Your browser does not support JavaScript!
Hak Perempuan Afghanistan Di Ujung Senapan Taliban
Hak Perempuan Afghanistan di Ujung Senapan Taliban

Seperti kita ketahui, bahwa Taliban kembali menguasai Afghanistan, sejak Minggu (16/8) lalu, setelah menduduki Ibu Kota Kabul. Pemerintahan Afghanistan di bawah kendali Taliban ini menimbulkan kecemasan masyarakat Afghanistan, terutama kaum perempuan.

Banyak kelompok dan organisasi hak asasi di seluruh dunia yang khawatir, kebebasan perempuan bisa terkikis di bawah Taliban. Hal ini tentu cukup beralasan, karena masih terekam dalam ingatan kita saat Taliban memegang kendali Afghanistan (1996-2001)

Mari kita flashback sejenak. 

#Dulu

Pada tahun 1996-2001, ketika Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban:

  • Perempuan tidak diperbolehkan bekerja.
  • Anak perempuan tidak boleh bersekolah.
  • Perempuan harus menutup wajahnya atau mengenakan burqa (pakaian yang menutupi seluruh tubuh yang dikenakan oleh sebagian perempuan Muslim di Afganistan, Pakistan, dan India utara). 
  • Perempuan harus ditemani suami atau saudara pria jika ingin keluar rumah.

 Apa yang terjadi ketika perempuan melanggar aturan di atas:

  • Seorang perempuan yang menentang perintah Taliban dengan menjalankan sekolah untuk anak perempuan, akan dibunuh di depan keluarga dan teman-temannya.
  • Seorang wanita yang tertangkap mencoba melarikan diri dari Afghanistan dengan seorang pria yang bukan keluarga atau kerabat, akan dirajam sampai mati dengan tuduhan perzinahan.
  • Seorang wanita tua dipukuli secara brutal dengan kabel logam sampai kakinya patah karena pergelangan kakinya secara tidak sengaja terlihat dari bawah burganya.
  • Perempuan dan anak perempuan meninggal karena penyakit yang tidak tertangani karena dokter laki-laki yang dapat membantu tidak diizinkan untuk merawat mereka.

 

#Sekarang

Taliban kembali memegang kendali atas Afghanistan. Muncul sejumlah pertanyaan akan hak perempuan di era Taliban ini. Namun, dalam keterangan pers, Taliban berjanji menghormati hak perempuan Afghanistan menurut syariah (hukum Islam).

Mereka mengatakan bahwa perempuan Afghanistan berhak mendapat pendidikan hingga jenjang universitas. Mereka juga menyatakan, perempuan Afghanistan akan tetap bisa bekerja dan menjadi bagian dari pemerintah baru Taliban.

Namun, janji Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan dipandang skeptis sejumlah aktivis perempuan. 

"Mereka harus menjalankan pembicaraan. Saat ini mereka tidak melakukan itu," ujar Pashtana Durrani, Aktivis Pendidikan Anak Perempuan Afghanistan. 

Akankah Taliban membawa Afghanistan ke masa lalu?

 

(Berbagai sumber)

 

Edwin Suryana
Sep 01  -  3 min read