Your browser does not support JavaScript!
 01 Sep 2016    12:00 WIB
Mengapa Tekanan Darah Perlu Diukur Pada Kedua Tangan?
Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang memiliki tekanan darah yang berbeda pada kedua tangannya (tangan kanan dan kiri) memiliki resiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis tekanan darah dari sekitar 3.300 orang, yang berusia 40 tahun atau lebih di Amerika. Penelitian ini hanya memfokuskan pada tekanan darah sistolik, yaitu angka pertama pada hasil pengukuran tekanan darah. Orang yang memiliki tekanan darah sistolik yang berbeda sekitar 10 mmHg atau lebih di antara kedua tangannya memiliki resiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang lebih tinggi (sekitar 38%). Mereka dapat mengalami serangan jantung atau stroke dalam kurun waktu 13 tahun dibandingkan dengan orang yang memiliki perbedaan tekanan darah yang lebih sedikit di antara kedua tangannya. Hasil penelitian ini bahkan tetap berlaku setelah para peneliti memperhitungkan juga berbagai faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan jantung seseorang, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol darah yang tinggi, dan diabetes. Hasil penelitian ini membuat para dokter harus mulai mempertimbangkan untuk mengukur tekanan darah seseorang pada kedua tangannya. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan pada tahun 2012 menemukan adanya suatu hubungan antara perbedaan tekanan darah sistolik pada kedua tangan dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan pembuluh darah perifer (tepi) atau peripheral artery disease (PAD), yaitu suatu keadaan di mana terjadi penyempitan pembuluh darah pada anggota gerak (tangan dan kaki). Baca juga: Turunkan Tekanan Darah Anda Dengan Mengkonsumsi Makanan Ini… Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: foxnews
 22 Aug 2016    18:00 WIB
Migrain dan Stroke
Stroke dan migrain mempunyai gejala-gejala yang mirip dan terkadang tertukar satu dengan yang lain. Tetapi apakah migrain dapat menyebabkan stroke dan sebaliknya? Para peneliti belum bisa mengungkapkannya. Penelitian menunjukkan jika Anda sering mengalami migrain, Anda mungkin akan mengalami peningkatan resiko terkena stroke di kemudian hari. Hubungan antara stroke dengan migrainJika Anda tiba-tiba mengalami sakit kepala yang berat, penurunan penglihatan di salah satu mata dan kelemahan otot di satu sisi tubuh, segeralah pergi ke unit gawat darurat terdekat. Hal tersebut bisa saja tanda dari migrain, tetapi mungkin juga tanda stroke. Anda harus menemui dokter untuk memastikannya.Orang dengan migrain akan mengalami peningkatan resiko terkena stroke karena terbentuknya endapan darah. Wanita lebih sering menderita migrain dibanding pria karena faktor hormon.Beberapa orang dengan migrain biasanya akan mengetahui ia akan mengalami episode migrain berikutkan karena biasanya akan didahului peringatan seperti aura, seperti kilatan lampu. Mereka yang mengalami aura saat migrain akan mengalami peningkatan resiko stroke lebih besar dibandingkan mereka yang tidak mengalami aura. Kemungkinan akan semakin meningkat jika disertai faktor berikut:•  Merokok•  Mengkonsumsi pil kb•  Berusia dibawah 45 tahun Jika Anda mengalami migrain lebih sering, segera temui ahli syaraf. Dokter ahli syaraf akan dapat mengetahui dan mengatasi masalah di otak. Beberapa obat-obatan dapat membantu mencegah migrain dan membuat migrain tidak terlalu menyakitkan dan lebih jarang terjadi. Turunkan resiko strokePola hidup dapat membuat Anda menurunkan resiko mengalami kanker:•  Jika Anda mengkonsumsi pil kb, sebaiknya Anda mengkonsultasikan dengan dokter apakah metode kontrasepsi terbaik untuk Anda•  Jika Anda berhenti merokok•  Jika Anda mengontrol tekanan darah. Tekanan darah tinggi merupakan penyebab utama terjadinya stroke•  Menjaga kadar kolesterol•  Menjaga kadar gula darah•  Menjaga tubuh tetap sehat. Baca juga: Tes Resiko Stroke Anda Dengan Melakukan Hal Ini! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd  
 30 Apr 2016    15:00 WIB
Kehidupan Wanita Paska Stroke Lebih Buruk Daripada Pria
