terus berpikir positif dan ingatlah bahwa setiap masalah yang ada pasti akan segera berlalu. Namun, bila Anda terus merasa depresi dan mulai mengganggu hubungan Anda dengan pasangan dan orang lain, segera cari pertolongan medis.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: momjunction
 11 Mar 2018    08:00 WIB
Benarkah Olahraga Dapat Membantu Mengatasi Gangguan Depresi?
Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa olahraga benar-benar dapat membantu mengatasi depresi dan membuat Anda tidak mudah mengidap gangguan mood tersebut.   Pada penelitian ini, para peserta penelitian yang aktif melaporkan bahwa mereka memiliki lebih sedikit gejala depresi dibandingkan dengan peserta penelitian lain yang memiliki gaya hidup tidak aktif, di mana perbaikan gejala akan semakin tampak bila mereka semakin sering berolahraga.   Bahkan, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang tadinya tidak aktif berolahraga dan baru mulai berolahraga 3 kali seminggu dapat menurunkan resiko terjadinya depresi hingga 19%.   Karena penelitian ini dilakukan dengan mengamati lebih dari 11.000 orang selama lebih dari 30 tahun, maka para peneliti pun lebih dapat mempelajari apa sebenarnya dampak olahraga pada depresi pada orang yang sama setelah sejangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya.   Walaupun berbagai penelitian telah menemukan bahwa olahraga memang dapat membantu memperbaiki gejala depresi, akan tetapi bagaimana hal ini terjadi masih samar-samar.   Pada penelitian ini, para peneliti menduga hal ini mungkin merupakan suatu hubungan tidak langsung dengan cara mengalihkan perhatian Anda dari situasi yang tidak menyenangkan atau dengan mempengaruhi diet atau paparan sinar matahari pada penderita. Akan tetapi, para peneliti juga memiliki dugaan lainnya yaitu bahwa olahraga mungkin bekerja secara langsung pada otak Anda.     Sumber: menshealth
 13 Feb 2018    11:00 WIB
Benarkah Obat Anti Depresi Dapat Mencegah Penyakit Alzheimer?
Sebuah penelitian menemukan bahwa obat anti depresi yang banyak digunakan saat ini dapat menghambat pembentukan salah satu hal yang diduga merupakan penyebab terjadinya penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer dicirikan dengan adanya plak yang melekat pada sel-sel otak yang telah mulai terbentuk 10-15 tahun sebelum gejala pertama Alzheimer muncul. Plak ini tersusun dari suatu protein, yaitu beta amiloid. Pada penelitian ini, para peneliti sedang memeriksa apakah mungkin untuk menghambat pembentukan plak dengan cara mengubah proses pembentukan amiloid di dalam tubuh. Pada penelitian ini, para penelitian melakukan pemeriksaan melalui 2 tahap. Pada tahap pertama, para peneliti memberikan citalopram (salah satu jenis obat anti depresan) pada tikus yang sudah tua, yang juga mengalami kerusakan otak seperti halnya penderita Alzheimer. Walaupun plak pada hewan percobaan yang diamati tidak menghilang, akan tetapi plak ini tidak lagi bertambah banyak atau hanya mengalami sedikit pembentukan plak bila dibandingkan dengan tikus lain yang hanya diberikan air gula. Pada tahap kedua, para peneliti memberikan dosis tunggal citalopram atau plasebo pada 23 orang dewasa muda sehat, yang tidak menderita depresi atau cukup tua untuk memiliki plak pada otak. Melalui pemeriksaan cairan medulla spinalis para peserta penelitian satu setengah hari setelah pemberian citalopram, para peneliti menemukan bahwa produksi amiloid mereka mengalami penurunan hingga 37%. Citalopram merupakan obat anti depresi golongan SSRI yang dapat mengatasi gangguan depresi dengan cara mempengaruhi kadar serotonin di dalam otak. Seperti halnya obat-obatan, citalopram juga memiliki efek samping, terutama bila digunakan dalam dosis tinggi, yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah obat anti depresi dapat benar-benar membantu mencegah pembentukan plak baru di dalam otak, serta apakah obat ini dapat digunakan dalam jangka waktu lama untuk menurunkan produksi amiloid atau apakah tubuh akan mengalami reaksi toleransi obat. Sumber: newsmaxhealth
