Your browser does not support JavaScript!
 27 Nov 2018    18:00 WIB
Perceraian dan Akibatnya Pada Anak
Perceraian kedua orang tua seringkali membuat anak merasa sangat tertekan, beberapa anak bahkan merasa bahwa hal tersebut terjadi akibat kesalahannya. Hal ini dapat membuat anak merasa sedih dan depresi. Untuk mencegah berbagai hal yang tidak diinginkan, sebaiknya anda bekerja sama dengan pasangan anda untuk memberikan pengertian pada anak anda.   Bagaimana Cara Memberitahu Anak Anda ? Akan lebih baik bila anda dapat memberitahukan mengenai hal ini bersama dengan pasangan anda. Jangan bersikap saling menyalahkan atau bertengkar di depan anak anda. Satu hal yang penting adalah beritahu bahwa perceraian terjadi bukan karena kesalahan anak anda tetapi merupakan suatu masalah di antara anda dan pasangan anda.   Bagaimana Reaksi Anak Anda ? Reaksi setiap anak dapat berbeda-beda. Anak-anak biasanya mulai mengkhawatirkan mengenai berbagai hal yang biasa mereka lakukan, seperti di mana mereka tinggal nantinya atau siapa yang akan mengantar mereka ke sekolah dan lain sebagainya. Lama-kelamaan, anak akan mulai merasakan dampak dari perpisahan anda dan pasangan. Anak yang lebih kecil dapat mengalami stress dan menunjukkan dengan bersikap lebih pendiam, murung, menarik diri, atau bahkan kembali mengompol. Anak yang lebih besar juga dapat mengalami stress yang ditunjukkan dengan sikap bermusuhan atau menyalahkan atau sering berkelahi, atau depresi dan menarik diri. Apapun reaksi anak anda, disarankan agar anda dapat menerima dan bersabar menghadapinya. Bila anak anda tampak depresi atau menarik diri anda dapat memulai dengan menjadi temannya atau bila perlu lakukan konseling bersama.   Apa yang Dapat Anda Lakukan ? Hal penting yang perlu diingat adalah jangan menjelekkan pasangan anda di hadapan anak anda. Hal ini dapat membuat anak anda lebih sulit beradaptasi dan justru dapat menyebabkan anak merasa bersalah setiap kali ia bersama dengan pasangan anda. Di bawah ini terdapat beberapa hal dapat anda lakukan untuk membantu anak anda beradaptasi dengan perceraian anda dan pasangan, yaitu: Jangan mengatakan hal buruk atau menjelekkan pasangan anda di depan anak anda Jangan menuduh pasangan anda di depan anak anda Jangan memaksa anak anda untuk memilih antara anda atau pasangan anda Jangan jadikan anak anda sebagai pembawa pesan antara anda dan pasangan anda Jangan membicarakan mengenai pembagian tugas merawat atau tanggung jawab terhadap anak anda di depan anak anda Jangan menanyakan anak anda mengenai apa yang pasangan anda lakukan Jangan menggunakan anak anda untuk menyakiti pasangan anda Beberapa hal lainnya yang juga perlu anda ingat adalah jangan merubah peraturan rumah anda karena anak anda merasa sedih atau depresi akibat perceraian yang terjadi. Hal ini justru dapat memperburuk perilaku anak. Selain itu, jangan jadikan anak anda sebagai tempat sandaran anda. Hal ini dapat membuat anak anda merasa tertekan dan stress. Lakukanlah konseling dengan para ahli untuk melalui perceraian anda. Selalu jadikan kepentingan anak sebagai yang utama juga merupakan salah satu cara membantu anak anda melalui perceraian ini. Walaupun anda mungkin tidak ingin bertemu lagi dengan pasangan anda, namun anda harus dapat bersikap dewasa demi kepentingan anak anda. Bagaimanapun keberadaan dan peran kedua orang tua tetap merupakan hal yang terpenting bagi perkembangan psikologis anak. Baca juga: Hati-hati Aktivitas di Media Sosial Mampu Picu Perceraian Lho! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang
 09 Mar 2018    18:00 WIB
Tips Untuk Mencegah Anak Anda “Terhimpit” di Antara Perceraian Anda dan Pasangan
Pada sebagian besar kasus, perceraian biasanya didahului oleh perselisihan. Jadi, Anda pasti sangat tidak ingin bertemu dengan pasangan Anda lagi. Namun hal ini mungkin akan sulit Anda wujudkan bila Anda dan pasangan memiliki anak. Tidak hanya Anda harus bertemu dengan mantan, Anda pun harus bekerja sama sebagai orang tua untuk mendidik anak Anda. Walaupun Anda mungkin merasa sangat enggan melakukan hal ini, akan tetapi tetap bekerja sama dengan mantan Anda merupakan hal terbaik bagi anak Anda. Sangat penting agar jangan sampai anak Anda merasa terhimpit dan harus memilih di antara Anda dan mantan. Hal ini merupakan hal yang sangat sulit bagi anak Anda karena Anda dan mantan tetap adalah orang tuanya. Untuk membantu Anda menghadapi situasi tidak menyenangkan ini dan mencegah anak Anda merasakan dampak dari perceraian kedua orang tuanya, cobalah beberapa tips di bawah ini.   