Your browser does not support JavaScript!
 16 Sep 2019    08:00 WIB
Apakah Saya Mengalami Sirosis (Pengerasan) Hati?
Satu-satunya pemeriksaan terbaik untuk menentukan diagnosa sirosis adalah biopsi hati. Akan tetapi, biopsi hati tetap memiliki sedikit komplikasi berat yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, biopsi hari baisanya hanya dilakukan bila dokter tidak dapat menentukan diagnosis gangguan hati dengan jelas. Untuk menentukan diagnosa sirosis hati, selain melakukan biopsi hati, dokter juga dapat menentukan diagnosa sirosis hati dengan melakukan beberapa pemeriksaan lainnya seperti di bawah ini.Menanyakan Riwayat Kesehatan PenderitaSaat menanyakan riwayat kesehatan penderita, dokter mungkin dapat menemukan ada tidaknya riwayat penggunaan alkohol dalam waktu lama dan jumlah banyak, penyalahgunaan obat-obatan, atau apakah penderita pernah menderita hepatitis sebelumnya.Penderita yang pernah menderita hepatitis B atau C memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami sirosis hati. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan PerutBeberapa penderita yang menderita sirosis dapat mengalami pembesarah hati dan atau limpa. Pembesaran ini dapat dirasakan oleh dokter saat melakukan pemeriksaan (palpasi) pada daerah perut penderita, yaitu pada perut kanan atas, tepat di bawah iga kanan (merasakan hati yang membesar) dan pada perut kiri atas, tepat di bawah iga kiri (merasakan limpa yang membesar). Hati yang mengalami sirosis juga dapat terasa lebih keras dan memiliki permukaan yang lebih tidak rata (berbenjol-benjol) daripada hati normal. TelangiektasisBeberapa penderita sirosis hati, terutama sirosis akibat alkohol mengalami pelebaran pembuluh darah kecil pada kulit (telangiektasis) yang rampak seperti laba-laba dan berwarna merah. Keadaan ini terutama ditemukan pada daerah dada. Telangiektasis ini juga dapat ditemukan pada orang yang tidak menderita gangguan hati apapun. JaundiceJaundice merupakan suatu keadaan di mana kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan akibat peningkatan kadar bilirubin di dalam darah. Jaundice sering ditemukan pada penderita sirosis dan berbagai gangguan hati lainnya selain sirosis, serta pada gangguan kesehatan lain (hemolisis, yaitu pemecahan sel darah merah secara berlebihan). AscitesAscites merupakan pembengkakan daerah perut. Sementara itu, edema merupakan pembengkakan daerah kaki dan atau tangan. Baik ascites maupun edema terjadi akibat penumpukkan cairan di dalam tubuh yang sering terjadi pada penderita sirosis hati dan gagal jantung kongestif.Pemeriksaan RadiologiBila pada pemeriksaan endoskopi ditemukan varises esofagus, maka hal ini dapat membuat dokter menduga telah terjadinya sirosis hati. CT scan perut atau MRI perut atau USG perut juga dapat dilakukan untuk membantu diagnosa sirosis hati, yaitu dengan cara melihat adanya pembesaran hati, permukaan hati yang tampak berbenjol-benjol, pembesaran limpa, dan penumpukkan cairan pada rongga perut.Selain itu, CT scan, MRI, dan USG perut juga dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kanker hati (karsinoma hepatoselular) yang sering terjadi pada penderita sirosis.Pemeriksaan LaboratoriumSirosis hati tahap lanjut dapat menyebabkan penurunan kadar albumin di dalam darah dan menurunnya kadar faktor-faktor pembekuan darah akbiat hilangnya kemampuan hati untuk memproduksi berbagai protein tersebut. Oleh karena itu, penurunan kadar albumin di dalam darah atau adanya perdarahan abnormal juga dapat merupakan penanda terjadinya sirosis hati. Peningkatan enzim-enzim hati seperti SGOT dan SGPT di dalam darah menandakan adanya peradangan atau cedera pada hati akibat berbagai hal, termasuk sirosis hati. Peningkatan kadar zat besi di dalam darah mungkin diakibatkan oleh hemokromatosis, yaitu suatu penyakit akibat kelainan genetika yang menyebabkan gangguan metabolisme zat besi pada hati yang dapat menyebabkan terjadinya sirosis. Pemeriksaan kadar antibodi di dalam darah juga dapat menjadi penanda terjadinya hepatitis autoimun atau sirosis bilier primer, yang dapat menyebabkan terjadinya sirosis hati.Sumber: medicinenet
 29 Jul 2019    11:00 WIB
Cara Mengatasi Perdarahan Akibat Varises Pada Penderita Sirosis Hati
Komplikasi lain yang sering terjadi pada penderita sirosis (pengerasan) hati selain pembengkakan pada kaki dan perut adalah terjadinya varises pada esofagus (kerongkongan) atau pada lambung bagian atas. Hal ini dapat membuat penderita sirosis hati mengalami peradarahan bila varises pecah. Bila varises telah mengalami perdarahan, maka perdarahan ini cenderung berulang dan meningkatkan resiko kematian hingga 30-35%. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan untuk mencegah terjadinya perdarahan ini. Pengobatan dapat berupa pemberian obat-obatan, berbagai tindakan untuk menurunkan tekanan pada vena porta, dan tindakan untuk mengangkat varises itu sendiri.   Obat-obatan Beta blocker merupakan obat yang cukup efektif untuk menurunkan tekanan di dalam vena porta dan dapat digunakan untuk mencegah terjadinya perdarahan pertama dan perdarahan berulang pada varises. Obat lain yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan dalam vena porta adalah obat golongan nitrat. Kombinasi beta blocker dan nitrat lebih efektif untuk menurunkan tekanan di dalam vena porta atau mencegah perdarahan daripada penggunaan beta blocker saja. Selain itu, obat golongan statin juga dapat digunakan untuk menurunkan tekanan di dalam vena porta dan untuk mengatasi perdarahan akibat varises.   