 05 Feb 2018    16:00 WIB
3 Cara Menghindari Depresi Akibat Media Sosial
Sekarang ini rasanya hampir semua orang memiliki media sosial dan menjadi sesuatu yang wajib untuk menbagi cerita yang dialami entah itu kebahagiaan seperti baru jadian, baru dilamar, baru melahirkan, aktivitas anak atau juga sedang merasa galau, baru putus. Semua ini menjadi sesuatu hal yang harus dibagikan ke media sosial. Media sosial merupakan media yang baik karena Anda bisa bersosialisasi dengan teman-teman Anda, bisa bertemu kembali dengan teman lama, berkenalan dengan teman baru dan ikut aktivitas menyenangkan karena media sosial. Akan tetapi media sosial juga bisa memberi efek buruk misal ada teman yang selalu pamer, hal ini bisa saja menimbulkan rasa iri bahkan merasa stress dan depresi. Ini semua merupakan efek buruk. Jadi, bagaimana kita bisa menghindari efek negatif media sosial?   3 Cara Menghindari Depresi Akibat Media Sosial Memiliki Batas Waktu Brown menyarankan untuk mencatat waktu yang kita habiskan untuk media sosial setiap hari selama seminggu dan mencoba mengekangnya. Misalnya, dia menulis: Banyak orang yang menghabiskan harinya lebih banyak menggunakan media sosial, rasanya sudah lupa akan semua hal. Salah satu cara yang dapat Anda lakukan dalam menghindari efek buruk akibat media sosial adalah dengan memiliki batas waktu. Kurangi waktu Anda menggunakan media sosial setengah dari waktu Anda biasa menggunakan media sosial. Anda dapat membatasi penggunaan dengan memblokir komunikasi dan pemberitahuan dari aplikasi sosial seperti Facebook agar tidak terganggu atau dibanjiri informasi. Ganti penggunaan Gagasan mengubah cara kita menggunakan media sosial adalah mencegah kita membandingkan diri kita dengan orang lain dan merasa cemburu. Jika kita membatasi media sosial untuk melakukan percakapan nyata dengan teman, ini akan menambah hubungan dalam kehidupan nyata, membantu kita merencanakan pertemuan, dan meningkatkan kesejahteraan kita. Lain kali saat mengunjungi sebuah situs, maka Anda harus mulai dengan bertanya pada diri sendiri apa tujuan dari Anda menggunakan media sosial/ Dapatkan Sumber Berita di Luar Media Sosial Sangat mudah untuk mendapatkan semua berita dari media sosial, tapi ini juga berarti kita bisa terganggu karena mencoba untuk tetap waspada. Ketika mendapatkan sumber berita dari media sosial, cenderung terpikat menjelajah media sosial orang lain atau membaca berita palsu. Orang yang menggunakan media sosial sangat sering memiliki 2,7 kali kemungkinan mengalami depresi dibandingkan pengguna yang jarang melihat media sosial. Depresi pada penyebab utama kecacatan di A.S., dan ini mempengaruhi sekitar 6,7 persen populasi berusia 18 dan lebih tua pada tahun tertentu. Pemantauan penggunaan media sosial dapat membantu menjaga kesehatan mental.   Baca juga: Keluar Cairan Abnormal dari Payudara, Apakah Sebabnya???   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: littlethings
 19 Nov 2017    14:00 WIB
Penyebab dan Gejala Depresi
