Your browser does not support JavaScript!
Semakin Marak, Apakah Hepatitis Misterius Sama Nasibnya Dengan Covid-19?
Semakin Marak, Apakah Hepatitis Misterius Sama Nasibnya dengan Covid-19?

Hepatitis akut misterius terus menjadi perbincangan publik serta kekhawatiran orang tua lantaran penyakit ini yang sifatnya mengancam nyawa anak-anak. Sebagaimana diketahui, kehadiran hepatitis khususnya di Indonesia berhasil merenggut 6 nyawa anak-anak.

Kasus dugaan hepatitis akut misterius telah menyentuh angka lebih dari 300 kasus secara keseluruhan di 21 negara di dunia. Melihat kasusnya yang terus meningkat, ada kekhawatiran warga bila nasib hepatitis misterius akan sama parahnya dengan Covid-19.

Menjawab kekhawatiran tersebut, mantan direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara membeberkan perbedaan antara maraknya penyakit hepatitis akut misterius dengan awal mula munculnya Covid-19.

Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa Covid-19 jauh lebih meresahkan dibandingkan kehadiran hepatitis akut misterius ini. Pasalnya, WHO hingga kini belum menyatakan hepatitis akut misterius sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang meresahkan dunia (PHEIC), padahal kasus hepatitis misterius tersebut telah berlangsung selama sebulan.

Hal ini jelas menjadi pembeda yang jelas antara Covid-19 dengan hepatitis akut misterius. Selain itu, hingga kini WHO masih belum dapat menjelaskan apakah penyakit hepatitis misterius ini dapat menular antarmanusia atau tidak.

"Di sisi lain, belum ditemukan informasi yang jelas tentang ada tidaknya penularan antarmanusia," kata Prof Tjandra dikutip dari Detik.

Penyakit hepatitis akut misterius pun masih belum diketahui namanya meski sudah sebulan berlangsung, tak seperti Pneumonia of unknown cause yang ditetapkan sebagai Covid-19 dalam jangka waktu satu bulan.

Walau tak separah Covid-19, mantan WHO itu mengimbau masyarakat untuk tak meremehkan penyakit yang masih diteliti ini, mengingat penyakit ini telah merenggut nyawa. "Kita perlu waspada serta melakukan antisipasi, jangan abai namun jangan juga panik," imbau Prof Tjandra.

 

 

Digital Dokterid
May 12  -  2 min read