Jangan Berharap Anak Anda Akan Menyimpan Rahasia Anda dari Mantan (Atau Sebaliknya) Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah jangan berharap anak Anda akan menjaga rahasia Anda dari mantan. Tunjukkanlah bahwa Anda masih menghormati mantan Anda di hadapan anak Anda (walaupun Anda hanya berpura-pura). Dengan demikian, anak Anda pun akan lebih menghormati Anda.   Simpan Semua Perasaan Negatif Terhadap Mantan Bagi Diri Anda Sendiri Hal ini cukup mudah dilakukan. Saat Anda sedang bersama dengan anak Anda, fokuskanlah semua perhatian dan perasaan Anda pada anak Anda. Jangan tunjukkan semua perasaan negatif yang Anda rasakan terhadap mantan atau perceraian di hadapan anak Anda.   Jangan Berharap Anak Anda Untuk Memilih Perceraian bukanlah permainan di mana Anda dan mantan harus berebut "anggota" tim, yaitu anak Anda. Selain itu, bukanlah tugas anak Anda untuk mendukung Anda dalam perceraian Anda dengan mantan. Jangan pernah membuat anak Anda berada dalam posisi ini.   Jangan Jadikan Anak Anda Sebagai Penghantar Pesan Bila Anda ingin menyampaikan sesuatu pada mantan suami/istri Anda, sampaikanlah sendiri. Jangan minta anak Anda untuk menyampaikan pesan Anda tersebut pada mantan.   Jangan Berbicara Masalah Keuangan Dengan Anak Anda Jangan pernah membicarakan mengenai masalah keuangan Anda baik sebelum atau setelah perceraian. Jika perceraian membuat Anda harus mengeluarkan banyak uang, anak Anda tidak perlu tahu. Jika setelah bercerai Anda mengalami kesulitan keuangan, jangan beritahukan juga pada anak Anda. Jangan membuat anak Anda khawatir mengenai keadaan keuangan Anda.   Jangan Biarkan Anak Anda Berbicara Buruk Mengenai Mantan Suami/Istri Anda Jangan biarkan anak Anda "memanasi" Anda dan jangan biarkan anak Anda bila mereka menunjukkan rasa tidak hormat pada mantan Anda. Ingatlah bahwa bagaimana perasaan Anda mengenai mantan Anda tidak berhubungan dengan bagaimana perasaan Anda.   Baca juga: Anak Sulit Menerima Perceraian Anda? Berikut Cara Membantunya…   Masalah Hukum Dalam Perceraian Bukanlah Urusan Anak Anda Anak Anda tidak perlu tahu kapan siding perceraian Anda dan pasangan akan dilangsungkan. Anak Anda tidak perlu tahu bila Anda dan mantan masih berurusan dengan hukum karena berbagai hal.   Jadilah Teladan Bagi Anak Anda Jika anak Anda sering berbicara buruk mengenai mantan Anda, misalnya mengenai bagaimana perilaku mereka, maka jangan ikut bergosip dan berkata buruk mengenai mantan Anda. Jadilah teladan bagi anak Anda.     Jangan Bertengkar Dengan Mantan di Hadapan Anak Anda Tidak peduli sebenci apa Anda terhadap mantan Anda, jangan pernah bertengkar di depan anak Anda. Hal ini akan membuat mereka takut dan stress.   Ingatlah bahwa peran Anda sebagai pasangan memang sudah berakhir, akan tetapi peran Anda sebagai orang tua tidak akan pernah berakhir. Jadi, cobalah untuk bekerja sama sebaik mungkin dengan mantan Anda demi kebahagiaan dan masa depan anak Anda. Selalu dahulukan kepentingan anak Anda baik sebelum maupun setelah Anda bercerai dari pasangan.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.     Sumber: about
 26 Jan 2018    11:00 WIB
5 Hal Mengapa Anda Sebaiknya Bercerai Demi Anak
Jika satu-satunya alasan Anda dan pasangan bercerai karena Anda dan pasangan saling menjauh atau karena Anda tidak merasa bahagia dengan pernikahan Anda, maka berusahalah dulu untuk menyelamatkan pernikahan Anda sebelum memutuskan untuk bercerai. Akan tetapi, bila telah terjadi kekerasan di dalam rumah tangga Anda, baik fisik maupun verbal atau salah satu pihak mengalami ketergantungan atau terus saja berselingkuh, maka bercerai merupakan hal terbaik yang dapat Anda lakukan bagi diri Anda dan juga anak-anak Anda. Hal ini dikarenakan agar anak-anak Anda dapat memiliki sebuah hubungan asmara yang sehat, mereka harus memiliki contoh yang baik. Jadi, bila pernikahan Anda penuh dengan konflik, maka secara tidak sadar Anda pun akan mengajari anak Anda untuk gagal dalam hubungan asmaranya saat mereka dewasa. Menurut seorang sosiolog di Amerika, ada 2 kategori anak yang paling beresiko mengalami gangguan psikologis di masa depannya, yaitu anak yang bertumbuh di dalam keluarga di mana kedua orang tuanya tidak bercerai tetapi selalu saja bertengkar dan bermusuhan; yang kedua adalah anak yang bertumbuh di dalam keluarga di mana orang tuanya jarang bertengkar, tetapi akhirnya bercerai juga.   