Your browser does not support JavaScript!
 26 Apr 2019    16:00 WIB
Bagaimana Tahapan Penularan Sifilis ?
Hai guys! Kembali lagi di Dokter.ID dengan pembahasan baru yang menarik, dengan judul Sifilis. Pasti nama penyakit ini tidak asing di telinga kita, karena pada jaman now banyak sekali kegiatan (aktifitas) seksual yang tidak benar, ceroboh dan diluar batas, sehingga tidak sedikit orang di dunia ini yang terkena berbagai macam serangan penyakit seksual. Dan salah satunya bernama penyakit Sifilis. Apa itu Sifilis? Sifilis adalah penyakit yang sangat menular yang menyebar terutama melalui aktivitas seksual, termasuk seks oral dan anal. Kadang-kadang, penyakit ini dapat ditularkan ke orang lain melalui ciuman yang lama atau kontak tubuh yang dekat. Meskipun penyakit ini menyebar dari luka, sebagian besar luka itu tidak dikenali. Orang yang terinfeksi sering tidak menyadari penyakit ini dan tanpa sadar menularkannya ke pasangan seksualnya. Wanita hamil dengan penyakit ini dapat menyebarkannya ke bayi mereka. Penyakit ini, yang disebut sifilis bawaan, dapat menyebabkan kelainan atau bahkan kematian pada anak. Sifilis tidak dapat disebarkan melalui kursi toilet, kenop pintu, kolam renang, bak air panas, bak mandi, pakaian bersama, atau peralatan makan. Dan jika kita menderita sifilis dan dirawat, kita masih dapat terinfeksi lagi melalui hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang yang menderita sifilis. Sifilis mudah diobati dan disembuhkan pada tahap awal, tetapi jika kita tidak mendapatkan perawatan, sifilis dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk kerusakan pada jantung, otak, kelumpuhan dan buta yang dapat permanen. Sifilis menyebabkan luka pada alat kelamin kita (disebut chancres). Luka biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi dapat dengan mudah menyebarkan infeksi ke orang lain. Banyak orang dengan sifilis tidak memperhatikan luka dan merasa baik-baik saja, sehingga mereka mungkin tidak tahu mereka memilikinya. Sifilis dapat menginfeksi vagina, anus, penis, atau skrotum, dan terkadang bibir dan mulut kita. Kita dapat membantu mencegah sifilis dengan menggunakan kondom dan / atau bendungan (pelindung) gigi setiap kali berhubungan seks. Sifilis memiliki empat tahap: Tahap primer. Tahap sekunder. Tahap tidak aktif (laten). Tahap akhir (tersier). Setiap tahap sifilis memiliki gejala yang berbeda. Seseorang dengan sifilis dapat menularkannya kepada orang lain selama tahap primer dan sekunder. Berikut penjelasan tiap tahap: Pada tahap primer: Luka yang muncul di tahap pertama, atau primer. Terkadang, lebih dari satu luka muncul. Waktu antara infeksi sifilis dan munculnya luka dapat berkisar 10 hingga 90 hari (rata-rata waktu tiga minggu). Luka biasanya keras, bulat, kecil, dan tidak nyeri. Itu muncul di tempat di mana infeksi memasuki tubuh kita. Pada wanita ini dapat termasuk vulva, vagina, serviks, anus, rektum, lidah, bibir, atau bagian tubuh lainnya. Pada tahap ini, sifilis dapat ditularkan kepada orang lain melalui kontak dengan sakit selama hubungan seks vaginal, oral, atau anal. Luka biasanya berlangsung tiga hingga enam minggu dan sembuh dengan sendirinya. Tetapi jika infeksi sifilis tidak diobati, ia pindah ke tahap kedua. Tahap kedua (sekunder), gejalanya sebagai berikut: Ruam kulit dengan bintik-bintik kasar, merah, atau cokelat kemerahan. Ruam mungkin muncul di perut, dada, telapak tangan, atau telapak kaki kita. Ruam biasanya tidak gatal. Luka di tenggorokan, mulut, atau leher Rahim, Demam, Kelenjar bengkak, Kerontokan rambut yang merata, Sakit kepala dan nyeri otot, Penurunan berat badan, Kelelahan. Pada tahap ini, infeksi dapat