Stroke merupakan salah satu keadaan yang dapat membuat anda harus bergantung hidup pada orang lain. Terdapat dua macam stroke yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pada stroke iskemik, serangan stroke terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah yang menyebabkan kematian sel-sel otak. Sementara itu, stroke hemoragik merupakan serangan stroke yang terjadi akibat adanya perdarahan di dalam otak yang juda dapat menyebabkan kematian sel-sel otak. Stroke dapat mengenai siapa saja, baik pria maupun wanita, dan dapat mengenai usia berapa pun, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan orang lanjut usia (paling sering). Akan tetapi, beberapa penelitian menemukan bahwa ternyata stroke lebih sering terjadi pada wanita. Wanita muda pun rentan terhadap serangan stroke karena kehamilan dan penggunaan pil KB. Berdasarkan sebuah penelitian, saat wanita mengalami serangan stroke, mereka mengalami gejala sisa yang lebih berat daripada pria, bahkan hingga 1 tahun kemudian. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati para penderita stroke dalam waktu 3 bulan dan 12 bulan setelah serangan stroke terjadi. Para peneliti menanyakan bagaimana kemampuan mobilitas mereka (dapat berjalan kembali atau tidak; bila dapat apakah memerlukan bantuan atau tidak); kemampuan mengurus diri sendiri; dapatkah melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelumnya; apakah mereka mengalami depresi, merasa cemas, atau merasakan nyeri otot. Sebuah penelitian lain di Amerika menemukan bahwa 3 bulan setelah serangan stroke, seorang wanita memiliki kualitas hidup yang lebih rendah daripada pria. Para wanita ini memiliki lebih banyak gangguan dalam kemampuannya berjalan (mobilitas), kemampuannya melakukan aktivitasnya sehari-hari, adanya depresi, rasa cemas, dan nyeri otot. Satu tahun setelah serangan stroke terjadi, para wanita yang mengalami serangan stroke tetap memiliki lebih banyak kesulitan dalam kemampuannya berjalan (mobilitas), adanya depresi, rasa cemas, dan nyeri otot. Kesulitan berjalan pada wanita paska stroke diduga berhubungan dengan terbatasnya kekuatan dan fungsi otot sebelum serangan stroke terjadi. Wanita pun lebih banyak mengalami depresi karena mereka memiliki harapan untuk sembuh yang lebih tinggi daripada pria atau mungkin lebih sulit menerima kenyataan. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: npr
 15 Nov 2015    20:00 WIB
Cuaca dan Peningkatan Resiko Stroke
Walaupun kedengaran aneh, para peneliti telah menemukan adanya kemungkinan hubungan antara cuaca tertentu dengan kejadian stroke. Perubahan suhu yang cukup jauh setiap harinya dan kelembaban yang tinggi diduga dapat meningkatkan resiko stroke. Para peneliti juga menemukan bahwa suhu yang lebih dingin dari biasanya juga berhubungan dengan kejadian stroke dan bahkan kematian. Suhu rata-rata pada musim dingin, yaitu -15°C dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke hingga 6%. Penyebab mengapa hal ini terjadi masih belum jelas. Selain itu, walaupun para peneliti telah berhasil menemukan adanya hubungan antara cuaca dengan resiko stroke, akan tetapi hubungan timbal balik antar keduanya masih belum dapat dibuktikan. Perubahan suhu setiap harinya dan peningkatan kelembaban udara dapat merupakan suatu stressor. Oleh karena itu, orang yang beresiko tinggi menderita stroke disarankan agar menghindari paparan udara dingin dan kelembaban udara yang tinggi ini.   Bagaimana Perubahan Suhu Membuat Tubuh Merasa Stress? Saat suhu dingin, berbagai pembuluh darah di dalam kulit anda akan mengecil sehingga tubuh tidak membuang panas terlalu banyak. Bila udara hangat, maka pembuluh-pembuluh darah ini akan melebar untuk meningkatkan pengeluaran panas melalui kulit. Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi akibat adanya obstruksi atau sumbatan di dalam pembuluh darah yang memperdarahi otak. Apabila lumen pembuluh darah yang telah mengecil akibat penumpukan lemak bertambah kecil akibat suhu dingin, maka hal ini diduga dapat menyebabkan terjadinya serangan stroke.   Faktor Resiko Stroke Lainnya Selain perubahan cuaca, terdapat faktor resiko lain yang berhubungan dengan peningkatan resiko stroke seperti usia, jenis kelamin, ras, berat badan, gaya hidup, kadar kolesterol, dan riwayat kesehatan penderita (apakah penderita juga menderita gangguan kesehatan lain, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi).   Sumber: webmd
 02 Sep 2015    16:00 WIB
Kesepian Versus Obesitas, Hayo Mana Yang Lebih Berbahaya?