Skleroterapi atau Ligasi Tindakan skleroterapi atau ligasi dapat dilakukan untuk menghilangkan varises dan menghentikan perdarahan yang sedang terjadi serta mencegah terjadinya perdarahan ulang.  Tindakan skleroterapi telah jarang digunakan karena memiliki resiko komplikasi yang lebih tinggi daripada ligasi.    Transjugular Intrahepatik Portosistemik Shunt (TIPS) TIPS merupakan tindakan radiologi yang bertujuan untuk menurunkan tekanan di dalam vena porta. TIPS biasanya dilakukan oleh dokter spesialis radiologi dengan cara memasukkan sebuah stent ke dalam vena leher yang diarahkan ke bawah, ke vena cava inferior dan ke dalam vena hepatika di dalam hati. Pemasangan stent ini bertujuan untuk memperbaiki aliran darah di sekitar hati sehingga tekanan di dalam vena porta dan varises akan menurun dan mencegah terjadinya perdarahan akibat pecahnya varises. Tindakan ini biasanya dilakukan pada penderita sirosis hati yang tidak mengalami perbaikan dengan pemberian obat beta blocker atau ligasi atau pada penderita asites yang tidak membaik setelah pembatasan konsumsi garam dan air serta telah diberikan obat diuretika.  Salah satu efek samping tersering dari TIPS adalah ensefalopati hepatikum. Komplikasi lainnya yang dapat terjadi adalah penyumbatan stent yang menyebabkan kembali meningkatnya tekanan di dalam vena porta, perdarahan varises dan asites. Komplikasi lain dari tindakan TIPS adalah perdarahan karena robeknya kapsul pembungkus hati atau saluran empedu, infeksi, gagal jantung, dan gagal hati.    Tindakan Pembedahan Tindakan pembedahan bertujuan untuk membentuk suatu shunt atau jalan pintas dari vena porta ke beberapa vena lainnya dengan tekanan yang lebih rendah yang dapat membantu menurunkan aliran darah dan menurunkan tekanan di dalam vena sehingga dapat mencegah terjadinya perdarahan varises.  Tindakan pembedahan ini biasanya dilakukan pada penderita sirosis hati tahap awal yang menderita hipertensi porta. Tindakan pembedahan memiliki resiko yang lebih tinggi bila dilakukan pada penderita sirosis hati tahap lanjut.   Baca juga: Pengobatan Komplikasi Sirosis Hati Lainnya Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: medicinenet
 24 Jul 2019    09:00 WIB
Sekilas Info Seputar Pemeriksaan Gamma GT
Pemeriksaan gamma glutamil transpeptidase (gamma GT atau GGT) merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur kadar enzim GGT di dalam darah Anda. Enzim GGT ini berfungsi sebagai alat transportasi di dalam tubuh. GGT berperan penting dalam proses metabolisme obat-obatan dan berbagai zat racun lainnya di dalam hati. GGT terutama terdapat di dalam hati.  Selain hati, GGT juga dapat ditemukan pada kandung empedu, limpa, pankreas, dan ginjal. Peningkatan kadar GGT di dalam darah biasanya disebabkan oleh kerusakan di dalam hati. Pemeriksaan ini seringkali dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya untuk mengukur enzim-enzim hati.   Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan GGT? Pemeriksaan GGT biasanya dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada hati atau saluran empedu Anda. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya seperti SGOT, SGPT, dan bilirubin.  Selain itu, pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk memonitor keberhasilan dan kepatuhan peserta rehabilitasi alkohol karena kadar GGT akan meningkat bila Anda mengkonsumsi terlalu banyak alkohol atau zat beracun lainnya seperti obat-obatan atau racun. Bila Anda sebelumnya merupakan peminum berat, maka dibutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk menurunkan kadar GGT ke dalam batas normal. Beberapa gejala yang dapat ditemukan bila Anda mengalami gangguan hati adalah: Nafsu makan berkurang Mual atau muntah Kurang bertenaga Nyeri perut Jaundice (kulit dan atau bagian putih mata berwarna kuning) Urin berwarna gelap atau tinja berwarna putih atau terang Kulit terasa gatal Sebelum melakukan pemeriksaan ini, Anda diharuskan untuk berpuasa selama 8 jam dan berhenti mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti fenobarbital, fenitoin, dan alkohol karena dapat meningkatkan kadar GGT Anda. Anda juga akan diminta untuk berhenti merokok sebelum melakukan pemeriksaan GGT karena merokok dapat menyebabkan peningkatan kadar GGT. Selain itu, pil KB dan klofibrat juga dapat menurunkan kadar GGT Anda. Bahkan jika Anda hanya mengkonsumsi sangat sedikit alkohol dalam waktu 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, maka hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan Anda.   Apa Arti Hasil Pemeriksaan GGT? Kadar GGT yang normal adalah antara 0-51 IU/L. Beberapa gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan peningkatan kadar GGT Anda adalah: Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan Menderita hepatitis Kurangnya aliran darah yang menuju ke hati (iskemia hati) Tumor hati Sirosis hati Penyalahgunaan obat-obatan atau zat beracun lainnya Gagal jantung Menderita diabetes Gangguan atau penyumbatan aliran cairan empedu dari hati (kolestasis atau batu empedu) Nekrosis hati Menderita penyakit paru Menderita gangguan pankreas Pemeriksaan GGT seringkali diukur bersamaan dengan enzim lainnya yaitu ALP (alkalin fosfatase) atau SGPT. Jika kadar GGT dan SGPT meningkat, maka diduga Anda mengalami gangguan hati ataupun saluran empedu.  Jika kadar GGT normal tetapi kadar SGPT meningkat, maka hal ini mungkin disebabkan oleh adanya gangguan tulang.   Baca juga: Deteksi Dini Alzheimer Melalui Pemeriksaan Darah Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: healthline, nlm.nih.gov
 05 Jul 2019    16:00 WIB
Bagaimana Mengatasi Pembengkakan Kaki dan Perut Penderita Sirosis Hati?