ditularkan ke orang lain melalui kontak dengan luka terbuka selama hubungan seks vaginal, oral, atau anal. Ruam dan gejala lainnya akan hilang dengan sendirinya. Tetapi tanpa pengobatan, infeksi sifilis akan pindah ke tahap penyakit yang laten dan mungkin terlambat. Tahap sifilis yang tidak aktif, atau laten, dimulai ketika gejala dari tahap pertama dan kedua hilang. Tahap laten dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Selama tahap ini, infeksi hidup di tubuh kita meskipun kita tidak memiliki tanda atau gejala. Kita tidak dapat meneruskan sifilis ke orang lain selama tahap laten. Pada tahap lanjut, penyakit ini dapat melukai organ-organ kita, termasuk otak, saraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, dan persendian. Kerusakan ini dapat menyebabkan masalah saraf, kelumpuhan, kebutaan, tuli, demensia, dan masalah kesehatan lainnya. Sifilis tahap akhir dapat menyebabkan kematian. Sifilis tahap akhir sangat jarang. Kita hanya akan mencapai tahap akhir sifilis jika kita tidak menerima perawatan lebih awal. Untuk amannya, bagi kita yang ada sejarah seks yang tidak tepat atau ada mengalami gejala di atas, segeralah pergi ke dokter atau rumah sakit dan disana kita dapat menjalani dan mendapatkan diagnosa penyakit dengan jelas. Seperti: Mengambil sampel darah kita dan mengirimkannya ke laboratorium untuk pengujian. Melihat cairan dari luka sifilis di bawah jenis mikroskop khusus (ini hanya dapat dilakukan ketika luka kita terlihat). Cairan tulang belakang otak. Jika kita diduga memiliki komplikasi sistem saraf sifilis, dokter mungkin juga menyarankan untuk mengumpulkan sampel cairan serebrospinal melalui prosedur yang disebut pungsi lumbal (keran tulang belakang). Pengobatan yang biasa digunakan adalah, Penisilin (antibiotik) adalah obat terbaik untuk mengobati sifilis pada semua tahap. Berapa banyak penisilin yang harus kita ambil dan berapa lama kita harus meminumnya tergantung pada tahap sifilis dan gejala kita. Satu dosis penisilin biasanya cukup untuk mengobati orang yang menderita sifilis kurang dari satu tahun. Jika kita dalam tahap lanjut sifilis, kita mungkin perlu lebih banyak obat. Dan Jangan berhubungan seks sampai luka sifilis benar-benar hilang. Demikianlah pembahasan kita tentang penyakit Sifilis pada hari ini, untuk berkonsultasi lebih lanjut silahkan hubungi dokter. Salam sehat!!!   Sumber : www.crossstreetmedical.com.sg, www.medicalnewstoday.com, www.cdc.gov, www.avert.org, www.mayoclinic.org, www.plannedparenthood.org, www.womenshealth.gov
 11 Aug 2017    11:00 WIB
Mengenal Sifilis
Sifilis merupakan penyakit yang sangat mudah menular, yang biasanya ditularkan melalui hubungan seksual, baik oral, vaginal, maupun anal. Kadang-kadang, penyakit ini juga dapat ditularkan melalui ciuman dalam waktu lama atau kontak langsung. Sebagian besar penularan penyakit ini terjadi melalui suatu luka terbuka yang seringkali tidak disadari baik oleh penderita maupun pasangannya. Wanita hamil yang terkena penyakit ini dapat menularkannya pada bayinya dan menyebabkan terjadinya sifilis kongenital, yang dapat menyebabkan kelainan atau bahkan kematian pada bayinya tersebut. Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan kloset, gagang pintu, kolam renang, kolam air panas, bak mandi, menggunakan baju penderita, atau alat makan.   Penyebab Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Sebelum ditemukannya antibiotika penicillin, sifilis merupakan suatu penyakit serius yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti artritis (radang sendi), kerusakan otak, dan kebutaan.   