Baca juga: 5 Tips Merawat Anak Bersama Setelah Bercerai   Jika kehidupan pernikahan Anda penuh dengan konflik, perceraian justru akan bermanfaat bagi anak-anak Anda di dalam berbagai aspek. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa alasan mengapa Anda sebaiknya pergi dari kehidupan pernikahan yang dipenuhi dengan konflik: Anda akan menyelamatkan anak Anda dari rasa cemas yang mereka rasakan karena melihat pertengkaran orang tuanya Anak-anak butuh hubungan yang hangat, penuh cinta, dan suportif dengan orang tuanya. Dengan menjauhkan anak dari konflik keluarga ini, maka anak Anda pun akan merasa bahwa mereka dicintai dan dilindungi Salah satu kebutuhan dasar anak-anak adalah merasa aman dan nyaman. Jadi, bercerai dengan pasangan yang sering melakukan kekerasan berarti Anda memastikan anak Anda mendapatkan kebutuhan dasar yang satu ini Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar oleh kekerasan rumah tangga akan mengalami gangguan perkembangan dan tidak bisa membentuk ikatan dengan orang tuanya Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga penuh konflik akan memiliki reaksi berlebihan terhadap konflik atau ancaman, yang akan membuat mereka selalu bersikap bermusuhan atau agresif saat menghadapi orang lain   Intinya adalah keputusan Anda untuk bercerai atau tidak dari pasangan tidak hanya berdasarkan pada kepentingan Anda sendiri, tetapi terutama bagi kepentingan anak-anak Anda. Jika pernikahan Anda tidak penuh dengan konflik, maka tetap bertahan merupakan pilihan terbaik. Namun, bila pernikahan Anda penuh dengan konflik dan kekerasan, maka bercerai akan lebih bermanfaat bagi anak-anak dan juga diri Anda sendiri.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: about
 08 Jan 2018    16:00 WIB
Anak Sulit Menerima Perceraian Anda? Berikut Cara Membantunya…
Saat Anda dan pasangan bercerai, anak seringkali menjadi korban, apalagi bila Anda dan pasangan melalui perceraian yang penuh konflik. Secara tidak langsung, anak-anak Anda pasti akan ikut terkena imbasnya. Bila orang tua tidak menempatkan anak-anak mereka sebagai prioritas utama paska bercerai, maka hal ini dapat berdampak buruk pada keadaan psikologis Anda. Jika Anda ingin menjadi orang tua yang baik dan ingin agar anak Anda tidak merasakan dampak dari perceraian Anda dan pasangan, di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.   Jalinlah Hubungan Baik Dengan Mantan Jangan gunakan anak Anda sebagai pion untuk menghukum mantan Anda. Jangan buat anak-anak Anda berada di tengah-tengah konflik antara Anda dan mantan. Hal ini dikarenakan Anda dan pasangan merupakan ayah dan ibu yang memiliki pengaruh spesifik pada kehidupan anak-anak Anda. Setiap anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat (secara psikologis) bila mereka memiliki pengaruh dari kedua orang tuanya. Hal lain yang tidak kalah penting adalah agar anak Anda dapat menjalin hubungan dengan Anda dan mantan secara adil. Jangan libatkan anak Anda dalam perceraian dan perseteruan Anda dan pasangan dengan menyingkirkan mantan Anda dari kehidupan anak Anda. Karena Anda mungkin tidak lagi mencintai mantan Anda, tetapi anak Anda akan tetap mencintai mantan Anda tersebut. Jika Anda memang benar-benar mencintai anak Anda melebihi apapun, buktikanlah dengan memastikan mereka mendapatkan semua yang mereka perlukan, tidak peduli bagaimana perasaan Anda terhadap mantan.   Bekerja Samalah Dengan Mantan Untuk Kepentingan Anak Walaupun Anda dan pasangan sudah bercerai, Anda harus bekerja sama dengan mantan untuk kepentingan anak Anda. Anda dan pasangan tetaplah orang tua anak-anak Anda, maka jadilah orang tua yang baik. Bekerja samalah dan jangan campuri kehidupan mantan Anda, begitu juga dengan aturan di rumah mantan Anda. Bila mantan Anda mengijinkan anak Anda tidur malam saat menginap di rumahnya, maka biarkanlah. Jangan mencoba untuk mengendalikan setiap aspek dalam kehidupan anak Anda dan percayailah mantan Anda bahwa ia pun dapat menjaga anak Anda dan membuatnya bahagia.   