Your browser does not support JavaScript!
Covid-19 Naik Lagi, Pcr Sebagai Syarat Perjalanan Diterapkan Kembali?
Covid-19 Naik Lagi, PCR Sebagai Syarat Perjalanan Diterapkan Kembali?

Kasus Covid-19 hingga kini masih belum tuntas, faktanya kasus di RI kembali memuncak semenjak April lalu. Hal tersebut didorong dengan adanya sejumlah pelonggaran kebijakan dari pemerintah, beberapa di antarnya adalah diperbolehkannya tidak mengenakan masker di ruang terbuka dan dihilangkannya PCR sebagai syarat perjalanan.

Dilansir dari Detik, terjadinya peningkatan yang cukup signifikan, yang tercatat mengalami lonjakan 105 persen. Dengan adanya peningkatan yang signifikan, ada desakan yang meminta pemerintah untuk kembali mengetatkan kebijakan kepada masyarakat, salah satunya dengan penerapan kembali PCR sebagai syarat perjalanan.

"Aturan PCR negatif untuk pelaku perjalanan kembali diberlakukan mengingat harga tes semakin murah," usul Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Erlina Burhan.

Erlina pun menganggap pemerintah terkesan lebih lengah ketimbang pada saat gelombang varian Delta. Ia pun meminta untuk kembali memberlakukan masker, baik di dalam ruangan maupun di ruang terbuka.

"Pemerintah melakukan tracing yang sekarang agak kendor ya tidak seperti Delta yang tracing-nya luar biasa sampai rumah ke rumah masyarakat. Tapi sekarang narasi yang mengatakan kita segera menuju endemi sehingga jadi longgar," pungkasnya dikutip dari CNN Indonesia.

Disebut lebih lengah, jubir Satgas Covid-19 pun menyatakan bukan tidak mungkin akan kembali diadakan pengetatan terhadap covid bila kasus terus meninggi. "Pemerintah terus memantau perkembangan kasus Covid-19 dan ,menyiapkan langkah mitigasi sesuai kebijakan level PPKM," ungkap Prof Wiku Adisasmito.

Tak hanya perwakilan dari IDI, namun seorang epidemiolog asal Universitas Griffith Australia pun menyetujui untuk kembali diberlakukannya pengetatan. "Tidak perlu PCR, rapid test antigen cukup akurat dan harganya relatif tidak mahal. Kecuali PCR ditanggung pemerintah, tapi kalau diwajibkan pada publik ya rapid test antigen," kata Dicky Budiman.

 

Digital Dokterid
Jun 23  -  2 min read