Seiring dengan kemajuan teknologi yang terjadi saat ini, maka semakin mudah bagi seseorang untuk mengisolasi dirinya dari lingkungan di sekitarnya. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa hal ini ternyata dapat berdampak buruk pada kesehatan Anda?   Para peneliti dari Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat, menemukan bahwa isolasi diri dan rasa kesepian dapat membuat usia seseorang menjadi lebih pendek karena dapat mengganggu kesehatan orang tersebut, sama seperti gangguan kesehatan yang disebabkan oleh obesitas. Mereka menemukan bahwa rasa kesepian, isolasi diri, dan hidup sendirian dapat meningkatkan resiko terjadinya kematian dini hingga 26%, 29%, dan 32%.   Para peneliti menduga hal ini dikarenakan kurangnya pergaulan sosial, terutama yang bukan dikarenakan pilihan orang tersebut, dapat menyebabkan terjadinya gangguan emosional dan psikologis pada seseorang, terutama bila orang tersebut berusia kurang dari 65 tahun.   Oleh karena itu, para peneliti mengingatkan setiap orang untuk mulai memperhatikan kehidupan dan pergaulan sosialnya, bukan hanya berat badan dan apa makanan yang dikonsumsinya setiap hari.   Selain itu, para ahli lainnya juga menemukan bahwa rasa kesepian ternyata dapat meningkatkan kadar hormon stress, yaitu kortisol, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke dan serangan jantung.   Baca juga: 5 Cara Kembali Ceria Saat Merasa Kesepian   Sumber: huffingtonpost
 11 Mar 2015    16:00 WIB
Terapi Magnet Membantu Mengatasi Bekuan Darah Lebih Cepat, Benarkah?
Sebuah pengobatan stroke baru yang terdiri dari partikel magnet yang berukuran sangat kecil (nano) telah terbukti dapat menghancurkan bekuan darah di dalam otak 100-1.000 kali lebih cepat dibandingkan dengan pengobatan bekuan darah lainnya. Obat ini biasanya dimasukkan ke dalam tubuh penderita stroke melalui pembuluh darah (disuntikkan). Obat baru ini pun menjadi sangat populer karena dapat memberikan kemajuan yang sangat pesat pada pencegahan berbagai penyakit serius seperti stroke, serangan jantung, emboli paru, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya yang disebabkan oleh adanya bekuan darah yang merusak jaringan dengan cukup berat dan menyebabkan terjadinya kematian. Para peneliti yang menemukan obat ini mendesain partikel nano di dalam obat tersebut agar mereka dapat “tersangkut” pada bekuan darah sehingga obat penghancur bekuan darah (tPA atau tissue plasminogen activator) pun dapat bekerja secara maksimal di tempat yang diperlukan. Para peneliti melapisi obat ini dengan albumin, sejenis protein yang memang dapat ditemukan di dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh pun tidak akan menyerang partikel nano (oksida besi) di dalamnya. Para dokter pun menyambut baik obat stroke baru ini karena adanya partikel nano di dalamnya membuat obat tersebut bekerja tepat sasaran sehingga dosis obat yang diperlukan pun menjadi lebih rendah. Sebenarnya, tPA dan obat lain sejenisnya cukup efektif untuk menolong para penderita, akan tetapi karena obat ini dimetabolisme dengan cepat di dalam tubuh, maka dokter pun harus memberikan dosis yang lebih tinggi agar obat dapat bekerja dengan efektif. Pemberian dosis obat-obatan ini pun membutuhkan perhatian lebih karena dapat menyebabkan terjadinya perdarahan, yang juga dapat membahayakan jiwa penderita.   Sumber: newsmaxhealth
 04 Feb 2015    14:00 WIB
Tes Resiko Stroke Anda Dengan Melakukan Hal Ini!