Jangan Beritahu Anak Semua Perilaku Buruk Mantan Anda Jika Anda ingin mencari tempat curhat untuk menceritakan semua keburukan mantan Anda, carilah terapis, keluarga, atau teman Anda; jangan curhat pada anak Anda. Melakukan hal ini hanya akan membuat anak Anda merasa bahwa dirinya melakukan kesalahan hingga Anda dan mantan bercerai. Ingatlah bahwa apapun penyebab terjadinya perceraian di antara Anda dan pasangan, masalah tersebut hanya antara Anda dan mantan, bukan antara anak Anda dengan orang tuanya. Anak-anak akan menjauhi orang tua yang membuatnya merasa tertekan dan lebih dekat dengan orang tua yang membuatnya merasa lebih aman dan nyaman. Jadi, berbicara buruk tentang mantan Anda di hadapan anak Anda justru akan berbalik menyerang Anda.   Baca juga: 6 Hal yang Membuat Anda Dijauhi Oleh Anak   Cobalah Untuk Menempatkan Diri Pada Posisi Anak Anda Apapun penyebab perceraian Anda dan bagaimana hubungan Anda dengan mantan, perceraian Anda tetap akan meninggalkan luka pada anak Anda, yang tidak dapat sembuh dengan cepat. Merupakan tugas Anda sebagai orang tua untuk memastikan bahwa semua kebutuhan anak Anda sudah terpenuhi. Akan tetapi, hal ini tidak mungkin dapat terjadi bila Anda tidak dapat melihat suatu situasi dari sudut pandang anak Anda.   Jangan Menghakimi Mantan Anda dan Mengajarkannya Pada Anak Anda Tidak peduli apa kesalahan besar yang telah dilakukan mantan Anda terhadap Anda, bukan tugas dan hak Anda untuk menghakiminya, karena Anda juga bukanlah orang yang tidak berdosa. Ingatlah bahwa yang terpenting adalah bagaimana mantan Anda memperlakukan anak Anda. Bila anak Anda dicintai, dihargai, dan merasa aman di dekatnya, maka Anda tidak perlu menghakiminya atau melarangnya bertemu dengan anaknya sendiri.   Dalam hal perceraian, anak selalu adalah korban karena mereka tidak pernah memiliki hak bicara mengenai hal ini. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban Anda sebagai orang tua untuk memastikan bahwa anak Anda dapat hidup dengan baik dan memiliki hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya, tidak hanya Anda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: about
 03 Jan 2018    18:00 WIB
Apakah Aku Harus Bercerai? Berikut ini 6 Tanda Bahwa Memang Sudah Saatnya…
Saat pernikahan Anda tidak berjalan sesuai dengan harapan Anda, Anda mungkin berpikir apakah Anda harus bercerai atau tidak. Walaupun perceraian bukanlah keputusan yang boleh dibuat dengan terburu-buru, akan tetapi bila Anda mengalami beberapa tanda di bawah ini, maka perceraian mungkin merupakan jalan terbaik bagi Anda.   Anda Merasa Hidup Tanpa Pasangan Akan Lebih Menyenangkan Merasa bahwa hidup Anda akan menjadi lebih menyenangkan bila Anda bercerai merupakan hal normal yang sering terjadi bila pernikahan Anda sedang berada pada masa tersulit. Yang tidak normal adalah bahwa Anda mulai sering memikirkan perceraian karena Anda tidak menyukai pasangan Anda. Hal ini merupakan tanda bahwa Anda tidak bahagia dalam pernikahan Anda dan merupakan tanda bahwa Anda harus segera melakukan konseling pernikahan sebelum terlambat.   Anda Tidak Ingat Kapan Terakhir Kali Merasa Bahagia Dalam Pernikahan Anda Jika hal negatif mengalahkan hal positif dalam pernikahan Anda, maka hal ini merupakan tanda bahwa pernikahan Anda sedang bermasalah dan memerlukan bantuan segera untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Bila Anda dan pasangan sama-sama tidak mau berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, maka perceraian mungkin sudah berada di ambang pintu.   Baca juga: Mengapa Suami Istri Bercerai Setelah Puluhan Tahun Menikah?   Anda dan Pasangan Tidak Lagi Saling Berbagi Pikiran dan Perasaan Apakah Anda merasa enggan berbicara dengan pasangan Anda mengenai masalah yang ada dalam pernikahan atau bahkan kehidupan Anda secara keseluruhan? Bila ya, maka hal ini merupakan pertanda buruk. Pasangan suami-istri sangat memerlukan komunikasi yang baik untuk menjaga hubungan asmara yang sehat di antara keduanya. Jika Anda merasa tidak nyaman berbicara dengan pasangan Anda, maka hal ini merupakan tanda bahwa Anda tidak terlalu mempercayai pasangan Anda. Tanpa adanya rasa percaya di antara Anda dan pasangan, maka pernikahan Anda pun akan sulit dipertahankan.   Anda Selalu Bersikap Defensif dan Marah Pada Pasangan Jika salah satu pihak selalu bersikap defensif, mengabaikan perasaan pihak lainnya, menghina kepercayaan pihak lain atau menutup diri; maka resiko perceraian pun akan sangat tinggi. Menghindari konflik atau terus bersikap defensif saat menyelesaikan suatu permasalahan akan membuat hubungan Anda dan pasangan menjadi tidak sehat. Bila hal ini terus berlanjut, maka perceraian hanya tinggal menunggu waktu.   