Your browser does not support JavaScript!
Ringkus Predator Seksual Di Kampus!
Ringkus Predator Seksual di Kampus!

Marak tersebar sebuah video mengenai pengakuan salah satu mahasiswa Universitas Riau di media sosial, belum lama ini. Dalam video itu, seorang perempuan mengaku mengalami pelecehan seksual dari seorang dosen sekaligus dekan di kampusnya. 

Dalam video yang tersebar di Instagram dan Twitter, korban menceritakan secara detail kejadian dugaan pelecehan seksual yang dialaminya ketika bimbingan skripsi dengan terduga pada 27 Oktober 2021.

Menurut cerita korban, ketika bimbingan skripsi di ruangan tanpa ada orang lain, korban kaget saat terduga pelaku mengucapkan ‘i love you’. Bahkan, selesai bimbingan, ketika hendak pamit, tangan korban tiba-tiba dipegang dan tubuh terduga mendekat.

Terduga pelaku, menurut cerita korban, mencium pipi dan kening dan kemudian mengatakan, "mana bibir, mana bibir."

Rian Sibarani, Pengacara korban dari LBH Pekanbaru, mengatakan kondisi korban masih trauma dan ketakutan. "Korban takut mendengar nama pelaku dan takut kembali ke kampus," katanya dalam konferensi pers dilansir dari BBC Indonesia.

Rencananya LBH Pekanbaru akan mengadukan persoalan ini ke Kemendikbudristek, Komnas Perempuan, dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Universitas Riau sudah membentuk tim pencari fakta dan mulai melakukan tugasnya terkait dengan kasus tersebut mulai dari Senin, 8 November 2021. 

Kasus dugaan pelecehan seksual ini juga mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk melakukan evaluasi terhadap penerapan Peraturan Menteri terkait dengan adanya pencegahan serta penanganan kekerasan seksual di lingkup perguruan tinggi. 

Bantahan Kemendikbudristek Terhadap Permendikbud PPKS

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menuai banyak kritik, salah satunya terhadap Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 yang disebut sebagai kesalahan sudut padang terhadap pelegalan perzinaan. 

Permendikbudristek menegaskan bahwa tidak ada satu kata yang terungkap "memperbolehkan" untuk perzinaan di dalam lingkup perguruan tinggi. Dalam tajuk awalnya pun berbunyi pencegahan, bukan pelegalan. 

Meski demikian, banyak yang salah menafsirkan Permendikbudristek tersebut. Salah satunya adalah Ormas Islam yang bernama Majelis Ormas Islam (MOI) mengungkapkan adanya penolakan terhadap munculnya Permendikbudristek pada 28 September 2021 tersebut. 

Melansir laman Republika, salah satu poin yang menjadi perdebatan oleh MOI adalah poin yang menjelaskan akan paradigma seks bebas yang berbasis persetujuan yang memandang standar benar dan salah dari sebuah aktivitas seksual bukan berdasarkan nilai agama melainkan persetujuan dari para pihak yang dianggap sah. 

Permendikbud juga dianggap berpotensi dalam memfasilitasi perbuatan zina dan perilaku penyimpangan seksual LGBT (Lesbian, Gay, BIseksual, dan Transgender). -- Foto di atas hanya sebuah ilustrasi

Mari kawal kasus ini, dan terus wujudkan kampus bebas predator seksual!

Digital Dokterid
Nov 09  -  3 min read