Rasa sedih memang dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja, akan tetapi bila rasa sedih ini terus berlangsung selama beberapa hari, maka hal ini dapat merupakan tanda terjadinya depresi. Depresi merupakan suatu rasa sedih atau acuh tak acuh yang disertai dengan berbagai gejala lain yang berlangsung selama setidaknya 2 minggu berturut-turut dan cukup berat hingga mengganggu aktivitas anda sehari-hari. Depresi bukan merupakan suatu kelemahan atau bentuk dari kepribadian yang negatif. Depresi merupakan suatu gangguan kesehatan yang dapat diobati. Apakah Anda Beresiko?Depresi dapat mengenai siapa saja, akan tetapi para ahli menduga bahwa faktor genetika pun ikut berperan. Resiko terjadinya depresi akan lebih tinggi pada orang yang memiliki orang tua atau saudara yang mengalami depresi. Wanita memiliki resiko depresi dua kali lebih tinggi daripada pria. Penyebabnya:Para ahli masih tidak mengetahui penyebab pasti dari depresi, akan tetapi perubahan struktur otak dan gangguan keseimbangan neurotransmiter di dalam otak diduga sebagai penyebab terjadinya depresi.Gangguan keseimbangan neurotransmiter ini diduga disebabkan oleh adanya peristiwa traumatis atau stress seperti kehilangan seseorang yang dicintai atau kehilangan pekerjaan.Berbagai hal lainnya yang juga dapat memicu terjadinya depresi adalah:•    Efek samping obat-obatan tertentu•    Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang•    Perubahan hormonal•    Perubahan cuaca Gejalanya: Perubahan Emosional Gejala utama depresi adalah perasaan sedih dan atau kehilangan minat atau ketertarikan terhadap apapun di dalam kehidupannya. Penderita tidak lagi merasa senang saat melakukan suatu aktivitas yang disukainya. Selain itu, penderita juga seringkali dihantui oleh perasaan bersalah atau tidak berharga, putus asa, dan adanya pikiran berulang tentang kematian atau adanya keinginan untuk bunuh diri.   Gejala Fisik Berbagai gejala fisik yang dapat dialami oleh penderita depresi adalah:•    Merasa sangat lelah•    Merasa tidak bertenaga•    Insomnia, terbangun saat subuh dan tidak dapat tertidur kembali•    Tidur lama dan sering•    Nyeri otot yang persisten, nyeri kepala, kram otot, dan gangguan pencernaan yang tidak membaik setelah pemberian obat-obatanDepresi dapat membuat berbagai gangguan kesehatan lainnya memburuk, terutama nyeri kronik. Perubahan Nafsu MakanPerubahan nafsu makan atau berat badan merupakan ciri khas lainnya dari depresi. Beberapa penderita mengalami peningkatan nafsu makan, sementara penderita lainnya kehilangan nafsu makannya. Orang yang menderita depresi dapat mengalami penurunan atau peningkatan berat badan yang cukup berat. Waspadai Tanda-tanda Bunuh Diri Penderita depresi lebih sering melakukan tindakan bunuh diri. Tanda-tanda akan terjadinya tindakan bunuh diri adalah:•    Membicarakan tentang kematian atau tentang keinginan bunuh diri•    Mengancam untuk menyakiti orang lain•    Memiliki perilaku agresif atau berbahaya Sumber: webmd
 30 Sep 2017    08:00 WIB
Kaitan Depresi dengan Gagal Jantung
Sebuah studi terbaru mengatakan depresi dapat meningkatkan terjadinya gagal jantung.Para ahli melakukan penelitian terhadap 63.000 orang di Norwegia yang menjalani pemeriksaan fisik dan mental. Penelitian ini berlangsung selama 11 tahun dan sebanyak 1.500 partisipan ternyata mengidap gagal jantung. Kemudian dilakukan perbandingan tingkat depresi, orang-orang yang tidak memiliki gejala depresi atau mengalami depresi ringan hanya 5% yang mengalami gejala-gejala gagal jantung, sedangkan sebanyak 40% orang dengan tanda-tanda depresi sedang dan berat juga mengalami gagal jantung.Hasil studi ini telah dipresentasikan pada pertemuan ahli jantung di the European Society of Cardiology in Stavanger yang berlangsung di Norwegia. Gejala-gejala depresi dapat meningkatkan resiko terkena gagal jantung, dan semakin berat gejala depresi yang dialami, semakin tinggi resiko terkena gagal jantung. Hal ini dikarenakan orang-orang dengan depresi mempunyai gaya hidup yang tidak sehat sehingga semakin meningkatkan faktor resiko dari penyakit jantung seperi obesitas dan merokok. Pada orang dengan gagal jantung, jantung tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Studi ini memang tidak dapat membuktikan bagaimana depresi dapat berkembang menjadi gagal jantung, mereka hanya membuktikan bahwa kedua kondisi ini saling terkait.   