Anda Ingin Menyelesaikan Masalah, Tetapi Tidak Dengan Pasangan Anda Apakah Anda merasa frustasi karena setiap kali Anda mencoba untuk berdiskusi mengenai masalah yang ada dalam pernikahan, pasangan justru menjauhi Anda? Jika demikian, maka perceraian mungkin akan segera terjadi karena diperlukan kedua belah pihak untuk sama-sama berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada untuk menyelamatkan pernikahan.   Anda Tidak Lagi Merasa Tertarik Untuk Berhubungan Intim Dengan Pasangan Apapun alasan mengapa Anda dan pasangan jarang atau bahkan tidak lagi berhubungan intim, pernikahan yang kekurangan keintiman seksual dan kasih sayang pasti akan berakhir pada perceraian atau pernikahan "simbiosis". Anda atau pasangan mungkin bertahan hanya karena anak-anak atau takut akan perubahan yang terjadi dalam hidup paska perceraian.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: about
 30 Jun 2017    08:00 WIB
Cerai Sering Terjadi Bukan Karena Selingkuh, Tetapi Karena Hal Ini....!
Anda mungkin sudah sering mendengar mengenai berbagai macam alasan mengapa sepasang suami istri akhirnya memutuskan bercerai; mulai dari adanya perselingkuhan, tidak lagi memiliki pandangan atau prinsip hidup yang sama, hingga tidak lagi mencintai pasangannya tersebut.   Apapun penyebabnya, pernahkah Anda berpikir apa sebenarnya yang menyebabkan sepasang suami istri yang merasa sangat bahagia saat menikah dapat berakhir dengan perceraian? Sesuatu pasti terjadi di antara kedua peristiwa tersebut bukan? Dan terjadinya perceraian justru sangat jarang berhubungan dengan ketidaksetiaan salah satu atau kedua belah pihak atau tidak ada rasa cinta lagi di antara sepasang suami istri.   Di bawah ini Anda dapat melihat 3 hal utama yang seringkali menyebabkan terjadinya perceraian, yang ternyata sangat berhubungan dengan sang suami dan sang istri.   Baca juga: Tahukah Anda Bahwa Wanita Ternyata Lebih Sulit Menerima Perceraian?   Rasa Malas Yang dimaksud dengan rasa malas di sini adalah salah satu atau kedua belah pihak tidak mau berusaha untuk menjaga pernikahannya. Banyak orang mengira bahwa menikah akan membuatnya merasa bahagia, seolah-olah pernikahan adalah sesuatu hal di luar diri orang tersebut yang dapat bertahan dan berjalan dengan sendirinya tanpa usaha dari sang suami dan sang istri.   Akan tetapi, apa yang terjadi bila kedua belah pihak kecewa dengan pernikahan mereka? Mereka pun mulai mencari apa masalah yang menyebabkan terjadinya kehancuran di dalam pernikahan mereka tetapi tidak pernah bertanya pada diri mereka sendiri apa sebenarnya yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki keadaan.   Memang akan lebih mudah bagi mereka untuk menyalahkan pasangan atau pernikahan itu sendiri daripada harus bertanggung jawab dan mencari tahu perubahan apa yang harus mereka lakukan agar pernikahan tersebut dapat diperbaiki dan terus berlanjut.   Secara keseluruhan, kedua belah pihak terlalu malas untuk mengintrospeksi diri mereka sendiri, belajar memperbaiki hubungan, dan berusaha untuk mempertahankan pernikahan mereka tersebut. Kesimpulannya adalah sebuah pernikahan membutuhkan kerja keras agar dapat bertahan, jadi bila salah satu atau kedua belah pihak tidak memiliki komitmen yang cukup untuk bekerja keras, maka pernikahannya pun tidak akan dapat bertahan.   Kurangnya Kemampuan Berkomunikasi Satu hal yang juga sering menjadi penyebab dari terjadinya perceraian adalah karena baik suami maupun istri tidak tahu bagaimana caranya berbicara satu sama lain dan bahkan tidak dapat saling mendengarkan. Selain itu, banyak pasangan suami istri juga menghindari suatu pembicaraan karena takut hal yang akan dibicarakan tersebut akan menyakiti diri mereka dan pasangan mereka.   Jika Anda tidak dapat berkomunikasi dengan pasangan Anda, maka Anda dan pasangan pun tidak akan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di dalam pernikahan Anda. Jadi, berbicara dan mendengarkan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan pernikahan untuk menjaga pernikahan tetap langgeng.   Memiliki Harapan yang Terlalu Tinggi Memiliki harapan yang tinggi memang baik dalam beberapa hal, kecuali pernikahan. Baik pria maupun wanita memiliki banyak asumsi mengenai pernikahan dan apa yang ia harapkan dari sebuah pernikahan. Asumsi ini dipengaruhi oleh beberapa hal dan masalah dapat terjadi saat kenyataan dari kehidupan pernikahannya tidak sesuai dengan asumsi atau harapannya tersebut.   Oleh karena itu, sangat penting bagi sepasang kekasih untuk membicarakan berbagai hal termasuk seks sebelum menikah. Hal ini dikarenakan memiliki komunikasi yang baik sebelum menikah dapat mencegah kedua belah pihak memiliki harapan yang terlalu tinggi (tidak realistis) dari pernikahannya tersebut.   Kesimpulannya adalah perceraian tidak selalu terjadi akibat perselingkuhan atau rasa tidak bahagia. Perceraian dapat dihindari bila kedua belah pihak mau bekerja keras untuk merawat pernikahannya dan berkomunikasi secara efektif serta memiliki harapan yang realistis.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: divorcesupport
