Your browser does not support JavaScript!
Belum Uji Klinis, Terapi Cuci Otak Terawan Tuai Pro Dan Kontra
Belum Uji Klinis, Terapi Cuci Otak Terawan Tuai Pro dan Kontra

Nama Terawan Agus Putranto kembali muncul di muka media terkait dengan terapi ‘cuci otak’ yang dipersembahkannya. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memecat Terawan dari IDI lantaran penemuannya yang nyatanya belum melewati uji klinis.

Bukan hanya melibatkan IDI dan Terawan, namun Unhas (Universitas Hasanudin Makassar) yang merupakan kampus Terawan mendapatkan gelarnya pun ikut terlibat. Mengutip dari Detik, IDI berasumsi bahwa pihak kampus mendapat tekanan dari Terawan untuk meluluskan disertasinya.

Mengutip dari Detik, penelitian Terawan dinyatakan telah sesuai dengan standar penelitian S3. "Sudut ilmiah sebenarnya metode penelitian sudah standar sebagai mahasiswa S3. Namun perlu dicatat bahwa jika memperkenalkan harus ada uji klinik terlebih dahulu," ucap promotor riset DSA Terawan, Prof Irawan Yusuf.

Meski dikatakan belum teruji secara ilmiah, namun nyatanya sejauh ini Terawan mengklaim telah menggunakan metode cuci otak menggunakan alat DSA (Digital Substraction Angiograpghy) kepada puluhan ribu pasien.

Lantas bagaimana kondisi pasien cuci otak Terawan?

Melansir dari Tirto, pada 2016 Terawan mengklaim bahwa dirinya telah menerapkan penemuannya itu kepada 40 ribu lebih pasien sejak tahun 2004. Dalam disertasinya, Terawan mengklaim telah melakukan tindakan IAHF (Intra Arterial Heparin Flushing) sebanyak lebih dari 4,000 kali pada 2012 silam.

Terawan tak hanya menangani rakyat biasa, namun sejumlah pejabat pun pernah ditangani langsung oleh Terawan. Seperti contohnya adalah Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto yang akui pernah mendapatkan tindakan dari dr Terawan.

Prabowo diketahui mengidap vertigo dan melakukan metode cuci otak untuk menghilangkan penyakit tersebut. Prabowo mengatakan bahwa dirinya merasa lebih sehat usai menjalani terapi cuci otak oleh dr Terawan. "Saya sendiri contohnya.  Sudah tiga kali mau keempat kali diterapi dr Terawan. Biasa, namanya orang umur 60 tahun, biasa lah sakit," kata Prabowo dikutip dari Sindo News.

Meski banyak testimoni dari pejabat terkait metode cuci otak oleh Terawan yang berhasil, namun nyatanya terdapat pula korban yang gagal. Pada 2018 silam, warga negara Singapura Gerard Liew menjalani tindakan medis cuci otak oleh Terawan untuk mencegah potensi stroke, kendati demikian nyatanya tindakan yang dijalaninya tersebut gagal dan justru membuatnya lumpuh total.

Dikaitkan dengan bisnis, Terawan sempat menyangkal hal tersebut. "Lho banyak yang gratis. Karena itulah kita di rumah sakit itu tidak boleh business oriented, tapi social oriented," tangkal Terawan. Perihal biaya yang diberikan oleh dr Terawan untuk mendapatkan metode cuci otak ini pun beragam, mulai gratis hingga 150 juta rupiah. 

Digital Dokterid
Apr 05  -  2 min read