Fase Sifilis Terdapat 3 fase sifilis, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Fase Primer (Awal) Penderita sifilis fase primer biasanya memiliki satu atau beberapa luka terbuka yang menyerupai bekas gigitan serangga, berukuran besar, tidak nyeri, dan seringkali teraba keras. Luka terbuka ini biasanya terjadi pada daerah kemaluan atau di dalam atau di sekitar mulut. Luka terbuka ini biasanya mulai timbul 10-90 hari setelah terinfeksi oleh bakteri penyebab. Tanpa pengobatan, luka terbuka ini biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu 6 minggu tanpa meninggalkan jaringan parut. Fase Sekunder Fase sekunder dapat berlangsung selama 1-3 bulan dan dimulai dalam waktu 6 minggu hingga 6 bulan setelah paparan terhadap bakteri. Penderita sifilis fase sekunder biasanya memiliki bercak kemerahan berbentuk seperti koin pada telapak tangan dan kaki. Walaupun demikian, bercak dalam bentuk yang berbeda juga dapat timbul pada bagian tubuh lainnya. Bercak ini kadangkala menyerupai bercak yang disebabkan oleh penyakit lain. Pada penderita juga dapat ditemukan adanya kutil basah di daerah kemaluan, bercak putih di dalam mulut, pembengkakan kelenjar getah bening, demam, dan penurunan berat badan. Seperti halnya sifilis fase primer, sifilis fase primer akan sembuh sendiri tanpa pengobatan apapun. Fase Tersier Jika infeksi sifilis tidak juga diobati, maka sifilis dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yang berat pada jantung, otak, dan saraf yang dapat menyebabkan terjadinya kelumpuhan, kebutaan, demensia (pikun), tuli, impoten, dan bahkan kematian. Kadangkala sifilis dapat memasuki suatu fase laten, di mana penderita yang telah terinfeksi oleh bakteri penyebab sifilis tidak mengalami gejala apapun (bakteri dorman di dalam tubuh).   Apakah Saya Menderita Sifilis? Sifilis dapat didiagnosa melalui pemeriksaan darah untuk mendeteksi adanya bakteri penyebabnya.   Pengobatan Jika anda telah terinfeksi sifilis dalam waktu kurang dari 1 tahun, pemberian 1 dosis penicillin biasanya dapat membunuh kuman. Bagi penderita yang alergi terhadap penicillin, dapat diberikan tetrasiklin atau doksisiklin. Jika anda berada pada fase lanjut sifilis, maka diperlukan pemberian beberapa dosis penicillin untuk menyembuhkan anda. Setiap penderita sifilis yang sedang berada dalam pengobatan tidak boleh melakukan hubungan seksual apapun hingga infeksi telah dipastikan sembuh. Pasangan seksual penderita sifilis juga harus diperiksa dan diobati, bila diperlukan.   Komplikasi Bila tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan gangguan kesehatan berat dan permanen, seperti demensia, kebutaan, atau kematian.   Sifilis Pada Wanita Hamil Tergantung pada berapa lama wanita hamil tersebut telah terinfeksi oleh sifilis, bayinya dapat meninggal di dalam kandungan sebelum dilahirkan atau bayi lahir hidup namun meninggal tidak lama kemudian. Jika bayi tidak segera diobati, bayi yang terinfeksi dapat tidak menunjukkan gejala apapun dan baru timbul beberapa minggu kemudian. Gejala yang timbul dapat sangat berat. Bayi penderita sifilis yang tidak diobati dapat mengalami gangguan perkembangan, kejang, atau bahkan meninggal.   Pencegahan Untuk mengurangi resiko tertular sifilis terdapat 2 hal yang dapat anda lakukan, yaitu: Hindari berhubungan seksual dengan penderita sifilis Gunakanlah kondom setiap kali berhubungan seksual   Prognosis Sifilis merupakan penyakit yang dapat disembuhkan melalui diagnosa dini dan terapi yang tepat. Jika terlambat diobati, maka sifilis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan permanen pada jantung dan otak bahkan setelah infeksi sembuh.   Sumber: webmd
 29 Jul 2017    18:00 WIB
Tanda-Tanda Penyakit Sifilis yang Seringkali Tidak Disadari!
Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penularannya terutama terjadi melalui kontak seksual; infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat proses persalinan, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Tanda-tanda sifilis tidak selalu terjadi dalam urutan yang sama. Sifilis berkembang secara bertahap dan gejalanya bervariasi dalam setiap tahap.   Sifilis Primer Tanda-tanda sifilis primer adalah adanya luka terbuka yang disebut juga dengan chancre (shang-kur). Luka muncul di tempat bakteri masuk ke dalam tubuh. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi sifilis, chancre hanya muncul satu, sedangkan pada beberapa orang akan muncul banyak luka. Luka ini biasanya berkembang sekitar 3 minggu setelah terinfeksi. Banyak orang yang memiliki sifilis tidak memperdulikan luka yang muncul karena biasanya tidak terasa sakit atau tersembunyi di dalam vagina atau anus. Chancre akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 6 minggu .   Sifilis Sekunder Dalam beberapa minggu setelah penyembuhan chancre, bercak kemerahan pada kulit pun mulai terbentuk. Bercak kemerahan ini pada awalnya hanya akan muncul pada 1 tempat, tetapi pada akhirnya akan menyebar ke seluruh tubuh, bahkan hingga ke telapak tangan dan kaki. Bercak kemerahan ini biasanya tidak gatal dan dapat juga disertai oleh luka seperti kutil di daerah mulut atau pada kemaluan. Beberapa orang juga akan mengalami nyeri otot, demam, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala sifilis ini biasanya juga akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu tetapi dapat pula kambuh kembali dalam waktu 1 tahun.   Sifilis Laten Jika gejala sifilis sekunder tidak diobati, penyakit akan berkembang ke fase laten (tersembunyi). Dalam tahap ini tidak akan ada gejala yang muncul. Tahap laten bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Gejala sifilis ini mungkin tidak akan terjadi kembali, tetapi kemungkinan besar dapat berkembang ke tahap tersier.   Sifilis Tersier Sekitar 15-30% orang yang terinfeksi sifilis yang tidak mendapatkan pengobatan, akan mengalami komplikasi sifilis bertahun-tahun kemudian, yang dikenal sebagai sifilis tersier. Pada tahap akhir ini, penyakit dapat merusak otak, saraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, dan sendi.   Sifilis Kongenital Bayi yang lahir dari ibu yang menderita sifilis dapat terinfeksi sifilis saat masih berada di dalam kandungan atau pada saat proses persalinan. Kebanyakan bayi yang menderita sifilis kongential tidak menunjukkan gejala apapun. Gejala awal yang mungkin ditemukan hanyalah berupa bercak-bercak kemerahan pada telapak tangan dan telapak kaki bayi. Beberapa gejala sifilis lainnya yang mungkin muncul kemudian adalah tuli, cacat gigi, dan cacat hidung.   Baca Juga: Penyebab, Fase, dan Pengobatan Sifilis   Sumber: infoseks
 31 May 2015    11:00 WIB
Bagaimana Mencegah Terjadinya Penyakit Sifilis?
Cara paling ampuh untuk mencegah tertular berbagai jenis penyakit menular seksual, termasuk sifilis adalah dengan menghindari kontak seksual atau tidak berganti-ganti pasangan seksual dan pastikan pasangan seksual Anda tidak terinfeksi oleh sifilis.   Baca juga: Tips Memilih Kondom Dengan Tepat   Selain itu, menghindari konsumsi minuman beralkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang juga dapat membantu mencegah tertular sifilis. Hal ini dikarenakan kedua hal tersebut dapat memicu terjadinya hubungan seksual beresiko (tidak dapat melakukan penilaian dengan benar sehingga dapat berhubungan seks dengan siapa saja). Sangat penting bagi sepasang kekasih dan suami istri untuk membicarakan mengenai apakah mereka mengidap HIV atau apakah mereka pernah menderita penyakit menular seksual tertentu sehingga pasangan yang belum pernah terinfeksi dapat melindungi dirinya agar tidak terinfeksi oleh penyakit menular seksual yang sama. Bagi Anda yang beresiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit menular seksual, misalnya karena sering berganti pasangan seksual, maka penggunaan kondom dapat membantu menurunkan resiko tertular berbagai penyakit menular tersebut, termasuk sifilis. Akan tetapi, ulkus (luka terbuka) pada daerah kemaluan yang biasa ditemukan pada sifilis ditularkan terutama melalui kontak kulit dengan kulit. Ulkus ini mungkin tidak dapat tertutup oleh kondom bila terletak di bagian pangkal penis. Jadi, pencegahan penularan sifilis hanya dapat dilakukan bila seseorang menggunakan kondom dengan benar, selalu menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual, dan bila daerah yang terinfeksi (ada ulkus) tertutup sempurna oleh kondom. Selain itu, kondom yang dilumasi dengan spermisida yang mengandung nonoxynol-9 (N-9) juga tidak lebih efektif (untuk mencegah penularan penyakit menular seksual) dibandingkan dengan kondom yang mengandung pelumas lainnya. Berdasarkan berbagai penelitian, N-9 justru dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada daerah kemaluan, yang dapat memudahkan masuknya HIV dan berbagai kuman penyebab penyakit menular seksual lainnya. Mencuci daerah kemaluan, buang air kecil, dan atau membersihkan daerah kemaluan dengan pembersih setelah berhubungan seks juga tidak dapat mencegah penularan penyakit menular seksual, termasuk sifilis. Bila Anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, dianjurkan agar Anda tidak berhubungan seksual dengan siapa pun dan segera hubungi dokter Anda. Beberapa gejala tersebut adalah: Keluarnya cairan yang tidak biasanya dari dalam kemaluan Adanya luka terbuka atau luka pada daerah kemaluan Adanya bercak kemerahan pada daerah kemaluan   Sumber: webmd