Your browser does not support JavaScript!
Cuti Melahirkan Jadi 6 Bulan Di Ruu Kia, Dapat Turunkan Tingkat Kematian Ibu?
Cuti Melahirkan Jadi 6 Bulan di RUU KIA, Dapat Turunkan Tingkat Kematian Ibu?

Rancangan Undang-undang (RUU) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) tengah ramai jadi bahan perbincangan warga. Sebagaimana diketahui dari Rapat Badan Legislasi DPR ada usulan terkait durasi cuti melahirkan, yakni 6 bulan.

Durasi dari usulan tersebut terbilang 2 kali lebih panjang mengingat Undang-undang sebelumnya yang hanya memberikan durasi cuti melahirkan selama 3 bulan saja. Bukan hanya sekadar memperpanjang durasi cuti, namun Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memiliki tujuan lain.

Menurut Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, SpOG, durasi cuti selama 6 bulan disebut baik dalam segi kesehatan ibu dan anak. Menurutnya, hal tersebut dapat mengurangi angka kematian pada ibu maupun bayi.

"Berdasarkan data, di Indonesia kematian ibu masih cukup tinggi, kematian bayi juga cukup tinggi, dan angka kelahiran prematur juga tinggi. Hal ini karena tidak sukses mengawal kehamilan dan kelahiran 1.000 hari ke depan," ucapnya Hasto dikutip Detik.

Dengan adanya cuti 6 bulan, sang calon ibu dapat menggunakannya 3 bulan sebelum dan 3 bulan sesudah melahirkan. 3 bulan pertama dapat digunakan untuk mengamankan calon bayi dari risiko keguguran maupun prematur, sedangkan 3 bulan usai melahirkan dapat digunakan untuk pemberian ASI secara intens dan teratur.

"ASI eksklusif terpenuhi sangat luar biasa. Jadi ada waktu untuk berikan ASI eksklusif, pemulihan kesehatan, juga pastinya untuk persiapan melahirkan," pungkasnya.

Tak hanya wanita yang hendak melahirkan yang diusulkan mendapatkan cuti selama 6 bulan, namun sang suami pun dikabarkan akan mendapatkan jatah cuti. Ya, DPR mengusulkan cuti 40 hari untuk suami yang istrinya melahirkan.

Keberadaan suami saat istri melahirkan merupakan hal yang amat penting, terlebih untuk para ibu yang baru saja melahirkan. Sebagaimana diketahui, banyak wanita yang telah melahirkan mengalami tekanan atau stres, sehingga perlu sosok yang ada di sisinya untuk menemani serta memberikan kenyamanan.

"Kalau 40 hari terlalu lama, bisa 2 minggu sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan," tambah Hasto.

Menurut penelitian dari Iranian Journal of Nursing and Midwifery Research, ditemukan hasil bahwa kehadiran suami di sisi istri saat melahirkan dapat mengurangi anxiety atau kecemasan pada sang ibu.

Penelitian dari Sisters of Charity Hospital di Kroasia pun menambahkan bahwa selain sebagai faktor psikososial yang sangat penting, mengurangi durasi persalinan serta frekuensi mengancam asfiksia intrauterin dan operasi caesar, keberadaan suami juga secara langsung memengaruhi jalannya dan hasil persalinan.



Digital Dokterid
Jun 22  -  2 min read