Your browser does not support JavaScript!
Disebut Jadi Pandemi Baru, Ini Penjelasan Who Terkait Monkeypox
Disebut Jadi Pandemi Baru, Ini Penjelasan WHO Terkait Monkeypox

Kasus cacar monyet atau monkeypox di dunia semakin merebak. Dengan adanya kasus yang terus meningkat dan kini telah menyebar di sebagian besar dunia, WHO mengingatkan bahwa bukan tidak mungkin bahwa ini menjadi awal dari pandemi monkeypox.

"Kami tidak tahu apakah kami hanya melihat puncak gunung es [atau] jika ada lebih banyak kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat," kata Sylvie Briand, kepala kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO dikutip dari The Guardian.

Tak hanya itu, WHO pun menyatakan bahwa monkeypox disebut sebagai "risiko sedang" untuk kesehatan masyarakat secara keseluruhan di tingkat global setelah dilaporkannya kasus di negara-negara yang pada umumnya penyakit ini tidak ditemukan.

"Risiko kesehatan masyarakat bisa menjadi tinggi jika virus ini memanfaatkan peluang untuk menetapkan dirinya sebagai patogen manusia dan menyebar ke kelompok yang berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah seperti anak kecil dan orang yang mengalami gangguan kekebalan," kata WHO dikutip dari Reuters.

Sebagaimana diketahui, kasus cacar monyet ini telah menembus angka 250 per 26 Mei 2022, serta 120 kasus lain yang saat ini masih menjadi suspek cacar monyet.

Sisi baiknya, kasus yang bermula pada 7 Mei 2022 di Inggris ini belum merenggut satu pun nyawa dari para pengidap.

Meski demikian, Sylvie ungkapkan bahwa tak perlu terlalu khawatir dengan monkeypox. "Ini bukanlah penyakit yang perlu ditakutkan oleh public. Ini bukan Covid atau penyakit lainnya yang menular dengan cepat."

Monkeypox berhubungan dengan penyakit cacar, penyakit mematikan yang telah diberantas pada tahun 1980. Namun cacar monyet jauh lebih ringan, dengan rasio kematian 3-6%. Kebanyakan orang pulih dalam tiga sampai empat minggu.

Gejala cacar monyet pada umumnya meliputi demam, pembengkakan kelenjar getah bening dan ruam seperti cacar air.

Digital Dokterid
May 30  -  2 min read