 01 Nov 2016    08:00 WIB
5 Penyebab Mengapa Seorang Wanita Menggugat Cerai Suaminya…
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa wanita cenderung lebih sering menggugat cerai pasangannya dibandingkan para pria. Ingin tahu apa penyebabnya? Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa alasan langsung dari para wanita mengenai mengapa mereka mengakhiri pernikahannya.   1.      Masalah Tidak Juga Bisa Teratasi, Walaupun Telah Mencoba Berbagai Cara "Aku tahu bahwa pernikahanku tidak lagi dapat diselamatkan saat masalah terus saja bermunculan tidak peduli seberapa banyak kami berusaha meredamnya. Kami telah mencoba melakukan konseling; bersama dan terpisah; berkencan, berpergian bersama anak atau hanya berduaan, berbicara dan membuat jurnal, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Yang ada hanya banyak sekali rasa sakit hati dan perasaan bersalah, bahkan anak-anak kami pun akhirnya menyadari apa yang terjadi, walaupun kami telah berusaha untuk menyembunyikannya. Pernikahan kami perlahan membusk dari dalam, dan anak-anak kami terpaksa melihat kehancurannya. Untungnya, setelah banyak berusaha dan sakit hati, kami akhirnya berhasil mengesampingkan perasaan pribadi kami dan mulai bekerja sama dengan baik sebagai orang tua di sebagian besar kesempatan. Sekarang ini, anak-anak kami dapat melihat kami berdua hampir setiap hari dan mereka juga dapat melihat kedua orang tua yang bahagia yagn berusaha bekerja sama demi kepentingan mereka." --- Kasey Ferris   2.      Tidak Dapat Menjadi Diri Sendiri di Depan Pasangannya "Sebenarnya tidak ada momen khusus yang dapat kupikirkan yang membuatku ingin meninggalkan pernikahanku. Akhir pernikahanku datang secara perlahan padaku, seiring dengan pertengkaran dan ketidakbahagiaan yang menumpuk selama bertahun-tahun, hingga akhirnya Aku tersadar bahwa setiap kali Aku menjadi diriku sendiri, maka kami pun bertengkar. Aku ingin memiliki kebebasan untuk menjadi diriku sendiri tanpa perlu merasa bahwa kepribadiankulah yang menjadi penyebab hancurnya pernikahan kami. Setelah Aku mengetahui bahwa hal ini merupakan penyebab dari sebagian besar pertengkaran kami, Aku tahu Aku tidak bisa lagi melanjutkan pernikahan kami karena Aku tidak lagi ingin atau dapat berhenti mengejar impian dan keinginanku." --- Danielle Porter   Baca juga: Ini Dia Tanda Berakhirnya Pernikahan Anda!   3.      Kehidupan Pernikahannya Tidak Lagi Sehat atau Produktif "Momenku datang saat Aku akhirnya dapat menerima kenyataan bahwa semua kebohongan dan rasa sakit hati merupakan tanda jelas dari tidak sehatnya hubungan asmara yang kujalani bersama dengan suamiku. Momen ini datang pada hari ulang tahunku setelah Aku merayakan ulang tahunku bersama dengan sejumlah teman dan Aku menemukan bahwa suamiku kembali berselingkuh. Pada saat itulah air mata sakit hatiku akhirnya berubah menjadi air mata kedamaian. Untuk pertama kalinya, Aku tahu bahwa Aku boleh mengakhiri pernikahanku. Keputusanku ini bukanlah didasarkan pada rasa marah atau benci. Bukan juga berdasarkan pada apa yang sudah diperbuatnya terhadapku, tetapi karena ia akhirnya menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya di hadapanku, dan Aku tahu bahwa suamiku tidak lagi berpengaruh baik bagi hidupku. Aku akhirnya memilih untuk menerima kenyataan dan menemukan kedamaian di dalam hatiku karena Aku tahu bahwa Aku telah mencoba semua yang bisa kulakukan untuk mempertahankan pernikahanku selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah berkeinginan untuk berpikir mengenai "bagaimana jika" dan Aku bersyukur karena hingga saat ini Aku tidak pernah merasakan penyesalan." --- Rachel Scott   4.      