Sebuah penelitian di Jepang menemukan bahwa bila seseorang tidak dapat menjaga keseimbangannya saat berdiri dengan 1 kaki selama setidaknya 20 detik, maka orang tersebut beresiko untuk terkena stroke. Kesulitan berdiri dengan satu kaki dapat merupakan salah satu petunjuk bahwa telah terjadi stroke kecil atau perdarahan kecil di dalam otak, yang merupakan salah satu resiko terjadinya serangan stroke yang lebih berat. Peneliti menganjurkan agar orang yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan menjaga keseimbangan saat berdiri dengan satu kaki dan kesulitan berjalan untuk lebih memperhatikan keadaan kesehatannya secara keseluruhan karena hal ini dapat merupakan pertanda adanya abnomalitas di dalam otak dan penurunan fungsi mental. Stroke merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi karena adanya gangguan aliran darah di dalam otak akibat adanya suatu sumbatan atau perdarahan. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 1.400 oragn pria dan wanita, yang rata-rata berusia 67 tahun. Para peneliti kemudian meminta seluruh peserta penelitian untuk berdiri dengan satu kaki selama 1 menit. Selain itu, para peneliti juga melakukan pemeriksaan MRI otak untuk mendeteksi ada tidaknya gangguan di dalam pembuluh darah kecil otak yang dapat menyebabkan terjadinya stroke tersembunyi atau perdarahan kecil. Para peneliti menemukan bahwa ketidakmampuan untuk menjaga keseimbangan saat berdiri dengan 1 kaki selama 20 detik berhubungan dengan adanya stroke “kecil” atau perdarahan kecil di dalam otak. Gangguan keseimbangan ini juga berhubungan dengan penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat. Seorang ahli di Amerika mengatakan bahwa penyempitan atau sumbata pada pembuluh darah kecil di dalam otak dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke “kecil” atau perdarahan kecil. Stroke “kecil” ini merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penurunan fungsi mental dan demensia (pikun), serta juga berhubungan dengan terjadinya kesulitan berjalan dan kesulitan menjaga keseimbangan serta kemungkinan untuk jatuh pada seseorang. Peneliti mengatakan bahwa di antara orang yang memiliki 2 atau lebih stroke “kecil”, sekitar sepertiganya mengalami kesulitan menjaga keseimbangan dan pada orang yang pernah mengalami stroke, sekitar 16% di antaranya mengalami kesulitan menjaga keseimbangan. Selain itu, sekitar 30% orang yang mengalami 2 atau lebih perdarahan kecil juga mengalami kesulitan untuk menjaga keseimbangan. Sedangkan pada orang yang hanya memiliki 1 perdarahan kecil di dalam otak, sekitar 15% di antaranya juga mengalami kesulitan menjaga keseimbangan. Para peneliti juga menemukan bahwa orang yang mengalami kerusakan pembuluh darah otak biasanya berusia lebih tua, menderita tekanan darah tinggi, dan memiliki pembuluh darah karotis yang lebih tebal dibandingkan dengan orang yang tidak pernah mengalami stroke atau perdarahan. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa orang yang kesulitan menjaga keseimbangannya saat berdiri dengan 1 kaki selama sejangka waktu juga berhubungan dengan penurunan kemampuan daya ingat dan berpikir.   Sumber: newsmaxhealth
 22 Dec 2014    13:00 WIB
Tips Untuk Mencegah Terjadinya Serangan Stroke Berikutnya
Untuk dapat mencegah terjadinya serangan stroke berulang, Anda perlu mengendalikan berbagai faktor resiko stroke dan mengobati berbagai jenis gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan terjadinya stroke Beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke adalah: Menderita fibrilasi atrium Merokok Menderita tekanan darah tinggi Memiliki kadar kolesterol yang tinggi Menderita diabetes Memiliki berat badan berlebih Tidak atau jarang berolahraga Mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah berlebihan Selain menghindari beberapa faktor resiko di atas, untuk mencegah terjadinya serangan stroke berikutnya, Anda juga perlu mengatasi