Tertahannya garam dan air di dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan pada pergelangan kaki dan kaki (edema) atau pada perut (asites) pada penderita sirosis hati. Oleh karena itu, dokter biasanya membatasi konsumsi garam (natrium) dan cairan penderita untuk mengurangi edema dan asites.  Jumlah garam dalam makanan biasanya dibatasi hanya sebesar 2 gram setiap harinya dan hanya boleh mengkonsumsi 1.2 liter air putih setiap harinya. Pada sebagian besar pasien, pembatasan konsumsi garam dan cairan saja biasanya tidak cukup dan diperlukan pemberian obat diuretika. Obat diuretika merupakan obat-obatan yang bekerja pada ginjal untuk meningkatkan pengeluaran garam dan air dari dalam tubuh melalui air kemih. Kombinasi spironolakton dan furosemid dapat membantu mengurangi atau mengatasi edema dan asites pada sebagian besar penderita.  Selama pemberian diuretika, diperlukan pengawasan ketat pada fungsi ginjal dengan cara mengukur kadar BUN (blood urea nitrogen) dan kreatinin untuk memeriksa apakah diuretika yang diberikan terlalu banyak atau tidak. Mengkonsumsi terlalu banyak diuretika dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal, yang tampak melalui peningkatan kadar BUN dan kreatinin di dalam darah. Kadangkala, pemberian obat diuretika juga tidak dapat mengatasi asites (asites refraktori), maka dokter akan melakukan aspirasi cairan asites, yaitu mengeluarkan cairan asites secara langsung melalui jarum suntik atau kateter (parasentesis abdominal). Cairan asites dapat sangat banyak, hingga beberapa liter yang menyebabkan perut terasa keras, nyeri, dan atau kesulitan bernapas karena terbatasnya pergerakan diafragma. Pengobatan lain untuk mengatasi asites refraktori adalah transjugular intrahepatic portosystemic shunting (TIPS), yang juga merupakan salah satu cara untuk mengatasi perdarahan akibat varises.   Sumber: medicinenet
 21 Jun 2019    16:00 WIB
Apa Saja Penyebab dan Gejala Sirosis (Pengerasan) Hati ?
GejalaPenderita sirosis hati dapat mengalami beberapa gejala gangguan hati atau malah tidak mengalami gejala apapun. Beberapa gejala mungkin tidak terlalu spesifik sehingga penderita tidak menduga gangguan hatilah penyebab gejala tersebut. Beberapa gejala sirosis hati yang dapat ditemukan adalah:•  Kulit atau bagian putih mata tampak kekuningan akibat penumpukkan bilirubin di dalam darah•  Merasa sangat lelah•  Badan terasa lemas•  Hilangnya nafsu makan•  Badan terasa gatal•  Mudah merah akibat penurunan produksi faktor pembekuan darah karena adanya gangguan pada hatiPenyebab 1.  AlkoholAlkohol merupakan penyebab tersering dari sirosis hati. Terjadinya sirosis ini tergantung pada seberapa banyak dan seberapa sering konsumsi minuman beralkohol tersebut. Mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama (kronik) dapat menyebabkan cedera atau luka pada sel-sel hati. Sekitar 30% orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol sebanyak 8-16 ons setiap harinya dapat mengalami sirosis dalam waktu 15 tahun mendatang atau lebih. Konsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan berbagai penyakit hati, mulai dari perlemakkan hati tanpa komplikasi, perlemakkan hati dengan peradangan (hepatitis alkoholik), hingga sirosis hati.2.  Perlemakkan Hati NonalkoholikPada keadaan ini, terjadi penumpukkan lemak di dalam hati yang terjadi pada orang-orang yang tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah berlebihan, akan tetapi kelainan atau kerusakan yang terjadi pada sel-sel hati mirip dengan kerusakan yang diakibatkan oleh konsumsi minuma beralkohol secara berlebihan. Gangguan ini juga dapat menyebabkan terjadinya resistensi insulin, sindroma metabolik dan diabetes tipe 2. Selain gangguan ini, obesitas merupakan penyebab tersering dari terjadinya resistensi insulin, sindroma metabolik, dan diabetes tipe 2. 3.  Sirosis Tanpa Penyebab yang Jelas (Sirosis Kriptogenik)Sirosis kriptogenik merupakan salah satu penyebab diperlukannya transplantasi hati. Sirosis kriptogenik merupakan suatu gangguan hati yang menyebabkan pengerasan hati tetapi tanpa suatu penyebab yang jelas. Para dokter menduga bahwa keadaan ini berhubungan dengan obesitas dalam waktu lama, diabetes tipe 2, dan resistensi insulin. Para ahli juga menemukan bahwa sirosis kriptogenik ini dapat terjadi pada orang-orang yang mengalami perlemakkan hati nonalkoholik.4.  Hepatitis KronikHepatitis kronik merupakan suatu keadaan di mana virus hepatitis B atau C menginfeksi hati selama bertahun-tahun. Sebagian besar penderita hepatitis tidak akan mengalami hepatitis kronik dan sirosis hati. Bila infeksi virus hepatitis ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel-sel hati dan menyebabkan terjadinya sirosis hati, atau bahkan kanker hati.5.  