Your browser does not support JavaScript!
 01 Jun 2016    11:00 WIB
Video Games Penuh Kekerasan Bikin Anak Lebih Agresif, Benarkah?
Sebuah penelitian besar yang dilakukan di Singapura menemukan bahwa kekerasan yang terdapat di dalam berbagai video games ternyata dapat mempengaruhi bagaimana pandangan anak mengenai perilaku agresif. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 3.034 orang anak yang berusia antara 8-17 tahun di Singapura selama lebih dari 3 tahun. Para peneliti kemudian menemukan bahwa berbagai tindakan kekerasan yang terdapat di dalam video games dapat mempengaruhi perilaku agresif seorang anak dengan mengubah cara pandang anak mengenai kekerasan. Walaupun berbagai penelitian sebelumnya tidak menemukan adanya efek negatif dari video games yang penuh dengan tindakan kekerasan pada perilaku anak, akan tetapi penelitian baru ini justru menemukan hal yang berbeda. Para peneliti menemukan bahwa adanya tindakan kekerasan pada berbagai video games dapat mengubah cara pandang anak mengenai tindakan kekerasan secara umum dan mempengaruhi bagaimana perilaku agresif pada diri anak. Hasil penelitian ini pun tidak terpengaruh oleh beberapa hal lainnya yang turut berperan dalam perkembangan perilaku anak seperti jenis kelamin, usia, tingkat agresivitas anak yang memang telah ada, dan peran orang tua. Akan tetapi, karena para peneliti memperoleh informasi seputar tindakan kekerasan di dalam video games melalui para peserta penelitian, maka hasil penelitian ini mungkin memiliki bias tertentu. Para peneliti mengatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut di mana informasi seputar tindakan kekerasan di dalam video games juga diperoleh dari orang tua, guru, dan peneliti. Sementara itu, para ahli kejiwaan yang juga meneliti hal yang sama di tahun 2010 menemukan bahwa tindakan kekerasan yang terdapat di dalam berbagai video games mungkin dapat mempengaruhi perilaku anak yang memang beresiko tinggi yaitu anak yang menderita gangguan mood, memiliki rasa empati yang rendah, dan memiliki nilai moral yang rendah. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.  Sumber: healthline
 16 Dec 2015    15:00 WIB
Anak Adalah Korban Dari Perceraian, Pikirkan Terlebih Dahulu!!!
Saat pasangan yang sudah menikah dan memutuskan untuk bercerai mungkin mengalami masalah yang terlalu pelik dan sulit untuk mendapatkan titik temu diantara kedua belah pihak. Namun perceraian akan memberikan dampak untuk semua pihak, untuk Anda sendiri, pasangan, keluarga pasangan dan yang paling terpukul akibat sebuah perceraian adalah anak-anak. Perceraian akan menberikan dampak pada anak-anak yang Anda cintai. Sebelum Anda memutuskan untuk bercerai, berpikirlah dengan matang dan jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi.   Berikut ini adalah dampak yang bisa terjadi pada anak-anak korban perceraian: 1.      Depresi Perceraian dapat mematahkan mental dan membuat terpukul orang dewasa, terlebih untuk anak. Anak-anak memiliki jiwa yang masih belum stabil. Bagi seorang anak, orang tua mereka adalah segalanya. Menjadi pahlawan dan panutan dalam hidup mereka. Kebersamaan dan kemesraan orang tua akan memberikan kenyamanan bagi anak-anak. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana perasaaan seorang anak jika orangtua mereka tiba-tiba mulai hidup secara terpisah? Maka mereka akan mengalami trauma mental yang berat dan dapat menyebabkan terjadinya depresi. Baca juga: Tahukah Anda Bahwa Wanita Ternyata Lebih Sulit Menerima Perceraian? 2.      Rendah diri Dunia anak-anak penuh dengan canda tawa dan kepolosan, Saat anak-anak korban bercerai berteman dengan sebayanya. Bisa membuatnya menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya. Dalam keadaan ini anak-anak korban perceraian juga akan merasa bingung kepada siapa dia bisa mengadukan perasaannya. Yang seharusnya hal ini menjadi tanggung jawab 2 orang yaitu ayah dan ibu. Hal ini akan membuatnya menjadi rendah diri. 3.      Efek penyangkalan Tanpa ragu, anak-anak korban perceraian akan melalui sebuah fase penyangkalan. Dimana seluruh ide dan konsep perceraian akan merasa seperti mimpi. Maka mereka akan berusaha untuk menyangkal bahwa perceraian orang tuanya memang terjadi. Membuat mereka larut dalam "impian" mereka sendiri yang mengganggap dirinya masih memiliki keluarga yang utuh. Hal ini akan membuat mereka sulit berkembang dan terganggu dalam bidang akademis. 4.      Gangguan Perilaku Karena trauma mental, tekanan, ketidakbahagiaan, rasa kesepian yang dialami. Anak-anak korban perceraian bisa saja mengalami gangguan perilaku. Anak-anak korban perceraian tersebut menjadi mudah marah, tidak mau bersosialisasi dengan teman-temannya, cenderung diam dan menutup diri. Karena dia takut dan malu akan kehidupannya yang tidak lagi sempurna seperti dulu. 5.      Kebiasaan buruk Untuk membantu mengatasi rasa sedih, sakit dan kesepian yang dirasakan. Anak-anak yang orang tuanya bercerai bisa jadi mengambil jalan yang salah dan mulai melakukan kebiasaan yang buruk, seperti merokok, minum alkohol, konsumsi obat terlarang dan seks bebas. Perceraian memang suatu hal yang sulit untuk dihadapi, sebelum hal ini terjadi sebaiknya Anda memikirkannya baik-baik. Dan bila memang perceraian harus terjadi, Anda dan mantan pasangan Anda harus terus memperhatikan perilaku dan perkembangan anak-anak Anda.  Karena sebaiknya seorang anak tumbuh dalam sebuah keluarga dengan kehadiran ayah dan ibu yang terus melindungi dan memberinya dukungan. Baca juga: Hati-hati Aktivitas di Media Sosial Mampu Picu Perceraian Lho! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: magforwomen