Your browser does not support JavaScript!
 31 May 2017    12:00 WIB
Benarkah Tembakau Dapat Membantu Mengatasi Infeksi Ebola?
Tembakau yang telah terbukti dapat membunuh sekitar 6 juta orang setiap tahunnya, sekarang ini mungkin memiliki peranan yang cukup penting dalam perkembangan obat anti Ebola. Epidemik Ebola di Afrika Barat yang terjadi akhir-akhir ini telah membuat departemen kesehatan di seluruh dunia meningkatkan kewaspadaan. Hal ini dikarenakan penyakit ini sebelumnya tidak pernah menularkan manusia seperti sekarang ini (dari kelelawar ke manusia).  Sebelumnya, infeksi Ebola telah sempat mewabah ke sebuah desa, tetapi dapat dengan mudah ditangani. Akan tetapi, sekarang ini, infeksi Ebola telah menyebar ke berbagai negara yang membuat para petugas kesehatan menjadi khawatir.  Sebuah perusahaan kecil di San Diego menemukan sebuah obat, ZMapp yang sebenarnya tidak boleh diberikan pada manusia, tetapi obat ini ternyata justru dapat menyelamat nyawa 2 orang petugas kesehatan Amerika, Dr. Kent Brantly dan Nancy Writebol, yang terinfeksi oleh virus Ebola. Pada saat keduanya berada dalam kondisi kritis, keduanya diberikan ZMapp melalui pembuluh darah (intravena). Keadaan keduanya kemudian membaik secara perlahan setelah pemberian obat ini.  Akan tetapi, orang ketiga yang menerima pengobatan ini, Miguel Pajares, seorang pendeta Spanyol, tetap meninggal. Proses produksi obat ini dimulai dengan menyuntikkan hewan percobaan (tikus) dengan virus Ebola, para peneliti kemudian mengambil antibodi yang dihasilkan oleh tikus ini dan menggabungkannya dengan sel B dan sel kanker. Kombinasi ini dapat melawan virus Ebola secara spesifik. Setelah kombinasi ini berhasil dibuat, maka para peneliti pun memindahkan kombinasi ini ke tanaman tembakau yang telah diinfeksi oleh bakteri gram negatif. Hal ini kemudian membuat tanaman tembakau menjadi pabrik pembuat antibodi. Akan tetapi, karena tanaman tembakau juga akan mati akibat infeksi virus, maka daun tembakau harus segera dipanen sebelum tanaman tersebut mati.  Para peneliti kemudian mengekstrak antibodi dari tanaman tembakau tersebut dan mempurifikasinya dari dalam tanaman tembakau. Antibodi ini kemudian akan dibekukan untuk disimpan. Pada sebuah penelitian di tahun 2013, para peneliti menemukan bahwa 6 orang yang terinfeksi oleh virus Ebola berhasil sembuh setelah diberikan obat ZMapp ini, bahkan setelah mereka mengalami infeksi ulangan pun mereka tetap dapat sembuh. Walaupun hingga saat ini ZMapp masih belum disetujui untuk digunakan pada manusia karena mungkin dapat menyebabkan kematian, akan tetapi karena kebutuhan akan pengobatan yang sangat mendesak, banyak orang telah mencoba untuk menggunakan obat ini.       Sumber: foxnews Tags: tembakau, ebola
 31 May 2017    11:00 WIB
Waspada Pengguna Tembakau Lebih Berisiko Terinfeksi Infeksi Menular Seksual
Menurut sebuah penelitian menyatakan bahwa seseorang yang menggunakan tembakau lebih rentan tertular human papillomavirus tipe 16 (HPV-16) melalui mulut. Oral HPV-16 diyakini bertanggung jawab atas peningkatan kejadian kanker sel skuamosa orofaringeal. Penelitian yang dilakukan dalam meneliti hubungan antara jumlah penggunaan rokok yang dihisap per hari dan kejadian HPV. Carole Fakhry dari Universitas Kedokteran Johns Hopkins, Baltimore bersama dengan rekan-rekannya meneliti hubungan antara prevalensi kejadian oral HPV-16 dengan penggunaan rokok (lingkungan yang merokok, kebiasaan merokok). Para peneliti menggunakan data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), peserta berusia 14-69 tahun yang memenuhi syarat untuk dilakukan tes DNA HPV oral. Penelitian ini melibatkan 6.887 peserta NHANES, di antaranya 2,012 (28,6 persen) adalah pengguna tembakau saat ini dan 63 (1,0 persen) memiliki HPV-16 yang terdeteksi. Pengguna tembakau dibanding bukan pengguna tembakau biasanya lebih banyak pada pria, pendidikan yang kurang dan mempunyai aktivitas seks oral yang lebih tinggi. Berdasarkan penelitian ditemukan para pengguna tembakau berhubungan secara signifikan dengan risiko kejadian infeksi oral HPV-16. Oral HPV-16 ini ditemukan pada para pengguna tembakau sekitar 2 persen dibandingkan dengan kejadian oral HPV-16 pada kelompok bukan pengguna tembakau hanya sekitar 0,6 persen. Kadar kotinin dan NNAL (penanda spesifik pengguna tembakau) lebih tinggi pada individu yang terinfeksi oral HPV-16 dibanding yang tidak terinfeksi oral HPV-16 Penelitian ini telah dipublikasikan di dalam Journal of American Medical Association (JAMA). Sumber: medindia