Depresi akan merangsang munculnya hormon stress. Jika Anda stress Anda akan merasakan nadi Anda meningkat, nafas semakin cepat dan akan mempercepat keluarnya hormon stress. Hormon stress ini akan menyebabkan munculnya inflamasi dan mempercepat terbentuknya plak di dinding pembuluh darah. Hal-hal tersebut dapat mempercepat timbulnya penyakit jantung. Ditambah lagi orang-orang dengan depresi akan lebih sulit mengikuti obat-obatan dan perubahan gaya hidup untuk meningkatkan kesehatan Anda. Sebenarnya depresi dapat diobati dengan mudah jika ditangani sejak dini dan tidak memerlukan obat-obatan. Cukup berkonsultasi dengan dokter ahli saja. Ingin mengetahui lebih dalam mengenai gagal jantung? Silahkan membaca di siniSumber: webmd
 19 Jun 2017    18:00 WIB
Selamatkan Ibu Yang Baru Melahirkan Dari Depresi Paska Melahirkan! Lawan Dengan 10 Cara Ini
Berdasarkan data dari National Institute of Mental Health, depresi paska melahirkan bisa terjadi sampai 15% pada wanita yang melahirkan. Hal ini bisa terjadi menjelang atau paska persalinan. Biasanya terjadi seminggu atau sebulan setelah melahirkan.Keluhan yang sering muncul adalah merasa kewalahan, kecemasan yang parah, sering menangis, mudah marah, sedih, lelah, merasa tidak berguna, gangguan pola tidur dan makan, sulit berkonsentrasi dan rasa tidak tertarik pada bayi yang baru dilahirkan. Selain itu menyebabkan masalah fisik seperti sakit kepala, nyeri dada atau sesak napas.Depresi yang berlangsung lama tidak baik untuk kesehatan ibu dan bayi, oleh karena itu dalam kondisi ini maka orang dekat dari sang ibu harus segera mengajak ibu untuk berkonsultasi dengan dokter.Berikut cara melawan dan mencegah depresi paska melahirkan: 1.      Vitamin DVitamin D merupakan nutrisi yang penting untuk kesehatan mental seseorang. Vitamin ini membantu produksi serotonin, hormon otak yang berhubungan dengan perbaikan mood dan kebahagiaan. Kadar serotonin yang kuat akan membantu mencegah dan mengatasi depresi paska melahirkan.Biasanya saat kehamilan, kadar vitamin D dalam tubuh akan berkurang karena diserap janin. Untuk mendapatkan vitamin D yang cukup adalah dengan terpapar sinar matahari pagi selama 15-20 menit sehari. Konsumsi makanan yang mengandung vitamin D seperti ikan, kuning telur produk susu dan produk gandum.2.      Makanan kaya asam lemak omega-3Asam lemak omega-3 merupakan nutrisi yang penting yang mempengaruhi fungsi sel. Asam lemak ini merupakan kunci komponen membran sel yang akan menjaga kadar serotonin. Serotonin penting dalam membawa pesan ke sel-sel otak untuk mempertahankan suasana hati yang positif.Sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan oleh Behavioral Brain Research menunjukkan bahwa minyak ikan, yang kaya omega-3, memberikan efek menguntungkan pada depresi paska melahirkan dan menurunkan biomarker yang berhubungan dengan depresi, seperti kortikosteron dan sitokin pro-inflamasi sitokinUntuk menjaga kadar asam lemak omega-3 maka Anda bisa mengonsumsi flaxseed, ikan salmon, kacang walnut dan telur yang mengandung asam lemak omega-3. Selain itu Anda juga bisa konsumsi suplemen asam lemak omega-3.3.      