berbagai gangguan kesehatan lain yang Anda miliki seperti: Kendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol Anda dengan berobat secara teratur Kendalikan kadar gula darah Anda Konsumsilah obat pengencer darah bila dianjurkan oleh dokter Konsumsilah obat sesuai dengan ketentuan dokter Mengubah gaya hidup Anda menjadi gaya hidup yang lebih sehat juga penting untuk mencegah terjadinya serangan stroke ulangan. Beberapa perubahan gaya hidup yang perlu Anda lakukan adalah: Jangan merokok atau menjadi perokok pasif dengan berada di sekitar perokok Batasi konsumsi minuman beralkohol yaitu tidak lebih dari 2 gelas bagi pria dan 1 gelas bagi wanita Jaga berat badan tetap ideal untuk menurunkan resiko terjadinya gangguan jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes Berolahraga secara teratur terutama yang menyebabkan peningkatan denyut jantung, setidaknya 30 menit di hampir setiap hari Konsumsi makanan sehat dan seimbang, seperti buah, sayuran, makanan tinggi serat, rendah garam, rendah lemak jenuh, rendah lemak trans, dan rendah kolesterol. Konsumsilah ikan setidaknya 2 kali seminggu, terutama ikan yang mengandung asam lemak omega 3 seperti salmon, mackerel, dan sarden     Sumber: webmd
 10 Jun 2014    13:00 WIB
Berbagai Pilihan Pengobatan Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi yang berbahaya yang dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, kegagalan jantung atau penyakit ginjal. Tujuan utama dari pengobatan hipertensi adalah menurunkan tekanan darah dan melindungi organ-organ penting seperti otak, jantung dan ginjal dari kerusakan. Pengobatan dari hipertensi telah diasosiasikan dengan penurunan kejadian stroke (menurun sampai 35%-40%), serangan jantung (20%-25%), dan gagal jantung (lebih dari 50%), menurut para peneliti. Untuk mencegah tekanan darah, setiap orang perlu didorong untuk membuat modifikasi didalam hidupnya seperti makan lebih sehat, berhenti merokok dan lebih banyak berolahraga. Terapi dengan obat-obatan direkomendasikan untuk menurunkan tekanan darah dari 140/90 pada orang muda dan 150/90 untuk orang yang lebih tua. Mengobati tekanan darah Anda melibatkan kombinasi dari gaya hidup sehat dan kemungkinan terapi obat-obatan. Perubahan gaya hidup untuk mengobati hipertensi Langkah kritikal yang harus Anda lakukan untuk mencegah dan mengobati tekanan darah adalah gaya hidup sehat. Anda dapat menurunkan tekanan darah dengan melakukan perubahan gaya hidup berikut ini: Turunkan berat badan jika Anda obesitas Berhenti merokok Makan makanan sehat, termasuk melakukan diet DASH (makan lebih banyak buah, sayuran dan produk rendah lemak, kurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak saturasi tinggi) Mengurangi konsumsi sodium menjadi kurang dari 1.500mg perhari jika Anda menderita hipertensi. Orang dewasa sehat harus membatasi asupan sodium tidak lebih dari 2.300 mg (kurang lebih 1 sendok teh garam perhari) Melakukan olahraga secara teratur, yang paling baik adalah aerobik (misalnya jalan cepat selama 30 menit perhari, beberapa kali seminggu) Batasi konsumsi alkohol  Obat-obatan yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah, termasuk: Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors Angiotensin II receptor blockers (ARBs) Diuretics Beta-blockers Calcium channel blockers Alpha-blockers Alpha-agonists Renin inhibitors Obat kombinasi Diuretik merupakan obat yang paling sering direkomendasikan sebagai lini pertama untuk terapi orang dengan hipertensi. Tetapi dokter mungkin dapat mengawali pengobatan dengan obat selain diuretik sebagai lini pertama jika Anda memiliki masalah kesehatan lainnya. Sebagai contoh ACE inhibitor banyak digunakan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita diabetes. Jika satu obat tidak dapat menurunkan tekanan darah sampai ke angka yang diharapkan maka diperlukan alternatif obat lain atau kombinasi beberapa jenis obat.   Sumber: webmd