Tidak Ada Lagi Rasa Cinta "Aku sudah merasa sangat jengkel dengan semua perilaku tidak menghormati yang ia lakukan, akan tetapi ternyata bukan perilakunya tersebut yang membuatku mengambil keputusan akhir. Justru sikapkulah yang membuatku menyadari bahwa Aku harus mengakhiri pernikahanku. Hal ini terjadi pada salah satu dari banyaknya pertengkaran kami, Aku mendengar hinaan dan kejijikan dalam suaraku sendiri, Aku pun tahu bahwa sudah saatnya bagiku untuk pergi. Sebagai pasangan, kami tentu sering bertengkar, pasangan mana yang tidak? Akan tetapi, bahkan pada saat Aku merasa sangat frustasi dan marah, Aku masih dapat mendengar adanya rasa sayang dan cinta dalam suaraku. Jadi, saat Aku tahu tidak ada lagi keduanya dalam suaraku saat kami bertengkar, Aku tahu bahwa Aku sudah tidak dapat kembali lagi padanya." --- Soozi Baggs   5.      Tidak Menyukai Kehidupannya Saat Ini "Setelah 11 tahun menikah, Aku memutuskan untuk pergi saat Aku menyadari bahwa Aku bukan lagi diriku. Pada saat itu, kami tinggi di Eropa dan Aku telah kehilangan jati dirku. Aku menggunakan nama belakang Belanda kepunyaan suamiku. Aku pun berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang sangat berbeda dengan yang kuketahui dan Aku bahkan tidak dapat berkomunikasi dengan baik karena Aku tidak bisa berbicara bahasa Belanda dengan lancar dan tidak semua orang di sana dapat berbicara bahasa inggris. Momenku datang tepatnya di tengah malam, saat Aku berbaring tidak bisa tidur di samping suamiku yang sedang mendengkur, seperti yang sering kualami sebelumnya. Aku akhirnya membiarkan kata-kata yang telah kutekan cukup lama untuk timbul ke permukaan: "Aku benci kehidupanku". Ini terjadi 4 tahun yang lalu. Aku telah pindah kembali ke Australia dengan putri-putriku dan mantan suamiku tetap tinggal di Belanda. Kami tetap berkomunikasi setiap malam, ia pun sering datang ke sini atau putri kami yang pergi ke Belanda. Mantan suamiku tetap menjadi teman baikku. Aku hanya tidak mau lagi menjadi istrinya." --- Melanie Sheppard   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: huffingtonpost
 26 Mar 2016    11:00 WIB
Saat Istri Sakit, Resiko Terjadinya Perceraian Meningkat
Resiko terjadinya perceraian meningkat pada pasangan yang sudah lama menikah ketika sang istri sakit, tetapi tidak terjadi saat sang suami yang sakit. Hal ini berdasarkan penelitian terbaru the University of Michigan Institute for Social Research. Studi ini dilakukan untuk meneliti bagaimana pernikahan dipengaruhi oleh terjadinya empat penyakit serius yaitu: kanker, penyakit jantung, penyakit paru dan stroke. Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa 31% pernikahan berakhir pada perceraian selama masa penelitian berlangsung. Sebanyak 15% kasus perceraian terjadi ketika sang istri sakit. "Dari hasil penemuan tersebut bisa disimpulkan saat wanita sakit, mereka lebih mungkin diceraikan" kata Amelia Karraker, penulis dari penelitian tersebut. Angka kejadian penyakit kronis terus meningkat seiring berjalannya waktu, dan lebih banyak suami yang mengalami penyakit serius dibandingkan istri.Para peneliti menganalisis data dari 20 tahun yang mencakup 2.717 pernikahan. Pada saat para peneliti pertama kali mengwawancarai pasangan pada studi ini, paling tidak salah seorang dari pasangan tersebut sudah mencapai usia lebih dari 50 tahun. Konsekuensi kesehatan dari perceraian memang sudah diketahui, tetapi hanya beberapa studi yang meneliti efek kesehatan terhadap resiko perceraian. Yang membuat studi ini berbeda dari studi lain adalah penelitian ini mencari tahu faktor resiko pada populasi usia 50 tahun keatas terhadap terjadinya perceraian. Angka terjadinya perceraian terus meningkat selama 20 tahun terakhir. Para peneliti memang tidak memiliki informasi tentang siapa yang berinisiatif memulai perceraian, tetapi studi sebelumnya mengindikasikan bahwa pihak istrilah yang berinisiatif. Para peneliti juga tidak mendalami penyebab mengapa perceraian lebih banyak terjadi saat sanga istri mengalami sakit serius dan tidak saat sang suami yang mengalami sakit. Saat wanita sakit, kemungkinan suami tidak dapat memenuhi peran sebagai pengambil alih peran dengan baik. Sebagai hasilnya mereka akan bergantung kepada teman atau anggota keluarga untuk merawat mereka. Para peneliti menambahkan, pada kelompok usia ini, jumlah wanita lebih banyak dari jumlah pria, sehingga pria bercerai memiliki lebih banyak pilihan untuk pasangan prospektifnya.Sumber: foxnews
 16 Dec 2015    15:00 WIB
Anak Adalah Korban Dari Perceraian, Pikirkan Terlebih Dahulu!!!