MenyusuiSeorang ibu yang mengalami depresi paska melahirkan memerlukan sentuhan emosional yang kuat dengan bayi yang baru lahir, begitu juga dengan bayinya yang membutuhkan ibunya. Hubungan emosional ini akan melepas endorfin yang akan membuat seorang ibu merasa lebih bahagia dan merasa lebih percaya diri sebagai seorang ibu.Untuk memperkuat hubungan emosional, menyusui adalah pilihan terbaik. Namun ibu yang mengalami depresi paska melahirkan biasanya akan kurang tertarik untuk menyusui. Oleh karena itu diperlukan perhatian dari suami atau anggota keluarga lain untuk membuat ibu mengerti bahwa menyusui adalah hal yang sangat penting.4.      Konsultasi dengan profesionalSeorang ahli dalam masalah kesehatan mental seperti psikolog, psikiater, penasihat yang aktif dalam kegiatan melawan depresi paska melahirkan akan membantu untuk menangani perasaan ibu yang mengalami depresi paska melahirkan.Cara ini akan membantu para ibu baru untuk menuangkan semua perasaan takutnya. Melalui terapi ini maka seorang ibu baru akan menerima tanggung jawab menjadi seorang ibu.5.      Pijatan yang menenangkanPijatan merupakan salah satu cara untuk menenangkan tubuh. Pijatan akan memperbaiki kondisi tubuh yang sedang kelelahan. Selain itu membantu mengatasi pemikiran negatif dan mengatasi stres.Pijatan paska melahirkan akan membantu regulasi hormon, mengurangi pembengkakan, tidur yang lebih baik dan menyusui menjadi lebih baik. Namun ada baiknya pijatan ini dilakukan terapis yang memiliki sertfikat dalam memberikan pijatan paska melahirkan.6.      AkupunkturCara lain untuk menangani depresi paska melahirkan adalah dengan melakukan akupunktur. Dalam terapi ini jarum tipis dimasukkan pada titik-titik tertentu yang penting dalam tubuh.Yang akan  membantu menjaga keseimbangan dari berbagai hormon dalam tubuh.Selain itu juga bisa memberikan dorongan energi untuk ibu, mengisi energi terkuras saat melahirkan. Juga, membantu mengatasi rasa sakit dan meningkatkan fungsi tiroid.7.      Tidur dan istirahat yang tepatTidur sangat penting untuk para ibu baru.  Namun tidur delapan jam penuh mungkin tampak mustahil ketika Anda sedang berhadapan dengan bayi yang baru lahir, tapi kurang tidur dapat membuat depresi parah.Kurang tidur menyebabkan perubahan signifikan neurotransmitter otak, yang merupakan salah satu penyebab depresi.Selama kehamilan dan setelah melahirkan, penting untuk mengejar ketinggalan tidur yang hilang dengan tidur siang. Jika memungkinkan, seorang ibu baru harus membawa bayi keluar untuk berjalan-jalan setiap pagi untuk meningkatkan ritme sirkadian ibu dan anak. Anda juga dapat meminta pasangan Anda untuk membantu pekerjaan malam hari.8.      OlahragaOlahraga sama efektifnya dengan obat untuk mengatasi depresi. Oleh karena itu, setelah melahirkan, semakin cepat Anda bangkit kembali dan bergerak semakin baik.Tidak perlu melakukan olahraga yang berat. Cukup 30 menit berjalan kaki setiap hari akan memberi efek yang berarti. Anda juga dapat melakukannya sambil mengajak bayi Anda jalan-jalan menggunakan kereta dorong. Latihan yoga juga sangat membantu dalam mendapatkan bentuk tubuh yang ideal kembali.9.      Terapi cahaya terang (bright light therapy)Dalam terapi ini, mata pasien akan terpapar dengan cahaya terang namun aman. Cahaya ini akan mengatasi masalah gangguan irama sirkardian. Selain itu berefek pada neurotransmitter di otak seperti serotonin, noradrenalin and dopamin, yang penting untuk mengatasi depresi.10.  MeditasiDengan meditasi akan membantu mengontrol emosi, yang akan membuat Anda merasa lebih damai dan mengurangi risiko mengalami depresi paska melahirkan.Cara diatas dapat dilakukan untuk mencegah atau mengatasi depresi paska melahirkan. Dalam hal ini sangat dibutuhkan peran suami untuk membantu mengatasi depresi paska melahirkan dan memberi dukungan penuh kepada sang istri.Baca juga: Cara Membangun Kembali Hubungan Dengan KeluargaIngin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: top10homeremedies