Kelainan Genetika (Herediter)Adanya kelainan genetika tertentu menyebabkan penumpukkan zat-zat beracun di dalam hati, yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan hati dan sirosis hati. Beberapa hal yang disebabkan oleh kelainan genetika dan dapat menyebabkan terjadinya sirosis hati adalah hemokromatosis (penumpukkan zat besi secara abnormal di dalam berbagai organ) atau penyakit Wilson (penumpukkan tembaga secara abnormal di dalam berbagai organ). Pada penderita hemokromatosis, penderita cenderung untuk menyerap zat besi di dalam makanan dalam jumlah yang berlebihan. Seiring dengan berlalunya waktu, maka zat besi ini akan menumpuk pada berbagai organ tubuh dan menyebabkan terjadinya sirosis, radang sendi, gagal jantung akibat kerusakan otot jantung, dan disfungsi buah zakar yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Pengobatan ditujukan untuk mencegah kerusakan pada berbagai organ dengan membuang kelebihan zat besi dari dalam tubuh melalui pengeluaran darah. Pada penyakit Wilson, terjadi keabnormalan salah satu protein yang berfungsi untuk mengatur tembaga di dalam tubuh. Seiring dengan berlalunya waktu, kelebihan tembaga ini akan menumpuk di dalam hati, mata, dan otak yang menyebabkan terjadinya sirosis, tremor (gemetar), gangguan psikologis, dan berbagai gangguan neurologis lainnya bila keadaan ini tidak segera ditangani. Pengobatannya adalah dengan pemberian obat oral (dikonsumsi melalui mulut), yang berfungsi untuk meningkatkan pengeluaran tembaga dari dalam tubuh melalui air kemih.6.  Sirosis Bilier PrimerSirosis bilier primer merupakan kelainan sistem imunitas (kekebalan tubuh) yang sering ditemukan pada wanita. Kelainan imunitas ini menyebabkan terjadinya peradangan kronik da kerusakan saluran empedu kecil di dalam hati. Cairan empedu diproduksi oleh hati yang mengandung berbagai zat yang diperlukan untuk membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak di dalam usus, serta berbagai zat sisa seperti bilirubin. Bilirubin merupakan hasil pemecahan hemoglobin pada sel darah merah tua. Pada sirosis bilier primer, kerusakan saluran empedu kecil ini menghambat aliran normal cairan empedu ke dalam usus. Bersamaan dengan itu, peradangan terus terjadi yang menyebabkan lebih banyak kerusakan pada saluran empedu, yang menyebar dan menyebabkan kerusakan sel-sel hati. Kematian sel-sel hati ini menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada daerah yang rusak. Kombinasi dari peradangan, jaringan parut, dan penumpukkan zat-zat beracun di dalam hati menyebabkan terjadinya sirosis hati.7.  Kolangitis Sklerosing PrimerKolangitis sklerosing primer merupakan penyakit yang jarang ditemukan, yang biasanya terjadi pada penderita penyakit Crohn dan kolitis ulserativa. Pada kolangitis sklerosing primer, saluran empedu besar di luar hati mengalami peradangan, kemudian menyempit, dan tersumbat. Penyumbatan aliran empedu ini menyebabkan terjadi infeksi pada saluran empedu dan menimbulkan jaundice (kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan), yang pada akhirnya dapat menyebabkan sirosis. Pada beberapa penderita, cedera pada saluran empedu (biasanya akibat tindakan pembedahan) juga dapat menyebabkan penyumbatan dan sirosis hati.8.  Hepatitis AutoimunHepatiti autoimun merupakan gangguan hati yang lebih sering ditemukan pada wanita, yang disebabkan oleh kelainan sistem kekebalan tubuh. Kelainan ini menyebabkan peradangan progresif dan kerusakan sel-sel hati yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya sirosis.9.  Atresia BilierAtresia bilier merupakan suatu keadaan di mana seorang bayi lahir tanpa adanya saluran empedu. Atresia bilier dapat menyebabkan terjadinya sirosis. 10.  Penyebab LainnyaBerbagai penyebab lain dari sirosis hati adalah reaksi abnormal pada obat-obatan tertentu dan paparan terhadap zat racun dalam waktu lama, serta gagal jantung kronik yang dapat menyebabkan terjadinya sirosis. Pada beberapa negara (terutama Afrika Utara), penyebab tersering dari gangguan hati dan sirosis hati adalah infeksi hati oleh parasite. Pada bayi, dapat terjadi suatu kelainan di mana bayi tidak dapat membentuk enzim-enzim penting untuk mengatur gula dalam jumlah cukup yang dapat menyebabkan terjadinya penumpukkan gula dan sirosis hati.   Defisiensi alfa 1 antitripsin (salah satu jenis enzim) juga dapat menyebabkan terjadinya sirosis dan pembentukan jaringan parut pada paru.Sumber: medicinenet
 05 Jul 2018    16:00 WIB
12 Gangguan Kesehatan Akibat Mengkonsumsi Minuman Beralkohol
Mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah berlebihan dan dalam jangka waktu lama tentunya dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk sirosis hati dan berbagai cedera akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Akan tetapi, ternyata bukan hanya kedua hal tersebut yang terjadi akibat konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Di bawah ini terdapat beberapa gangguan kesehatan lainnya yang dapat terjadi akibat konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dalam jangka waktu lama.1.  AnemiaMengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak dapat menyebabkan penurunan jumlah sel darah merah, bahkan hingga menyebabkan terjadinya anemia. Anemia dapat menyebabkan berbagai gejala seperti merasa sangat lelah, sesak napas, kepala terasa ringan.2.  KankerMemiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker. Para ahli menduga bahwa peningkatan resiko ini terjadi saat tubuh mengubah alkohol menjadi asetildehida, suatu agen karsinogenik kuat. Berbagai jenis kanker yang berhubungan dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol adalah kanker mulut, kanker faring (kerongkongan), kanker laring (pita suara), kanker esofagus (tenggorokan), kanker hati, kanker payudara, dan kanker usus besar. Resiko kanker akan semakin tinggi pada orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol dan memiliki kebiasaan merokok.3.  Penyakit Jantung dan Pembuluh DarahMengkonsumsi banyak alkohol, apalagi bila anda tidak dapat mengendalikan diri anda (binge), dapat membuat trombosit di dalam darah anda cenderung berkelompok dan membentuk bekuan darah, yang dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung atau stroke. Sebuah penelitian menemukan bahwa mengkonsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan (binge) dapat melipatgandakan resiko terjadinya kematian pada orang-orang yang pernah mengalami serangan jantung sebelumnya. Mengkonsumsi banyak minuman beralkohol juga dapat menyebabkan terjadinya kardiomiopati yang dapat menyebabkan kematian akibat melemah dan gagalnya fungsi otot jantung sehingga menyebabkan terjadinya fibrilasi atrium maupun ventrikel. Fibrilasi atrium merupakan suatu keadaan di mana atrium (jantung bagian atas) berkedut secara tidak teratur yang dapat menyebabkan terbentuknya bekuan darah yang dapat memicu terjadinya stroke.Fibrilasi ventrikel merupakan suatu keadan di mana ventrikel (jantung bagian bawah) berkedut secara tidak teratur yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran dalam waktu singkat, dan bahkan kematian mendadak bila tidak segera ditangani.4.  Sirosis HatiAlkohol merupakan racun bagi sel-sel hati anda dan banyak peminum alkohol berat mengalami sirosis hati, yaitu suatu keadaan di mana jaringan hati mengalami luka yang sangat berat sehingga tidak mampu lagi menjalankan fungsinya. Untuk alasan yang tidak diketahui, perempuan tampaknya lebih rentan terhadap sirosis hati.5.  Gangguan Daya Ingat (Demensia/Pikun)Seiring dengan semakin bertambahnya usia anda, otak anda pun akan semakin mengecil, yaitu sekitar 1.9% setiap 10 tahunnya (normal). Akan tetapi, orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dapat mempercepat proses pengecilan bagian otak tertentu, yang menyebabkan terjadinya penurunan daya ingat dan berbagai gejala gangguan daya ingat lainnya. Mengkonsumsi banyak minuman beralkohol juga dapat menyebabkan penurunan kemampuan untuk membuat suatu rencana, kemampuan untuk menilai dan memecahkan masalah, dan berbagai gangguan fungsi lainnya. 6.  DepresiKonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan telah banyak dikaitkan dengan terjadinya depresi. Mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak dapat menyebabkan terjadinya depresi, begitu pula sebaliknya.7.  KejangMengkonsumi banyak minuman beralkohol dapat menyebabkan terjadinya epilepsi dan memicu terjadinya kejang pada orang yang tidak menderita epilepsi. Selain itu, alkohol juga dapat mempengaruhi kerja obat yang digunakan untuk mengatasi kejang atau epilepsi.8.  GoutGout merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh pembentukan kristal asam urat pada persendian, yang menimbulkan nyeri sendi. Gout merupakan suatu penyakit yang diturunkan dalam keluarga (herediter) dan tampaknya juga dipengaruhi oleh konsumsi alkohol dan berbagai jenis makanan tertentu. Alkohol tampaknya dapat memperberat gejala gout.9.  Tekanan Darah TinggiAlkohol dapat mengganggu sistem saraf simpatik, yang berfungsi untuk mengatur konstriksi (pengecilan) dan dilatasi (pelebaran) dari pembuluh darah sebagai reaksi tubuh terhadap stress, perubahan suhu, dan penggunaan tenaga. Mengkonsumsi banyak minuman beralkohol dan terutama binge, dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, yang bila berlangsung lama dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan lainnya seperti penyakit ginjal, penyakit jantung, dan stroke.10.  Berbagai Penyakit InfeksiMengkonsumsi banyak minuman beralkohol dapat menekan sistem kekebalan tubuh, yang memudahkan terjadinya infeksi, termasuk tuberkulosis, pneumonia, HIV/AIDS, dan berbagai penyakit menular seksual lainnya.11.  Kerusakan SarafMengkonsumsi banyak minuman beralkohol dapat menyebabkan terjadinya kerusakan saraf yang disebut denan neuropati alkoholik, yang dapat menyebabkan nyeri seperti tertusuk-tusuk pada anggota gerak, kelemahan otot, inkontinensia urin (adanya keinginan mendesak untuk segera buang air kecil), sembelit, disfungsi ereksi, dan berbagai gangguan lainnya. Neuropati alkoholik dapat terjadi karena alkohol merupakan zat racun bagi sel-sel saraf atau akibat kekurangan nutrisi yang terjadi pada para peminum berat.12.  PankreatitisSelain menyebabkan iritasi lambung (gastritis), mengkonsumsi minuman beralkohol juga dapat menyebabkan peradangan pankreas (pankreatitis). Pankreatitis kronik dapat menyebabkan gangguan proses pencernaan dan menyebabkan terjadinya nyeri perut dan diare persisten (diare yang berlangsung selama lebih dari 1 minggu tetapi kurang dari 2 minggu). Sumber: medicinenet