Saat pasangan yang sudah menikah dan memutuskan untuk bercerai mungkin mengalami masalah yang terlalu pelik dan sulit untuk mendapatkan titik temu diantara kedua belah pihak. Namun perceraian akan memberikan dampak untuk semua pihak, untuk Anda sendiri, pasangan, keluarga pasangan dan yang paling terpukul akibat sebuah perceraian adalah anak-anak. Perceraian akan menberikan dampak pada anak-anak yang Anda cintai. Sebelum Anda memutuskan untuk bercerai, berpikirlah dengan matang dan jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi.   Berikut ini adalah dampak yang bisa terjadi pada anak-anak korban perceraian: 1.      Depresi Perceraian dapat mematahkan mental dan membuat terpukul orang dewasa, terlebih untuk anak. Anak-anak memiliki jiwa yang masih belum stabil. Bagi seorang anak, orang tua mereka adalah segalanya. Menjadi pahlawan dan panutan dalam hidup mereka. Kebersamaan dan kemesraan orang tua akan memberikan kenyamanan bagi anak-anak. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana perasaaan seorang anak jika orangtua mereka tiba-tiba mulai hidup secara terpisah? Maka mereka akan mengalami trauma mental yang berat dan dapat menyebabkan terjadinya depresi. Baca juga: Tahukah Anda Bahwa Wanita Ternyata Lebih Sulit Menerima Perceraian? 2.      Rendah diri Dunia anak-anak penuh dengan canda tawa dan kepolosan, Saat anak-anak korban bercerai berteman dengan sebayanya. Bisa membuatnya menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya. Dalam keadaan ini anak-anak korban perceraian juga akan merasa bingung kepada siapa dia bisa mengadukan perasaannya. Yang seharusnya hal ini menjadi tanggung jawab 2 orang yaitu ayah dan ibu. Hal ini akan membuatnya menjadi rendah diri. 3.      Efek penyangkalan Tanpa ragu, anak-anak korban perceraian akan melalui sebuah fase penyangkalan. Dimana seluruh ide dan konsep perceraian akan merasa seperti mimpi. Maka mereka akan berusaha untuk menyangkal bahwa perceraian orang tuanya memang terjadi. Membuat mereka larut dalam "impian" mereka sendiri yang mengganggap dirinya masih memiliki keluarga yang utuh. Hal ini akan membuat mereka sulit berkembang dan terganggu dalam bidang akademis. 4.      Gangguan Perilaku Karena trauma mental, tekanan, ketidakbahagiaan, rasa kesepian yang dialami. Anak-anak korban perceraian bisa saja mengalami gangguan perilaku. Anak-anak korban perceraian tersebut menjadi mudah marah, tidak mau bersosialisasi dengan teman-temannya, cenderung diam dan menutup diri. Karena dia takut dan malu akan kehidupannya yang tidak lagi sempurna seperti dulu. 5.      Kebiasaan buruk Untuk membantu mengatasi rasa sedih, sakit dan kesepian yang dirasakan. Anak-anak yang orang tuanya bercerai bisa jadi mengambil jalan yang salah dan mulai melakukan kebiasaan yang buruk, seperti merokok, minum alkohol, konsumsi obat terlarang dan seks bebas. Perceraian memang suatu hal yang sulit untuk dihadapi, sebelum hal ini terjadi sebaiknya Anda memikirkannya baik-baik. Dan bila memang perceraian harus terjadi, Anda dan mantan pasangan Anda harus terus memperhatikan perilaku dan perkembangan anak-anak Anda.  Karena sebaiknya seorang anak tumbuh dalam sebuah keluarga dengan kehadiran ayah dan ibu yang terus melindungi dan memberinya dukungan. Baca juga: Hati-hati Aktivitas di Media Sosial Mampu Picu Perceraian Lho! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: magforwomen