 07 Aug 2016    15:00 WIB
Pengobatan Komplikasi Sirosis Hati Lainnya
Ensefalopati Hepatikum Beberapa gejala telah terjadinya ensefalopati hepatikum adalah siklus tidur dan bangun yang abnormal, gangguan proses berpikir, atau perilaku aneh biasanya diobati dengan pemberian diet rendah protein dan pemberian laktulosa oral (melalui mulut). Protein dibatasi sebab protein merupakan sumber zat beracun yang menyebabkan terjadinya ensefalopati hepatikum. Laktulosa merupakan suatu cairan yang berfungsi untuk memerangkap zat racun di dalam usus besar sehingga tidak terserap ke dalam aliran darah yang dapat menyebabkan terjadinya ensefalopati. Penderita juga biasanya diberikan antibiotika (rifaximin), yang tidak diserap oleh tubuh tetapi tetap berada di dalam usus untuk mengurangi jumlah bakteri penghasil zat racun di dalam usus besar.   Hipersplenisme Hipersplenisme merupakan pembesaran limpa yang menyebabkan lebih banyak darah yang terfiltrasi di dalamnya dan menyebabkan terjadinya penurunan ringan sel-sel darah merah (anemia), sel darah putih (leukopenia), dan trombosit (trombositopenia); yang biasanya tidak membutuhkan pengobatan. Akan tetapi, bila penderita mengalami anemia berat, maka dibutuhkan transfusi darah atau terapi eritropoetin, yaitu suatu hormon yang berfungsi untuk menstimulasi pembentukan sel-sel darah merah.  Bila kekurangan trombosit menyebabkan terjadinya perdarahan dalam jumlah yang cukup signifikan, maka dapat dilakukan transfusi trombosit.  Tindakan pembedahan untuk mengangkat limpa yang membesar harus dihindari sebisa mungkin karena dapat terjadi perdarahan hebat selama tindakan dan gangguan hati lebih lanjut akibat penggunaan obat anestesi (obat bius).   Peritonitis Bakterial Spontan Penderita yang dicurigai mengalami peritonitis bakterial spontan biasanya harus melalui prosedur paracentesis untuk mengeluarkan cairan di dalam perut. Cairan ini kemudian akan diperiksa untuk memastikan adanya tidaknya sel darah putih dan bakteri di dalamnya. Selain itu, penderita juga harus melakukan pemeriksaan darah dan air kemih karena biasnaya juga terjadi infeksi pada darah dan air kemihnya. Bila terdapat bakteri dan terjadi peningkatan kadar sel darah putih (neutrophil > 250/ml), maka penderita akan diberikan antibiotika intravena.  Peritonitis bakterial spontan merupakan suatu infeksi berat yang seringkali terjadi pada penderita sirosis hati tahap lanjut karena lemahnya sistem kekebalan tubuh. Beberapa pasien yang beresiko tinggi menderita peritonitis bakterial spontan dan memerlukan terapi pencegahan dengan antibiotika oral adalah penderita yang dirawat di rumah sakit akibat pecahnya varises esofagus, penderita yang pernah menderita peritonitis bakterial spontan sebelumnya, dan penderita yang memiliki kadar protein yang rendah pada cairan perut.   Sumber: medicinenet
 28 Jul 2016    18:00 WIB
Langkah Pertama Pengobatan Sirosis (Pengerasan) Hati
Sirosis hati merupakan tahap akhir dari proses fibrosis hati akibat penyakit hati kronis yang ditandai dengan pembentukan jaringan parut yang menyebabkan sel-sel hati kehilangan fungsi normalnya. Pengobatan sirosis hati terbagi menjadi 4 tahap, yaitu:•  Mencegah kerusakan hati lebih lanjut•  Mengobati komplikasi sirosis hati•  Mencegah terjadinya kanker hati atau deteksi dini kanker hati•  Transplantasi hatiDi bawah ini akan dibahas mengenai tahap pertama pengobatan sirosis hati, yaitu mencegah kerusakan hati lebih lanjut. Diet Sehat dan Suplemen MultivitaminLangkah pertama yang harus anda lakukan adalah dengan mengkonsumsi diet sehat dan seimbang serta mengkonsumsi suplemen multivitamin setiap harinya karena mungkin mengalami gangguan penyerapan vitamin larut lemak seperti vitamin D dan vitamin K.Jangan Mengkonsumsi Obat-obatan yang Merusak Hati (Termasuk Alkohol)Jika anda telah mengalami sirosis hati, maka dokter anda akan menyarankan agar anda tidak lagi mengkonsumsi atau sebisa mungkin menghindari konsumsi berbagai jenis obat yang dapat menyebabkan kerusakan hati, seperti obat golongan non steroid anti inflamasi drugs (NSAID) sepreti ibuprofen. Penggunaan NSAID pada pengguna sirosis dapat menyebabkan semakin memburuknya fungsi ginjal dan hati. Selain obat-obatan yang dimetabolisme di hati, semua penderita sirosis hati harus menghindari konsumsi alkohol. Sebagian besar penderita sirosis hati akibat mengkonsumsi alkohol secara berlebihan akan mengalami perbaikan fungsi hati bila menghentikan konsumsi alkoholnya. Bahkan penderita hepatitis B dan hepatitis C kronik dapat mengurangi kerusakan hati dan memperlambat terjadinya sirosis dengan menghentikan konsumsi alkohol.Atasi Hepatitis Agar Tidak Menjadi KronikAtasi infeksi virus hepatitis, terutama hepatitis B dan C dengan menggunakan obat antivirus untuk mencegah terjadinya hepatitis kronik. Tidak semua penderita sirosis akibat infeksi hepatitis kronik memerlukan pengobatan obat antivirus karena beberapa pasien mungkin mengalami perburukan fungsi hati dan atau mengalami efek samping obat yang cukup berat. Mengeluarkan Darah PenderitaPada penderita sirosis yang mengalami hemokromatosis (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar zat besi di dalam tubuh) dokter mungkin akan mengeluarkan sejumlah darah pasien untuk menurunkan kadar zat besi di dalam tubuh dan mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut pada hati.Pada penyakit Wilson, dapat digunakan obat-obatan untuk meningkatkan pengeluaran tembaga di dalam air kemih untuk menurunkan kadar tembaga di dalam tubuh dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati.Menekan Sistem Kekebalan TubuhDokter juga mungkin akan memberikan obat-obatan yang berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh anda seperti prednison untuk mengurangi proses inflamasi di dalam hati pada penderita hepatitis autoimun.Pemberian ImunisasiDokter juga akan memberikan imunisasi hepatitis A dan B pada penderita sirosis hati untuk mencegah terjadinya infeksi hepatitis A atau B yang dapat menyebabkan penurunan fungsi hati lebih lanjut. Akan tetapi, saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah terjadinya hepatitis CSumber: medicinenet
 24 Jul 2016    12:00 WIB
Komplikasi Berbahaya dari Sirosis (Pengerasan) Hati
Edema dan AsitesSeiring dengan semakin beratnya sirosis hati, maka tubuh akan mengirimkan suatu impuls listrik kepada ginjal untuk menahan garam dan air di dalam tubuh. Jumlah air dan garam yang berlebihan di dalam tubuh ini pertama-tama akan berakumulasi di dalam jaringan di bawah kulit pergelangan kaki dan kaki karena adanya efek gravitasi saat anda duduk atau berdiri. Akumulasi cairan ini disebut dengan edema atau pitting edema. Pitting edema merupakan suatu keadaan di mana saat kulit yang membengkak ditekan, maka akan terbentuk suatu lekukan pada permukaan kulit di bekas tempat anda menekan permukaan kulit tersebut).Pembengkakan ini seringkali akan memburuk di malam hari setelah anda berdiri atau duduk lama dan akan berkurang saat anda tidur karena efek gravitasi yang lebih rendah saat anda berbaring. Saat sirosis hati semakin memburuk dan lebih banyak garam serta air yang tertahan di dalam tubuh, maka cairan juga akan terakumulasi di dalam rongga perut, yaitu di antara dinding perut dan organ perut. Akumulasi cairan ini disebut dengan asites, yang menyebabkan pembengkakan pada daerah perut, rasa tidak nyaman di perut,  dan peningkatan berat badan.Peritonitis Bakterial SpontanAkumulasi cairan di dalam rongga perut (asites) merupakan tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri. Pada keadaan normal, rongga perut hanya mengandung sangat sedikit cairan sehingga mampu melawan infeksi dengan baik. Selain itu, berbagai bakteri yang masuk ke dalam perut (usus) akan dibunuh. Pada sirosis hati, adanya banyak cairan di dalam rongga perut membuat rongga perut mudah mengalami infeksi dan menyebabkan terjadinya infeksi pada perut. Peritonitis bakterial spontan merupakan komplikasi sirosis yang dapat membahayakan jiwa. Beberapa penderita peritonitis jenis ini mungkin tidak mengalami gejala apapun, sementara yang lainnya mungkin mengalami demam, menggigil, nyeri perut, perut teraba keras, diare, dan semakin memburuknya asites.Perdarahan Akibat Varises EsofagusSirosis hati menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada hati yang dapat menghambat aliran darah dari usus menuju ke jantung sehingga menyebabkan peningkatan tekanan di dalam vena porta (hipertensi porta). Bila tekanan di dalam vena porta meningkat cukup tinggi, maka hal ini akan membuat darah mencari jalan lain untuk kembali ke dalam jantung, yaitu melalui pembuluh darah balik di sekitar hati yang memiliki tekanan yang lebih rendah. Pembuluh darah yang seringkali dilewati darah sebagai jalan pintas menuju jantung merupakan pembuluh darah di bagian bawah tenggorokan (esofagus) dan pembuluh darah di bagian atas lambung. Akibat dari peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah balik tersebut, maka tekanan di dalam pembuluh darah balik ini pun meningkat sehingga terjadi pelebaran di kedua pembuluh darah balik tersebut (varises). Semakin tinggi tekanan di dalam vena porta, maka semakin lebar varises yang terbentuk dan semakin tinggi resiko perdarahan akibat varises ini. Perdarahan akibat varises biasanya cukup berat dan bila tidak segera diobati dapat berakibat fatal. Beberapa gejala perdarahan akibat varises adalah muntah darah, tinja berwarna gelap dan lengket seperti ter, pusing atau pingsan saat berdiri (karena penurunan tekanan darah, hal ini terutama terjadi saat perubahan posisi dari duduk ke berdiri). Walaupun belum ditemukan penyebab pastinya, para penderita sirosis yang mengalami perdarahan akibat varises memiliki resiko mengalami peritonitis bakterial spontan yang lebih tinggi.Ensefalopati HepatikumBeberapa jenis protein dalam makanan yang tidak dapat dicerna dan diserap oleh tubuh akan digunakan oleh bakteri yang memang normal terdapat di dalam usus. Saat bakteri mencerna protein, maka mereka pun menghasilkan suatu zat sisa ke dalam usus seperti amonia, yang bersifat racun bagi otak. Pada keadaan normal, zat beracun ini akan dibawa dari dalam usus ke dalam vena porta menuju hati untuk dikeluarkan dari dalam tubuh melalui darah. Akan tetapi, pada sirosis hati, sel-sel hati tidak dapat berfungsi dengan normal (baik karena mengalami kerusakan atau adanya gangguan hubungan antara darah dan sel hati). Selain itu, darah dari hati pun dapat melalui pembuluh darah balik lain selain vena porta. Hal ini menyebabkan zat beracun tidak dapat dikeluarkan oleh sel-sel hati dan terakumulasi di dalam darah. Saat zat beracun ini terakumulasi dalam jumlah yang cukup banyak di dalam darah, maka fungsi otak pun akan terganggu dan menyebabkan terjadinya ensefalopati hepatikum. Gejala awal dari ensefalopati hepatikum adalah tidur di siang hari dan bukannya di malam hari (perubahan pola tidur). Berbagai gejala lain dari ensefalopati hepatikum adalah mudah marah, sulit berkonsentrasi atau berhitung, gangguan daya ingat, tampak bingung atau mengalami penurunan kesadaran. Pada akhirnya, ensefalopati hepatikum dapat menyebabkan koma dan kematian. Zat beracun ini juga membuat otak penderita sirosis menjadi sangat sensitif terhadap obat-obatan yang biasanya dikeluarkan melalui hati. Oleh karena itu, dosis obat-obat (terutama obat sedatif dan obat tidur) yang dimetabolisme di dalam hati harus diturunkan untuk menghindari penumpukkan obat di dalam hati. Akan lebih baik bila anda menghindari mengkonsumsi berbagai jenis obat yang harus dimetabolisme di dalam hati.Sindrom HepatorenalPenderita sirosis hati berat dapat mengalami sindrom hepatorenal. Sindrom ini merupakan salah satu komplikasi berat yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal (tanpa kerusakan ginjal). Penurunan fungsi ginjal ini diakibatkan oleh perubahan aliran darah yang melalui ginjal, bukan karena kerusakan sel-sel ginjal. Sindrom hepatorenal merupakan kegagalan progresif dari ginjal untuk mengeluarkan berbagai zat dari dalam darah dan memproduksi air kemih dalam jumlah adekuat, akan tetapi tidak terjadi gangguan pada fungsi ginjal lainnya seperti retensi (menahan) garam di dalam tubuh. Bila fungsi hati membaik, maka fungsi ginjal penderita sindrom hepatorenal pun akan kembali normal. Hal ini menandakan bahwa penurunan fungsi ginjal yang terjadi merupakan akibat dari penumpukkan zat beracun di dalam darah akibat kegagalan fungsi hati. Terdapat 2 jenis sindrom hepatorenal, yang terjadi secara lambat dalam waktu beberapa bulan atau yang terjadi dengan sangat cepat dalam waktu seminggu atau 2 minggu.Sindrom HepatopulmonarWalaupun jarang, beberapa penderita sirosis tahap lanjut dapat mengalami sindrom hepatopulmonar, yang menyebabkan penderita kesulitan bernapas karena adanya hormon tertentu yang dilepaskan yang menyebabkan paru-paru tidak dapat berfungsi secara normal. Masalah utama pada paru-paru penderita adalah tidak cukupnya aliran darah yang masuk ke dalam pembuluh darah kecil menuju ke kantong udara paru sehingga darah tidak mengandung cukup banyak oksigen danmembuat penderita mengalami sesak napas, terutama saat menghembuskan napas (ekspirasi).HipersplenismePada keadaan normal, limpa berfungsi untuk menyaring sel-sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang sudah tua. Darah yang keluar dari limpa akan bergabung dengan darah dari usus di dalam vena porta. Peningkatan tekanan darah di dalam vena porta akibat sirosis hati, akan menyebabkan aliran darah dari limpa terhambat. Hal ini akan membuat darah terkumpul di dalam limpa dan membuat limpa membengkak. Bila limpa cukup besar, maka penderita dapat mengalami nyeri perut. Seiring dengan semakin membesarnya limpa, maka limpa pun akan menyaring semakin banyak sel-sel darah dan trombosit hingga terjadi penurunan sel-sel darah dan trombosit di dalam alirang darah. Hipersplenisme merupakan suatu keadaan di mana terjadi penurunan jumlah sel-sel darah dan trombosit akibat pembesaran limpa, yang menyebabkan terjadinya anemia, leukopenia, dan trombositopenia.Anemia dapat menyebabkan penderita merasa lemas. Leukopenia (jumlah sel darah putih sedikit) dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Sedangkan trombositopenia (jumlah trombosit sedikit) dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah dan menyebabkan terjadinya perdarahan.Kanker Hati (Karsinoma Hepatoselular)Sirosis hati yang disebabkan oleh gangguan apapun dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker hati primer (karsinoma hepatoselular), yang berarti sel kanker berasal dari hati. Gejala paling sering dari kanker hati primer adalah nyeri perut, pembesaran perut, pembesaran hati, penurunan berat badan, dan demam. Selain itu, kanker hati dapat menyebabkan terbentuknya beberapa zat yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah sel darah merah (eritrositosis), penurunan kadar gula darah (hipoglikemia), dan peningkatan jumlah kalsium (hiperkalsemia).Sumber: medicinenet